Posted in

Keluarga Kaya Kandungku Mengirimku Kembali ke “Desa Para Penjahat” untuk Menakutiku—Mereka Tidak Tahu Aku Tumbuh Besar di Sana, dan Semua Orang yang Mereka Takuti Menganggapku Sebagai Anak Sendiri

Keluarga Kaya Kandungku Mengirimku Kembali ke “Desa Para Penjahat” untuk Menakutiku—Mereka Tidak Tahu Aku Tumbuh Besar di Sana, dan Semua Orang yang Mereka Takuti Menganggapku Sebagai Anak Sendiri

Pada hari keluarga kandungku yang kaya raya menjemputku, seluruh warga kampung menangis saat mengantarku sampai ke ujung jalan.

Aku pikir, akhirnya aku akan memiliki rumah yang benar-benar bisa kusebut milikku.

Namun ketika tiba di mansion mereka di kawasan elite Jakarta Selatan, yang menyambutku bukan pelukan.

Melainkan berkas-berkas rumah sakit.

Dan sebuah perintah:

“Tandatangani ini. Adikmu membutuhkan donor sumsum tulang darimu.”

Tanganku langsung terasa dingin saat menatap dokumen itu. Di ujung meja, duduk gadis yang mereka sebut si bungsu—Ariella. Wajahnya pucat, duduk di kursi roda dengan selimut merah muda menutupi tubuhnya, sementara ibuku memeluk bahunya seolah dia adalah satu-satunya anak di dunia.

Aku?

Aku adalah anak yang hilang dan baru ditemukan kembali setelah dua puluh tahun.

Tapi pada hari pertama aku berada di rumah mereka, tidak seorang pun bertanya apakah aku lapar, lelah, atau ketakutan.

Ayahku hanya berkata,

“Ini bukan permintaan, Mara. Keluarga ini berhak atas darahmu.”

Aku tertawa kecil.

“Hak?” kataku. “Kalian yang kehilangan aku. Bukan aku yang berutang pada kalian.”

Saat itulah semuanya mulai kacau.

Mereka mencoba mengurungku di kamar.

Mereka mencoba memberiku obat penenang.

Mereka mencoba menyeretku ke rumah sakit pribadi.

Namun mereka tidak tahu di mana aku dibesarkan.

Di Kampung Bahagia, aku belajar berlari bahkan sebelum belajar menyisir rambut. Aku belajar melawan ketika seseorang menyentuhku tanpa izin. Aku belajar bahwa orang yang tidak memiliki kekuasaan harus memiliki keberanian.

Jadi ketika kulihat mereka sengaja mencabut selang oksigen Ariella untuk menakutiku—agar aku merasa bersalah jika dia meninggal—akulah yang langsung menarik tombol darurat dan memanggil perawat.

Aku tidak menyakitinya.

Tapi aku melihat kemarahan di mata mereka.

Mereka marah bukan karena Ariella dalam bahaya.

Mereka marah karena aku tidak takut.

Malam itu, mereka mengunciku di sebuah kamar tanpa jendela di lantai dasar. Mereka menyuruhku menulis surat refleksi yang berisi permintaan maaf.

Yang kutulis hanya satu kalimat:

Aku bukan suku cadang tubuh milik kalian.

Lalu aku melepas baut ventilasi menggunakan jepit rambut.

Aku berhasil keluar sebelum tengah malam.

Karena marah, aku bahkan sempat membuka knop gas di dapur—bukan untuk membakar rumah, hanya agar mereka panik saat bangun nanti. Tapi ayahku menangkapku sebelum aku sempat pergi jauh.

Keesokan paginya, mataku ditutup kain. Tanganku diikat. Aku duduk di kursi belakang SUV.

Aku mendengar suara ibuku di samping.

“Kalau kamu tidak mau menjadi anak yang baik, kamu akan belajar untuk patuh.”

Beberapa jam kemudian mobil berhenti di jalan berbatu.

Mereka menyeretku keluar.

Ayahku melepas penutup mataku lalu mendorongku ke tanah.

“Tahu di mana kamu sekarang?” tanyanya dingin. “Ini yang disebut orang-orang sebagai Desa Para Penjahat. Polisi tidak pernah masuk ke sini. Tidak ada anak yang bertahan lebih dari tiga hari di tempat ini.”

