Hamil Empat Bulan, Aku Membatalkan Pernikahanku Beberapa Hari Sebelum Upacara… Namun yang Lebih Mengejutkan, Wanita Itu Sudah Lama Memanggil Calon Ibu Mertuaku dengan Sebutan “IBU”!**
Aku hamil empat bulan ketika memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dengan tunanganku.
Saat itu, ia sedang sibuk membaca dokumen di laptopnya ketika aku mengatakan hal tersebut.
Ia menoleh kepadaku dan mengernyitkan dahi.
“Apa lagi yang ada di pikiranmu?”
Aku menatap pria yang sudah kucintai selama lima tahun.
“Kalau keluargamu tidak menginginkan aku dan anak kita, lebih baik aku pergi.”
Ia menghela napas.
“Ibu hanya terbawa emosi untuk sementara.”
Aku tersenyum pahit.
Terbawa emosi?
Baru tiga hari yang lalu, aku berhadapan langsung dengan ibunya di ruang tamu.
Dengan hati-hati ia meletakkan cangkir teh di atas meja dan berkata dengan dingin,
“Anak itu seharusnya tidak dilahirkan.”
Aku pikir aku salah dengar.
“Apa?”
“Anakku sebentar lagi akan mengambil alih bisnis keluarga. Ini bukan waktu yang tepat baginya untuk memiliki anak.”
Aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat.
“Tapi saya sudah hamil empat bulan.”
“Kalau begitu, gugurkan saja.”
Ia mengatakannya dengan begitu ringan, seolah itu hal yang biasa.
Aku menoleh kepada tunanganku.
Ia hanya diam.
Butuh waktu lama sebelum akhirnya ia berbicara.
“Ibu hanya mengkhawatirkan masa depan kita.”
Pada saat itulah aku memahami satu hal dengan sangat jelas.
Satu-satunya orang yang bisa membelaku adalah diriku sendiri.
Sekarang, ketika aku mengatakan ingin mengakhiri hubungan kami, ia masih mengira aku hanya sedang merajuk.
“Aku akan bicara lagi dengan Ibu.”
“Tidak perlu.”
“Jangan bersikap kekanak-kanakan.”
Tepat pada saat itu, ponselnya berdering.
Sebuah nama muncul di layar.
Nama yang terus kulihat selama dua bulan terakhir.
Ia langsung mengangkat telepon itu.
Dan seketika suaranya menjadi lembut.
“Halo, ada apa?”
“Kamu tidak bisa tidur lagi?”
“Baik, aku akan datang.”
Ia berdiri dan mengambil jaketnya.
Sebelum keluar, ia masih sempat menoleh.
“Nanti kita bicarakan lagi.”
Begitu pintu tertutup, aku ditinggalkan sendirian di rumah yang dulu kami impikan untuk membangun keluarga.
Satu jam kemudian.
Muncul unggahan baru di media sosial.
Foto dua cangkir kopi berdampingan.
Dengan caption sederhana:
“Untung masih ada seseorang yang selalu datang saat aku membutuhkannya.”
Tidak ada nama.
Tidak ada penjelasan siapa yang dimaksud.
Tetapi aku tahu siapa orang yang baru saja meninggalkan rumah kami.
Aku mematikan ponsel.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar kehabisan tenaga.
Keesokan harinya.
Aku pindah ke sebuah hotel kecil.
Ketika sahabatku mengetahui hal itu, ia langsung datang menemuiku.
Ia melihat koper di sampingku.
“Kamu benar-benar serius?”
“Ya.”
“Lalu bagaimana dengan bayinya?”
“Aku akan melahirkannya.”
“Apakah dia tahu?”
Aku menggeleng.
“Dia tidak perlu tahu lagi.”
Sahabatku menghela napas.
“Kamu mau pergi ke mana?”
“Aku ingin menjauh dari sini untuk sementara.”
Tepat saat itu, sebuah pesan masuk ke ponselku.
Dari wanita itu.
“Kak, jangan marah padanya. Semalam dia hanya mampir untuk mengobrol denganku.”
Ada juga foto semangkuk bubur.
“Katanya akhir-akhir ini Kakak sulit makan, jadi aku mencoba memasak. Kalau Kakak sudah baikan, aku akan mengantarkannya.”
Setelah membaca pesan itu, wajah sahabatku langsung pucat.
“Apa sebenarnya yang diinginkan wanita ini?”
