Hari ketika Ramon membawa adik laki-lakinya, istrinya, dan anak mereka yang berusia delapan tahun ke rumah kami, aku sedang minum obat sambil duduk di teras kecil.**
Mereka membawa beberapa tas besar dan tampak sudah siap untuk tinggal dalam waktu lama.
Ramon tersenyum canggung.
— Sayang, Ben sedang mengalami sedikit kesulitan. Bolehkah mereka tinggal di sini untuk sementara?
Aku meletakkan gelas air.
— Berapa lama?
— Mungkin tidak akan lama. Setelah dia mendapatkan pekerjaan yang layak, mereka akan pindah.
Ipar perempuanku segera menyela.
— Jangan khawatir, Kak. Ini benar-benar hanya sementara.
Aku melihat anak mereka yang langsung berlari masuk ke rumah dan mulai mengobrak-abrik camilan di ruang tamu seolah-olah rumah itu miliknya sendiri.
Entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman yang muncul dalam hatiku.
Namun aku memilih diam.
…
Aku menderita penyakit paru-paru yang serius.
Dokter sudah lama mengatakan bahwa sistem pernapasanku jauh lebih lemah daripada orang normal.
Aku tidak boleh terpapar debu.
Aku tidak boleh menghirup asap rokok.

Aku tidak boleh begadang.
Dan yang paling penting, aku harus tinggal di lingkungan yang bersih dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
Ramon tahu semua itu.
Saat kami menikah, dia berjanji akan menjagaku seumur hidup.
Namun baru dua minggu berlalu, semuanya terasa berubah.
Ben tidak bekerja.
Sepanjang hari dia merokok di dalam rumah.
Istrinya berjualan online sehingga ruang tamu dipenuhi kardus dan barang dagangan.
Anak mereka terus berlari dan berteriak tanpa henti.
Televisi menyala keras dari pagi hingga malam.
Perlahan-lahan, seluruh rumah dipenuhi asap.
Aku mulai batuk.
Awalnya hanya sedikit.
Lalu berubah menjadi sesak napas setiap malam.
Aku berkali-kali berbicara kepada Ramon.
— Bisakah kamu meminta Ben untuk tidak merokok di dalam rumah?
Dia mengangguk.
— Ya, nanti akan kubicarakan.
Namun keesokan harinya, semuanya tetap sama.
…
Suatu malam, aku terbangun karena kesulitan bernapas yang luar biasa.
Seolah ada beban berat menekan dadaku.
Tenggorokanku terasa terbakar.
Aku terpaksa menggunakan tabung oksigen portabel agar bisa bernapas dengan normal.
Keesokan harinya aku dilarikan ke rumah sakit.
Dokter memeriksa hasil tes cukup lama sebelum berbicara.
— Kondisimu memburuk.
— Jika kamu terus menghirup asap rokok dan tinggal di lingkungan seperti itu, kamu bisa mengalami gagal napas berat kapan saja.
Aku menoleh ke arah Ramon.
Dia hanya menunduk.
Diam.
Sepanjang perjalanan pulang, aku percaya bahwa akhirnya dia akan meminta keluarganya pergi.
Namun ketika pintu rumah terbuka, aku langsung membeku.
Kamar kami sudah berubah total.
Barang-barangku dipindahkan ke sudut ruangan.
Tempat tidur besar kami sudah tidak ada.
Sebagai gantinya, beberapa kasur digelar di lantai dan pakaian anak-anak berserakan di mana-mana.
Aku menatap Ramon.
— Apa ini?
Dia mengangkat bahu.
— Aku sudah memikirkannya.
— Kamar ini lebih luas.
— Ben dan keluarganya akan lebih nyaman di sini.
Rasanya waktu berhenti berputar.
— Lalu kita?
— Kita pindah ke gudang lama di belakang rumah.
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.
Gudang itu dulu hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang rusak.
Tidak ada jendela.
Panas.
Pengap.
Lembap.
— Kamu ingin aku tinggal di sana?
— Ini hanya sementara.
— Kamu tahu sendiri Ben sedang kesulitan.
— Kita harus saling membantu sebagai keluarga.
Aku tersenyum.
Tetapi itu bukan senyum bahagia.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku merasa tidak lagi mengenal pria yang berdiri di hadapanku.
— Aku baru saja pulang dari dokter.
— Dokter bilang aku bisa meninggal.
— Apakah kamu mendengar itu?
Dia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian barulah dia berkata,
— Aku juga tidak punya pilihan lain.
— Dia adikku.
Aku menatapnya lama.
Lalu mengangguk.
— Baiklah.
Mungkin dia mengira aku setuju.
