Posted in

MANTAN SUAMIKU MENGUNDANGKU KE PERNIKAHAN MEWAHNYA UNTUK MEMPERMALUKANKU DAN MENERTAWAKAN TUBUHKU YANG GEMUK. DIA MENGIRA AKU AKAN DATANG DENGAN WAJAH KUSAM DAN PENUH KEKALAHAN. NAMUN SAAT PINTU GEREJA TERBUKA, AKU MUNCUL DENGAN KECANTIKAN YANG MEMBUAT SEMUA ORANG TERPANA. DAN SATU KALIMAT YANG KUUCAPKAN DI DEPAN ALTAR MEMBUAT SELURUH TAMU MENANGIS DAN MENGHANCURKAN HIDUPNYA UNTUK SELAMANYA.

MANTAN SUAMIKU MENGUNDANGKU KE PERNIKAHAN MEWAHNYA UNTUK MEMPERMALUKANKU DAN MENERTAWAKAN TUBUHKU YANG GEMUK. DIA MENGIRA AKU AKAN DATANG DENGAN WAJAH KUSAM DAN PENUH KEKALAHAN. NAMUN SAAT PINTU GEREJA TERBUKA, AKU MUNCUL DENGAN KECANTIKAN YANG MEMBUAT SEMUA ORANG TERPANA. DAN SATU KALIMAT YANG KUUCAPKAN DI DEPAN ALTAR MEMBUAT SELURUH TAMU MENANGIS DAN MENGHANCURKAN HIDUPNYA UNTUK SELAMANYA.

Undangan dari Seorang Monster

Namaku Clara, tiga puluh tahun. Dua tahun lalu, suamiku Marco meninggalkanku. Selama lima tahun pernikahan kami, aku memberikan segalanya. Aku bekerja double shift untuk membiayai bisnisnya sambil tetap mengurus rumah. Karena stres berat, kurang tidur, dan penyakit polycystic ovary syndrome (PCOS), berat badanku naik drastis. Aku menjadi gemuk, tidak lagi merawat diri, dan lebih sering memakai daster longgar.

Alih-alih membantuku, Marco justru membalas dengan hinaan. “Lihat dirimu, Clara. Kamu seperti babi. Menjijikkan tidur di sampingmu. Aku malu mengenalkanmu pada teman-temanku,” katanya berkali-kali.

Lalu suatu hari dia meninggalkanku. Dia memilih Stella, model terkenal berusia dua puluh dua tahun, putri seorang miliarder dengan tubuh sempurna. Dia membuangku ke jalanan tanpa membawa apa pun selain hati dan tubuhku yang hancur.

Baru-baru ini aku menerima undangan mewah. Pernikahan Marco dan Stella. Di dalamnya terselip surat dari Marco:

“Clara, datanglah. Aku ingin kamu melihat betapa cantiknya wanita yang akan kunikahi dibandingkan wanita gemuk sepertimu. Aku ingin semua tamu tahu kenapa aku meninggalkanmu. Kursimu sudah disiapkan di belakang, takutnya kursi depan rusak karena berat badanmu.”

Dia ingin mempermalukanku di depan masyarakat. Dia ingin menjadikanku bahan tertawaan di hari terbesar dalam hidupnya.

Aku menarik napas panjang lalu tersenyum pahit. Jadi kamu ingin melihat mantan istri gemukmu, Marco? Baiklah. Akan kuberi apa yang kamu inginkan.

Penghinaan di Altar

Pernikahan itu diadakan di sebuah katedral taman kaca yang sangat megah, dihadiri ratusan politikus, miliarder, dan tokoh terkenal dunia fashion.

Marco berdiri di ujung altar dengan white suit mahal, tampak sangat tampan dan penuh kesombongan. Dia hanya menunggu Stella berjalan di aisle.

“Mana mantan istrimu yang gemuk itu, babe?” bisik Stella sambil tertawa kecil, cukup keras hingga terdengar para tamu di depan. “Jangan-jangan dia tidak muat masuk pintu gereja? Atau mungkin sudah mandi keringat di pinggir jalan?”

Keluarga Marco dan teman-teman model Stella tertawa terbahak-bahak.

“Biarkan saja, babe. Mungkin dia malu datang karena tahu dirinya terlihat seperti paus,” jawab Marco dengan sombong.

Namun tawa mereka mendadak terhenti. Musik organ berhenti dimainkan. Pintu besar katedral terbuka lebar.

Semua tamu menoleh. Mereka mengira Stella yang akan masuk… atau mungkin mantan istri gemuk yang siap mereka hina.

Namun wanita yang melangkah masuk membuat seluruh katedral menahan napas.

