Dosen killer yang populer karena ketampanannya itu ternyata suami yang selalu ku m4ki jelek dan tua lewat telepon!Mampus gak tuh
“Kamu gak ada kelas hari ini?” tanya Abram saat melihat an4knya pagi-pagi sudah nongkrong di depan tv sambil ngemil.
“Males aja.”
“Mulai lagi malesnya? Kalau kaya gini terus kamu gak bakalan ada peningkatan, Dira. Kamu menyia-nyiakan uanq yang papa keluarkan buat b4yar bi4ya kuliah kalo kaya gini.”
“Ada apa, Pa?” tanya Melati. Mendengar ribut-ribut, ia langsung datang dari dapur.
“Lihat, an4k ini sudah malas kuliah lagi. Padahal baru beberapa Minggu gak pernah absen.”
Nadira yang menjadi tersangka utama dalam keributan itu justru malah terus ngemil dengan santai seolah tak mendengar apa-apa.
“Papa gak mau tahu, pokoknya kalau kamu males-malesan lagi kaya gini papa tidak akan memberikan tempat sedikit pun dari rumah ini buat kamu.”
“Maksud Papa?” tanya Nadira.
“Papa akan us1r kamu.”
Nadira malah mencebik. “Yang bener aja, masa tega ngus1r an4k satu-satunya? Emang papa mau aku terlunta-lunta di jalan? Jadi geIandangan dan ter4ncam banyak kejahatan?”
Abram mendengkus. “Papa gak khawatir sama sekali, toh kamu sudah menikah. Papa akan suruh Anand untuk menjemput kamu, biar kalian hidup bersama seperti suami istri umumnya.”
Nadira langsung bangkit dengan mata melotot. “Aku gak mau!”
“Ya sudah kalau gitu turuti semua kemauan dan perintah papa.”
Nadira cemberut, kemudian berjalan menghentak menuju kamarnya.
Abram menatap kepergian Nadira sambil menyunggingkan bbir. “Akhirnya kita tahu kelemahan dia, Ma.”

“Kemarin si Nadira dibawa pergi gitu aja sama pak An loh.”
“Masa, sih? Dibawa pergi ke mana? Apa mereka saling kenal?”
“Kayaknya gak mungkin deh. Tapi gak tahu kenapa sikap pak An sama dia itu beda sama mahasiswa lain.”
“Jangan-jangan … “
Nadira dan kedua temannya melirik ke sekeliling, ternyata mereka kini sedang jadi pusat perhatian sebagian besar orang.
“Ada apa, sih?” bisik Triana.
“Kemarin ada insiden. Tapi pantes aja sih mereka bertanya-tanya, orang gue juga penasaran banget. Ra, apa Lo sama pak An emang saling kenal sebelumnya? Punya hubungan apa Lo sama dosen killer itu?” tanya Yasmin.
“Gue gak kenal tuh.”
“Tapi kok bisa sih, Pak An yang terkenal dingin dan acuh tiba-tiba langsung menaruh perhatian lebih sama Lo? Apalagi kemarin dia sampai pegangin tangan Lo. Aduh, gimana rasanya di gandeng sama cowok cakep, Ra?” tanya Yasmin sambil mengusap-usap tangan Nadira.
Tatapan Nadira menangkap Merlyn dan teman-temannya yang baru datang. Nadira yang awalnya tak begitu berniat menjelaskan pun tiba-tiba mendapatkan ide jahil di kepalanya.
“Jadi guys, gue juga gak ngerti. Tiba-tiba aja pak An n4rik tangan gue, bawa gue naik mobilnya.” Nadira sengaja menaikan volume suaranya hingga sukses membuat Merlyn dan yang lainnya menoleh.
Mendengar pengakuan Nadira, semua orang yang ada di kantin langsung membulatkan mulut tak percaya. Mereka pun langsung menyerbu meja Nadira dengan wajah kepo.
“Dira, apa itu benar?”
“Kamu benar-benar naik mobil Pak An?”
“Terus-terus? Ceritain lagi, dong!”
Yasmin dan Triana menatap orang-orang yang kini mengelilingi mereka dengan terkejut.
Dira tersenyum jumawa dan menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan di d4da sambil menatap satu persatu wajah yang menanti kelanjutan ceritanya.
Akhirnya apa yang Nadira harapkan benar-benar terjadi, Merlyn merengsek menembus kerumunan dan berdiri paling depan, menatap Nadira dengan tatapan penuh permusuhan.
“Mana mungkin pak An bawa dia ke mobil, apalagi dia kotor dan bau kaya kemarin, palingan juga yang sebenarnya terjadi itu dia di hvkum habis-habisan di luar kampus. Udah bau, bandel lagi!” ucap Merlyn sambil melipat tangan di d4da.
“Loh? Iri, ya?” tanya Nadira tersenyum miring.
“Terus apa yang terjadi, Ra?” tanya salah satu dari mereka.
“Apalagi? Karena penampilan gue yang kotor gara-gara ulah si Merlyn kemarin pak An ajak gue beli baju ganti.” Nadira menyibak rambutnya dengan penuh kebanggaan.
Semua orang langsung menarik nafas dalam-dalam lewat mulut yang terbuka lebar, sedangkan Triana dan Yasmin menarik salah satu sudut bbir sambil menggeleng melihat kelakuan sahabat mereka.
“Masa iya, Ra?”
“Sulit dipercaya, bukannya pak An itu galak? Kok bisa?”
“Iya. Gak percaya gue.”
“Lo gak bohong, kan, Ra?”
“Udah gue bilang jangan percaya, si Dira ini tukang halusinasi,” ucap Merlyn.
Nadira memicingkan mata. “Loh? Lo gak percaya?”
Nadira bangkit dari kursi dan memamerkan baju yang kini ia kenakan sambil berputar. “Ini baju pemberian pak An kemarin. Masih baru, wangiii!” ucap Nadira dengan wajah teler.
Semua orang lagi-lagi heboh, banyak yang tak percaya, tetapi juga tak sedikit yang begitu takjub dan memuji-muji Nadira.
“Lo pasti kena hvkuman kalo pak An tahu Lo nyebarin gosip tentang dia, Dira!” geram Merlyn dengan d4da membara.
“Ya silakan, laporin aja sana. Gue gak takut!” ucap Nadira sambil kembali duduk.
Yasmin dan Triana menatap Nadira dengan was-was. “Ra, jangan kelewatan deh bercandanya. Kalo sampai ada yang bener-bener laporin sama pak An, habis Lo!”
Nadira malah mencebik sambil mengangkat kedua alisnya. “Tenang tenang.”
Merlyn menghentakkan kaki lalu men4rik tangan Nadira keluar dari kantin.
“Mau ke mana Lo bawa gue?” tanya Nadira.
“Gue bakal laporin Lo sama pak An!”
Semua orang langsung mengikuti langkah Merlyn ke mana pun ia men4rik Nadira.
Yuk baca selengkapnya di k b m