Posted in

IBU MENGUSIRKU KARENA KATANYA AKU TIDAK MEMBAYAR SEWA—TAPI SAAT AKU BERHENTI MENGASUH ANAK-ANAK KAKAKKU, SELURUH RUMAH HANCUR DAN RAHASIA PALING MENYAKITKAN MILIKNYA TERBONGKAR

**IBU MENGUSIRKU KARENA KATANYA AKU TIDAK MEMBAYAR SEWA—TAPI SAAT AKU BERHENTI MENGASUH ANAK-ANAK KAKAKKU, SELURUH RUMAH HANCUR DAN RAHASIA PALING MENYAKITKAN MILIKNYA TERBONGKAR**

—Kalau kamu tidak mau bayar sewa, keluar dari rumahku!

Itulah teriakan Bu Linda kepadaku sambil memegang segelas minuman dingin, membawa tas dua cucunya, dan hanya menonton Nico dan LJ mengoleskan cokelat ke sofa yang baru saja kubersihkan.

Saat itu aku sangat kelelahan. Aku baru pulang dari shift 12 jam di rumah sakit umum di Quezon City. Seragamku masih berbau alkohol medis. Lututku gemetar karena kurang tidur. Tapi di rumah itu, aku bukanlah seorang anak.

Aku adalah pengasuh gratis.

Namaku Mara, 28 tahun, seorang perawat di rumah sakit pemerintah. Selama lima tahun aku pulang ke rumah kecil kami di Tondo bukan untuk beristirahat, melainkan untuk memulai pekerjaan kedua yang tidak digaji.

Setiap pukul tujuh pagi, tugasku selesai. Namun ketika sampai di rumah, sudah menungguku tumpukan piring kotor, mainan berserakan, pakaian yang harus dicuci, dan dua anak milik kakakku, Sheila.

Sheila? Dia selalu punya alasan.

Katanya ada rapat. Katanya ada klien. Katanya ada seminar. Katanya ada urusan mendadak ke Makati. Kadang-kadang malah jelas terlihat rambutnya baru diluruskan dan kukunya baru dicat.

Tapi ketika aku mengatakan bahwa aku lelah, jawaban Mama selalu sama:

—Lelah? Kita semua lelah. Jangan manja.

Pagi itu Sheila duduk di meja plastik sambil menatap ponselnya, sementara aku yang menyiapkan bekal anak-anaknya.

—Mara, tolong jagakan Nico dan LJ dulu. Aku ada urusan penting, katanya tanpa menatapku.

Aku menoleh padanya.

—Kak, aku baru pulang kerja. Aku bahkan belum tidur.

Dia tertawa pendek dan tajam.

—Ah, kamu kan perawat. Sudah biasa begadang.

Rasanya seperti ada air dingin yang disiramkan ke dadaku.

Aku menoleh kepada Mama. Kupikir setidaknya sekali saja dia akan membelaku.

Namun dia meletakkan gelasnya di meja dan menyipitkan mata.

—Mara, kamu terlalu banyak mengeluh. Kamu tinggal di sini, makan di sini, pakai air dan listrik. Kalau tidak mau membantu, bayar sewa.

Aku ternganga.

—Ma, aku yang membayar tagihan listrik. Aku yang membeli beras. Aku juga yang membayar obat Mama waktu tekanan darah Mama naik.

Sheila langsung menyela.

—Terus kenapa? Mau dapat medali?

Aku menatapnya.

Selama lima tahun, akulah yang menjaga anak-anaknya saat sakit. Aku yang mengantre di klinik. Aku yang mengerjakan proyek sekolah mereka. Aku yang memberi mereka makan. Aku yang tidur di lantai saat mereka demam agar bisa mengawasi mereka.

Tapi dalam cerita mereka, akulah beban keluarga.

Mama berdiri.

—Kalau begitu caramu bicara, lebih baik kamu pergi saja. Atau mulai sekarang bayar sewa Rp2.900.000 per bulan.

Rp2.900.000.

Untuk rumah yang aku bersihkan sendiri. Rumah yang setengah biaya hidupnya kutanggung. Rumah tempat aku tidak bisa tidur karena diwajibkan mengurus anak-anak yang bahkan bukan anakku.

Aku tidak menangis.

Aku tidak berteriak.

Aku hanya tersenyum.

Karena selama tiga bulan aku sudah menunggu saat itu.

