Ketika aku melihat istriku yang sedang hamil delapan bulan berjalan di tengah hujan, membawa dua kantong belanja yang sangat berat sementara sandal jepitnya hampir terpeleset di genangan air, sedangkan keluargaku duduk santai di dalam restoran mewah dan memesan makanan senilai lebih dari 6 juta rupiah tanpa sedikit pun menunggunya, saat itulah aku memblokir semua kartu kredit tambahan yang mereka gunakan.**
**Dan kubiarkan mereka membayar sendiri makan malam terakhir yang mereka kira akan tetap kutanggung.**
Namaku **Adrian**.
Aku bukan suami yang sempurna.
Aku harus mengatakannya sejak awal, karena jika ada satu pelajaran yang kupetik dari malam itu, inilah jawabannya: terkadang mencintai seseorang saja tidaklah cukup. Jika kita tidak melindunginya dari orang-orang yang terbiasa menyakitinya, maka kita pun ikut menjadi bagian dari luka yang mereka berikan.
Istriku bernama **Mira**.
Saat itu ia sedang hamil delapan bulan anak pertama kami. Perutnya sudah sangat besar, punggungnya sering terasa sakit, dan pada pemeriksaan terakhir, dokter kandungannya berpesan agar ia menghindari mengangkat beban berat, berjalan terlalu lama, dan sebisa mungkin tidak mengalami stres.
Aku ada di sana ketika dokter mengatakan semua itu.
Aku mengangguk.
Bahkan aku berkata,
*”Dok, biar saya yang menjaga dia.”*
Mira menatapku saat itu. Ia tersenyum tipis.
Sekarang aku mengerti mengapa senyumnya hanya setipis itu.
Karena ia sendiri tidak yakin aku akan menepati ucapanku.
Hari Sabtu itu adalah ulang tahun ibuku, **Mama Corazon**. Usianya enam puluh satu tahun, tetapi kalau sudah berada di restoran, permintaannya seperti seorang putri. Ia ingin makan malam di restoran Korean barbecue dan seafood yang sedang viral di kawasan SCBD karena melihatnya di TikTok.
Sebenarnya makan malam itu bukan masalah.
Aku mampu membayarnya.
Masalahnya adalah, di keluargaku, setiap kali aku yang membayar, mereka merasa sekaligus berhak memperlakukan istriku sesuka hati.
Aku tidak langsung menyadarinya.
Atau mungkin aku sadar, tetapi menganggapnya sebagai sesuatu yang “wajar.”
Wajar kalau Mira yang mengurus reservasi restoran.
Wajar kalau Mira yang memesan kue ulang tahun.
Wajar kalau Mira yang menyiapkan hadiah untuk Mama karena katanya aku terlalu sibuk bekerja.
Wajar kalau Mira yang menghubungi adikku, **Riza**, untuk menanyakan berapa anak yang ikut.
Wajar kalau Mira yang membawa payung, tisu basah, obat darah tinggi Mama, dan berbagai barang lain yang sebenarnya sama sekali bukan tanggung jawabnya.
Semuanya dianggap wajar.
Sampai akhirnya aku sadar bahwa sesuatu yang disebut “wajar” ternyata hanyalah bentuk ketidaksopanan yang dibungkus dengan alasan keluarga.
Sekitar pukul enam lewat tiga puluh sore, aku masih berada di lokasi proyek di kawasan Sudirman. Ada masalah mendadak yang harus kuselesaikan.
Aku berkata kepada Mira agar ia pergi lebih dulu ke restoran bersama Mama dan yang lain. Aku akan menyusul sebelum pukul tujuh malam.
Ia hanya menjawab,
*”Baik. Hati-hati di jalan.”*
Tidak ada keluhan.
Tidak mengatakan bahwa ia lelah.
Tidak berkata bahwa seharusnya aku saja yang pergi lebih dulu.
Karena itulah aku mengira semuanya baik-baik saja.
Betapa bodohnya aku.
Saat tiba di kawasan SCBD, hujan turun sangat deras.
Bukan gerimis yang indah dilihat dari balik kaca kafe.
Melainkan hujan yang menusuk kulit, disertai angin kencang, genangan air di pinggir jalan, dan orang-orang berlarian sambil menutupi kepala dengan tas mereka.
Aku hendak memarkir mobil di basement restoran ketika melihat seseorang.
Awalnya kukira hanya wanita hamil lain.
Ia mengenakan gaun hamil berwarna biru muda yang sudah basah hingga hampir selutut. Di kedua tangannya ada dua tas belanja besar. Salah satunya berisi kotak kue ulang tahun yang sudutnya mulai basah. Tas lainnya berisi beberapa wadah makanan, mungkin lauk tambahan atau sesuatu yang diminta keluargaku.
Payung yang menggantung di lengannya bahkan sudah terbalik diterpa angin.
Lalu ia berhenti di dekat tiang lampu.
Memegang perutnya.
Membungkuk pelan.
Saat itulah aku mengenali sosok itu dari belakang.
Mira.
Rasanya dunia seolah berhenti berputar.
Mobil di belakangku membunyikan klakson, tetapi aku tidak langsung bergerak.
Aku melihatnya kembali melangkah.
Pelan.
Seolah setiap langkah harus ia tarik keluar dari seluruh tenaga yang tersisa.
Aku menyalakan lampu hazard, meninggalkan mobil di pinggir jalan, lalu berlari menerobos hujan.
**”Mira!”**
Ia menoleh.
Namun ketika melihatku, ekspresi pertamanya bukanlah rasa lega.
Melainkan ketakutan.
