Posted in

“Rin, kenapa secepat itu kamu menikah? Kenapa tidak menunggu Sabrina melahirkan dulu?”

Arka tiba-tiba mencengkram kedua bahu Irin. Matanya menatap tajam, seolah menuntut penjelasan yang lebih masuk akal.

“Cepat atau lambat itu bukan urusanmu, Mas. Kita sudah memilih jalan hidup masing-masing,” tegas Irin sambil menepis tangan pria itu.

“Tentu saja itu menjadi urusanku!” seru Arka tidak mau kalah. “Aku sudah menjanjikan agar kita menikah setelah Sabrina melahirkan. Kenapa kamu tidak sabar sekali menunggu waktu itu tiba?”

“Yang membuat janji itu kamu, Mas Arka. Bukan aku.” Suara Irin mulai bergetar menahan emosi. “Aku tidak pernah meminta dinikahi setelah pengkhianatan kalian. Dan kamu juga harus sadar, sekarang semuanya sudah berbeda. Aku bukan lagi Irin yang dulu, tapi istri dari kakek muda keluargamu.”

“Kalaupun memang akhirnya kamu ingin menikah, kenapa harus memilih seseorang dari kerabatku?” tanya Arka dengan nada yang terdengar seperti korban.

“Apa bedanya dengan kamu, Mas?” Irin menatap langsung ke dalam manik mata pria itu dengan keberanian penuh. “Jika kamu berniat selingkuh, kenapa harus Sabrina orangnya? Seseorang yang juga kerabatku sendiri.”

“Itu berbeda, Rin.” Arka langsung mengelak.

“Itu sama saja, Mas Arka! Yang membedakan hanyalah dari cara kita menikah,” potong Irin dengan suara tajam. “Bedanya pernikahanku itu bukan lewat cara menyerahkan diri pada pasangan orang lain.”

Arka seketika bungkam. Kalimat itu seakan menghantam telak harga dirinya. Irin tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Ia segera memutar tubuh, bersiap untuk pergi.

Arka sempat mematung beberapa saat. Raut wajahnya bercampur aduk saat mengikuti punggung Irin yang semakin menjauh. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya berbalik dan berjalan ke arah berlawanan.


Pertemuan dadakan dengan Arka barusan benar-benar merusak suasana hati Irin. Meski tetap membeli bahan makanan, keinginan untuk menyentuh peralatan masak seketika sirna.

Barulah keesokan harinya, Irin mencoba mengusir sisa kekesalan itu dengan menyibukkan diri di dapur. Aroma harum bumbu masakan mulai memenuhi udara. Saat sedang fokus dengan masakannya Irin tidak menyadari bahwa Dario sudah kembali dari kantor.

Melihat punggung istrinya yang sedang fokus di depan kompor, sebuah senyum hangat terbit di wajah pria itu. Tanpa suara Dario melangkah maju. Langsung melingkarkan lengannya dan memeluk Irin dari belakang.

“Ah, Mas Dario!” Irin tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan sudip yang dipegangnya.

Dario hanya memamerkan senyum tipis sambil mempererat pelukannya sesaat. Irin menoleh sedikit, menatap wajah suaminya yang tampak segar meski baru pulang bekerja. Ada binar bahagia di sana, meski Irin sedikit kesal karena Dario senang sekali mengagetkannya.

“Sudah lama pulangnya?” tanya Irin setelah berhasil mengatur napasnya.

“Baru saja. Kata orang rumah kamu lagi sibuk di dapur. Dalam rangka apa ini?” tanya Dario sambil mengintip masakan di depan mereka.

“Cuma kangen dengan masakan sendiri saja,” jawab Irin beralasan, meski sebenarnya ia hanya ingin mengalihkan pikiran dari kejadian kemarin.

“Benarkah?” goda Dario, seolah bisa membaca ada sesuatu yang disembunyikan istrinya.

Irin sedikit tersipu, lalu berusaha melepaskan diri dengan halus. “Ayo mandi sana. Nanti kita makan bareng.”

“Mandi bareng saja. Aku tunggu kamu selesai masak,” tawar Dario dengan nada menggoda.

“Lain kali saja, Mas.” Irin mendorong pelan dada suaminya agar menjauh dari kompor.

Dario akhirnya mengalah dan melepaskan dekapannya. Namun, sebelum melangkah ia sempat berbisik pelan.

“Lain kali aku akan meliburkan semua pekerja di rumah ini,” ucapnya sebelah menjauh.

Eh, Maksudnya?