Posted in

IBUNYA MENINGGALKAN KETIGA ANAK PEREMPUANNYA SAAT MEREKA BARU BERUSIA TIGA BULAN. SELAMA 30 TAHUN, SEORANG AYAH BERNAMA MANGUEL MENJADI “AYAM JANTAN YANG MEMBESARKAN ANAK-ANAKNYA SENDIRIAN.” SAAT KETIGA PUTRINYA MENJADI MILIARDER, SANG IBU KEMBALI DAN MEMINTA SEKITAR RP280 JUTA AGAR MEREKA DIAM—NAMUN APA YANG TERJADI DI AKHIR MEMBUATNYA MEMBISU KARENA SYOK.

IBUNYA MENINGGALKAN KETIGA ANAK PEREMPUANNYA SAAT MEREKA BARU BERUSIA TIGA BULAN. SELAMA 30 TAHUN, SEORANG AYAH BERNAMA MANGUEL MENJADI “AYAM JANTAN YANG MEMBESARKAN ANAK-ANAKNYA SENDIRIAN.” SAAT KETIGA PUTRINYA MENJADI MILIARDER, SANG IBU KEMBALI DAN MEMINTA SEKITAR RP280 JUTA AGAR MEREKA DIAM—NAMUN APA YANG TERJADI DI AKHIR MEMBUATNYA MEMBISU KARENA SYOK.

Manguel adalah pria sederhana yang sepanjang hidupnya bekerja sebagai tukang kayu di sebuah desa kecil dekat sungai di provinsi Bulacan. Dia menikah cukup terlambat—hampir berusia empat puluh tahun saat mempersunting seorang wanita yang usianya hampir lima belas tahun lebih tua darinya.

Kebahagiaan datang terlambat… namun juga datang begitu cepat—dan segera menghilang.

Pada suatu pagi yang hujan, ketika ketiga bayi kembarnya—Ana, Nicole, dan Lianne—baru berusia tiga bulan, istrinya diam-diam mengemas pakaian lalu meninggalkan secarik surat pendek:

“Aku tidak sanggup hidup miskin seperti ini. Urus sendiri anak-anakmu.”

Tidak ada air mata.
Tidak ada tatapan terakhir.

Manguel berdiri di dalam rumah bocor sambil menggendong tiga bayi mungil, dadanya terasa sesak.

Dia tidak marah.
Dia juga tidak menangis.

Dia hanya berkata pelan:

“Kalau mereka tidak punya ibu… biar aku yang menjadi ibu mereka.”

Tiga Puluh Tahun Menjadi Ayah dan Ibu

Siang hari, dia memperbaiki meja, kursi, dan lemari demi mencari nafkah. Malam hari, dia menyalakan lampu minyak lalu membuat kerajinan kayu kecil untuk dijual di pasar.

Ketiga anak itu tumbuh dengan susu seadanya, bubur, dan kuah nasi. Saat mereka demam di malam hari, hanya tangan kasar ayah mereka yang menjaga di atas dahi mereka.

Manguel belajar mengganti popok, memasak bubur, bahkan mengikat rambut anak-anak perempuannya.

Dia meninggalkan semua kebiasaan buruk—tidak lagi merokok, tidak minum alkohol, bahkan rela mengorbankan tidurnya.

Ada hari-hari ketika uang tidak cukup untuk membeli susu ketiga anaknya. Diam-diam dia makan nasi dengan kecap atau saus ikan, sementara telur diberikan untuk anak-anaknya.

Para tetangga sering menggelengkan kepala.

“Pria membesarkan tiga anak perempuan tanpa ibu… masa depan mereka pasti suram.”

Manguel hanya tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya membuat lemari yang belum selesai.

Tumbuh Dalam Kesulitan… Tapi Tidak Pernah Menyerah

Ana, si sulung, cerdas dan kuat—dia cepat belajar membantu ayahnya.
Nicole, anak tengah, cepat berpikir dan menyukai angka.
Lianne, si bungsu, pendiam tetapi gemar membaca dan memiliki tekad yang luar biasa.

Mereka pergi ke sekolah dengan sandal usang dan buku-buku tua, tetapi tidak pernah sekalipun bolos.

Saat ketiganya diterima di universitas, Manguel duduk di depan rumah dan menangis seperti anak kecil.

“Ayah mungkin tidak bisa membuat kalian kaya… Ayah hanya ingin kalian menjadi orang baik.”

Tiga Puluh Tahun Kemudian…

Tiga gadis kecil itu tumbuh menjadi pengusaha sukses. Nama mereka mulai muncul di surat kabar ekonomi.

Perusahaan mereka bergerak di tiga industri berbeda—namun semuanya menjadi pemimpin di negara itu.

Ketika mereka membawa ayah mereka tinggal di kota bersama mereka, rumah tua di desa tidak dijual dan tidak direnovasi.

Mereka membiarkannya tetap seperti dulu—sebuah kenangan yang tidak ingin diubah.

Dan tepat pada saat itulah…

ibu kandung mereka tiba-tiba muncul kembali.

