Posted in

ISTRI KONTRAKKU MEMILIKI BEKAS LUKA YANG SAMA DENGAN GADIS YANG KUCARI SELAMA 15 TAHUN—NAMUN SAAT KETUA GRUP MEMBUKA ARSIP LAMA, IA MENEMUKAN BAHWA IDENTITAS ASLI WANITA ITU SENGAJA DIHAPUS**

ISTRI KONTRAKKU MEMILIKI BEKAS LUKA YANG SAMA DENGAN GADIS YANG KUCARI SELAMA 15 TAHUN—NAMUN SAAT KETUA GRUP MEMBUKA ARSIP LAMA, IA MENEMUKAN BAHWA IDENTITAS ASLI WANITA ITU SENGAJA DIHAPUS**

Selama lima belas tahun, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa sang ketua grup mencari gadis kecil yang pernah menyelamatkan nyawanya saat ia diculik.

Kala itu, di tengah hutan yang kacau oleh rentetan tembakan, seorang gadis kurus dengan penuh keberanian membimbingnya melarikan diri dari para pengejar.

Ketika sebuah peluru melesat ke arahnya, gadis itu tanpa ragu melompat ke depan untuk melindunginya.

Darah membasahi separuh pakaian lusuh yang dikenakannya.

Sebelum kehilangan kesadaran, gadis itu mendorongnya ke lereng bukit sambil berteriak,

“Larilah! Jangan pernah menoleh!”

Ia selamat.

Namun ketika orang-orang keluarganya menemukan dirinya dan kembali ke lokasi kejadian, gadis itu sudah tidak ada.

Tidak ada mayat.

Tidak ada jejak.

Tidak seorang pun tahu ke mana ia dibawa.

Sejak hari itu, diam-diam ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa selama gadis itu masih hidup di dunia ini, sekalipun ia harus mencari ke seluruh penjuru negeri hingga rambutnya memutih karena usia, ia akan menemukannya kembali.

Ia ingin membalas budi penyelamatan nyawanya.

Dan ia juga ingin mengetahui bagaimana kehidupan gadis itu selama bertahun-tahun ini.

Namun pria yang selalu mengendalikan setiap langkah hidupnya itu tidak pernah menyangka…

Takdir ternyata telah mempertemukannya kembali dengan gadis tersebut.

Bukan sebagai penyelamatnya.

Melainkan sebagai istri kontrak yang dinikahinya karena sebuah perjanjian.

Malam sebelumnya, saat ia membantu mengobati luka di bahu wanita itu, ia melihat bekas luka melingkar di bawah bahu kirinya.

Bentuk, ukuran, dan letaknya persis sama dengan bekas luka tembak yang diterima gadis kecil itu saat melindunginya lima belas tahun lalu.

Ketika ia menanyakannya, sang istri kontrak hanya menjawab dengan tenang,

“Aku tertembak saat masih kecil. Tapi itu sudah lama sekali, jadi aku tidak terlalu mengingatnya.”

Jawaban sederhana itu seketika membalikkan seluruh dunianya.

Setelah keluar dari kamar wanita itu, sang ketua grup hampir tidak bisa tidur semalaman.

Saat cahaya fajar mulai menyingsing, hujan deras di luar akhirnya mereda. Tetesan air yang terus jatuh dari atap justru membuat keheningan ruang kerjanya terasa semakin dalam.

Di atas meja terbentang berkas lama mengenai kasus penculikannya.

Di samping halaman-halaman yang telah menguning itu terdapat foto istri kontraknya saat mendaftarkan pernikahan mereka.

Di satu sisi adalah masa lalu yang kelam lima belas tahun silam.

Di sisi lainnya adalah wanita yang kini tinggal serumah dengannya.

Dua dunia yang tampaknya sama sekali tidak berkaitan itu…

Kini terhubung oleh satu petunjuk yang sama.

Bekas luka di bawah bahu kiri wanita itu.

