Posted in

KETIKA IBUKU BERKATA AGAR AKU TIDAK PERLU LAGI MEMBAYAR KARTU KESEHATAN MEREKA, SELURUH KELUARGA MENGIRA AKULAH ANAK YANG TIDAK TAHU BALAS BUDI—HINGGA PADA ULANG TAHUN NENEK, AKU MENGELUARKAN SEBUAH KWITANSI YANG MEMBUAT SELURUH RUANG TAMU MEMBISU*

*KETIKA IBUKU BERKATA AGAR AKU TIDAK PERLU LAGI MEMBAYAR KARTU KESEHATAN MEREKA, SELURUH KELUARGA MENGIRA AKULAH ANAK YANG TIDAK TAHU BALAS BUDI—HINGGA PADA ULANG TAHUN NENEK, AKU MENGELUARKAN SEBUAH KWITANSI YANG MEMBUAT SELURUH RUANG TAMU MEMBISU**

## BAGIAN 1: MEREKA MENGIRA AKU HANYA PELIT KEPADA ORANG TUAKU, TAPI SATU TELEPON DARI IBU KEMBALI MEMBUKA LUKA YANG SUDAH LAMA KUSIMPAN

Bulan perpanjangan kartu kesehatan dan iuran BPJS keluarga kami datang lagi.

Setiap tahun, di minggu yang sama, hampir pada jam yang sama, Ibu selalu meneleponku. Dia tidak pernah meminta secara langsung. Dia tidak tahu cara meminta dengan biasa. Selalu dimulai dengan keluhan, rasa tersinggung, atau nada mengasihani diri sendiri, sampai akhirnya akulah yang berkata bahwa aku akan mengurus semuanya.

Tahun itu, dia menelepon saat aku sedang bekerja di ruang kantor kecil di rumah.

Laptopku terbuka.

Tenggat proyek klien sudah dekat.

Di sampingku ada segelas air hangat yang hampir tidak kusentuh karena perutku kembali terasa tidak nyaman.

Aku sedang hamil tiga bulan.

Belum banyak orang yang tahu karena tahun sebelumnya kami kehilangan anak pertama kami sebelum sempat benar-benar mengenalnya.

Karena itu, ketika ponselku berbunyi dan nama Ibu muncul di layar, aku menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Mar, sudah waktunya bayar kartu kesehatan kami dan BPJS ayahmu.”

Dari nada suaranya saja, aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Tapi tahun ini tidak usah dibayarkan. Kami masih kuat. Sayang uang untuk hal seperti itu. Cuma buang-buang biaya. Kalau memang waktunya datang, ya datang.”

Di tahun-tahun sebelumnya, pada titik itu biasanya aku langsung menjawab:

“Aku yang urus, Bu. Jangan khawatir.”

Lalu dia akan berpura-pura malu.

Mengatakan:

“Tidak usah, Nak. Ibu tidak enak sama kamu.”

Namun malamnya, dia akan mengirim foto tagihan, tenggat pembayaran, nama kantor, bahkan kadang mengingatkanku agar jangan lupa biaya administrasi transfer.

Tahun ini rasanya berbeda.

Aku tidak merasa iba.

Aku lelah.

Bukan karena biaya **Rp1.350.000** untuk mereka berdua terlalu besar. Aku mampu membayarnya. Bahkan biaya vitamin, laboratorium, dan kontrol kehamilanku jauh lebih mahal dari itu.

Tapi ada hal-hal yang bukan lagi soal uang.

Ada hal-hal yang jika terus-menerus kau bayarkan, orang akan menganggapnya sebagai hak mereka.

Karena itu aku berkata dengan tenang:

“Kalau memang tidak mau diperpanjang, ya tidak usah. Tapi jangan menyesal kalau suatu saat dibutuhkan.”

Ibu langsung diam.

Dia tidak terbiasa mendengar aku tidak menawarkan bantuan.

Beberapa detik berlalu sebelum dia berbicara lagi.

“Begitu? Itu jawabanmu sekarang?”

“Bukankah Ibu sendiri yang bilang tidak perlu dibayar?”

“Dan kamu bahkan tidak bilang kalau kamu yang akan mengurusnya?”

Aku menatap layar laptop, tetapi huruf-huruf di sana sudah tidak bisa kubaca.