Kepulangan Sang Benalu

Wanita itu muncul di depan gerbang mansion mewah milik keluarga mereka dengan pakaian yang sengaja dibuat lusuh, meski tas yang ia jinjing adalah merk tiruan yang mahal. Namanya Elena. Setelah 30 tahun menghilang mengejar pria kaya yang akhirnya mencampakkannya, dia mendengar berita tentang “Tiga Saudara Kembar Miliarder” di televisi.

Elena tidak datang dengan penyesalan. Dia datang dengan kalkulator di kepalanya.

Di ruang tamu yang megah, Elena duduk berhadapan dengan Ana, Nicole, dan Lianne. Manguel duduk di pojok ruangan, tangannya yang kapalan dan gemetar karena usia tua memegang cangkir teh dengan tenang.

“Aku adalah ibumu,” ucap Elena tanpa rasa malu, air mata buaya mengalir di pipinya. “Aku meninggalkan kalian dulu karena depresi pascapersalinan. Aku ingin kembali, tapi aku malu. Sekarang, aku hanya butuh sedikit bantuan untuk masa tuaku. Berikan aku Rp280 juta, dan aku berjanji tidak akan pernah muncul lagi mengganggu reputasi kalian sebagai pengusaha sukses.”

Ana, si sulung, menatap wanita itu dengan mata sedingin es. “Rp280 juta? Itu jumlah yang kecil bagi kami, Elena.”

Elena tersenyum penuh kemenangan. Dia mengira rencananya berhasil. Namun, Nicole, si anak tengah, mengeluarkan sebuah koper kecil dan meletakkannya di atas meja.

Harga Sebuah Kesetiaan

“Di dalam sini bukan hanya uang,” kata Nicole sambil membuka koper tersebut.

Elena terkesiap. Di dalam koper itu terdapat tumpukan uang tunai, namun di atasnya terdapat sebuah buku catatan usang yang sangat tipis dan beberapa lembar kuitansi yang sudah menguning.

Lianne, si bungsu, mengambil buku itu. “Ini adalah buku catatan hutang Ayah 30 tahun lalu. Ayah mencatat setiap butir telur yang dia pinjam dari tetangga saat kami kelaparan. Ayah mencatat harga obat demam yang dia beli dengan menjual satu-satunya jam tangan peninggalan kakek.”

Lianne membacakan salah satu baris: “Beli susu untuk si kembar: Rp15.000. Sisa uang di kantong: Rp0. Makan malam: Air putih.”

“Selama 30 tahun,” Ana melanjutkan, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. “Ayah kami menghabiskan jutaan jam untuk memastikan kami tidak merasa kehilangan sosok ibu. Jika kau ingin dibayar karena telah melahirkan kami, maka kau juga harus membayar ‘biaya sewa’ atas penderitaan Ayah yang membesarkan kami sendirian.”

Skakmat yang Membisukan

Ana mengeluarkan sebuah dokumen legal. “Kami sudah menghitungnya. Biaya jasa pengasuhan, makanan, pendidikan, dan kerugian moril yang Ayah alami selama 30 tahun karena pengkhianatanmu berjumlah Rp28 miliar. Kami akan memberikanmu Rp280 juta yang kau minta sekarang juga…”

Elena hendak meraih uang itu, namun Ana menahannya.

“…Tapi dengan syarat: Kamu harus menandatangani surat pengakuan penelantaran anak di depan kantor polisi dan media. Kami akan menuntutmu secara perdata atas semua penderitaan Ayah selama tiga dekade ini. Uang Rp280 juta ini akan menjadi bukti di pengadilan bahwa kau mencoba memeras anak-anak yang kau buang.”

Elena terdiam seribu bahasa. Wajahnya yang tadi penuh kepura-puraan kini pucat pasi. Dia menyadari bahwa ketiga putri yang dia remehkan bukan hanya kaya raya, tapi mereka memiliki kecerdasan dan perlindungan yang sangat ketat terhadap ayah mereka.

Tiba-tiba, Manguel berdiri. Dia berjalan perlahan menuju Elena. Pria tua itu tidak marah. Dia hanya mengambil selembar uang Rp50.000 dari sakunya dan meletakkannya di tangan Elena.

“Ini uang untuk ongkos pulangmu, Elena,” kata Manguel lembut. “Anak-anakku tidak akan memberimu satu sen pun dari harta mereka, karena harta mereka adalah hasil keringat mereka sendiri. Dan kau… kau tidak punya hak atas satu tetes keringat pun di rumah ini.”

Manguel berbalik dan merangkul ketiga putrinya. “Ayo, Nak. Ayah lapar. Siapa yang mau memasak untuk Ayah malam ini?”

Elena berdiri mematung, sendirian di tengah kemegahan yang seharusnya bisa ia nikmati jika saja ia punya hati. Dia pergi dengan tangan kosong, menyadari bahwa 30 tahun lalu, dia bukan meninggalkan kemiskinan, melainkan meninggalkan harta yang paling berharga di dunia: cinta yang tulus.