KETIKA IBU KANDUNGKU MELAPORKANKU KE DIREKTORAT JENDERAL PAJAK UNTUK MENGHANCURKAN PERUSAHAANKU, KONTRAK IMPIANKU LENYAP DI DEPAN TIGA PETUGAS PAJAK—TAPI DIA TIDAK TAHU BAHWA CAP JEMPOL MERAHNYA AKAN MEMBUKA KASUS YANG MENGHANCURKAN SELURUH KELUARGA KAMI**
## BAGIAN 1: PETUGAS PAJAK DATANG SAAT AKU HAMPIR MENANDATANGANI KONTRAK TERBESARKU, DAN DI SURAT PENGADUAN ITU, NAMA IBUKULAH YANG PERTAMA KALI MENUSUK PUNGGUNGKU
Ibuku sendiri melaporkanku ke Direktorat Jenderal Pajak.
Bukan gosip.
Bukan sindiran.
Bukan sekadar keluhan kepada keluarga besar.
Ada surat pernyataan bermaterai, ada cap jempol merah di bagian bawah, ada salinan rekening koran perusahaan, daftar pemasok, tangkapan layar laporan penjualan, dan rincian kontrak-kontrak yang seharusnya hanya aku yang tahu.
Saat tiga petugas pajak masuk ke kantorku, aku masih memegang pena fountain yang seharusnya kugunakan untuk menandatangani kontrak senilai **Rp12 miliar**.
Kontrak yang kuperjuangkan hampir selama satu tahun penuh.
Sebuah kesepakatan yang akan membuka gudang pertama kami di Surabaya, memberikan bonus kepada tujuh puluh dua karyawanku, dan membuktikan kepada semua orang yang selama ini menyebutku “cuma perempuan live shopping” bahwa aku tidak sedang bermain-main.
Namun dalam waktu kurang dari lima menit, semuanya lenyap.
Penaku jatuh dari tangan.
Pena itu menggelinding di atas kontrak dan meninggalkan garis tinta hitam panjang di halaman yang seharusnya menjadi awal tahun terbaik dalam hidupku.
Pak Villanueva, distributor regional dari wilayah Visayas yang sedang bertemu denganku, langsung berdiri.
Beberapa menit sebelumnya, dia masih tersenyum sambil mengatakan bahwa mereka ingin menjadikan perusahaanku sebagai mitra online eksklusif.
Sekarang dia menatap para pria ber-ID resmi itu seolah udara di ruang rapat tiba-tiba berubah menjadi racun.
“Bu Reyes,” katanya sambil perlahan menutup mapnya. “Sepertinya kami harus menunda proses ini terlebih dahulu.”
“Pak, ini hanya pemeriksaan rutin,” kataku berusaha terdengar tenang meski lidahku gemetar.
Dia tidak percaya.
Dan aku sendiri tidak yakin apakah aku percaya pada ucapanku.
Dia mengambil pulpennya, merapikan manset kemejanya, lalu berdiri.
“Lebih baik kami berhati-hati. Nanti kami akan menghubungi Ibu setelah situasinya jelas.”
Dia tidak mengatakan kontraknya dibatalkan.
Tapi kami sama-sama tahu maksudnya.
Dalam dunia bisnis, ketika petugas pajak datang tepat di tengah proses penandatanganan kontrak, meskipun kamu tidak bersalah, di mata klien kamu sudah terlihat seperti asap.
Dan tidak ada pebisnis yang ingin memegang api yang tidak dikenalnya.
Saat dia keluar, rasanya seperti lantai di bawah kakiku dicabut begitu saja.
Petugas pajak pertama mendekat.
“Apakah Anda Ibu Mikaela Reyes?”
Aku mengangguk.
“Pemilik dan direktur utama TalaBay Commerce Corporation?”
Aku mengangguk lagi.
Dia mengeluarkan salinan dokumen.
“Kami menerima pengaduan yang telah diverifikasi. Ada dugaan penghasilan yang tidak dilaporkan sepenuhnya, penggunaan faktur palsu, dan pelaporan yang tidak sesuai untuk beberapa transaksi tunai dari penjualan livestream.”
Pelipisku langsung berdenyut.
