SETELAH PERCERAIAN, AKU MENARIK SELURUH INVESTASIKU DARI PERUSAHAAN. MANTAN SUAMIKU DAN CINTA PERTAMANYA MENGGELAR PERNIKAHAN MEWAH, TAPI MEREKA TERPANA SAAT MENERIMA TELEPON DARI DEPARTEMEN AKUNTANSI
Sepuluh tahun bersama.
Pada hari dia membawa wanita itu pulang ke rumah, aku sedang menyiapkan makan malam.
Aroma bawang putih tumis memenuhi dapur.
Pintu depan terbuka.
Dia masuk lebih dulu.
Di belakangnya berdiri seorang wanita muda yang sangat cantik, mengenakan gaun putih.
Dia berdiri dengan sopan di belakangnya, matanya memerah seolah baru saja menangis.
Hanya dengan sekali pandang, aku langsung mengerti semuanya.
Dia tidak berusaha berputar-putar.
“Aku ingin bercerai.”
“Aku sudah menemukan kembali wanita yang benar-benar kucintai.”
“Aku terlalu banyak berutang perasaan kepadanya di masa lalu.”
Aku meletakkan spatula yang sedang kupegang.
Aku tetap tenang.
Sangat tenang hingga membuatnya terkejut.
“Baik.”
Hanya satu kata.
Dia terdiam.
Bahkan wanita di belakangnya pun tidak bisa berkata apa-apa.
Mungkin mereka mengira aku akan mengamuk.
Menangis.
Memohon.
Menanyakan alasannya.
Namun aku tidak melakukan semua itu.
Karena aku tahu, tidak ada gunanya mempertahankan seseorang yang sudah lama ingin pergi.
Keesokan harinya.
Kami resmi menyelesaikan proses perceraian.
Saat keluar dari kantor catatan sipil.
Dia masih berpura-pura memiliki rasa bersalah.
“Jangan khawatir.”
“Rumah itu untukmu.”
“Aku juga akan mengirimkan tunjangan bulanan.”
Aku hanya tersenyum.
“Tidak perlu.”
Dia mengira aku hanya sedang berpura-pura tegar.
Padahal sebenarnya aku hampir tertawa.
Karena dia tidak tahu.
Selama sepuluh tahun terakhir.
Bukan dia yang menopang perusahaannya.
Melainkan aku.
Pada sore hari yang sama.
Aku menelepon pengacaraku.
“Mulailah menarik seluruh investasi.”
“Hentikan semua jaminan keuangan.”
“Dan cabut seluruh hak penggunaan merek serta trademark.”
Beberapa detik lamanya, orang di seberang telepon terdiam.
Lalu menjawab.
“Baik, Bu. Saya mengerti.”
—
Tiga bulan kemudian.
Mereka mengadakan pesta pernikahan yang sangat mewah.
Di hotel terbaik di kota.
Seluruh ruangan dipenuhi bunga segar.
Bahkan ada pertunjukan langsung dari penyanyi terkenal.
Para pebisnis, selebritas, dan tokoh ternama hadir sebagai tamu.
Di media sosial.
Hampir semua orang membicarakan pernikahan mereka.
Banyak yang memuji pasangan itu.
Mengagumi kisah cinta mereka yang kembali bersatu setelah bertahun-tahun berpisah.
Ibu mantan suamiku bahkan hampir tidak bisa berhenti membanggakan putranya.
“Anakku sekarang sangat sukses.”
“Perusahaannya berkembang pesat.”
“Dan istrinya yang baru juga sangat cantik.”
“Akhirnya kami menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.”
Seluruh aula dipenuhi tawa dan sorak-sorai.
Sementara aku.
Duduk tenang di balkon kondominiumku yang menghadap laut.
Menyaksikan semua itu melalui layar ponsel.
Kemudian aku mematikan layarnya.
—
Menjelang malam.
Upacara pernikahan selesai.