Sang ketua grup meraih ponselnya dan langsung menelepon asisten kepercayaannya.

“Asisten.”

“Ya, Ketua. Saya siap mendengarkan.”

Meski hari masih sangat pagi, orang di seberang telepon langsung siaga.

“Begitu jam kerja dimulai, temui pengacara pribadiku dan ambil surat kuasa. Setelah itu, datang sendiri ke kantor catatan sipil. Aku ingin semua dokumen yang berkaitan dengan pernikahan kami.”

“Baik, Ketua. Akan segera saya urus.”

Ia terdiam beberapa detik sebelum kembali berkata,

“Satu hal lagi.”

“Ambil semua arsip mengenai desa pegunungan tempat dia tinggal lima belas tahun yang lalu.”

“Saya ingin semua data dari dinas medis, catatan kepolisian setempat, hingga komite desa. Tidak boleh ada satu nama pun yang terlewat.”

“Dimengerti, Ketua.”

Setelah menutup telepon, sang ketua grup menyandarkan tubuhnya ke kursi. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perasaan yang sudah belasan tahun tidak ia rasakan. Apakah pencariannya benar-benar akan berakhir di sini? Di dalam rumahnya sendiri?

Namun, penyelidikan yang ia kira akan berjalan mudah justru membentur dinding tebal.

Sore harinya, sang asisten kembali dengan wajah pucat dan napas terengah-engah. Ia tidak membawa tumpukan dokumen seperti biasanya, melainkan hanya sebuah map kosong berwarna hitam.

“Ketua…” suara asistennya bergetar, seolah baru saja melihat hantu. “Ada yang tidak beres.”

Sang ketua grup mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu?”

“Saya sudah mendatangi catatan sipil dan kepolisian pusat dengan surat kuasa tertinggi Anda. Tapi… begitu sistem membuka arsip lama mengenai latar belakang istri Anda sebelum usia sepuluh tahun, seluruh layarnya langsung terkunci,” asisten itu menelan ludah dengan susah payah. “Identitas asli wanita itu sengaja dihapus secara permanen dari basis data negara.”

Sang ketua grup langsung berdiri dari kursinya, auranya mendadak berubah sangat dingin hingga membuat suhu di ruangan itu terasa aneh. “Dihapus? Siapa yang berani menghapus data di bawah pengawasanku?!”

“Bukan hanya dihapus, Ketua,” lanjut sang asisten dengan suara yang semakin mengecil. “Sistem mendeteksi bahwa penghapusan itu dilakukan menggunakan protokol keamanan tingkat tertinggi militer rahasia belasan tahun lalu. Dan yang lebih mengejutkan… ada sebuah memo peringatan otomatis yang muncul di layar saat kami mencoba mengaksesnya.”

Asisten itu meletakkan selembar kertas hasil cetakan darurat di atas meja kerja.

Sang ketua grup menyambar kertas itu. Di sana, di bawah kolom nama istrinya yang kosong, tertulis sebuah kalimat peringatan dengan tinta merah tebal:

[PERINGATAN: SUBJEK ADALAH ASET NEGARA YANG DINYATAKAN GUGUR DALAM OPERASI RAHASIA 15 TAHUN LALU. SIAPA PUN YANG MENCOBA MEMBONGKAR IDENTITAS INI AKAN DIANGGAP SEBAGAI MUSUH NEGARA.]

Tangan sang ketua grup bergetar hebat hingga kertas di genggamannya kusut.

Gadis kecilnya tidak hanya bertahan hidup setelah melindunginya. Dia telah diambil oleh pihak yang jauh lebih berbahaya, dilatih, dan dijadikan senjata rahasia—sebelum akhirnya identitasnya dipalsukan dan ia dikirim kembali ke sisinya sebagai seorang “istri kontrak”.

Pernikahan kontrak ini… ternyata bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari konspirasi besar yang bahkan belum ia pahami ujungnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.