Kembalinya Sang Ratu

Aku berjalan perlahan di tengah aisle. Aku mengenakan gaun haute couture merah crimson yang elegan, membalut tubuh hourglass-ku yang sempurna. Kulitku halus seperti porselen, rambutku tergerai berkilau, dan caraku berdiri memancarkan kekuasaan serta kepercayaan diri.

Clara yang gemuk dan kusam itu sudah tidak ada lagi. Dua tahun terakhir kuhabiskan bukan hanya untuk menyembuhkan penyakitku, tetapi juga membangun kerajaan kecantikan dan wellness internasional. Kini aku adalah CEO miliarder rahasia dari Aura Global…

Langkah kakiku yang mantap bergema di keheningan katedral. Marco menatapku dengan mulut ternganga, matanya membelalak seolah tidak percaya bahwa wanita yang berjalan ke arahnya adalah wanita yang dulu dia panggil “babi”. Stella, yang tadinya tersenyum sinis, kini menggenggam buket bunganya begitu erat hingga buku jarinya memutih, wajahnya menunjukkan ketakutan dan rasa iri yang luar biasa.

Saat aku sampai di depan altar, aku tidak berhenti di kursi belakang seperti yang dia instruksikan. Aku terus berjalan hingga berdiri tepat di antara Marco dan calon istrinya.

Satu Kalimat yang Menghancurkan

Marco mencoba meraih suaranya yang hilang. “C-Clara? Bagaimana bisa kamu…”

Aku tidak menanggapi keterkejutannya. Aku menatap lurus ke arah para tamu, lalu beralih ke wajah Marco dengan tatapan yang penuh belas kasihan, bukan amarah. Aku mengambil mikrofon dari tangan pastor yang terpaku.

“Hadirin sekalian,” suaraku terdengar tenang namun berwibawa. “Dua tahun lalu, pria ini membuang istrinya karena penyakit dan berat badannya. Dia pikir kecantikan hanya sedalam kulit, dan dia mengundangku hari ini untuk menertawakan kehancuranku.”

Aku berhenti sejenak, menatap mata Marco yang mulai berkaca-kaca karena malu.

“Marco, aku datang bukan untuk menunjukkan tubuh baruku atau kekayaanku. Aku datang untuk memberimu hadiah pernikahan yang paling jujur.”

Aku mendekat ke telinganya, namun memastikan mikrofon tetap menyala.

“Aku memaafkanmu karena telah membuangku, karena jika kamu tidak melakukannya, aku tidak akan pernah sadar bahwa aku lebih berharga daripada pria yang hanya mencintai bayangannya sendiri di cermin.”

Suasana katedral mendadak pecah. Beberapa tamu wanita mulai terisak, tersentuh oleh martabat dan ketegaran yang kutunjukkan. Mereka melihat seorang wanita yang dihancurkan namun memilih untuk bangkit dengan keanggunan, bukan balas dendam yang kotor.

Runtuhnya Sang Pemuja Harta

Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai. Saat aku berbalik untuk pergi, aku memberikan isyarat kepada asistenku yang menunggu di pintu.

“Oh, satu lagi, Marco,” kataku sambil tersenyum tipis. “Mengingat bisnis propertimu sedang di ambang kebangkrutan dan kamu sangat mengandalkan investasi dari ayah Stella… kurasa kamu harus tahu satu hal. Perusahaan yang baru saja mengakuisisi seluruh hutang bankmu dan membatalkan kontrak investasi ayah mertuamu pagi ini adalah Aura Global.”

Wajah Marco berubah menjadi abu-abu. Dia menoleh ke arah ayah Stella yang berada di barisan depan, yang saat itu baru saja menerima pesan singkat dan wajahnya langsung memucat.

“Kamu… kamu menghancurkanku?” bisik Marco gemetar.

“Tidak, Marco. Kamu menghancurkan dirimu sendiri saat kamu memilih untuk menginjak-injak orang yang paling mencintaimu,” jawabku dingin.

Aku melangkah keluar dari katedral tanpa menoleh ke belakang. Di belakangku, aku bisa mendengar suara Stella yang berteriak histeris membatalkan pernikahan karena ayahnya jatuh miskin dalam sekejap, dan Marco yang terduduk lemas di altar yang tadinya menjadi tempat kesombongannya.

Aku masuk ke dalam mobil limosin putihku. Saat mobil mulai melaju, aku menatap bayanganku di jendela. Aku bukan lagi Clara yang lama, tapi aku juga bukan sekadar Clara yang cantik dan kaya. Aku adalah wanita yang akhirnya menemukan cintanya sendiri. Dan itu adalah kekuatan yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh pria manapun.