“Pengaduan yang telah diverifikasi?”
“Iya, Bu. Ada nama asli, identitas yang valid, cap jempol, dan dokumen pendukung.”
“Dari siapa?”
Mereka saling berpandangan sejenak.
Lalu dia menyerahkan halaman pertama kepadaku.
Waktu terasa melambat.
Di bawah kata *pelapor*, tertulis nama yang bahkan bisa kutulis sambil memejamkan mata.
**Lourdes Dela Cruz Reyes.**
Ibuku.
Aku menatap kertas itu tanpa berkedip.
Awalnya aku berpikir mungkin hanya nama yang sama.
Kemudian aku berpikir mungkin ada yang menggunakan identitasnya.
Lalu aku melihat tanda tangannya.
Tanda tangan yang selalu memiliki lengkungan kecil pada huruf L karena, katanya, itulah yang dia pelajari saat SMA.
Di samping tanda tangan itu ada cap jempol merah.
Tebal.
Jelas.
Seperti darah yang dioleskan ke atas kertas.
“Tidak…” bisikku.
“Bu?”
“Itu ibu saya.”
Tidak ada yang berbicara.
Aku bisa mendengar dengungan pelan AC di ruang rapat.
Aku juga bisa mendengar detak jantungku sendiri, keras dan brutal, seolah ada seseorang yang mengetuk dari dalam dadaku.
“Itu ibu saya,” ulangku lebih keras. “Kenapa dia melakukan ini?”
Petugas pajak tidak menjawab.
Karena bukan tugas mereka memahami bagaimana seorang ibu bisa menusuk anaknya sendiri dengan tangan yang dulu menggendongnya saat kecil.
Tugas mereka adalah membuka dokumen.
Tugas mereka adalah bertanya.
Tugas mereka adalah mencari tahu apakah aku melanggar hukum.
Tapi hati yang mendadak pecah di dalam tubuhku bukan bagian dari kewenangan mereka.
“Bu,” kata petugas lain. “Kami perlu melihat buku pembukuan, laporan pajak, faktur resmi, rekening bank, dan ringkasan penjualan dua tahun terakhir.”
Aku menarik napas.
Lalu memaksa diriku berdiri tegak.
“Tidak masalah. Kami akan bekerja sama sepenuhnya.”
Aku memanggil Jessa, manajer keuanganku.
Begitu dia masuk, terlihat jelas dari wajahnya bahwa dia tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Mika, ada apa ini?”
“Panggil tim akuntansi. Keluarkan semua dokumen. Jangan ada yang disembunyikan.”
Dia menatapku.
“Siapa yang melapor?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku melihat kembali kertas di tanganku.
Nama ibuku kembali menusuk mataku.
“Ibuku.”
Mulut Jessa langsung terbuka.
Dia tidak tahu harus berkata apa.
Dan aku juga tidak ingin mendengar apa pun.
Saat orang-orang mulai membuka berkas di seluruh kantor, aku masuk ke ruang rapat kecil dan mengunci pintunya.
Aku mengambil ponsel.
Lalu menelepon Mama.
Baru tiga kali dering, dia sudah menjawab.
“Ada apa?”
Tidak ada rasa gugup dalam suaranya.
Tidak ada kekhawatiran.
Tidak ada sedikit pun tanda bahwa beberapa menit sebelumnya dia baru saja mengirim pemerintah masuk ke perusahaan yang kubangun dari kurang tidur, utang, air mata, dan tubuh yang hampir hancur.
“Ma,” kataku dengan suara yang nyaris tidak keluar. “Apa Mama yang melaporkanku ke kantor pajak?”
Sunyi.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu dia menjawab.
“Iya.”
Rasanya seperti air es dituangkan ke tengkukku.
“Kenapa?”
“Karena kamu anakku.”
Aku memejamkan mata.
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawabannya. Kalau kamu bukan anakku, aku tidak peduli kamu mau jadi apa.”
“Mama memasukkan petugas pajak ke perusahaanku saat aku akan menandatangani kontrak besar.”
“Bagus. Jadi mereka bisa langsung melihat apakah kamu benar-benar bersih.”
“Ma, kontrakku hilang.”
