Posted in

TIGA TAHUN SETELAH AKU MENINGGAL, AKHIRNYA KAKAKKU MENGENAKAN GAUN PENGANTIN UNTUK MENIKAH DENGAN PRIA YANG PALING KUCINTAI, SEMENTARA AKU HANYA BISA MENYAKSIKAN DARI ALAM KEABADIAN.**

TIGA TAHUN SETELAH AKU MENINGGAL, AKHIRNYA KAKAKKU MENGENAKAN GAUN PENGANTIN UNTUK MENIKAH DENGAN PRIA YANG PALING KUCINTAI, SEMENTARA AKU HANYA BISA MENYAKSIKAN DARI ALAM KEABADIAN.**

Tiga tahun yang lalu, aku meninggal dunia.

Namun hari ini, di depan cermin-cermin besar sebuah butik gaun pengantin mewah di Jakarta, kakak perempuanku mengenakan gaun pengantin yang dulu selalu kuimpikan. Ia bersiap berjalan menuju pelaminan bersama pria yang paling kucintai.

Selama tiga tahun, ibuku membuat semua orang percaya bahwa aku masih hidup dengan satu kebohongan sederhana.

Beliau hanya berkata,

“Vanessa sedang melanjutkan kuliah di luar negeri dan belum ingin berhubungan dengan siapa pun.”

Semua orang mempercayainya.

Tak seorang pun tahu bahwa jasadku telah lama berbaring di bawah tanah yang dingin.

Rencana mereka berjalan sempurna.

Kakakku mengambil kehidupan yang seharusnya menjadi milikku.

Mengambil pria yang seharusnya menjadi milikku.

Mengambil semua perhatian yang tak pernah diberikan kepadaku.

Namun mereka melupakan satu hal.

Sebelum mengembuskan napas terakhir di sebuah bangunan kosong yang gelap, aku telah menjadwalkan sebuah pengiriman melalui layanan kurir dan platform pengiriman digital.

Paket itu akan dikirim tepat tiga tahun kemudian.

Penerimanya hanya satu orang.

Gian.

Di dalam kotak itu hanya ada tiga benda.

Sebuah kunci tua.

Selembar kertas kecil berisi alamat di kawasan pegunungan Puncak, Bogor.

Dan sepucuk surat dengan tulisan tanganku yang sangat dikenalnya.

**”Datanglah menemuiku. Aku sudah lama menunggumu.”**

Hari ini adalah sesi fitting terakhir sebelum pernikahan.

Vivian, kakakku, berdiri di depan tiga cermin kaca besar.

Gaun pengantin model mermaid berwarna putih gading itu membentuk lekuk tubuhnya dengan sempurna.

Ekor gaun yang panjang berkilauan menyapu lantai butik.

Ia merapikan renda di bahunya sambil tersenyum puas melihat bayangannya sendiri.

Tak jauh dari sana, Gian duduk di sofa kulit yang empuk.

Matanya tertuju pada ponsel, jari-jarinya terus menggulir layar.

Namun pikirannya jelas sedang melayang jauh.

“Gian…”

Vivian memanggil dengan suara lembut sambil berputar perlahan memperlihatkan bagian belakang gaunnya.

“Bagaimana? Cocok untukku?”

Gian perlahan mengangkat kepala.

Tatapannya bergerak dari ujung gaun…

Naik ke pinggang…

Ke tulang selangka…

Hingga akhirnya berhenti di wajah kakakku.

Tubuhnya membeku.

Matanya membelalak.

Seolah melihat seseorang yang telah mati.

“Nessa…?”

Suara itu nyaris hanya berupa bisikan.

Tetapi cukup membuat seluruh ruangan menjadi sunyi.

Senyum Vivian langsung menghilang.

Wajahnya berubah tegang.

“Siapa… siapa yang barusan kamu panggil?”

Suara Vivian bergetar.

Gian tersadar.

Ia segera mengalihkan pandangan dan kembali memasang ekspresi dingin.

