Posted in

“Hamil enam bulan, menolak bangun dari tempat tidur… sampai suaminya yang miliarder mengangkat selimut itu dan menemukan rahasia yang selama ini dikubur oleh keluarganya sendiri.”

“Hamil enam bulan, menolak bangun dari tempat tidur… sampai suaminya yang miliarder mengangkat selimut itu dan menemukan rahasia yang selama ini dikubur oleh keluarganya sendiri.”

Pukul enam tiga puluh pagi, mansion keluarga Santos sudah hidup meski matahari belum sepenuhnya terbit. Di dapur, para pelayan berjalan tanpa suara; di taman, sprinkler berputar di atas rumput sempurna bak lukisan; dan di lantai dua, di balik pintu putih berukir emas, Valeria Santos masih terbaring tak bergerak, satu tangannya berada di atas perutnya yang sudah enam bulan.

Itu bukan tidur. Bukan juga kelelahan. Itu ketakutan.

Sudah tiga hari dia menolak bangun dari tempat tidur.

Awalnya, semua orang bilang itu hanya drama ibu hamil. Lalu mereka berkata dia hanya mencari perhatian dari suaminya, Alejandro Santos, salah satu pengusaha paling berpengaruh di negara itu. Dan ketika Alejandro mulai kehilangan kesabaran, bisik-bisik pun mulai terdengar.

—Dia menyembunyikan sesuatu —bisik saudari Alejandro, Marcela Santos, di lorong dengan senyum tipis—. Tidak mungkin seorang wanita mengurung diri tanpa alasan.

Alejandro mendengarnya dari ruang kerjanya.

Dia tidak menjawab, tetapi rahangnya mengeras.

Dia tidak terbiasa dengan ketidakpastian. Dia membangun kerajaan properti miliaran rupiah sejak usia dua puluh delapan tahun. Dia bernegosiasi dengan politisi, bank, dan keluarga-keluarga kaya tanpa pernah menunduk. Dia tahu cara membaca angka, mengenali kebohongan dalam sebuah rapat, dan menghancurkan lawan hanya dengan satu tanda tangan.

Namun sejak Valeria mengunci diri di kamar, dia tidak bisa membaca apa pun lagi.

Istrinya bahkan tak mau menatap matanya.

Setiap kali Alejandro masuk ke kamar, Valeria menarik selimut lebih dekat ke tubuhnya. Setiap kali dia bertanya ada apa, wanita itu hanya berkata:

—Tolong, Alejandro… biarkan aku sendiri hari ini.

Dan perlahan Alejandro mulai kehilangan akal.

Dulu Valeria tidak seperti ini. Dia hangat, sederhana, dan tidak membutuhkan berlian untuk membuat seluruh ruangan bersinar. Dia datang ke hidup Alejandro seperti udara segar di tengah keluarga yang terbiasa menilai seseorang dari nama belakang dan jumlah kekayaan.

Valeria bukan orang kaya. Dia dulunya seorang restorator seni di sebuah galeri kecil.

Saat Alejandro memperkenalkannya sebagai tunangan, Doña Ester Santos, ibunya, tersenyum—senyum sopan yang terasa seperti pisau dibungkus sutra.

—Semoga kamu sanggup beradaptasi —katanya malam itu.

Valeria menunduk, tetapi dia tidak menyerah.

Selama dua tahun dia berusaha menjadi bagian dari keluarga itu. Dia mempelajari semua protokol, menghadiri jamuan makan malam mewah, menahan lelucon yang sebenarnya hinaan, dan tetap tersenyum meski sering menangis saat kembali ke kamar.

Alejandro yang sibuk dengan perjalanan bisnis dan kontrak-kontrak bernilai miliaran rupiah mengira istrinya hanya sedang menyesuaikan diri. Dia tidak melihat luka-luka yang perlahan diukir keluarganya sendiri di hati Valeria.

Dan sekarang, saat mengandung anak pertama mereka, wanita itu tampaknya sudah menyerah.

Pagi itu, Alejandro menaiki tangga dengan keputusan berat di dadanya. Di tangannya ada ponsel yang menampilkan foto buram kiriman Marcela: siluet seorang pria keluar dari pintu belakang taman dua malam lalu.

“Maafkan aku harus mengirim ini, Kak,” tulis Marcela. “Tapi kurasa Valeria sedang mengkhianatimu.”

Alejandro berhenti melangkah.

Perlahan dia menatap pintu kamar istrinya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, yang memenuhi pikirannya bukan bisnis—melainkan kemungkinan bahwa semua yang dia percayai tentang keluarganya akan runtuh dalam sekejap.

Alejandro mendorong pintu kamar dengan satu sentakan pelan namun tegas. Kamar tidur utama itu begitu sunyi, hanya menyisakan aroma lavender yang menenangkan, kontras dengan badai yang berkecamuk di dada sang miliarder.

Di atas ranjang king size, Valeria meringkuk. Selimut tebal berwarna putih membungkus tubuhnya hingga ke dada. Mendengar suara pintu dibuka, bahunya menegang seketika. Ia tidak menoleh, hanya mengeratkan pegangannya pada kain selimut.

“Keluar, Alejandro… kumohon,” bisik Valeria, suaranya serak dan bergetar menahan tangis.

Alejandro tidak mundur. Langkah kakinya yang berat terdengar mendekati ranjang. Amarah, rasa penasaran, dan ketakutan berbaur menjadi satu di dalam kepalanya. Foto dari Marcela menari-nari di benaknya, membakar kewarasannya.

