“ROMY, MAAF KALAU AKU IKUT CAMPUR… TAPI SETIAP HARI AKU MENDENGAR ADA WANITA BERTERIAK DARI DALAM RUMAH KALIAN. SUARANYA SEPERTI MEMOHON UNTUK DISELAMATKAN.”
Aku langsung terdiam di depan pagar rumah kami di Bulacan.
Kunci motor masih ada di tanganku.
Sepatuku masih penuh debu semen setelah seharian bekerja di proyek konstruksi di Manila.
Sudah jam delapan malam.
Dan sejujurnya, orang terakhir yang ingin kuajak bicara adalah Bu Nena—tetangga tua kami yang terkenal paling suka ikut campur urusan orang di seluruh kompleks.
“Mungkin Ibu salah dengar saja,” kataku sambil memaksakan senyum.
“Rumah selalu kosong sore hari. Mylene kerja, Angela sekolah.”
Tapi dia tidak mundur.
Dia malah melangkah lebih dekat.
Dan saat itulah aku melihat ketakutan di wajahnya.
“Kalau begitu,” bisiknya pelan, “berarti kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumahmu sendiri.”
Rasanya seperti ada besi menghantam dadaku.
Namaku Romy Castillo, empat puluh tiga tahun.
Selama bertahun-tahun, aku pikir menjadi ayah yang baik cukup dengan bekerja keras, membayar semua tagihan, dan memastikan selalu ada makanan di meja.
Aku pergi sebelum matahari terbit.
Aku pulang dalam keadaan lelah sampai hampir tidak bisa berdiri.
Dan dengan bodohnya aku percaya semuanya baik-baik saja di rumah bersama istriku, Mylene, dan putri kami yang berusia lima belas tahun, Angela.
Tapi beberapa bulan terakhir ini…

Angela berubah.
Pendiam.
Terlalu pendiam.
Dia hampir tidak makan.
Jawabannya selalu singkat.
Dan dia terus mengurung diri di kamar dengan headphone menempel di telinga.
Ketika aku menegurnya, Mylene selalu menepisnya dengan mudah.
“Dia cuma remaja, Romy. Biasa, fase pemberontak,” katanya sambil terus menatap layar ponselnya. “Kamu terlalu banyak khawatir. Fokus saja cari uang.”
Dan aku, dengan bodohnya, menuruti kata-kata itu. Aku kembali ke proyek konstruksi, membiarkan tubuhku hancur demi upah harian, sementara di bawah atap rumahku sendiri, ada sesuatu yang busuk sedang tumbuh.
Malam itu, setelah Bu Nena kembali ke rumahnya dengan wajah pucat, aku berdiri lama di depan pintu kayu rumah kami. Kunci motor di tanganku terasa sedingin es.
Aku membuka pintu dengan sangat pelan, hampir tanpa suara.
Rumah itu gelap. Hanya ada cahaya remang-remang dari televisi di ruang tamu yang menyala tanpa ada yang menonton. Mylene tidak ada di sana.
Aku melangkah menuju lorong kamar. Kamar Angela berada di ujung.
Saat aku mendekat, aku menyadari headphone yang selalu dipakai Angela tidak terpasang di telinganya. Benda itu tergeletak di lantai lorong, kabelnya putus seperti baru saja ditarik paksa.
Lalu, aku mendengarnya.
Bukan suara teriakan nyaring, melainkan suara tangisan tertahan yang teredam bantal.
“Tolong… lepaskan… jangan lagi, Ma… sakit…”
Itu suara Angela. Suaranya serak, habis, seolah dia sudah berteriak berhari-hari sampai tidak ada lagi kekuatannya yang tersisa.
Darahku langsung berdesir panas. Rasa lelah setelah seharian memanggul semen di Manila menguap begitu saja. Aku mencengkeram gagang pintu kamar Angela dan memutarnya.
Terkunci dari dalam.
“Mylene! Angela! Buka pintunya!” teriakku sambil menggedor pintu kayu itu dengan kasar.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru suara grasak-grusuk panik dari dalam, diikuti suara Mylene yang mendesis tajam, “Diam kamu! Jangan bersuara!”
Pikiranku langsung gelap. Aku mundur dua langkah, lalu dengan seluruh beban tubuhku, aku menghantamkan bahu ke pintu kamar tersebut.
BRAK!
Pintu itu jeblok terbuka, menabrak dinding.
Pemandangan di dalam kamar membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
Angela terduduk di pojok tempat tidur, pakaiannya kusut, dan wajahnya bengkak penuh air mata. Di depannya, Mylene berdiri dengan memegang sebuah ikat pinggang kulit—ikat pinggang milikku yang biasa kusimpan di lemari. Di atas meja belajar Angela, ada sebuah tripod ponsel yang menyala, dengan kamera yang mengarah langsung ke tempat tidur.