“Tidak, Bu.”

Dia tertawa.

Pendek.

Keras.

Seperti pisau yang digesekkan ke piring keramik.

“Baiklah. Jangan bayarkan. Kami tidak butuh apa pun darimu. Tapi ingat itu. Jangan diam-diam membayarnya lalu nanti cerita ke orang-orang bahwa kamu anak yang paling baik.”

Aku memejamkan mata.

Begitulah Ibu.

Jika dia tidak bisa membuatku menyerah dengan rasa bersalah, dia akan mencoba melukaiku dengan kata-kata.

“Aku tidak berniat membayarnya diam-diam.”

“Bersumpahlah.”

Aku terdiam.

“Apa?”

“Bersumpahlah bahwa kamu tidak akan membayar. Supaya jelas. Supaya nanti kamu tidak bilang kami memanfaatkanmu.”

“Bu, sebenarnya Ibu maunya apa?”

Nada suaranya berubah lebih rendah.

Dan saat itu seluruh tubuhku mendadak dingin.

“Bersumpahlah atas anak yang ada di dalam kandunganmu.”

Tanganku yang memegang ponsel langsung mengencang.

Seolah ada sesuatu yang mencengkeram bagian bawah dadaku.

Dia tahu.

Dia tahu betapa takutnya aku dengan kehamilan ini.

Dia tahu berapa banyak malam yang kulewati dengan bantal basah karena mimpi buruk kehilangan anak lagi.

Dia tahu bagaimana aku jatuh terduduk di lantai kamar mandi tahun lalu ketika dokter berkata bahwa detak jantung bayiku sudah tidak ada.

Tapi dia tetap menggunakannya.

Dia menggunakan anakku yang bahkan belum lahir hanya untuk memenangkan pertengkaran kecil soal pembayaran tagihan.

“Jangan libatkan anakku.”

“Kenapa? Tidak yakin dengan ucapanmu sendiri? Kalau memang tidak akan membayar, kenapa tidak berani bersumpah?”

“Ibu.”

“Atau kamu takut? Mungkin karena sebenarnya kamu memang anak yang tidak tahu balas budi. Mungkin kamu hanya ingin terlihat kasihan di depan suamimu.”

Aku merasakan mataku mulai panas.

Aku tidak ingin menangis.

Aku marah pada diriku sendiri karena setiap kali terlalu terluka, air mata selalu muncul lebih dulu meskipun aku tidak merasa lemah.

Suaraku bergetar saat berkata:

“Jangan telepon aku lagi untuk membahas ini.”

“Oh, sekarang kamu berani karena sudah punya suami? Kamu pikir mereka keluargamu sekarang? Kalau suatu hari Paolo meninggalkanmu, ke mana kamu akan pulang? Tetap ke kami.”

Saat itu pintu ruang kerjaku terbuka.

Paolo masuk sambil membawa sekantong roti yang baru dibelinya.

Begitu melihat wajahku, senyumnya langsung hilang.

Aku mengakhiri panggilan sebelum Ibu sempat berbicara lagi.

Lalu aku memblokir nomornya.

Paolo berdiri di depanku.

“Itu Tante Lorna?”

Aku mengangguk.

“Apa lagi yang dia katakan?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku hanya memegang perutku, seolah ingin melindungi anak yang belum mengerti dunia tetapi sudah terkena racun keluargaku.

Ketika aku menceritakan semuanya, Paolo tidak berteriak.

Tidak marah.

Dia hanya duduk di sampingku dan menggenggam tanganku.

“Kamu tidak akan kembali seperti dulu lagi, kan?”

“Maksudmu?”

“Disakiti, lalu kamu yang minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Karena aku tahu dia benar.

Malam itu aku melihat unggahan Ibu di Facebook.

Panjang sekali.

Seperti novel tentang seorang ibu yang ditelantarkan anak kandungnya sendiri.

> “Kami sudah tua. Tidak mengerti pembayaran online. Tidak tahu cara memperpanjang kartu kesehatan. Anak perempuan satu-satunya sudah punya keluarga sendiri. Tidak ada waktu lagi untuk orang tua. Kami tidak meminta banyak. Kami hanya ingin merasa masih punya anak. Tapi mungkin setelah seorang perempuan menikah, orang tuanya sudah mati di hatinya.”