Ibuku tersenyum seolah merasa iba.

“Mara, semuanya belum terlambat. Kalau kamu setuju menjalani prosedur untuk Ariella, kami akan membawamu pulang. Kamu bisa menjadi anak yang baik. Sesederhana itu.”

Perlahan aku mengangkat kepala.

Di depan sana, aku melihat gerbang tua kampung.

Catnya sudah memudar.

Tapi aku mengenalinya.

Aku mengenal warung di tikungan.

Pohon mangga di samping lapangan basket.

Rumah berpagar biru tempat aku belajar membaca.

Kapel kecil tempat aku pernah berdoa agar suatu hari keluarga kandungku menemukanku.

Tidak ada yang pernah memberitahuku bahwa Kampung Bahagia ternyata adalah tempat yang disebut orang kaya sebagai “Desa Para Penjahat”.

Dan jika memang begitu…

Bukan aku yang seharusnya takut.

Melainkan mereka.

Di ujung jalan, aku melihat Pak Doro—kepala kampung yang membesarkanku sejak aku ditemukan di dalam karung di pasar saat masih bayi.

Mataku langsung berbinar.

Aku ingin berteriak.

“Pak!”

Tapi tidak ada suara yang keluar.

Tenggorokanku terasa panas. Lidahku berat. Saat itulah aku menyadari rasa pahit di mulutku.

Mereka telah memberiku sesuatu untuk diminum.

Ibuku tersenyum tipis.

“Produk baru dari perusahaan kami. Efeknya hanya sementara. Supaya kamu tidak terlalu berisik.”

Ayahku mendekat dan menunjukkan layar ponselnya. Di sana ada video beberapa pria yang dikurung di kandang babi, kotor, ketakutan, dan menundukkan kepala.

“Kalau kamu tidak setuju,” bisiknya, “kamu akan berakhir seperti mereka.”

Aku hampir tertawa meski seluruh tubuhku gemetar.

Orang-orang bodoh.

Itu adalah kandang tempat Pak Doro menahan sindikat penculik anak sebelum menyerahkan mereka kepada polisi daerah.

Tempat itu bukan untuk orang tak bersalah.

Tempat itu untuk para monster yang mengira tidak akan pernah tertangkap.

Aku mencoba merangkak menuju Pak Doro.

Tapi ayahku menarik rambutku dan menyeretku kembali.

“Keras kepala sekali, ya?”

Tamparannya mendarat di wajahku.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dunia berputar. Aku merasakan darah di bibirku. Tubuhku jatuh lemas ke tanah.

Ibuku tidak berusaha menghentikannya.

Dia hanya melirik jam tangan.

“Cepat. Sudah waktunya obat Ariella.”

Saat itulah bagian terakhir dari hatiku yang masih berharap mereka mencintaiku benar-benar mati.

Ayahku mengambil pipa besi dari belakang mobil.

Dia menyeretku di atas kerikil seperti sampah.

Lalu mengarahkan pipa itu ke kakiku.

“Mari kita lihat seberapa kuat tulangmu.”

Sebelum besi itu menghantam, aku mendengar suara dari belakang.

“Tunggu dulu.”

Itu suara Pak Doro.

Dia berjalan perlahan mendekat, menatapku seolah sedang mencoba mengingat sesuatu.

Aku berusaha mengangkat tangan.

Menunjuk diriku sendiri.

Dan dengan suara parau yang nyaris tak terdengar, aku menyanyikan baris pertama lagu yang dulu selalu dia nyanyikan untukku saat kecil.

Mata Pak Doro langsung membelalak.

“Mara…?”

Pada saat yang sama, terdengar langkah kaki berat dari belakang kapel.

Muncul Pak Berto, pria yang dikenal sebagai algojo paling ditakuti di kampung itu, membawa parang besar di bahunya.

Ayahku menyeringai.

“Bagus. Tepat sekali. Jadi kau yang terkenal pandai membacok orang?”

Pak Berto tidak menjawab.

Dia hanya menatap wajahku yang berlumuran darah.

