KELAHIRAN KEMBALI: MENJAGA HIDUPKU
Pada hari suamiku mencapai “target kecilnya” sebesar 29 miliar Rupiah, ia tiba-tiba mengaku tentang cinta masa kecil yang tak pernah ia lupakan.
“Aku terpaksa meninggalkan ibu dan anak itu. Tapi sekarang aku sudah stabil secara finansial, aku harus menebus kesalahan. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan menceraikanmu.”
“Kau sudah terlalu lama hidup mewah. Sekarang giliran mereka menikmati hidup yang baik. Lagipula, kau tidak bisa punya anak, jadi kenapa tidak mengadopsi anakku? Kau dan mantan pacarku bisa saling memperlakukan seperti saudara perempuan.”
Aku tertawa, merasa sangat marah.
Aku menjatuhkan kain pembersih di tanganku dan menamparnya keras di wajah.
“Kakak, dasar bodoh!”
“Jika bukan karena ayahku, kau akan jadi siapa? Jika bukan karena aku merawat orang tuamu yang lumpuh, kau pikir kau bisa sampai sejauh ini?”
Kami saling mendorong dan berkelahi dengan sengit. Dalam kekacauan itu, kami terpeleset dan jatuh bersama-sama dari tangga, mengakibatkan kematian kami.
Saat aku bangun, aku merasa seperti kembali ke masa lalu, ke hari ketika suamiku meminta modal usaha kepada ayahku.
“Ayah, aku dan Ting-Ting sudah lama merencanakan proyek ini. Kami yakin ini akan berhasil; kami hanya butuh investor.”
“Aku hanya ingin memberi Ting-Ting kehidupan yang lebih stabil. Benar kan, Ting-Ting?”
Aku mendengar suara yang sangat familiar, tetapi lebih muda dan jauh lebih energik.
Aku terbangun.
Aku benar-benar kembali ke masa setelah kami menikah.
Aku melihat Hao-Cheng—sekarang Harold—berdiri di sana dengan ekspresi penuh harapan. Saat aku masih setengah tertidur, dia menyenggolku dengan lembut.
Telapak tanganku langsung terbakar amarah!
Detik berikutnya, aku tidak bisa menahan diri lagi.
Tamparan!
Tamparan keras mendarat di wajahnya.
Semua orang membeku. Jejak kelima jariku terlihat jelas di pipi Harold.
Matanya membelalak kaget.
“Sayangku… kenapa kau melakukan itu?”
Aku melambaikan tangan dan berkata dengan serius:
“Ada nyamuk.”
Harold terkejut. Ia melirik ayahku lalu berbisik cepat:
“Jangan khawatir soal nyamuk, mari kita bicarakan bisnis dulu. Kita sudah sepakat kemarin, kan?”
Aku langsung teringat semuanya.
Sebulan setelah kami menikah, ia membujukku untuk berhenti kerja demi mendukung usaha rintisannya saat kami tinggal di Makati.
Aku sepenuhnya setuju.
Aku merawatnya, ibunya yang tegas, dan ayahnya yang manja.
Delapan belas tahun kemudian, ketika kekayaannya mencapai 29 miliar rupiah, ia membawa kekasih masa kecilnya, Linh-Ngoc—yang sekarang bernama Leny.
“Kesehatan Leny sedang menurun. Tolong jaga dia baik-baik agar aku bisa tenang,” katanya saat itu.
Hatiku hancur berkeping-keping.
Baru saat itulah aku menyadari bahwa semua keputusan kami—dari mendekatiku hingga meminta modal dari ayahku—adalah ide Leny.
“Cinta sejati seharusnya tidak menghalangi masa depan seseorang,” katanya. Bahkan rencana untuk mencegahku memiliki anak pun adalah idenya.
Saat itu, aku terus berpikir:
Bagaimana hidupku jika aku tidak menjadi ibu rumah tangga?
“Ting-Ting! Ting-Ting!”
Suara Harold menarikku kembali ke kenyataan.
“Aku tidak mau,” jawabku segera. “Jika kau punya uang sebanyak itu, lebih baik berikan padaku. Aku juga ingin memulai bisnis.”
Beberapa detik kemudian, ayahku tertawa.
Harold juga tertawa.
“Ayolah, berhenti bercanda, Ting-Ting. Kau seorang wanita. Lebih baik kau tinggal di rumah. Bisnis itu sulit.”
“Ting-Ting, niatmu baik, tapi kau sudah menikah sekarang. Keluarga seharusnya menjadi prioritas utama,” kata ayahku.
“Kenapa? Apakah dia menghargai keluarga?” balasku. “Dia sudah dewasa sekarang. Dia harus fokus membangun kariernya,” bela ayahku.
“Aku tidak yakin,” jawabku dingin.
