KELUARGA YANG PERNAH MENGUSIRKU TAK TAHU AKU SUDAH MEMBELI PERUSAHAAN MEREKA — MEREKA MENYIRAMIKU DENGAN ANGGUR DAN MEMANGGILKU GELANDANGAN, TAPI 30 MENIT KEMUDIAN, MEREKA JUSTRU BERLUTUT DI DEPANKU
Namaku Arman. Sepuluh tahun lalu, aku diusir dari keluargaku karena memilih menjadi seniman digital alih-alih meneruskan bisnis keluarga. Ayahku bilang aku tidak berguna dan hidupku tak akan pernah sukses.
Tapi mereka salah.
“Seni” yang mereka remehkan berubah menjadi Digital Art dan NFT. Aku merintis dari nol di luar negeri, memakai nama samaran, dan perlahan menjadi miliarder di dunia teknologi—tanpa sepengetahuan mereka.
Hari ini, aku kembali ke Jakarta untuk menghadiri Annual Grand Gala milik Grup Wijaya Sentosa—perusahaan keluarga kami yang kini sedang di ambang kebangkrutan dan mati-matian mencari investor.
Aku melangkah masuk ke ballroom hotel mewah. Setelan hitam sederhana, tanpa jam mahal, tanpa perhiasan mencolok.
Ayahku, Bapak Surya Wijaya, langsung mengenaliku.
“Satpam!” teriaknya sambil menyingkirkan para tamu.
“Apa yang dilakukan gelandangan ini di sini?! Usir dia! Ini bukan tempat untuk orang miskin!”
Ibuku, Ibu Ratna, melangkah mendekat. Tubuhnya penuh perhiasan berlian, tapi sikapnya lebih tajam dari pisau.
“Tunggu, Surya,” katanya sambil tertawa meremehkan.
“Biarkan saja. Biar dia lihat betapa suksesnya kita sekarang. Lihat penampilannya… mungkin datang cuma mau numpang makan. Jangan-jangan kelaparan.”
Para karyawan dan anggota direksi ikut tertawa, menjilat demi menyenangkan hati mereka.

Lalu adikku, Maya, menghampiriku. Di tangannya ada segelas anggur merah mahal.
“Hai, Kak Arman,” katanya sambil menyeringai.
“Kamu haus? Nih, minum.”
Di depan ratusan tamu, Maya mengangkat gelas itu tinggi-tinggi…
dan menyiramkan isinya ke kepalaku.
SPLASH.
Anggur merah menetes di wajahku, di kemeja putihku, hingga ke sepatu hitamku.
“Ups,” katanya sambil tertawa.
“Maaf ya, tanganku kepleset. Tapi nggak apa-apa, kan? Orang gagal sepertimu pasti sudah terbiasa hidup kotor.”
Aku berdiri diam. Tidak marah. Tidak melawan.
Hanya mengelap wajah pelan-pelan…
dan melirik jam di dinding ballroom.
Tinggal 30 menit lagi sebelum kebenaran terungkap.
Tepat pukul 20.00, seluruh lampu di ballroom meredup. Layar raksasa di panggung utama menyala, menampilkan logo “Omni-Tech Global”—perusahaan investasi teknologi terbesar di Asia yang baru saja menandatangani kontrak akuisisi 100% saham Grup Wijaya Sentosa sore tadi.
Ayahku berdiri di podium dengan wajah sumringah, berusaha menyembunyikan fakta bahwa perusahaannya sebenarnya sudah sekarat. “Malam ini,” serunya dengan suara bergetar bangga, “Grup Wijaya Sentosa resmi diselamatkan oleh investor baru. Mari kita sambut pimpinan Omni-Tech Global yang telah membeli perusahaan ini dan akan memimpin kita ke masa depan!”
Pintu besar ballroom terbuka. Bukan pria asing yang masuk, melainkan asisten pribadiku, seorang pria bersetelan mahal yang membawa map kulit hitam. Ia berjalan melewati kerumunan yang terpaku, langsung menuju ke arahku yang masih basah kuyup oleh anggur.
“Tuan Arman,” katanya sambil membungkuk dalam, “Dokumen pengambilalihan sudah lengkap. Anda kini pemilik sah dari gedung ini, perusahaan ini, dan seluruh aset yang tersisa di dalamnya.”
Keheningan yang mencekam jatuh di ruangan itu.
Ayahku melangkah turun dari panggung dengan wajah pucat pasi. “Ini… ini pasti kesalahan! Arman hanyalah pelukis jalanan! Dia tidak mungkin punya uang untuk membeli perusahaanku!”
Aku melangkah maju, membiarkan tetesan anggur terakhir jatuh dari daguku. “Sepuluh tahun lalu, Ayah bilang seniku tidak berguna. Tapi hari ini, ‘seni’ itu yang membayar semua utang judi Ayah dan kerugian perusahaan yang hampir membuat kalian tidur di jalanan.”
Ibu dan Maya jatuh terduduk. Gelas di tangan Maya pecah di lantai.
“Arman… anakku,” Ibu mencoba meraih tanganku dengan wajah penuh harap yang memuakkan. “Ibu tidak bermaksud begitu tadi. Kita keluarga, kan? Ayahmu hanya sedang stres…”
Aku menarik tanganku pelan. “Keluarga tidak menyiramkan anggur ke kepala saudaranya saat mereka jatuh. Keluarga tidak memanggil anaknya gelandangan.”
Asistenku berdehem. “Sesuai instruksi Tuan Arman, restrukturisasi dimulai malam ini. Bapak Surya, Ibu Ratna, dan Nona Maya Wijaya… kalian resmi diberhentikan dari segala posisi dan diminta mengosongkan fasilitas perusahaan dalam 24 jam. Termasuk rumah dinas dan kendaraan.”
Seketika, kesombongan itu luruh. Ayahku berlutut di hadapanku, diikuti Ibu dan Maya yang menangis histeris, memohon agar aku tidak membuang mereka. Mereka bersujud di depan sepatu hitamku yang masih lembap oleh anggur.
“Arman, tolong… Ayah mohon,” Ayah memegang kakiku dengan tangan yang gemetar.
Aku menatap mereka dari atas dengan tatapan dingin yang selama ini mereka berikan padaku. “Kalian benar, Ayah. Tempat ini memang bukan untuk orang miskin. Tapi miskin yang kumaksud bukan soal harta, melainkan miskin hati.”
Aku berbalik pergi tanpa menoleh lagi. Di belakangku, para tamu yang tadi ikut menertawakanku kini sibuk memotret kehancuran keluarga Wijaya. Sepuluh tahun aku diusir tanpa membawa apa pun, kini aku pergi dengan membawa semua yang pernah mereka banggakan—dan meninggalkan mereka dengan satu-satunya hal yang tersisa: rasa malu yang takkan pernah bisa dibeli.