“Kalau cuma karena satu kunjungan petugas pajak kontrakmu langsung hilang, berarti bisnismu memang tidak kuat.”
Aku mencengkeram sisi meja.
“Papa tahu berapa nilai kontrak itu?”
“Memangnya kenapa kalau besar? Itu cuma uang.”
“Rp12 miliar, Ma.”
Dia terdiam sesaat.
Namun keheningan itu tidak cukup untuk disebut penyesalan.
“Rp12 miliar?” tanyanya dengan suara lebih rendah.
“Iya.”
“Mungkin kamu cuma membual.”
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Tapi karena kalau tidak tertawa, mungkin aku akan gila.
“Jadi Mama masih mengira aku membohongi kalian?”
“Kamu tidak mengerti, Mika. Pekerjaanmu tidak punya martabat. Setiap hari kamu muncul di kamera, berteriak ‘ambil ya, Kak!’, menjual macam-macam barang. Apa kata orang-orang di lingkungan kita?”
“Bahwa aku menghasilkan uang secara legal?”
“Bahwa kamu terlihat seperti pedagang pasar.”
Aku terdiam.
“Pedagang pasar?”
“Itu bukan kehidupan jangka panjang. Kamu perempuan. Seharusnya punya pekerjaan yang terhormat. Seharusnya jadi pegawai tetap. Seharusnya punya jaminan masa depan. Seharusnya bekerja di kantor pemerintah, bukan di TikTok.”
“Aku punya perusahaan, Ma.”
“Perusahaan?” suaranya meninggi. “Kamu menyebut mengirim sabun, parfum, wajan, dan produk perawatan kulit kepada orang asing sebagai perusahaan?”
“Ada tujuh puluh dua orang yang hidup dari gaji yang kubayar.”
“Itu malah membuatmu lebih bersalah. Kamu menyeret mereka ke jalan yang salah.”
“Ma, aku bayar pajak. Semua laporan kami rutin. Kami punya akuntan. Kami punya auditor.”
“Itulah kenapa aku minta diperiksa.”
“Itu bukan pemeriksaan. Itu pengaduan.”
“Kalau tidak ada yang kamu sembunyikan, kenapa takut?”
Aku berhenti bernapas sesaat mendengar kalimat itu.
Kalimat favorit orang-orang yang merusak hidup orang lain lalu menolak mengakuinya.
“Aku tidak takut pada kantor pajak,” kataku. “Aku takut pada apa yang sudah Mama lakukan.”
“Apa yang kulakukan demi kebaikanmu.”
“Mama menghancurkan kontrakku.”
“Agar kamu sadar.”
“Mama mempermalukanku di depan klien.”
“Agar kamu kembali ke jalan yang benar.”
“Jalan yang benar yang mana?”
“Tes CPNS. Ada lembaga bimbingan belajar di kota. Aku sudah bertanya. Gelombang berikutnya aku akan mendaftarkanmu.”
Aku memegang dahiku.
“Aku tidak akan ikut tes CPNS.”
“Kamu akan ikut.”
“Tidak.”
“Kamu akan ikut, Mika. Kalau kantor pajak menutup perusahaan konyolmu itu, kamu tidak punya alasan lagi untuk keras kepala.”
Seolah ada sesuatu yang meledak di dalam diriku.
“Jadi itu alasan Mama melaporkanku?”
“Agar menyelamatkanmu.”
“Agar memaksaku bekerja di kantor pemerintah?”
“Agar hidupmu normal.”
“Normal?”
“Iya. Lihat Clarisse. Sepupumu itu sudah menjadi pegawai tetap di kantor kecamatan. Memang gajinya tidak besar, tapi dia dihormati. Saat berjalan di alun-alun, semua orang menyapanya. Sedangkan kamu? Orang-orang hanya berbisik bahwa kamu perempuan yang menari di siaran langsung demi menjual barang.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Clarisse.
Selalu Clarisse.
Putri dari saudara perempuan Mama.
Perempuan yang dijadikan ukuran seluruh nilai diriku hanya karena dia bekerja sebagai staf administrasi pemerintah.
“Ma,” kataku pelan. “Mama tahu tidak, kalau pengaduan itu palsu, Mama bisa dituntut?”
“Nak, jangan menakut-nakuti Mama.”