Seolah-olah ia baru saja tertangkap melakukan kesalahan.
Dan itulah yang paling menghancurkan hatiku.
*”Adrian…”*
Aku segera mengambil semua tas dari tangannya.
*”Apa yang kamu lakukan di sini?”*

*”Tidak apa-apa… Restorannya sudah dekat.”*
*”Dekat dari mana? Kenapa kamu berjalan kaki?”*
“Kenapa kamu berjalan kaki, Mira?!” suaraku meninggi, bercampur antara panik dan amarah yang mulai membakar dada. Aku menuntunnya berteduh di bawah kanopi kecil sebuah toko yang tutup.
Mira menggigil. Bibirnya pucat, dan gaun hamilnya sudah basah kuyup.
“Tadi… Mama bilang kuenya ketinggalan di mobil Riza, tapi ternyata Riza parkir di gedung sebelah karena basement restoran penuh,” bisik Mira dengan suara bergetar. “Terus Mama juga minta dibelikan buah potong segar di supermarket depan untuk pencuci mulut. Riza tidak mau menemaniku karena takut rambutnya rusak terkena hujan…”
“Lalu mereka membiarkanmu jalan kaki sendiri? Dalam kondisi seperti ini?!”
Mira menunduk, air matanya perlahan luruh, menyatu dengan sisa-sisa air hujan di pipinya. “Aku tadi mau naik taksi daring, tapi Mama marah. Katanya buang-buang uang untuk jarak sekat ini. Adrian… perutku agak kram sejak tadi…”
Mendengar kata “kram”, seluruh darahku rasanya naik ke kepala. Amarahku mendidih, bukan lagi sekadar kesal, melainkan kemurkaan yang amat sangat. Di dalam restoran mewah itu, ibuku dan adikku sedang tertawa, menikmati kehangatan, sementara istriku yang sedang bertaruh nyawa mengandung anakku diperlakukan tak lebih dari seorang pelayan.
Tanpa membuang waktu, aku menggendong Mira masuk ke dalam mobilku. Kumatikan AC, kuambil selimut kecil yang selalu tersedia di kursi belakang, dan kubalut tubuhnya yang gemetar.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” kataku tegas.
“Tapi… pesta ulang tahun Mama—”
“Persetan dengan pesta itu, Mira! Kamu dan anak kita adalah duniaku sekarang. Cukup. Sudah cukup aku menjadi suami yang bodoh.”
Sembari melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat, ponselku di dasbor bergetar berulang kali. Layarnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi dari aplikasi perbankan m-banking milikku.
Transaksi Kartu Kredit Tambahan (Corazon): Rp 2.400.000 di Premium K-BBQ SCBD. Transaksi Kartu Kredit Tambahan (Riza): Rp 1.800.000 di Premium K-BBQ SCBD. Transaksi Kartu Kredit Tambahan (Corazon): Rp 1.950.000…
Totalnya sudah lebih dari 6 juta rupiah. Mereka memesan daging premium, menu-menu mahal, dan bahkan mungkin membawa pulang beberapa paket tanpa memikirkan Mira yang belum makan sepiring pun dan sedang bertaruh nyawa di bawah guyuran hujan.
Aku menepikan mobil sejenak di lampu merah. Dengan tangan yang gemetar menahan amarah, kubuka aplikasi perbankan di ponselku.
Satu per satu, tombol “Blokir Kartu” pada akun kartu kredit tambahan atas nama Mama Corazon dan Riza kutekan tanpa ragu.
Klik. Klik.
Selesai. Bersamaan dengan itu, aku mengirimkan satu pesan singkat ke grup WhatsApp keluarga:
“Mira masuk rumah sakit karena kram perut setelah kalian suruh berjalan kaki di tengah badai. Mulai detik ini, semua fasilitas dan kartu kredit dari saya sudah dinonaktifkan. Silakan bayar sendiri makan malam mewah kalian. Jangan pernah cari saya atau Mira lagi sampai kalian tahu cara menghargai manusia.”
Hanya butuh waktu tiga menit sampai ponselku berdering histeris. Telepon dari Mama. Lalu dari Riza. Berulang-ulang. Aku bisa membayangkan kepanikan mereka di depan kasir restoran mewah itu saat kartu-kartu mahal yang biasa mereka pamerkan mendadak ditolak oleh mesin EDC. Aku bisa membayangkan wajah pucat Mama saat menyadari bahwa pria yang selama ini selalu mengalah atas nama “berbakti”, akhirnya telah mencapai batasnya.
Aku mengabaikan semua panggilan itu. Mematikan ponsel, lalu menggenggam tangan Mira yang mulai menghangat.
Di ruang instalasi gawat darurat, setelah dokter memastikan bahwa kondisi Mira dan janin kami berangsur stabil setelah diberikan penanganan, aku berlutut di samping ranjang rumah sakitnya. Kucium punggung tangannya dengan air mata yang menetes pelan.
“Maafkan aku, Mira. Maaf karena baru menyadarinya sekarang,” bisikku lirih.
Mira tersenyum, kali ini bukan senyuman tipis yang penuh keraguan seperti di ruang dokter kala itu. Kali ini, ada binar kelegaan yang tulus di matanya. Ia tahu, suaminya tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.
Malam itu, di tengah badai kota Jakarta, aku kehilangan keluargaku yang egois. Namun, di dalam ruangan rumah sakit yang tenang itu, aku akhirnya menemukan kembali peranku yang sesungguhnya: menjadi pelindung sejati bagi keluarga kecil yang sedang kami bangun bersama.
—
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.