Aku tidak menjawab.
Karena aku juga ingin tahu.
Menjelang sore.
Calon ibu mertuaku menelepon.
Begitu aku mengangkat telepon, ia langsung berbicara.
“Dia jauh lebih baik daripada kamu.”
Aku tersenyum.
“Siapa?”
“Gadis itu. Dia tahu cara peduli pada keluarga dan memikirkan orang lain.”
“Kalau saya?”
“Kamu hanya membawa masalah dan tekanan bagi anak saya.”
Aku menutup telepon.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak berniat menjelaskan apa pun.
Malam harinya.
Sahabatku tiba-tiba menelepon.
Nada suaranya terdengar cemas.
“Aku menemukan sesuatu.”
“Tentang apa?”
“Tentang wanita itu.”
Detak jantungku langsung bertambah cepat.
“Apa?”
“Dia bukan orang baru bagi keluarga tunanganmu.”
“Aku tahu.”
“Bukan. Maksudku, mereka sudah saling mengenal sejak lama.”
Aku langsung duduk tegak.
“Sejak kapan?”
Ia terdiam sejenak.
Lalu berkata,
“Setidaknya tujuh tahun.”
Aku terpaku.
“Tidak mungkin.”
“Dan ada satu hal lagi yang kutemukan.”
Suaranya semakin pelan.
“Aku menemukan akun media sosial lamanya.”
“Lalu?”
“Hampir semua foto di sana diambil di rumah keluarga tunanganmu.”
Tubuhku langsung terasa dingin.
“Di rumah mereka?”
“Iya.”
“Tujuh tahun yang lalu.”
Aku berdiri.
“Kamu yakin?”
“Itu bahkan belum yang terburuk.”
Ia menarik napas panjang.
“Dalam salah satu foto ulang tahunnya yang lama, ada komentar dari ibu tunanganmu.”
Aku menggenggam ponsel erat-erat.
“Apa katanya?”
Sahabatku membacakan kata demi kata.
“Anak baikku, suatu hari nanti kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami.”
Duniaku seakan berhenti berputar.
Jika mereka sudah sedekat itu selama tujuh tahun…
Jika sejak dulu ia sudah dianggap sebagai menantu…
Jika sejak awal keluarga mereka memang memiliki rencana lain…
Lalu apa arti hubungan kami selama lima tahun?
Siapa aku sebenarnya dalam cerita itu?
Tepat saat itu, sebuah pesan baru masuk.
Dari tunanganku.
Hanya sebuah foto.
Foto meja makan.
Di sana ada ibunya.
Ada wanita itu.
Dan ada dirinya.
Mereka bertiga duduk berdampingan.
Terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia.
Disertai pesan singkat:
“Jangan berpikir macam-macam. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan.”
Namun ketika aku memperbesar foto itu, aku melihat sesuatu pada cermin di belakang mereka.
Ada sebuah album foto terbuka di atas meja.
Dan pada halaman pertama…
Terlihat foto tunanganku dan wanita itu mengenakan pakaian pengantin.

Dan tanggal foto tersebut?
Tiga tahun yang lalu.
Pada saat itu, aku merasa seperti kehilangan napas…
Dan akhirnya aku menyadari bahwa mungkin selama ini aku telah dibohongi oleh semua orang.
Berikut adalah kelanjutan dan akhir (ending) dari cerita drama tersebut dengan ketegangan tinggi, pengungkapan fakta, dan pembalasan yang elegan:
Bagian Akhir: Topeng yang Retak dan Kebenaran yang Menyakitkan
Tanganku gemetar hebat saat menatap detail foto di cermin itu. Tanggal yang tertera adalah tiga tahun lalu—tepat saat tunanganku, Rian, meminta izin untuk “perjalanan bisnis ke luar negeri selama satu bulan” yang tidak boleh diganggu.
Ternyata, selama lima tahun ini, aku bukanlah calon istri. Aku adalah penutup aib dan batu loncatan.
Aku menelepon sahabatku kembali. “Cari tahu tentang bisnis keluarga Rian tiga tahun lalu. Sekarang.”