“Aku bilang… kamu cantik. Gaun itu cocok untukmu.”

“Kalau begitu kenapa kamu menatapku seperti itu?”

Vivian menatapnya tajam.

Tangan kanannya mencengkeram kain gaun mahal itu begitu kuat hingga kusut.

Lima detik berlalu dalam keheningan yang mencekam.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Vivian berbalik dan masuk ke ruang ganti.

Tirai ditariknya dengan kasar.

Begitu berada di dalam, wajah lembutnya seketika berubah penuh kebencian.

Tangannya meremas ujung gaun itu erat.

“Vanessa…”

Rahangnya gemetar menahan amarah.

“Kamu sudah mati tiga tahun! Kenapa sampai sekarang kamu masih terus menghantui kami?”

Langkah kaki pelan terdengar dari luar.

Ibu Teresa masuk ke ruang ganti lalu menggenggam tangan Vivian.

“Vivian, lepaskan gaunnya. Harganya lebih dari lima ratus juta rupiah. Jangan sampai rusak.”

Vivian menangis.

“Bu… dia memanggil nama Nessa lagi. Sudah tiga tahun, tapi setiap kali melihatku, yang dia lihat tetap Nessa.”

Ibu Teresa terdiam sesaat.

Beliau mengusap punggung putrinya.

“Di luar banyak orang. Jangan membuat keributan. Wajar kalau Gian sesekali masih teringat adikmu. Itu tidak berarti apa-apa.”

“Wajar? Sudah tiga tahun, Bu! Bukankah Ibu bilang kalau kita menyembunyikan semua ini, lama-kelamaan Gian akan melupakan Nessa? Kenapa baginya rasanya seperti baru kemarin?”

“Pelankan suaramu.”

Nada suara Ibu Teresa berubah tegas.

“Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nessa. Bagi semua orang, dia sedang kuliah di Amerika. Selama kamu bisa mengendalikan diri, rahasia ini akan tetap aman. Besok, setelah akad nikah, kamu resmi menjadi istrinya. Semuanya selesai.”

Vivian menarik napas panjang.

Ia mengintip dari balik tirai.

Gian masih duduk di sofa.

Ponselnya tetap di tangan.

Tatapannya kosong.

Vivian menghapus air matanya lalu memaksakan senyum.

Saat keluar dari ruang ganti, ia kembali menjadi calon pengantin yang anggun dan manis.

Ia memeluk Gian dari belakang.

Menyandarkan pipinya di bahu pria itu.

“Maaf ya, aku agak lama. Aku masih harus mencoba gaun pesta untuk resepsi. Tunggu aku, ya?”

Gian hanya mengangguk pelan.

“Baik.”

Matanya tetap menatap lurus ke depan.

Bahkan ia tidak menoleh kepada perempuan yang besok akan dinikahinya.

Aku melayang di samping mereka.

Diam memperhatikan semuanya.

Tiga tahun lalu Gian pernah berjanji akan memberiku pernikahan terindah.

Kini janji itu diberikan kepada orang lain.

Kepada perempuan yang telah menghancurkan hidupku.

Saat Vivian sedang berganti pakaian untuk terakhir kalinya, Ibu Teresa berdiri di depan tirai agar Gian tidak melihat ke dalam.

“Vivian…”

Bisik Ibu Teresa.

“Perutmu… kapan kamu akan memberitahunya?”

Tak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian Vivian berkata pelan,

“Setelah kami resmi menikah besok.”

“Tapi kandunganmu sudah tiga bulan. Tidak lama lagi pasti akan terlihat.”

“Aku tahu. Tapi setelah kami menikah, dia tidak akan bisa meninggalkanku. Sekalipun yang dicintainya tetap Nessa, dia akan bertahan demi anak kami.”

Ibu Teresa mengangguk perlahan.

Aku menatap perut kakakku.

Dia sedang hamil.

Anak Gian.

Aku teringat saat masih hidup.