Para tamu mengangkat gelas untuk memberi selamat kepada pasangan pengantin baru.
Dia berdiri di atas panggung.
Merangkul istri barunya.
Wajahnya penuh kebanggaan.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Yang menelepon adalah kepala bagian akuntansi perusahaan.
Dia sedikit kesal.
Tetapi tetap mengangkat telepon itu.
Hanya dalam beberapa detik.
Senyum di wajahnya langsung menghilang.
“Apa?”
Suaranya mendadak dingin.
Orang di seberang telepon terus berbicara.
Dan semakin lama dia mendengarkan.
Semakin pucat wajahnya.
“Ulangi apa yang baru saja kamu katakan!”
Semua orang mulai memandang ke arahnya.
Musik perlahan berhenti.
Istri barunya memegang lengannya.
“Sayang, ada apa?”
Dia tidak menjawab.
Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar.
Keringat dingin muncul di dahinya.
Satu menit kemudian.
Ponsel itu terjatuh dari tangannya.
Menghantam lantai dengan suara keras.
Dan di dalam aula yang tiba-tiba sunyi.
Seolah waktu berhenti.
Dia hanya berdiri membeku.
Mata terbelalak.
Seperti baru saja mendengar kabar terburuk dalam hidupnya.
Karena kepala akuntansi mengatakan:
“Seluruh investor utama telah menarik modal mereka.”
“Bank membatalkan semua fasilitas kredit perusahaan.”
“Seluruh mitra strategis juga mengundurkan diri.”
“Dan…”
“Dana perusahaan hanya cukup untuk bertahan selama tujuh hari.”
Seluruh aula langsung hening.
Istri barunya terpaku.
Ibunya pucat pasi.
Semua tamu menatap panggung.
Tidak ada yang mengerti apa yang sedang terjadi.
Sampai kepala akuntansi mengucapkan kalimat terakhir.
“Dan kami juga menemukan sesuatu…”
“Orang yang selama sepuluh tahun terakhir sebenarnya membangun dan menopang seluruh bisnis ini…”
“Adalah mantan istri Anda.”
Tepat pada saat itu.
Pintu-pintu besar aula perlahan terbuka.
Sekelompok pengacara berpakaian jas hitam masuk ke dalam.
Dan di barisan paling depan.
Wanita yang dulu dia kira tidak bisa hidup tanpa dirinya.
Aku.
Memegang sebuah map tebal.
Menatapnya dengan tenang.
Senyum tipis menghiasi bibirku.
Lalu aku meletakkan sebuah dokumen di hadapannya.
Pemberitahuan terakhir mengenai pencabutan hak penggunaan sisa trademark perusahaan.
Saat melihat tanda tangan di bagian bawah dokumen itu.

Lututnya seolah kehilangan tenaga.
Dan di depan seluruh tamu undangan.
Tepat pada hari pernikahannya.
Perlahan-lahan dia jatuh berlutut di lantai…
Gaun pengantin putih yang dikenakan istri barunya menyapu lantai saat ia mencoba menahan tubuh mantan suamiku—Randi—yang kini limbung. Di sekeliling kami, bisik-bisik dari para pengusaha dan selebritas yang hadir berubah menjadi dengung kepanikan. Ibu Randi, yang semenit lalu masih tertawa pongah, kini mencengkeram dada kirinya dengan wajah pucat pasi.
Randi menatap dokumen di tangannya dengan mata membelalak. Di bagian paling bawah kertas itu, tertera tanda tangan berstempel emas dari konsorsium investasi terbesar di Asia Tenggara—pemilik sah dari seluruh hak paten, teknologi logistik, hingga nama merek yang dipakai perusahaan Randi.
Dan nama pemilik tunggal konsorsium itu adalah namaku. Elena.