Mylene terkejut melihatku. Wajahnya yang biasa dipoles kosmetik mahal mendadak kaku, tapi tidak ada rasa bersalah di matanya. Hanya ada kemarahan karena rencananya terganggu.
“Romy? Kenapa kamu pulang cepat?!” bentak Mylene, mencoba menyembunyikan ikat pinggang di balik punggungnya.
Aku tidak menjawabnya. Aku berjalan melewati Mylene seolah dia adalah udara kosong, lalu berlutut di depan Angela. Saat aku menyentuh bahunya, putriku itu langsung menjerit histeris dan meringkuk ketakutan.
“Jangan pukul lagi… Angela janji akan senyum… Angela janji akan buat videonya…” ratapnya, matanya kosong dan penuh trauma.
Aku menarik kaus lengan panjang Angela ke atas. Di balik kain itu, kulit lengannya penuh dengan memar kebiruan dan bekas cambukan ikat pinggang yang sudah mengering.
“Mylene…” Suaraku bergetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah murni yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. “Apa yang kamu lakukan pada anak kita?”
Mylene mendengus, melipat tangannya di dada dengan angkuh. “Apa? Aku cuma mendidiknya! Kamu tahu tidak, akun live-streaming dan video pendek Angela sekarang punya ratusan ribu pengikut? Uang dari sponsor masuk setiap minggu! Baju-baju mahal yang aku pakai, kosmetik, bahkan uang belanja tambahan di rumah ini, itu semua karena aku yang mengatur kontennya!”
“Dengan cara menyiksanya?!” teriakku, suaranya menggelegar hingga membuat kaca jendela bergetar.
“Dia malas, Romy! Akhir-akhir ini dia tidak mau senyum di depan kamera, dia tidak mau pakai baju yang diminta sponsor! Kalau dia tidak akting menangis atau tersenyum sesuai perintahku, penonton akan turun! Aku cuma mendisiplinkannya agar dia menghasilkan uang! Kita ini miskin, Romy! Gaji konstruksimu itu tidak cukup untuk gaya hidup yang aku mau!”
Aku menatap wanita yang kunikahi selama enam belas tahun ini. Dia bukan lagi Mylene yang kukenal. Wanita di depanku ini adalah monster yang dibutakan oleh angka-angka di media sosial dan uang cepat. Dia menjual masa remaja putrinya sendiri, dan ketika putrinya menolak, dia menggunakan kekerasan fisik dan psikologis saat aku sedang tidak ada di rumah.
Aku berdiri perlahan, tubuhku yang tinggi besar kini membayangi Mylene.
“Keluar,” kataku, suaranya begitu rendah dan dingin hingga membuat Mylene mundur satu langkah.
“Romy, jangan egois! Ini demi masa depan kita—”
“AKU BILANG KELUAR DARI RUMAH INI, MYLENE!” raungku.
Aku merebut ponsel dan tripod di atas meja, lalu membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Aku mengambil tas pakaian Mylene dari lemari, melemparkannya ke lantai, dan mendorong wanita itu keluar dari kamar Angela, terus hingga ke pintu depan rumah.
Mylene berteriak-teriak memaki di depan pagar, memancing perhatian Bu Nena dan tetangga lainnya yang mulai keluar rumah. Tapi aku tidak peduli lagi dengan drama lingkungan. Aku mengunci pintu depan dengan rapat.
Aku kembali ke kamar Angela. Putri kecilku masih gemetar di pojok kasur.
Aku duduk di lantai di samping tempat tidurnya, tidak berani menyentuhnya agar dia tidak ketakutan. Aku menundukkan kepala, air mataku yang setahun ini tidak pernah tumpah karena beratnya pekerjaan, kini mengalir membasahi debu semen di tanganku.
“Maafkan Papa, Angela…” bisikku serak, suaraku pecah. “Papa terlalu sibuk melihat ke depan untuk mencari uang, sampai Papa tidak tahu kalau rumah yang Papa bangun ternyata runtuh menimpamu. Maafkan Papa…”
Mendengar suaraku yang rapuh, Angela perlahan merangkak turun dari tempat tidur. Tangan kecilnya yang gemetar menyentuh bahuku, lalu dia memeluk leherku erat-erat, menangis sejadi-jadinya di pundakku yang kaku.
Malam itu, di bawah langit Bulacan yang sunyi, aku bersumpah demi sisa hidupku. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun melukainya lagi—bahkan ibunya sendiri. Mulai besok, tidak akan ada lagi kamera, tidak akan ada lagi tuntutan, dan tidak akan ada lagi penderitaan.
Pekerjaan konstruksiku mungkin berat, tapi mengembalikan senyum tulus di wajah putriku adalah satu-satunya proyek terbesar yang harus kuselesaikan seumur hidupku.