Aku masuk ke kamar dan menarik koper hitam dari bawah tempat tidur. Semua pakaianku sudah tersusun rapi di dalamnya. Aku punya sedikit tabungan. Salinan dokumen penting. Dan sebuah amplop kecil berisi uang hasil lembur yang kusisihkan.

Saat aku keluar, Mama terdiam.

—Apa itu?

—Aku pergi.

Sheila tertawa.

—Drama lagi. Silakan pergi. Kita lihat saja apakah kamu bisa bertahan.

Nico yang berusia enam tahun mendekat sambil memegang mobil mainannya yang rusak.

—Tante Mara, Tante mau pergi?

Aku berlutut dan mengusap rambutnya.

—Jadi anak baik, ya.

Aku tidak mengatakan, “Aku akan kembali.”

Karena memang tidak akan.

Aku meninggalkan kunci di atas meja. Untuk pertama kalinya, aku pergi tanpa rasa bersalah. Aku tidak menoleh meski mendengar Mama berteriak:

—Jangan kembali ke sini kalau kamu kelaparan!

Aku naik angkot menuju Cubao. Setelah itu aku masuk ke penginapan murah dekat terminal. Aku mandi air hangat. Mematikan ponselku. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidur tanpa tangisan anak, tanpa perintah, tanpa bentakan.

Keesokan harinya aku mencari apartemen.

Kecil saja. Satu kamar. Dindingnya retak. Airnya sering kecil. Tapi tenang.

Dan dalam ketenangan itu, rasanya aku menemukan diriku kembali.

Empat hari aku tidak memberi kabar.

Pada hari kelima, aku menyalakan ponsel untuk memberikan alamat baruku ke rumah sakit.

Tiba-tiba notifikasi berbunyi tanpa henti.

87 pesan.

34 panggilan tak terjawab.

Dari Mama. Dari Sheila. Dari tetangga. Dari petugas keamanan lingkungan. Bahkan dari pemilik rumah kami.

Aku membuka pesan suara pertama dari Mama.

Suaranya gemetar.

—Mara… Nak… pulanglah. Tolong. Kami tidak sanggup lagi. Sheila sekarang ada di kantor kelurahan. Anak-anaknya sudah sementara diambil oleh dinas sosial. Dan… ada surat yang datang untukmu. Tentang ayahmu.

Napas ku terasa berhenti.

Ayah sudah meninggal lima tahun lalu.

Saat aku menatap layar, masuk pesan baru dari nomor yang tidak kukenal.

“Nona Mara Santos, kami perlu segera berbicara dengan Anda. Uang yang ditinggalkan ayah Anda seharusnya sudah lama menjadi hak Anda.”

Tanganku gemetar ketika membaca kalimat terakhir.

“Menurut catatan kami, uang tersebut diterima setiap bulan oleh ibu Anda.”

✨

Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian cerita tersebut:

Bagian Akhir: Runtuhnya Istana Kebohongan

Pesan itu seperti petir di siang bolong. Ayahku, seorang mantan pekerja migran yang kami kira meninggal tanpa meninggalkan apa pun kecuali utang, ternyata meninggalkan warisan. Selama lima tahun ini, aku bekerja bagai budak, sementara mereka hidup dari uang yang seharusnya menjadi hakku.

Aku segera bersiap dan pergi ke alamat kantor hukum yang mengirimkan pesan tersebut, mengabaikan puluhan telepon dari Sheila dan Mama.

Di kantor pengacara, sebuah kebenaran yang kejam dikupas tuntas.

“Ayah Anda meninggalkan dana perwalian dan asuransi jiwa yang cukup besar, Nona Mara. Nama Anda adalah ahli waris tunggal,” ujar pengacara itu sambil menyodorkan dokumen. “Namun, karena saat itu Anda masih sibuk dengan kuliah keperawatan, Ibu Anda memalsukan tanda tangan Anda agar dana bulanan tersebut masuk ke rekeningnya. Totalnya mencapai ratusan juta rupiah selama lima tahun terakhir.”

Pantas saja Sheila bisa meluruskan rambut, mengecat kuku, dan bergaya hidup mewah di Makati tanpa pekerjaan yang jelas. Pantas saja Mama menuntutku membayar sewa rumah—mereka panik karena aliran uang dari rekening rahasia itu akan segera dihentikan oleh bank karena adanya audit berkala yang memerlukan verifikasi fisik diriku.

Dengan membawa dokumen bukti penipuan itu, aku melangkah kembali ke rumah di Tondo. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk menuntut keadilan.