Gian sangat menyukai anak-anak.

Dia pernah berkata ingin memiliki seorang putri yang wajahnya semirip mungkin denganku agar bisa mencurahkan seluruh cintanya.

Kini anak itu memang akan lahir.

Namun ibunya bukan aku.

Tiba-tiba seorang staf butik masuk sambil membawa sebuah kotak hitam mewah.

“Permisi, Pak Gian. Ada paket untuk Anda di meja resepsionis. Kurirnya berpesan agar paket ini dibuka sebelum hari ini berakhir.”

Gian menerima kotak itu dengan wajah bingung.

Namun ketika melihat kartu pengirimnya…

Tangannya hampir menjatuhkannya.

Nama yang tertulis di sana hanya satu.

**Vanessa.**

Dengan tangan gemetar, Gian membuka kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah kunci tua.

Selembar kertas berisi alamat di kawasan Puncak, Bogor.

Dan sepucuk surat dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.

**”Datanglah menemuiku. Aku sudah lama menunggumu.”**

Mata Vivian langsung membelalak saat melihat nama pada kartu itu.

Ia dan Ibu Teresa saling berpandangan.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…

Aku melihat ketakutan yang benar-benar nyata di wajah mereka.

Gian bangkit berdiri. Napasnya memburu, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat saat jemarinya menyentuh permukaan surat dengan tulisan tangan yang sangat ia hafal. Tulisan tangan milik gadis yang mengilang tanpa kabar selama tiga tahun ini.

“Gian! Mau ke mana?” teriak Vivian, wajahnya pucat pasi di balik riasan pengantinnya yang mahal. Ia mencoba meraih lengan Gian, namun Gian menepisnya dengan kasar—sesuatu yang belum pernah pria itu lakukan sebelumnya.

“Aku harus pergi,” jawab Gian dingin. Suaranya datar, namun tersirat ketegasan yang mutlak.

“Besok pernikahan kita, Gian! Kamu mau pergi demi paket sialan dari orang yang sudah membuangmu?!” Ibu Teresa berteriak, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai calon mertua, namun suaranya justru terdengar penuh kepanikan yang disembunyikan.

Gian tidak memedulikan mereka. Ia menyambar kunci mobilnya, mendekap kotak hitam itu erat-erat di dadanya, dan berlari keluar dari butik. Dari alam keabadian, aku melayang di sampingnya, ikut masuk ke dalam mobil yang melaju membelah rintik hujan menuju kawasan Puncak.

Perjalanan itu memakan waktu dua jam yang mencekam. Di belakang, aku bisa melihat mobil Ibu Teresa dan Vivian membuntuti dari kejauhan. Ketakutan telah membuat mereka nekat. Mereka tahu, rahasia tiga tahun ini berada di ujung tanduk.

Mobil Gian berhenti di depan sebuah bangunan tua yang terbengkalai di pelosok Puncak. Bangunan kosong, gelap, dan dingin—tempat di mana napas terakhirku berembus tiga tahun lalu.

Dengan tangan gemetar, Gian mencocokkan kunci tua dari kotak itu ke sebuah gembok berkarat di pintu ruang bawah tanah.

KLIK. Pintu terbuka.

Aroma lembap dan busuk langsung menusuk hidung. Gian menyalakan senter ponselnya, melangkah perlahan ke dalam kegelapan. Di sudut ruangan, terdapat sebuah peti kayu besar yang terkunci. Dan di atas peti itu, tergeletak sebuah alat perekam suara digital mini yang baterainya telah diatur sedemikian rupa agar bertahan lama, bersanding dengan sebuah buku harian bersampul merah milikku.

Gian jatuh berlutut di depan peti itu. Air matanya tumpah seketika. “Nessa… apa semua ini?” bisiknya lirih.

Tepat saat itu, langkah kaki tergesa-gesa terdengar. Vivian dan Ibu Teresa merangsek masuk ke dalam ruangan. Wajah mereka dipenuhi keringat dan ketakutan yang luar biasa.

