Posted in

“WAKTU KEMATIAN, PUKUL 20.00,” UCAP DINGIN DOKTER ITU. SANG MILIARDER YANG DITAKUTI SELURUH NEGERI MENANGIS HISTERIS SAAT TUBUH PUTRA TUNGGALNYA MULAI DITUTUP KAIN PUTIH. NAMUN SEBELUM PINTU RUANG GAWAT DARURAT DITUTUP, SEORANG ANAK GELANDANGAN YANG KOTOR TIBA-TIBA MENEROBOS MASUK. APA YANG DILAKUKANNYA PADA ANAK TAK SADARKAN DIRI ITU LANGSUNG MENGGUNCANG SELURUH RUMAH SAKIT.

“WAKTU KEMATIAN, PUKUL 20.00,” UCAP DINGIN DOKTER ITU. SANG MILIARDER YANG DITAKUTI SELURUH NEGERI MENANGIS HISTERIS SAAT TUBUH PUTRA TUNGGALNYA MULAI DITUTUP KAIN PUTIH. NAMUN SEBELUM PINTU RUANG GAWAT DARURAT DITUTUP, SEORANG ANAK GELANDANGAN YANG KOTOR TIBA-TIBA MENEROBOS MASUK. APA YANG DILAKUKANNYA PADA ANAK TAK SADARKAN DIRI ITU LANGSUNG MENGGUNCANG SELURUH RUMAH SAKIT.

Kesedihan Seorang Raja

Don Arturo Montero adalah miliarder paling kaya dan paling berpengaruh di negeri itu. Dia mengendalikan perekonomian, tetapi malam itu, di dalam VIP Emergency Room Rumah Sakit Apex Global yang dingin, dia hanyalah seorang ayah yang tak berdaya.

Don Arturo tersungkur di lantai dingin sambil menangis histeris dan merobek jas mahalnya. Di atas ranjang rumah sakit, terbaring putra semata wayangnya yang berusia enam tahun, Lucas. Wajah anak itu pucat dan tubuhnya tak lagi menunjukkan tanda kehidupan.

Sore tadi, saat pesta mewah sedang berlangsung di mansion keluarga Montero, Lucas tiba-tiba jatuh di taman, tubuhnya kejang dan wajahnya memucat. Dia segera dilarikan ke rumah sakit, tetapi para dokter menyatakan bahwa dia terkena serangan jantung akibat kondisi langka.

“Bangun, Lucas! Anakku, kumohon! Akan kuberikan seluruh hartaku asal kau hidup!” teriak Don Arturo sambil menggenggam tangan dingin putranya.

Di sampingnya berdiri Head Surgeon, Dr. Vargas, dokter terkenal yang dikenal karena kesombongannya.

“Don Arturo, kami sudah menyuntikkan epinefrin dan menjalankan semua prosedur resusitasi. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Kita harus menerima kenyataan,” katanya dingin.

Dr. Vargas lalu memerintahkan para perawat.

“Tutup pasien dengan kain putih. Siapkan surat kematiannya.”

Perlahan, seorang perawat mengangkat kain putih untuk menutupi wajah polos Lucas.

Namun sebelum wajah anak itu tertutup, pintu ruang gawat darurat tiba-tiba terbuka dengan keras.

BRAAAK!

Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun masuk menerobos. Dia bertelanjang kaki, tubuhnya basah kuyup oleh hujan, dan pakaian compang-campingnya penuh lumpur. Namanya Kiko, anak jalanan yang biasa mengemis di luar kompleks perumahan keluarga Montero.

Saat melihat Lucas hendak ditutupi kain putih, mata bocah itu membelalak.

“DIA BELUM MENINGGAL!” teriak Kiko dengan suara melengking penuh putus asa.

Semua orang panik. Dr. Vargas langsung murka.

“Security! Siapa yang membiarkan anak jalanan ini masuk ke lantai VIP?! Dia kotor sekali! Keluarkan sampah itu sekarang juga!”

Dua satpam langsung bergerak hendak menangkap Kiko, tetapi bocah itu dengan lincah menyelinap di bawah tangan mereka. Tanpa ragu, Kiko melompat ke atas ranjang Lucas!

“Hei! Kau gila?! Anakku bisa makin parah karena tubuhmu yang kotor!” teriak Don Arturo penuh amarah sambil hendak menarik bocah gelandangan itu menjauh…

Namun, sebelum tangan kekar Don Arturo sempat mencengkeram pakaian Kiko, gerakan bocah jalanan itu menghentikan semua orang di dalam ruangan.

Kiko tidak menyerang Lucas. Dengan mata yang berkaca-kaca namun dipenuhi tekad yang bulat, ia merobek baju compang-campingnya sendiri, memperlihatkan dadanya yang kurus. Dari lehernya, ia menarik sebuah kalung batu hitam aneh yang diikat dengan tali usang—sebuah jimat kuno peninggalan mendiang kakeknya yang selalu ia sembunyikan.

Bocah itu meletakkan batu tersebut tepat di atas jantung Lucas yang sudah berhenti berdetak, lalu dengan panik menekan kedua telapak tangan kotornya di atas dada Lucas.

“Dia tidak terkena serangan jantung! Dia keracunan!” teriak Kiko histeris, air matanya bercampur air hujan menetes ke wajah Lucas. “Aku melihatnya sore tadi di taman! Pengawal pribadimu, Don Arturo… Pria bertato kalajengking itu memberikan minuman berwarna ungu pada Lucas sebelum pesta dimulai! Minuman itu racun dari tanaman Aconitum yang tumbuh di hutan belakang kompleks! Kakekku dulu seorang ahli tanaman obat, aku tahu gejalanya! Racun itu membuat jantungnya seolah mati, tapi otaknya masih hidup!”