Tidak butuh waktu lama bagi sahabatku untuk menemukan dokumen berdebu di arsip digital hukum. Tiga tahun lalu, perusahaan keluarga Rian nyaris bangkrut. Di saat yang sama, wanita itu—Siska—adalah anak dari investor tunggal yang menyelamatkan mereka. Namun, pernikahan mereka dirahasiakan dari publik karena Siska menderita penyakit mental keturunan yang bisa memperburuk citra saham perusahaan jika diketahui investor lain. Ibu Rian memanfaatkan keluguanku, menjadikanku “tunangan resmi” di depan media untuk menjaga stabilitas saham, sementara di balik layar, Siska adalah menantu kesayangan yang sebenarnya.
Dan anak di dalam kandunganku? Ibu Rian menganggapnya ancaman bagi hak waris murni keluarga mereka.
Rasa sedihku menguap, digantikan oleh kemarahan yang dingin dan tajam. Aku tidak akan menangis lagi.
Plot Twist: Langkah Catur Terakhir
Aku tidak membalas pesan Rian. Sebaliknya, aku menghubungi pengacara keluarga dan memesan tiket pesawat ke kota kelahiranku malam itu juga. Namun sebelum pergi, aku mengirimkan satu paket dokumen dan flashdisk ke seluruh kontak bisnis, vendor pernikahan, dan media gosip lokal.
Dua hari kemudian, hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan kami tiba.
Aku duduk di sebuah kafe di bandara, memegang cangkir teh hangat, sambil menyaksikan siaran langsung di media sosial yang dipandu oleh sahabatku yang datang ke gedung pertemuan.
Acara pernikahan megah itu berubah menjadi kekacauan total. Gedung yang sudah didekorasi indah kosong melompong. Tidak ada pengantin wanita. Rian dan ibunya berdiri di depan altar dengan wajah pucat pasi, dikelilingi oleh wartawan, bukan tamu undangan.
Flashdisk yang kukirimkan berisi:
- Bukti foto pernikahan rahasia Rian dan Siska tiga tahun lalu (poligami tanpa izin yang ilegal secara hukum).
- Rekaman suara ibu Rian yang menyuruhku menggugurkan kandungan.
- Bukti transfer keuangan yang menunjukkan bahwa keluarga mereka menggunakan nama dan identitasku untuk memalsukan beberapa aset pajak perusahaan.
Di tengah kebingungan itu, Siska tiba-tiba berlari ke panggung dengan gaun putih, berteriak histeris, “Ibu! Rian! Mengapa perempuan itu tidak datang? Bukankah Ibu berjanji dia akan menyerahkan bayinya untuk kita asuh?!”
Kata-kata Siska yang tidak terkontrol di depan kamera wartawan membongkar rencana busuk mereka seutuhnya: Ibu Rian berniat membiarkanku melahirkan, membuangku, dan mengambil anakku untuk diadopsi oleh Rian dan Siska yang tidak bisa memiliki anak.
Pembalasan yang Sempurna
Ponselku berdering hebat. Layarnya berkedip menampilkan nama Rian. Aku mengangkatnya untuk terakhir kali.
“Kirana! Apa yang kamu lakukan?! Kamu menghancurkan keluargaku! Perusahaan kami kolaps dalam dua jam! Di mana kamu?!” Suara Rian terdengar frustrasi, napasnya memburu diiringi suara riuh latar belakang wartawan.
Aku mengusap perutku yang berusia empat bulan dengan lembut, lalu menjawab dengan suara paling tenang yang pernah kukuasai.
“Aku tidak menghancurkan apa pun, Rian. Kalian menghancurkan diri kalian sendiri dengan keserakahan. Pernikahan kita batal, dan hak asuh anak ini sepenuhnya ada di tanganku. Jangan pernah cari kami lagi, atau bukti manipulasi pajak jilid dua akan langsung mendarat di meja kepolisian.”
Dari seberang telepon, terdengar suara ibu Rian yang berteriak histeris karena jatuh pingsan saat melihat saham perusahaan mereka terjun bebas menuju kebangkrutan.
“Kirana, tolong…” Rian memohon, suaranya bergetar.
“Selamat tinggal, Rian. Nikmati keluarga bahagiamu.”
Aku mematikan ponsel, mencabut kartu SIM-nya, dan melemparkannya ke tempat sampah.
Saat pengeras suara bandara mengumumkan jadwal penerbanganku, aku berdiri dengan langkah kaki yang ringan. Masa laluku yang penuh kebohongan telah runtuh di belakangku, namun di depanku, bersama kehidupan baru yang berdetak di rahimku, sebuah awal yang bersih dan jujur baru saja dimulai.