“Tiga hari, Valeria. Tiga hari kamu mengurung diri dan menolak menatap mataku,” suara Alejandro berat dan dingin, bergaung di kamar yang luas itu. “Keluargaku bilang kamu gila. Marcela bilang kamu berselingkuh. Katakan padaku, apa yang sedang kamu sembunyikan dari suamimu?”

Valeria menggelengkan kepala di atas bantal, air mata mulai membasahi pipinya. “Mereka berbohong… mereka semua berbohong…”

“Kalau begitu buktikan!” bentak Alejandro, kehilangan kesabaran yang selama ini ia agungkan dalam dunia bisnis.

Dengan satu gerakan cepat dan tanpa ampun, Alejandro mencengkeram ujung selimut tebal itu, lalu menyentaknya hingga terlepas dari tubuh istrinya.

Dunia Alejandro seolah berhenti berputar.

Selimut itu terlempar ke lantai, menyisakan Valeria yang gemetar dalam balutan gaun tidur sutra putih yang longgar. Namun, bukan perut buncit enam bulannya yang membuat napas Alejandro tertahan di tenggorokan.

Kedua pergelangan tangan Valeria dibalut perban putih yang tebal. Di balik sela-sela kain kasa yang tergesa-gesa dipasang itu, noda darah segar merembes keluar. Tidak hanya itu, di leher dan lengan atas Valeria, terdapat bekas lebam keunguan berbentuk jari tangan manusia yang sangat jelas—bekas cengkeraman paksa yang brutal.

Alejandro membeku. Ponsel di tangannya terjatuh ke atas karpet tebal. “V-Valeria… apa ini?” suaranya mendadak tercekat, kemarahan besarnya menguap, digantikan oleh kengerian yang mendalam.

Valeria langsung meringkuk, memeluk perutnya yang membuncit dengan kedua tangan yang terluka, terisak histeris. “Mereka ingin membunuh anak kita, Alejandro… Mereka ingin membunuh bayiku…”

“Siapa?” desis Alejandro, lututnya melemas saat ia berlutut di tepi ranjang, menyentuh lebam di lengan istrinya dengan tangan yang gemetar. “Siapa yang melakukan ini padamu?!”

“Ibumu… dan Marcela,” tangis Valeria pecah, rahasia yang selama ini ia kubur demi menjaga keutuhan keluarga Santos akhirnya tumpah. “Pria di foto itu… dia bukan selingkuhanku. Dia dokter pribadi yang disewa ibumu untuk menggugurkan kandungan ini secara paksa dua malam lalu!”

Valeria menatap Alejandro dengan mata yang penuh trauma. “Mereka… mereka tahu bayimu laki-laki, Alejandro. Ibumu tidak ingin anak dari ‘wanita kelas bawah’ sepertiku mewarisi seluruh kekayaan dinasti Santos. Marcela membantu pria itu masuk dari pintu belakang. Mereka memegangi tubuhku, mencekikku saat aku mencoba berteriak, dan memaksaku meminum obat itu… Aku melawan, Alejandro! Aku memecahkan vas bunga untuk membela diri hingga tanganku terluka, aku berhasil kabur dan mengunci diri di kamar ini!”

Setiap kata yang keluar dari mulut Valeria bagai belati yang menghujam jantung Alejandro.

Miliarder yang tak pernah tunduk pada siapa pun itu merasakan dunianya runtuh. Pria kuat yang ditakuti di dunia bisnis itu kini terduduk lemas, menyadari bahwa monster yang paling mengerikan dalam hidupnya bukanlah lawan bisnis di luar sana, melainkan keluarganya sendiri. Ibunya yang elegan dan saudarinya yang selalu tersenyum manis, telah mencoba membunuh darah dagingnya sendiri.

Perlahan, Alejandro berdiri. Rasa syok di wajahnya berubah menjadi ekspresi dingin yang luar biasa mematikan. Matanya yang hitam pekat memancarkan kilat murka yang belum pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya.

Ia membungkuk, mengecup kening Valeria dengan sangat lembut, lalu menarik kembali selimut untuk melindungi istrinya yang masih gemetar.

“Maafkan aku, Valeria. Maafkan aku karena terlambat melihatnya,” bisik Alejandro dengan nada suara yang begitu tenang, namun menyiratkan badai kehancuran yang sesungguhnya. “Tetaplah di sini bersama anak kita. Ruangan ini aman sekarang.”

Alejandro berbalik, melangkah menuju pintu kamar. Sambil berjalan, ia memungut ponselnya yang terjatuh, menekan satu nomor cepat kepada kepala keamanannya.

“Kerahkan seluruh tim. Kunci semua akses keluar mansion. Panggil polisi, dan bawa ambulans pribadi ke kamarku sekarang,” perintah Alejandro, suaranya sedingin es.

Ia membuka pintu kamar, menatap lurus ke arah lorong mewah mansion yang selama ini ia banggakan. Di ujung tangga, Doña Ester dan Marcela sedang berdiri sambil menyesap teh pagi mereka, menanti dengan senyum kemenangan, mengira Valeria akan segera diusir.

Mereka belum tahu, bahwa hari ini, sang miliarder tidak akan menghancurkan lawan bisnisnya dengan tanda tangan—melainkan akan menghancurkan keluarganya sendiri, tanpa sisa.

Alejandro…