Karena ekspresinya langsung terlihat lega.
— Aku tahu kamu akan mengerti.
Aku tidak menjawab.
Malam itu, aku duduk sendirian di gudang yang gelap.
Aku mendengar tawa dari kamar yang dulu menjadi milikku.
Aku mendengar suara televisi yang keras.
Aku mendengar langkah kaki anak kecil yang berlarian di lantai.
Dan saat itulah aku menyadari kenyataan yang menyakitkan.
Di rumah itu…
Akulah orang asing yang sebenarnya.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal.
Diam-diam aku mengemas semua dokumen penting.
Rekam medis.
Dokumen rumah.
Tabungan.
Semuanya kumasukkan ke dalam satu tas.
Ramon sedang berada di dapur ketika melihatku siap pergi.
— Mau ke mana?
Aku tersenyum tipis.
— Menemui seseorang.
— Siapa?
— Seseorang yang bisa membantuku merebut kembali hidupku.
Dia mengernyit tetapi tidak bertanya lebih jauh.
Satu jam kemudian, aku berada di sebuah gedung di pusat kota.
Di hadapanku duduk seorang pengacara terkenal yang ahli dalam kasus keluarga.
Setelah mendengarkan seluruh ceritaku, ia terdiam cukup lama.
Lalu membuka rekam medis milikku.
— Suamimu tahu kondisi kesehatanmu?
— Ya.
— Dan dia tetap membiarkannya memburuk?
— Ya.
— Rumah ini atas nama siapa?
— Atas namaku sendiri.
Ia mengangguk perlahan.
Kemudian membetulkan kacamatanya.
— Jika semua yang kamu katakan benar…
— Ini bukan sekadar perkara perceraian biasa.
Aku menatapnya.
Jantungku berdegup lebih cepat.
— Apa maksud Anda?
Ia mengeluarkan sebuah map lain dari laci.
Lalu meletakkannya di atas meja.
— Sebelum kamu datang pagi ini…
— Seseorang mengirimkan sebuah video kepadaku.
Tubuhku langsung terasa dingin.
— Video apa?
Tatapannya serius.
— Video percakapan antara suamimu dan adiknya.
— Mereka sedang membahas rumah ini.
Tanganku mulai gemetar.
— Apa yang mereka katakan?
Pengacara itu membuka laptopnya.
Lalu menekan tombol putar.
Dan saat aku mendengar suara yang begitu kukenal keluar dari speaker, napasku seakan berhenti.
Karena orang pertama yang berbicara…
Adalah Ramon.
Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuat darahku seolah membeku.
— Tunggu sedikit lagi.
— Kalau dia sudah tidak kuat dan masuk rumah sakit lagi…
— Rumah ini akan menjadi milik kita juga.
Video itu terus berjalan.
Dan aku…
Hanya bisa terpaku tanpa kata.
Air mataku menetes, tetapi bukan karena sedih. Itu adalah air mata kehancuran dari sisa-sisa rasa hormat yang kupunya untuk pria yang pernah berjanji di depan altar untuk menjagaku.
Di dalam video itu, Ben terdengar tertawa sambil mengembuskan asap rokoknya ke kamera. “Hebat kamu, Mas. Sengaja milih gudang belakang yang lembap itu kan? Biar paru-parunya makin cepat jebol?”
Ramon menjawab dengan dengusan dingin, “Dia terlalu keras kepala. Kalau aku minta cerai sekarang, aku tidak dapat apa-apa karena rumah ini warisan ibunya. Tapi kalau dia… ‘pergi’ karena penyakitnya, sebagai suami, akulah ahli waris tunggalnya. Jadi, biarkan anakmu main sepuasnya, dan kamu merokok saja terus di dalam.”
Video berakhir. Layar laptop menggelap, memantulkan wajahku yang pucat pasi namun kini tatapanku telah berubah. Rasa sakit itu mendadak menguap, digantikan oleh bara api amarah yang dingin dan terhitung.
“Siapa yang mengirimkan video ini kepada Anda?” suaraku terdengar sangat tenang, bahkan membuat pengacara di hadapanku sedikit terkejut.
“Istri Ben,” jawab pengacara itu, mengetuk jarinya di atas meja. “Dia merasa bersalah, atau mungkin, dia takut terseret kasus pembunuhan berencana jika rencana gila suamimu ini benar-benar terjadi. Dia merekamnya diam-diam semalam dan mencariku karena tahu aku adalah pengacara keluargamu dulu.”
Pengacara itu memundurkan kursinya, lalu menatapku dengan senyum tipis yang penuh arti. “Nah, Nyonya… dengan bukti ini, kita tidak hanya bicara soal gugatan cerai. Kita bicara tentang tindak pidana percobaan pembunuhan berencana.”