Ayahku langsung menatapku dengan tajam.
“Ada yang salah?”
Harold segera berpura-pura tidak tahu.
“Sayang, apa salahku? Aku akan berubah.”
Aku benar-benar ingin membongkar semuanya.
Tapi aku tidak punya bukti.
Jadi ketika ayahku menulis cek untuk Harold, aku langsung merebutnya.
“Aku bilang tidak!”
“290 juta rupiah. Kita bahkan tidak tahu apakah akan berhasil.”
Ayahku mulai kesal, tetapi ibuku menahannya.
Ia menatapku lama sekali.
“Ting-Ting, kalau kamu bereaksi seperti itu, pasti ada alasannya. Simpan saja uangnya. Kalian berdua bisa memikirkannya.”
Aku langsung menghela napas lega.
Aku makan malam dengan sangat enak.
Rasanya luar biasa bisa kembali muda—gigiku masih kuat!
Saat kami hendak pergi, Harold sengaja mendahului dan mengambil mobilku.
3
Di kehidupan sebelumnya, dia sering menghukumku dengan tetap diam.
Dari depresi hingga rendah diri, aku melakukan segala cara untuk mencegahnya marah.
Tapi sekarang?
Siapa dia bagiku?
Aku langsung menelepon polisi dan melaporkan mobilku dicuri.
Setengah jam kemudian, Harold kembali seperti anjing yang baru dijinakkan.
“Sayang… kenapa kamu belum masuk mobil juga?”

Orang tuaku bahkan tidak menatapnya.
“Ting-Ting, jika ada yang menyakitimu, beri tahu orang tuamu. Sepupumu semuanya laki-laki berjumlah dua belas orang. Cobalah cari seseorang yang bisa membantumu.”
Mendengar ucapan ayahku tentang dua belas sepupu laki-lakiku, sudut bibirku terangkat membentuk senyuman dingin. Di kehidupan lalu, demi menjaga “harga diri” Harold sebagai kepala keluarga, aku menjauhkan diriku dari keluargaku sendiri. Aku menolak bantuan mereka karena Harold selalu merasa terintimidasi oleh dominasi keluarga besar tempat aku dibesarkan.
Sekarang? Jangankan harga diri Harold, debu di sepatunya pun tidak sudi aku jaga.
“Tentu, Ayah,” jawabku manis, sengaja mengeraskan suara agar Harold yang baru masuk bisa mendengarnya. “Kebetulan Sepupu Juan baru saja membuka firma hukum, dan Sepupu Marco memimpin tim sekuritas di BGC. Aku rasa aku akan sering minum kopi bersama mereka akhir-akhir ini.”
Wajah Harold seketika berubah kaku. Dia tahu betul siapa sepupu-sepupuku—mereka adalah barisan pria berbadan tegap yang tidak akan segan-segan meremukkan tulang siapa pun yang berani menyakitiku.
“Sayang…” Harold mendekat, mencoba meraih tanganku dengan raut wajah memelas yang dulu selalu membuatku luluh. “Kenapa bicara begitu? Dan soal mobil… polisi tadi benar-benar mencegatku di lampu merah dekat Ayala. Mereka bilang ada laporan pencurian! Untung aku bisa menunjukkan STNK atas namamu dan menjelaskan kalau aku suamimu. Kamu membuatku malu di depan polisi, Ting-Ting.”
Aku menarik tanganku sebelum kulitnya sempat bersentuhan dengan kulitku. Rasa jijik yang mendalam membuat perutku mual.
“Oh, kupikir mobilku benar-benar dibawa kabur maling,” kataku acuh tak acuh sambil berjalan melewatinya menuju kamar. “Lagipula, Harold, bukankah kamu selalu bilang bahwa apa yang milikku adalah milikmu, dan apa yang milikmu adalah milikmu juga? Aku cuma ingin mengingatkanmu… mobil itu dibeli dengan uang ayahku. Status hukumnya jelas: itu milikku. Jika kamu ingin memakainya, ketuk pintu dan minta izin dulu.”
Harold terpaku di tempatnya. Matanya memancarkan rasa tidak percaya. Harold yang kukenal adalah pria dengan ego setinggi langit; diperlakukan seperti menumpang di rumah istri sendiri di depan mertuanya adalah tamparan kedua yang paling menyakitkan baginya hari ini.
Malam itu, di dalam kamar tidur kami yang masih bernuansa pengantin baru, Harold mencoba mendekatiku saat aku sedang menyisir rambut di depan cermin. Dia memijat bahuku dengan canggung.
“Ting-Ting, ada apa denganmu hari ini? Sejak bangun tidur, sikapmu aneh sekali. Apa kamu marah karena proyek yang kuajukan? Aku bersumpah, proyek logistik di Makati ini benar-benar menjanjikan. Kalau aku sukses, aku melakukan ini semua untukmu, untuk masa depan kita.”