Lalu parang di bahunya perlahan-lahan turun…

Parang di bahu Pak Berto perlahan-lahan turun, bergesek dengan kerikil tajam hingga menimbulkan suara ngilu yang memotong keheningan. Namun, tatapan matanya yang semula dingin berubah drastis. Pupil matanya melebar, menatap lekat-lekat bekas luka bakar berbentuk bulan sabit di pergelangan tangan kiriku—luka yang kudapat saat membantunya memanggang daging lima tahun lalu.

“Mara…?” Suara Pak Berto yang biasanya menggelegar kini bergetar, parau oleh rasa tidak percaya.

Ayah kandungku, yang masih menggenggam pipa besi, tertawa meremehkan. Dia mengira ekspresi Pak Berto adalah kepuasan seorang predator yang melihat mangsa baru.

“Urus anak sialan ini,” cetus ayahku, sambil melemparkan seikat uang ratusan ribu ke tanah di depan kaki Pak Berto. “Buat dia cacat, atau sekalian hilangkan saja. Dia menolak mendonorkan sumsum tulang untuk adiknya. Ajari dia apa artinya patuh.”

Pak Berto tidak melihat uang itu. Dia justru menjatuhkan parang besarnya ke tanah. Klang!

Lalu, dalam satu gerakan kilat yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata ayahku, tangan kekar Pak Berto mencengkeram kerah kemeja mahal ayahku, mengangkat tubuh pria paruh baya itu hingga kakinya tergantung di udara.

“Kau…” suara Pak Berto terdengar seperti geraman harimau, “…baru saja memukul anakku?”

“Apa-apaan ini?! Lepaskan aku! Aku membayarmu—” Teriakkan ayahku terputus saat Pak Berto menghempaskannya ke kap mobil SUV hingga penyok.

Ibuku menjerit histeris, melangkah mundur dan langsung meraba tasnya, hendak mengambil ponsel. Namun sebelum jarinya menyentuh layar, sebuah pisau lempar menancap tepat di antara celah jarinya, merobek tas Hermes-nya dan memakukannya ke pintu mobil.

Dari balik pohon mangga, muncul Kak Sita, wanita yang dikenal sebagai ratu copet dan penyelundup senjata terkonsentrasi di wilayah barat. Wajahnya yang biasanya penuh tawa kini sedingin es.

“Bergerak sedikit saja, nyawamu melayang, Nyonya Kota,” desis Kak Sita.

Kembalinya Sang Putri Kampung

Dalam hitungan detik, suasana Desa Para Penjahat berubah total. Bunyi peluit panjang ditiup oleh Pak Doro. Dari gang-gang sempit, dari balik rumah berpagar biru, dan dari dalam kapel, puluhan orang keluar. Mereka bukan lagi sekadar warga kampung; mereka adalah barisan manusia paling berbahaya yang ditakuti oleh kepolisian tiga provinsi. Dan hari ini, mereka melihat anak asuh kesayangan mereka pulang dalam keadaan babak belur.

Pak Doro berlutut di sampingku. Tangannya yang kasar dengan lembut menyeka darah di bibirku. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dari sakunya, lalu meminumkannya paksa kepadaku.

“Minum ini, Nak. Penawar racun dari hutan dalam. Hanya butuh lima menit,” bisik Pak Doro, matanya berkaca-kaca menahan amarah yang meledak-ledak.

Aku meminumnya. Rasa panas menjalar di tenggorokanku, lambat laun mengusir rasa kaku di lidahku.

“Pak… Berto… Ibu…” suaraku akhirnya keluar, meski masih serak.

“Jangan banyak bicara dulu, Mara. Istirahatlah,” kata Pak Doro. Dia bangkit berdiri, berbalik menghadap kedua orang tua kandungku yang kini pucat pasi, dikepung oleh massa yang membawa senjata tajam dan tatapan haus darah.

Ayahku mencoba tegak, meski lututnya gemetar. “K-kalian tidak tahu siapa saya! Saya pemilik konglomerasi Arwana Group! Saya bisa meratakan kampung ini dengan uang saya!”