Rumah yang Hancur

Saat aku tiba di gang rumah kami, pemandangan di depan mataku sungguh mengerikan.

Rumah itu tampak seperti kapal pecah. Pakaian kotor menumpuk hingga teras, bau sampah menyengat, dan kaca jendela depan pecah. Di dalam rumah, suasana jauh lebih kacau. Sofa yang sempat kupermanis kini robek karena Nico dan LJ dibiarkan bermain korek api dan pisau dapur tanpa pengawasan, yang memicu kepanikan warga hingga petugas dinas sosial (DSWD) harus turun tangan mengamankan anak-anak itu karena dianggap terlantar.

Mama duduk di lantai sambil menangis sesenggukan, sementara Sheila tampak histeris berdebat dengan petugas keamanan lingkungan.

Begitu mereka melihatku, Mama langsung merangkak memeluk kakiku.

“Mara! Kamu kembali, Nak! Tolong bicarakan dengan dinas sosial, mereka membawa Nico dan LJ. Sheila tidak tahu cara mengurus mereka, rumah ini lumpuh tanpa kamu!” ratap Mama.

Sheila ikut mendekat, wajahnya pucat tanpa riasan. “Mara, maafkan aku. Tolong masak, tolong bersihkan rumah ini, kami tersiksa selama lima hari ini…”

Aku memundurkan langkahku, melepaskan cengkeraman Mama dengan dingin. Aku melemparkan map dokumen dari pengacara ke atas meja yang penuh dengan sisa makanan berjamur.

“Aku tidak akan membersihkan rumah ini. Dan aku tidak akan membantu mengambil anak-anak Sheila,” kataku, suaraku datar namun bergetar menahan amarah. “Satu-satunya alasan aku ke sini adalah ini.”

Sheila membuka map tersebut. Begitu melihat isinya, wajahnya berubah dari pucat menjadi seputih kertas. Mama pun terdiam seketika, tangisnya mendadak berhenti.

“Lima tahun,” bisikku, air mata yang kutahan akhirnya jatuh. “Lima tahun aku memohon belas kasihan kalian. Aku bekerja 12 jam, merawat anak orang lain, membersihkan kotoran kalian, dan kalian mengusirku karena mengira aku menumpang gratis? Sementara kalian hidup mewah dari uang Ayah yang kalian curi dariku?!”

“Mara… Mama terpaksa… untuk biaya hidup kita…” Mama mencoba terbata-bata mencari alasan.

“Biaya hidup kita? Atau biaya hidup mewah Sheila?!” teriakku, meluapkan seluruh rasa sakit yang kupendam bertahun-tahun. “Kalian tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan uangnya. Tapi fakta bahwa kalian memperlakukanku seperti sampah, padahal akulah yang menghidupi kalian, baik dengan tenagaku maupun dengan uang Ayah!”

Titik Tanpa Kembali

Hari itu, aku membuat keputusan terbesar dalam hidupku. Aku menolak menandatangani surat damai atau perpanjangan kuasa rekening. Aku membekukan seluruh aset yang tersisa atas nama Ayah. Tanpa uang tunjangan itu, Sheila dan Mama tidak bisa lagi membayar sewa rumah Tondo yang sebenarnya sudah jatuh tempo (karena uangnya habis dipakai Sheila berbelanja).

Dalam waktu dua minggu, mereka diusir oleh pemilik kontrakan yang sebenarnya.

Sheila terpaksa harus bekerja nyata sebagai buruh pabrik demi bisa menebus kembali hak asuh anak-anaknya dari dinas sosial. Sementara Mama, kini harus tinggal di kamar kos sempit bersama Sheila, merasakan apa artinya hidup hemat tanpa ada pelayan gratis yang bisa ia bentak setiap hari.

Saat aku melangkah keluar dari gang Tondo untuk terakhir kalinya, membawa sisa dokumen Ayah, aku merasakan beban berat di pundakku runtuh.

Aku kembali ke apartemen kecilku yang sepi. Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan anak-anak, tidak ada tuntutan sewa yang tidak adil. Hanya ada aku, seragam perawatku, dan masa depan baru yang kubangun dari keringatku sendiri—serta hak yang akhirnya kembali ke tanganku.

Mereka menghancurkan rumah itu dengan keserakahan mereka sendiri. Dan di atas puing-puing itu, aku akhirnya menemukan kedamaianku.