“Aku tidak menakut-nakuti.”
“Aku ibumu.”
“Dan aku anak yang baru saja Mama fitnah.”
“Kalau kamu bersih, nanti juga terbukti bersih.”
“Bagaimana kalau karena ulah Mama aku kehilangan segalanya?”
“Ya bangun lagi dari awal.”
Tanganku mengeras menggenggam ponsel.
“Kalau aku sampai dituntut pidana?”
Dia tidak ragu sedikit pun.
“Kalau memang masuk penjara, setelah keluar baru mulai hidup yang benar.”
Seluruh tubuhku terasa dingin.
Lalu dia mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup.
**“Mama akan menunggumu.”**
Pada saat itu juga, seseorang mengetuk pintu ruang rapat.
Itu Jessa.
Wajahnya pucat pasi.
“Mika,” katanya dengan bibir gemetar. “Kamu harus keluar. Para petugas menemukan sesuatu.”
Aku memutus panggilan tanpa berpamitan.
Saat membuka pintu, salah satu petugas pajak memegang selembar hasil cetakan.
“Bu,” katanya. “Pengaduan ini bukan sekadar tuduhan biasa. Ada pernyataan bersumpah yang menyebut bahwa Anda sendiri yang memerintahkan agar sebagian penjualan disembunyikan.”
Aku berkedip.
“Apa?”
Dia menatapku lurus.

“Dan orang yang mengaku mendengar perintah itu langsung dari Anda…”
Dia meletakkan kertas itu di atas meja.
“…adalah ibu Anda sendiri.”
Bagian 2: Kepergian dalam Diam dan Penyesalan yang Terlambat di Bawah Guyuran Hujan
Keheningan yang mengikuti suara pecahan piring itu terasa mencekik.
Adrian langsung berdiri, wajahnya pucat pasi, sementara Nico menatap kami dengan mata bulatnya yang polos, tidak mengerti mengapa sebuah nama bisa menghancurkan pagi kami. Aku tidak berteriak. Aku tidak menjambak rambut Adrian, tidak juga memaki perempuan bernama Bea itu.
Aku hanya berlutut, memunguti serpihan piring satu demi satu hingga jariku teriris dan darah segar mulai menetes.
“Mira, aku bisa jelaskan…” suara Adrian bergetar, kehilangan seluruh keangkuhan yang ia pamerkan semalam.
Aku berdiri, mengabaikan darah di tanganku, lalu menatapnya lurus-lurus. “Tidak perlu, Adrian. Kamu benar. Peranku sudah selesai.”
Hari itu juga, aku mengemas satu koper pakaianku. Ketika Adrian mencoba menahan Nico dengan ego dan pengacaranya—mengancam bahwa aku yang tidak punya pekerjaan tetap tidak akan pernah memenangkan hak asuh—aku memilih untuk tidak melawannya dengan drama. Aku tahu, dengan kekayaan dan arogansinya saat itu, aku akan kalah. Aku mencium Nico, membisikkan janji bahwa aku akan kembali untuknya, lalu aku pergi dalam diam.
Tanpa uang sepeser pun dari tabungan Adrian. Tanpa menuntut rumah atau mobil yang selalu ia banggakan.
Satu Tahun Membangun Kembali Puing-Puing Hidup
Satu tahun berlalu seperti badai yang menempa besi menjadi baja. Aku kembali ke dunia akuntansi, mengambil sertifikasi ulang, dan bekerja belasan jam sehari di sebuah firma keuangan. Aku tidak lagi memakai pakaian lusuh atau melupakan diriku sendiri. Aku membangun kembali harga diriku yang sempat dihancurkan oleh pria yang paling kucintai.
Hingga malam itu tiba. Malam di mana hujan turun begitu deras, seolah ingin membasuh semua kenangan buruk masa lalu.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kontrakan kecilku diketuk dengan kasar di tengah gemuruh guntur. Saat kubuka, dadaku berdegup kencang melihat siapa yang berdiri di sana.
Adrian.
Pria yang dulu begitu rapi dan angkuh, kini berdiri gemetar di bawah guyuran hujan. Kemejanya basah kuyup, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah bengkak. Di pelukannya, ada Nico yang terbungkus jaket tebal, menangis sesenggukan karena kedinginan.