Pak Boro tertawa, sebuah tawa kering yang membuat bulu kuduk meremang. “Arwana Group? Yang sahamnya baru saja anjlok karena skandal penggelapan pajak bulan lalu? Yang rute logistiknya di pelabuhan utara selalu lewat di bawah pengawasanku?” Pak Doro maju satu langkah. “Uangmu tidak laku di sini, Tuan. Di sini, hukumnya adalah darah dibayar darah.”

Pembalikan Nasib

Efek obat bius itu benar-benar hilang. Aku bangkit berdiri, menolak dibantu. Aku berjalan perlahan mendekati ibuku yang kini terduduk di tanah, menangis ketakutan sambil memeluk lututnya—persis seperti posisiku beberapa menit yang lalu.

Aku berjongkok di hadapannya.

“Mara… Mara, tolong mereka… Kami ini orang tua kandungmu…” ratap ibuku, air matanya merusak riasan wajahnya yang mahal. “Kami melakukan ini demi Ariella… Demi adikmu…”

“Ariella bukan adikku. Dan kalian bukan orang tuaku,” kataku dengan nada sedatar cermin. “Orang tuaku adalah mereka yang menangis saat melepasku pergi, bukan mereka yang menamparku saat aku kembali.”

Aku menatap ayahku yang kini dijepit oleh dua anak buah Pak Berto. Pipa besi yang tadi ingin dia gunakan untuk mematahkan kakiku sekarang berada di tangan Pak Berto.

“Kau bilang, tempat ini adalah desa di mana tidak ada anak yang bertahan lebih dari tiga hari?” aku bertanya, menatap ayahku. “Mari kita lihat seberapa lama seorang CEO manja sepertimu bisa bertahan di sini.”

“Mara! Jangan! Aku mohon!” teriak ayahku saat Pak Berto menyeretnya menuju arah kandang babi yang tadi dia tunjukkan padaku di ponsel.

“Pak Berto,” panggilku.

Pak Berto menoleh.

“Jangan bunuh mereka. Itu terlalu mudah,” kataku dingin. “Biarkan mereka merasakan apa yang ingin mereka lakukan padaku. Kunci mereka di kandang bawah tanah. Beri mereka makan sisa. Dan untuk Ariella…” Aku menatap ibuku yang gemetar. “…kalian bilang darahku adalah hak keluarga kalian? Karena kalian membuangku, maka hak itu hangus. Biarkan rumah sakit menyita seluruh aset Arwana Group untuk membiayai pencarian donor internasional yang belum tentu cocok itu.”

Akhir dari Sebuah Ilusi

Sore itu, SUV mewah milik orang tua kandungku dibakar di tengah lapangan basket, menjadi tontonan warga. Semua dokumen rumah sakit dan surat paksaan donor di dalamnya berubah menjadi abu.

Ayah dan ibu kandungku dibawa ke tempat yang paling dalam di kampung ini—tempat di mana hukum negara tidak berlaku, dan di mana kesombongan mereka dihancurkan sampai tidak tersisa. Mereka tidak akan pernah melihat matahari Jakarta Selatan lagi sebelum mereka menandatangani surat penyerahan seluruh hak asuh dan pemulihan nama baikku, serta membiarkan perusahaan mereka runtuh dengan sendirinya.

Malamnya, Kampung Bahagia menggelar pesta besar. Bukan untuk merayakan kemenangan atas orang kaya, melainkan untuk merayakan kembalinya anak hilang yang sebenarnya.

Aku duduk di sebelah Pak Doro di dalam kapel tua, menikmati semangkuk sup hangat yang dibuatkan oleh Kak Sita.

“Kau tahu, Mara,” kata Pak Doro sambil menepuk bahuku. “Orang-orang kota itu mengira tembok tinggi dan uang bisa melindungi mereka dari dunia luar. Mereka lupa, monster yang sebenarnya lahir dari ruang-ruang gelap yang mereka ciptakan sendiri.”

Aku tersenyum, menatap keluar jendela kapel di mana warga kampung sedang tertawa dan bernyanyi.

Aku memang tidak memiliki darah bangsawan atau warisan konglomerat. Tapi di tempat yang mereka sebut sebagai “Desa Para Penjahat” ini, aku adalah seorang putri. Dan tidak akan ada seorang pun, dengan uang sebanyak apa pun, yang bisa menyentuhku lagi.