“Gian! Ayo pulang! Tempat ini menjijikkan! Vanessa hanya mempermainkanmu, dia sengaja ingin merusak pernikahan kita!” Vivian berteriak histeris, mencoba menarik tubuh Gian yang gemetar.

Namun, Gian tidak bergerak. Ia justru menekan tombol play pada alat perekam suara di atas peti.

Suaraku—suara asli Vanessa yang telah tiga tahun tidak mereka dengar—bergema di ruangan bawah tanah yang sunyi itu.

“Gian… Jika kamu mendengar rekaman ini, berarti ini sudah tepat tiga tahun sejak malam itu. Malam di mana Ibu dan Vivian menjebakku, mengurungku di sini, dan membiarkanku mati kelaparan karena aku menolak menyerahkan hak asuh perusahaan warisan Ayah dan menolak melepaskanmu untuk Vivian…”

Suara di rekaman itu mulai terengah-engah, diiringi isak tangis masa laluku.

“Mereka bilang aku kuliah di luar negeri, kan? Bohong, Gian… Jasadku ada di dalam peti ini. Mereka membunuhku. Maaf aku tidak bisa menepati janji untuk menjadi pengantinmu. Aku mencintaimu, Gian. Selalu.”

Rekaman itu berakhir dengan suara klik yang sunyi.

Ruangan itu mendadak sehangat es. Gian perlahan berdiri. Tatapannya yang biasanya lembut kini berubah menjadi tatapan iblis yang siap mencabik. Ia menatap Ibu Teresa dan Vivian yang kini berlutut di lantai, wajah mereka seputih kain kafan.

“K-Gian… itu bohong… Vanessa memfitnah kami…” Vivian merangkak, menangis memohon, memegangi kaki Gian dengan gaun pengantin ratusan juta yang kini kotor terkena debu dan tanah.

“BOHONG?!” Gian meraung. Suaranya menggelegar, meruntuhkan seluruh dinding kebohongan yang mereka bangun. Ia membuka paksa peti kayu tersebut. Di dalamnya, dalam balutan kain yang telah usang, kerangka tubuhku terbaring kaku.

Ibu Teresa menjerit histeris dan menutup wajahnya, sementara Vivian muntah karena syok dan ketakutan.

Gian mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang sangat tenang—ketenangan yang mematikan. Ia menekan nomor polisi. “Halo. Saya ingin melaporkan kasus pembunuhan berencana tiga tahun lalu. Pelakunya ada di depan saya.”

Hari berikutnya tidak ada pernikahan.

Gaun pengantin putih gading yang megah itu tidak pernah berjalan menuju pelaminan. Sebagai gantinya, Vivian mengenakan baju tahanan berwarna oranye, bersanding dengan ibunya di balik jeruji besi. Kehamilan Vivian tak mampu menyelamatkannya dari jerat hukum atas pembunuhan berencana. Janin di rahimnya harus menanggung dosa besar ibunya, dan Gian menyatakan tidak akan pernah sudi menemui anak dari wanita yang telah membunuh belahan jiwanya.

Di pemakaman yang layak, di bawah langit Puncak yang cerah, Gian berdiri sendirian di depan nisan baruku yang bertuliskan nama: Vanessa Adeline.

Ia meletakkan seikat bunga mawar putih, lalu mengecup nisan itu dengan lembut.

“Tunggulah sebentar lagi, Nessa. Setelah keadilan ini selesai, aku akan datang menyusulmu. Kita akan menikah di sana,” bisiknya lirih.

Aku tersenyum dari atas sana. Perlahan, bayanganku mulai memudar, ditarik oleh cahaya kedamaian yang sesungguhnya. Aku tidak lagi terikat pada dendam, karena pria yang paling kucintai telah menjemput kebenaran yang selama ini terkubur. Akhirnya, aku bisa beristirahat dengan tenang.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.