Tanpa memedulikan air hujan yang mengalir di lantai teras, Adrian tiba-tiba menjatuhkan lututnya ke lantai. Dia berlutut di depan pintu rumahku.
“Mira… tolong aku, Mira… Aku mohon, maafkan aku,” ratapnya, suaranya parau berbaur dengan suara hujan.
Aku mundur selangkah, mendekap dadaku yang mendadak sesak, bukan karena cinta, melainkan karena melihat pemandangan yang begitu menyedihkan di depanku.
Ketika “Nilai” Itu Berbalik Arah
Aku segera mengambil Nico dari pelukannya. Anakku langsung memeluk leherku erat-erat, menumpahkan seluruh kerinduannya selama setahun ini. Setelah menenangkan Nico di dalam kamar, aku kembali ke pintu depan. Adrian masih di sana, bersimpuh seperti seorang pengemis.
Melalui tangisnya yang tersedat, cerita menjijikkan itu akhirnya terungkap:
- Tante Bea & Pengkhianatan: Perempuan yang dianggapnya lebih berharga itu ternyata hanya mencintai hartanya. Bea berselingkuh dengan pria lain setelah berhasil menghasut Adrian untuk membalik nama sebagian aset bisnis atas namanya.
- Kehancuran Finansial: Bisnis material Adrian dikhianati dari dalam oleh Bea dan komplotannya, meninggalkannya dengan utang yang menumpuk. Rumah mewah dan mobil yang dulu ia pamerkan kini telah disita bank.
- Penolakan Nico: Nico tidak pernah mau menerima Bea sebagai ibu. Anak itu terus menangis mencari “Mama”, hingga membuat Adrian sadar bahwa uang tidak bisa membeli kehangatan sebuah rumah.
“Aku salah, Mira. Rumah, mobil, dan semua tabungan itu… tidak ada artinya tanpa kamu yang menjadi jiwanya,” tangis Adrian, mencoba meraih ujung celandaku. “Aku baru sadar, akulah yang tidak berharga tanpamu.”
Aku menatap pria yang dulu kupuja setinggi langit, pria yang pernah mengusirku karena menganggapku sebuah ‘beban’.
| Dulu (Satu Tahun Lalu) | Sekarang (Malam Ini) |
|---|---|
| Adrian berdiri angkuh, Mira menangis di lantai. | Adrian berlutut di tanah, Mira berdiri dengan tegap. |
| Menganggap Mira tidak bernilai karena tidak bekerja. | Kehilangan segala harta dan menyadari Mira adalah segalanya. |
| Mengusir istri demi kehidupan lajang yang bebas. | Mengemis memohon perlindungan dan pengampunan. |
“Bangun, Adrian,” kataku dengan suara yang teramat tenang. Tidak ada kemarahan lagi di dalamnya, hanya ada kekosongan.
Dia menengadah dengan secercah harapan di matanya. “Kamu memaafkanku, Mira? Kita bisa mulai lagi dari awal?”
Aku tersenyum tipis, senyuman yang sama yang kuberikan padanya di malam perpisahan kami.
“Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Adrian. Demi kedamaian hidupku sendiri,” ucapku pelan namun tegas. “Tapi untuk kembali? Tidak. Kamu tidak bisa membuang seseorang seperti barang rongsokan, lalu berharap barang itu tetap utuh di tempat yang sama saat kamu memutuskan untuk kembali.”
Aku melangkah mundur, perlahan menarik gagang pintu.
“Nico akan tinggal bersamaku mulai malam ini. Kamu boleh menjenguknya setelah kamu menata kembali hidupmu yang hancur itu. Tapi sebagai suamiku? Peranmu dalam hidupku sudah selesai, Adrian. Persis seperti yang kamu katakan setahun lalu.”
Brak.
Pintu kututup rapat, mengunci suara tangis penyesalannya di luar, bersama hujan yang perlahan mulai mereda. Di dalam rumah yang hangat, aku berjalan menuju kamar Nico, siap memulai babak baru hidup kami tanpa ada lagi ruang untuk pria yang baru menyadari arti berharga setelah semuanya terlambat.