Posted in

SETIAP PERAWAT YANG DITUGASKAN MERAWAT PASIEN KOMA ITU HAMIL — HINGGA SEORANG DOKTER MEMASANG KAMERA TERSEMBUNYI

SETIAP PERAWAT YANG DITUGASKAN MERAWAT PASIEN KOMA ITU HAMIL — HINGGA SEORANG DOKTER MEMASANG KAMERA TERSEMBUNYI

Awalnya, Dr. Andika Pratama mengira semua ini hanyalah kebetulan yang aneh.

Perawat hamil itu hal biasa. Rumah sakit adalah tempat hidup dan mati, harapan dan duka bercampur jadi satu. Di tempat seperti itu, orang sering mencari penghiburan di mana pun mereka bisa menemukannya.

Namun ketika perawat kedua yang ditugaskan merawat Rizky Santoso mengumumkan kehamilannya—lalu disusul perawat ketiga—dunia logis Dr. Andika mulai runtuh perlahan.

Rizky Santoso telah koma selama tiga tahun.

Seorang pemadam kebakaran berusia dua puluh sembilan tahun dari Jakarta, ia terjatuh dari gedung yang terbakar saat menyelamatkan orang-orang. Kasusnya menjadi tragedi sunyi di RS San Lorenzo.

Setiap hari, ia terbaring di sana, tenang, wajahnya tetap tampan—seorang pria yang tak pernah terbangun.

Setiap Hari Raya, ada keluarga pasien lain yang meletakkan bunga di depan kamarnya.

Para perawat sering berbisik tentang betapa tenangnya ia… dan betapa rupawannya wajahnya.

Tak ada yang menyangka akan terjadi sesuatu lebih dari sekadar keheningan.

Sampai akhirnya muncul pola yang mengerikan.

Semua perawat yang hamil…
ditugaskan merawat Rizky.
Semuanya masuk shift malam.
Semuanya bertanggung jawab atas Ruang 412-C.

Dan ada satu kesamaan dari pengakuan mereka semua.

Tidak satu pun memiliki hubungan di luar pekerjaan yang bisa menjelaskan kehamilan itu.

Ada yang sudah menikah.
Ada yang masih lajang.
Semuanya kebingungan, malu, bahkan ketakutan.

Awalnya, gosip menyebar di seluruh rumah sakit.

Teori-teori konyol beredar di lorong-lorong:

reaksi hormon,
efek samping obat,
bahkan dugaan alat medis yang terkontaminasi.

Namun Dr. Andika tak menemukan satu pun penjelasan yang masuk akal.

Semua pemeriksaan Rizky tetap sama:

tanda vital stabil,
aktivitas otak sangat rendah,
tidak ada satu pun gerakan tubuh.

Dan tetap saja… “kejadian-kejadian” itu terus terjadi.

Saat perawat kelima—seorang wanita pendiam bernama Laras Putri—masuk ke ruangannya sambil menangis, menggenggam alat tes kehamilan positif dan bersumpah ia tak bersama pria mana pun selama berbulan-bulan…

keyakinan Dr. Andika runtuh sepenuhnya.

Seumur hidup, ia percaya pada sains.
Pada data.
Pada logika.

Tapi kini, manajemen rumah sakit menuntut jawaban.

Desas-desus mulai merambah media.

Para perawat—yang dilahap rasa takut dan malu—mulai meminta dipindahkan sececepatnya dari kamar Rizky.

Malam itu, Dr. Andika mengambil keputusan yang akan mengubah segalanya.

Tepat tengah malam di hari Jumat, setelah shift terakhir selesai, ia masuk sendirian ke Ruang 412-C.

Udara berbau disinfektan dan samar wangi melati dari koridor.

Rizky terbaring tanpa gerak seperti biasa, mesin-mesin berdengung pelan di kegelapan.

Dr. Andika mengeluarkan sebuah kamera kecil dari sakunya.

Dengan hati-hati, ia menyembunyikannya…

di dalam ventilasi.

Tepat mengarah ke ranjang pasien.

Ia menekan tombol “rekam.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia meninggalkan ruangan itu bukan sebagai seorang pria yang sepenuhnya percaya pada sains—

melainkan sebagai seorang pria yang benar-benar takut pada apa yang mungkin akan ia temukan…

Tiga hari kemudian, Dr. Andika mengunci pintu ruangannya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang saat ia menghubungkan kartu memori dari kamera tersembunyi itu ke komputernya.

Rekaman malam pertama: Kosong. Hanya dengung mesin ventilator dan keheningan Ruang 412-C. Rekaman malam kedua: Tetap sama. Rizky Santoso masih terbaring kaku bagai patung.

Namun, pada rekaman malam ketiga—malam di mana Laras seharusnya bertugas namun digantikan oleh perawat baru—layar monitor menunjukkan sesuatu yang membuat darah Dr. Andika membeku.

Pukul 02.14 dini hari.

Pintu kamar tidak terbuka. Namun, ventilasi udara di atas ranjang Rizky tampak bergetar. Sesosok bayangan ramping meluncur turun dengan sangat lincah, hampir seperti gerakan serangga. Itu bukan manusia, melainkan sesuatu yang menyerupai wanita dengan kulit yang pucat nyaris transparan dan rambut hitam panjang yang menyentuh lantai.

Dr. Andika menutup mulutnya agar tidak berteriak.

Sosok itu mendekati tubuh Rizky yang koma. Namun, ia tidak menyerang. Ia justru membisikkan sesuatu ke telinga pria itu—sebuah nyanyian pengantar tidur kuno dalam bahasa yang tidak dikenal. Saat itulah, monitor aktivitas otak Rizky yang biasanya datar tiba-tiba melonjak gila-gilaan.

Rizky tidak bangun, tapi tubuhnya bereaksi.

Cahaya samar mulai muncul dari dada Rizky, mengalir masuk ke dalam tubuh sosok wanita itu. Dr. Andika menyadari satu hal yang mengerikan: sosok itu sedang memanen “energi murni” dari seorang pria yang berada di ambang antara hidup dan mati. Rizky bukan sekadar pasien; ia adalah “sumber” yang tetap terjaga dalam keabadian komanya.

Lalu, kebenaran yang paling mengerikan terungkap.

Pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk untuk mengecek infus. Sosok wanita itu tidak lari. Ia justru berdiri di belakang sang perawat, menyentuh perutnya, dan memindahkan sisa cahaya dari tubuh Rizky ke dalam rahim perawat tersebut.

Bukan sebuah kehamilan biologis biasa, melainkan sebuah cara bagi makhluk itu untuk “terlahir kembali” ke dunia manusia.

Dr. Andika tersandar lemas. Tiba-tiba, monitor komputer berkedip hitam. Layarnya menunjukkan pantulan wajah Dr. Andika, dan di belakang kursinya, di dalam ruangannya yang terkunci, ia melihat sosok wanita pucat itu berdiri sambil tersenyum.

“Sains tidak bisa menjelaskan segalanya, Dokter,” sebuah suara berbisik tepat di telinganya. “Rizky tidak akan pernah bangun… karena ia sedang sibuk memberi kami kehidupan.”

Keesokan harinya, Ruang 412-C ditemukan kosong. Rizky Santoso menghilang tanpa jejak dari ranjangnya, meninggalkan Dr. Andika yang ditemukan terduduk diam di mejanya dengan pandangan kosong—menjadi pasien baru yang takkan pernah bisa bicara lagi.