“E-Elena…” suara Randi tercekat di tenggorokan, terdengar seperti bisikan pria yang sedang sekarat. “Bagaimana bisa… Kamu pemilik Pratama Holdings? Tapi selama ini…”
Kedok yang Terbuka
“Selama ini kamu mengira aku hanyalah istri rumahan yang beruntung bisa menikah denganmu, Randi?” aku memotong kalimatnya dengan nada yang sangat tenang, bahkan cenderung lembut.
Aku melangkah maju, melintasi taburan kelopak bunga mawar di sepanjang karpet merah pernikahan mereka. Setiap ketukan sepatu hak tinggiku terdengar seperti lonceng kematian bagi kariernya.
“Sepuluh tahun lalu, saat kamu memulai bisnis ini di garasi rumah, dari mana kamu pikir modal pertamamu berasal? Dari mana semua kontrak dengan klien-klien raksasa itu bisa turun?” aku menatapnya lurus-lurus. “Kamu pikir itu semua karena kejeniusanmu? Tidak, Randi. Itu semua karena koneksi ayahku dan jaminan finansial atas namaku.”
Istri barunya, wanita yang ia sebut sebagai “cinta pertamanya” dan “tempat kebahagiaan sejati”, mulai mundur selangkah. Keanggunan palsunya lenyap, digantikan oleh ketakutan bahwa pria yang baru saja ia nikahi ternyata tidak memiliki apa-apa selain utang.
“Elena! Tolong jangan lakukan ini!” Ibu Randi tiba-tiba menerobos maju, mencoba meraih tanganku dengan wajah memelas. “Ini hari pernikahan mereka! Jangan permalukan anakku di depan semua orang! Kalau kamu mau uang, kita bisa bicarakan ini baik-baik!”
Aku menarik tanganku perlahan, menghindari sentuhannya.
“Uang?” aku tertawa kecil, suara tawa yang menggema di dalam aula yang sunyi. “Ibu, seluruh aset gedung, rumah yang kalian tempati, bahkan dekorasi bunga dan penyanyi terkenal di pesta ini… dibayar menggunakan rekening koran perusahaan yang jaminannya baru saja dicabut oleh pengacaraku satu jam lalu.”
Akhir dari Sebuah Ilusi
Randi menatap sekeliling aula. Para tamu undangan, yang beberapa menit lalu bersulang untuk kesuksesannya, kini mulai berjalan mundur menuju pintu keluar. Beberapa mitra bisnisnya bahkan langsung menelepon sekretaris mereka untuk membatalkan semua janji temu dengan Randi mulai besok pagi.
Ia menoleh ke arah istri barunya, berharap mendapatkan pelukan atau ketenangan. Namun, wanita itu justru melepaskan cincin kawin berlian dari jarinya, meletakkannya di atas meja kue pengantin, dan menatap Randi dengan pandangan asing.
“Kamu bilang kamu CEO sukses, Randi… Kamu bilang perusahaannya milikmu sendiri!” sentak wanita itu dengan suara bergetar, sebelum akhirnya berbalik dan berlari meninggalkan panggung, membiarkan gaun putihnya ternoda oleh sisa-sisa pesta yang hancur.
Randi terduduk di lantai marmer, dikelilingi oleh dokumen pembatalan modal dan sisa-sisa kejayaannya yang runtuh dalam semalam. Pria yang tiga bulan lalu mencampakkanku demi masa lalu, kini menyadari bahwa masa depannya telah lenyap.
Aku berbalik, tidak sudi berlama-lama menatap pria yang telah menghabiskan sepuluh tahun hidupku dengan kepalsuan. Di pintu keluar aula, pengacaraku membukakan pintu besar, menyambutku kembali ke dunia luar yang terang dan bebas.
Randi mengira dia telah menemukan kembali cinta pertamanya. Tapi dia lupa, akulah yang pertama kali menjadikannya seorang pria yang berharga. Dan hari ini, aku mengambil kembali semua yang pernah kupinjamkan padanya—tanpa menyisakan apa pun selain penyesalan seumur hidup.