Untukku? Atau untuk Leny dan anak harammu yang saat ini mungkin sedang menunggumu di kontrakan murah di Pasay?
Aku menepis tangannya dari bahuku, berdiri, dan menatapnya lurus-lurus melalui pantulan cermin. “Harold, berhentilah menjual nama ‘masa depan kita’. Jika kamu begitu yakin proyek itu akan sukses, kenapa kamu tidak mencari investor lain? Kenapa harus mengemis pada ayahku?”
“Mengemis?!” Nada suara Harold meninggi, egonya terluka lagi. “Aku ini menantu ayahmu! Wajar kalau aku meminta dukungan keluarga!”
“Dukungan keluarga diberikan kepada mereka yang tahu cara menghargai keluarga,” balasku dingin. “Bukan kepada pria yang baru sebulan menikah sudah menyuruh istrinya berhenti kerja agar bisa dijadikan pelayan gratisan untuk mengurus orang tuanya.”
Harold mematung. Kalimatku tepat sasaran. Di kehidupan sebelumnya, skenario inilah yang terjadi. Besok, ibunya yang keras kepala dan ayahnya yang manja seharusnya akan pindah ke rumah ini dengan alasan “sakit-sakitan”, memaksa aku mengundurkan diri dari posisiku di perusahaan ayahku untuk menjadi perawat penuh waktu tanpa bayaran.
“Bagaimana kamu bisa…” Harold menelan ludah, ketakutan mulai merayap di matanya. Dia merasa aku seperti bisa membaca isi kepalanya.
“Besok pagi, aku akan kembali masuk kerja di Villanueva Holdings,” kataku sambil naik ke tempat tidur, menarik selimut, dan memunggunginya. “Dan soal orang tuamu… jika mereka mau datang ke Manila, silakan sewa apartemen sendiri. Rumah ini terlalu sempit untuk menampung parasit.”
“Ting-Ting! Mereka orang tuaku! Mertuamu!”
“Jika kamu tidak suka dengan aturanku, pintu keluar selalu terbuka, Harold. Kita bisa mengurus surat perceraian secepatnya. Mari kita lihat, tanpa nama belakang Villanueva di belakangmu, bank mana di Manila yang sudi memberimu pinjaman modal bahkan untuk satu sen pun.”
Keheningan malam itu terasa mencekam. Harold tidak berani bersuara lagi. Dia tahu, di tahun 2026 ini, tanpa koneksi dan nama besar ayahku, dia bukan siapa-siapa di Makati. Dia terpaksa tidur di sofa ruang tamu dengan hati yang mendidih.
Keesokan harinya, aku tidak membuang waktu.
Setelah memastikan Harold pergi mencari “pinjaman” dengan wajah frustrasi, aku langsung menyewa jasa investigator swasta terbaik yang direkomendasikan oleh Sepupu Marco. Aku memberikan nama spesifik: Leny Linh-Ngoc.
“Cari wanita ini di kawasan Pasay atau distrik tua di sekitar Manila,” perintahku pada sang investigator melalui telepon. “Aku ingin tahu di mana dia tinggal, apa pekerjaannya sekarang, dan sedekat apa hubungannya dengan suamiku, Harold Hao-Cheng, saat ini.”
Aku menutup telepon dengan senyum kepuasan. Di kehidupan lalu, mereka mengeringkan rahimku dengan obat-obatan yang diam-diam dimasukkan Harold ke dalam vitamin harian yang aku minum setiap pagi—dengan alasan “vitamin kesuburan”. Mereka membuatku mandul, membuatku mengadopsi anak mereka, dan memperlakukannya seperti ratu sementara aku mati mengenaskan jatuh dari tangga.
Kali ini, jalurnya sudah berubah.
Aku tidak akan meminum vitamin apa pun dari tangan Harold. Aku akan merebut kembali posisiku di perusahaan ayahku, memperluas pengaruhku, dan membiarkan Harold merangkak di bawah kakiku.
Dua puluh sembilan miliar rupiah yang dia kumpulkan di kehidupan lalu? Kali ini, aku yang akan memegang uang itu. Aku akan memastikan Harold dan Leny tetap berada di kubangan kemiskinan tempat mereka seharusnya berada, saling menyalahkan, dan membusuk bersama dalam penyesalan.
Saat aku melangkah masuk ke lobi Villanueva Holdings di Makati dengan pakaian kerja formalku, semua staf membungkuk hormat padaku. Aku menarik napas dalam-dalam. Udara kebebasan ini terasa begitu manis.
Permainan baru saja dimulai, Harold. Dan kali ini, akulah yang memegang semua kartu as-nya.