Mendengar kata-kata Kiko, wajah Don Arturo mendadak pucat pasi. Pengawal bertato kalajengking adalah orang kepercayaan saingan bisnis terbesarnya yang baru ia sewa sebulan lalu.

“Jangan dengarkan bualan anak haram ini! Satpam, seret dia keluar!” raung Dr. Vargas, wajahnya berubah panik yang tidak wajar. Ia mencoba menarik Kiko sendiri.

Tetapi Kiko bergeming. Sambil menahan dorongan Dr. Vargas, dengan sisa tenaga terakhirnya, bocah itu memukulkan siku tangannya dengan keras ke titik saraf tertentu di ulu hati Lucas, lalu memasukkan jari-jarinya yang kotor ke dalam mulut anak miliarder itu, memicu refleks muntah yang ekstrem.

“Kiko, hentikan—”

UWEKKK!

Tiba-tiba, tubuh Lucas yang semula kaku tersentak hebat. Dari mulut anak itu keluar cairan kental berwarna ungu pekat yang berbau sangat menyengat, membasahi ranjang rumah sakit yang bersih.

Bersamaan dengan muntahan itu, terdengar suara tarikan napas yang sangat panjang dan serak.

“Hah… Hah…” dada Lucas naik turun dengan rakus, meraup oksigen yang sempat hilang. Warna merah muda perlahan kembali ke pipinya yang tadily pucat.

Mata Lucas terbuka, menatap sayu ke arah ayahnya. “Papa…” bisiknya lemah.

Seluruh ruang gawat darurat terguncang. Para perawat memekik tak percaya. Mesin pendeteksi jantung yang tadinya mengeluarkan bunyi garis lurus panjang (flatline) yang monoton, tiba-tiba berbunyi dengan ritme yang cepat dan hidup: Pip… pip… pip…

“Mukjizat… Detak jantungnya kembali! Pasien kembali hidup!” teriak seorang perawat dengan tangan bergetar, hampir menjatuhkan papan catatannya.

Don Arturo membeku. Air matanya kembali tumpah, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan yang luar biasa. Ia langsung menerjang maju, memeluk tubuh putranya yang kembali bernapas. “Lucas! Oh Tuhan, Lucas-ku hidup!”

Di tengah euforia itu, Kiko perlahan turun dari ranjang dengan tubuh gemetar karena kelelahan. Ia mengambil kembali kalung batu hitamnya dan berniat menyelinap keluar tanpa meminta imbalan apa pun.

Namun, langkah kaki Kiko terhenti saat Dr. Vargas berteriak dengan wajah pucat, “Ini tidak mungkin! Alat medis tidak pernah salah! Anak ini pasti menggunakan sihir hitam!”

Don Arturo perlahan bangkit dari pelukan putranya. Aura intimidasi dari miliarder paling ditakuti di negeri itu kembali bergejolak, seratus kali lebih mengerikan dari sebelumnya. Ia menatap cairan ungu di ranjang, lalu menatap Dr. Vargas yang tampak sangat ketakutan.

Sebagai pengusaha jenius, Don Arturo langsung menyatukan kepingan teka-teki itu. Dr. Vargas begitu cepat menyatakan Lucas mati tanpa memeriksa kandungan racun, dan menolak keras saat Kiko mencoba menyelamatkannya.

“Vargas,” suara Don Arturo terdengar begitu rendah, membuat bulu kuduk semua orang berdiri. “Kau dibayar berapa oleh sainganku untuk memalsukan kematian putraku dan membiarkan racun itu membunuhnya secara perlahan di ruang autopsi?”

Dr. Vargas langsung berlutut, wajahnya memutih bak kertas. “Don Arturo… tidak… saya tidak—”

“Amankan dokter ini dan pengawal bertato kalajengking. Jika mereka mencoba kabur, habisi di tempat,” perintah Don Arturo dingin kepada para pengawal pribadinya yang baru saja masuk menerobos pintu.

Don Arturo kemudian membalikkan tubuhnya. Di depannya berdiri Kiko, anak gelandangan yang kotor, basah kuyup, dan ketakutan.

Sang miliarder agung, yang tak pernah tunduk pada hukum atau manusia mana pun, perlahan berjalan mendekat. Di hadapan seluruh staf rumah sakit yang menonton dengan napas tertahan, Don Arturo berlutut di lantai yang basah, tepat di depan kaki telanjang Kiko yang penuh lumpur.

Ia menggenggam tangan kecil bocah itu dengan penuh rasa hormat.

“Siapa namamu, Nak?” tanya Don Arturo dengan suara yang melembut, matanya berkaca-kaca memandang malaikat pelindung putranya.

“K-Kiko, Tuan…” jawab bocah itu gugup.

Don Arturo tersenyum, sebuah senyuman tulus yang belum pernah dilihat oleh dunia bisnisnya.

“Mulai malam ini, Kiko… kamu tidak akan pernah kelaparan lagi. Kamu tidak akan pernah kedinginan di jalanan lagi,” ucap Don Arturo tegas, suaranya bergetar oleh emosi. “Mulai detik ini, kau adalah bagian dari keluarga Montero. Kau adalah putra keduaku, dan seluruh kekayaanku siap dipertaruhkan untuk masa depanmu.”

Malam itu, Rumah Sakit Apex Global menjadi saksi bisu: bukan alat medis bernilai miliaran rupiah yang menyelamatkan pewaris tunggal dinasti Montero, melainkan keberanian seorang anak jalanan yang dianggap sampah oleh dunia, yang kini resmi melangkah keluar dari rumah sakit sebagai putra dari orang paling berkuasa di negeri itu.