Eksekusi yang Senyap
Aku pulang ke rumah sore itu. Kondisi rumah masih sama berantakannya. Kardus dagangan online berserakan, asap rokok mengepul di ruang tamu, dan Ramon sedang asyik menonton TV bersama adiknya di kamar utamaku.
Melihatku datang membawa tas, Ramon menoleh dengan malas. “Dari mana saja kamu? Ben lapar, tapi bahan makanan di kulkas habis. Sana belanja dulu.”
Aku tidak marah. Aku hanya menatapnya lama, lalu tersenyum manis—senyuman terakhir yang akan pernah ia lihat dariku. “Aku lelah, Ramon. Aku mau istirahat di gudang.”
“Ya sudah, baguslah kalau sadar diri,” sahut Ben dari dalam kamar sambil tertawa meremehkan.
Malam itu, aku tidur di gudang dengan tabung oksigen di sampingku, membiarkan mereka menikmati “kemenangan semu” mereka untuk beberapa jam lagi.
Pagi Hari yang Menghancurkan
Keesokan harinya pukul delapan pagi, badai yang sesungguhnya datang.
Suara gedoran pintu depan yang sangat keras mengejutkan seisi rumah. Ramon yang baru bangun dengan gusar membuka pintu, siap memaki siapa pun yang mengganggu paginya. Namun, begitu pintu terbuka, ia langsung berhadapan dengan empat orang polisi berseragam lengkap dan pengacaraku.
“Saudara Ramon?” tanya petugas polisi dengan tegas.
“I-iya, ada apa ya Pak?” Ramon mendadak gugup, matanya melirik ke arah surat penangkapan yang dipegang polisi.
“Anda ditahan atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana dan kekerasan dalam rumah tangga dengan sengaja membahayakan nyawa pasangan,” ucap polisi itu dingin.
Ben yang mendengar keributan itu berlari keluar dari kamar, disusul istrinya yang tampak pucat. “Apa-apaan ini?! Mas, ada apa?!”
Pengacaraku maju selangkah, mengangkat sebuah map tinggi-tinggi. “Dan untuk Anda, Saudara Ben. Rumah ini adalah milik mutlak klien saya, Nyonya Alena. Hari ini, hak asuh dan izin tinggal Anda di sini resmi dicabut. Anda memiliki waktu tepat 30 menit untuk mengosongkan rumah ini, atau Anda akan kami seret atas tuduhan pasal penyusupan dan perusakan properti.”
“A-Alena! Apa maksudnya ini?!” Ramon berteriak panik saat polisi mulai mencengkeram lengannya dan memasang borgol. “Aku suamimu! Kamu tidak bisa mengusir adikku! Kamu tega memenjarakan aku?!”
Pemilik yang Sesungguhnya
Aku berjalan keluar dari arah gudang belakang. Langkahku perlahan, namun kepalaku tegak. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, napasku terasa jauh lebih lega.
Aku berdiri di ruang tamu, menatap Ramon yang kini matanya dipenuhi ketakutan yang luar biasa.
“Kamu bilang kamu tidak punya pilihan karena dia adikmu, Ramon,” kataku, suaranya menggema di ruangan yang berantakan itu. “Sekarang, aku juga tidak punya pilihan lain. Aku memilih untuk hidup.”
Aku berjalan mendekati Ben yang mencoba memprotes, lalu menjatuhkan puntung rokok yang ada di asbak ke lantai dan menginjaknya di depan matanya.
“Keluar dari rumahku. Sekarang,” desisku tanpa emosi.
Istri Ben langsung menarik tangan anaknya dan mengemas tas mereka dengan cepat, sementara Ben hanya bisa melongo, kehilangan seluruh keberaniannya saat melihat dua polisi lain mendekatinya dengan tatapan mengancam.
Ramon berlutut di lantai, menangis dan memohon seiring polisi mulai menyeretnya keluar menuju mobil patroli. “Alena, maafkan aku! Aku khilaf! Alena!!”
Aku tidak menoleh lagi.
Satu jam kemudian, rumah itu kembali sunyi. Memang berantakan, bau asap rokok masih tersisa di tirai, tetapi semua parasit itu telah pergi. Aku membuka semua jendela lebar-lebar, membiarkan angin segar masuk dan memenuhi setiap sudut ruangan.
Aku duduk di teras kecilku, meminum obatku dengan tenang. Mereka mengira kelemahanku adalah akhir dari segalanya, tetapi mereka lupa: singa yang sedang terluka tetaplah penguasa di wilayahnya sendiri. Dan hari ini, aku telah merebut kembali hidupku.