Lalu ditambah lagi:

> “Tuhan, kalau kami hanya menjadi beban, lebih baik ambil saja kami. Kami tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran dalam rumah tangga anak kami.”

Dalam sepuluh menit, kolom komentar langsung banjir.

Tante Baby yang pertama.

“Aduh, Kak. Jangan bicara begitu. Kami ada untukmu.”

Lalu Paman Nestor.

“Mara, kalau kamu membaca ini, ingatlah bahwa utang kepada orang tua tidak akan pernah bisa dibayar.”

Seorang sepupuku bahkan menulis:

“Parah. Cuma kartu kesehatan saja pelit. Semoga anaknya nanti tidak melakukan hal yang sama kepadanya.”

Aku menatap komentar itu lama sekali.

Semoga anaknya nanti tidak melakukan hal yang sama.

Mereka tidak tahu bahwa itulah ketakutan terbesarku.

Bahwa suatu hari nanti, karena terlalu banyak luka yang kuterima dari ibuku sendiri, aku tidak lagi tahu bagaimana menjadi seorang ibu dengan utuh.

Keesokan harinya adalah ulang tahun ke-80 Nenek Remedios, ibu dari Ibuku.

Seluruh keluarga berkumpul di rumah lama di kampung.

Ada mi goreng, lumpia, ayam kecap, dan seekor babi panggang kecil yang dibagi-bagikan oleh para paman.

Paolo menyuruhku tidak datang.

“Minggu lalu masih ada bercak darah. Kamu tidak perlu menghadapi mereka.”

Tapi aku menggeleng.

“Aku harus datang.”

“Mara.”

“Kalau aku tidak datang, mereka yang akan menulis ceritanya. Dan kalau Ibu yang menulis cerita, aku selalu jadi penjahatnya.”

Jadi kami tetap pergi.

Aku mengenakan blus putih longgar.

Paolo membawa kue kecil untuk Nenek.

Saat kami memasuki gerbang rumah, aku sudah mendengar bisik-bisik.

Bahkan sebelum sampai ke ruang tamu, aku sudah melihat Ibu.

Dia duduk di samping Tante Baby, memegang saputangan, matanya merah seolah sudah menangis berjam-jam.

Ayah duduk diam di pojok seperti biasa, memegang secangkir kopi tanpa berkata apa-apa.

Begitu aku masuk, karaoke langsung berhenti.

Seolah udara di seluruh rumah ikut membeku.

Paman Nestor berdiri dan menatapku dengan berat.

“Mara, aku tidak memarahimu. Tapi kamu keterlaluan. Mereka orang tuamu. Hanya karena kamu sudah menikah dan hamil bukan berarti kamu bisa melupakan asal-usulmu.”

Tante Baby langsung menyambung.

“Kamu tahu tidak betapa ibumu menangis semalaman? Cuma kartu kesehatan. Kalau kamu bisa beli vitamin dan makan di luar, kenapa tidak bisa membantu orang tuamu?”

Aku menarik napas perlahan.

“Tante, kalian tidak tahu cerita yang sebenarnya—”

Aku belum sempat menyelesaikan kalimat.

Ibu tiba-tiba berdiri.

Dagu bergetar.

Mata tajam.

“Jangan salahkan mereka, Mara. Aku yang salah. Aku ibu yang tidak berguna. Aku yang seharusnya menghilang supaya hidupmu lebih mudah.”

Dia mendekat.

Cukup keras agar semua orang mendengar.

Namun cukup pelan agar racunnya terasa hanya untukku.

“Ayo, Nak. Katakan pada mereka. Katakan bahwa anak di perutmu lebih penting daripada ibumu yang melahirkanmu.”

Dan pada saat itu, aku merasakan genggaman Paolo mengencang di lenganku.

Karena di belakang Ibu, Nenek Remedios yang sejak tadi diam di kursi kayunya tiba-tiba berbicara.

“Lorna, coba ulangi lagi apa yang baru saja kamu katakan.”

Wajah Ibu langsung membeku.

BAGIAN 2: Rahasia Dua Puluh Tahun di Atas Kertas Kusam, dan Runtuhnya Topeng Sang Martir

Suara Nenek Remedios tidak keras, namun getarannya sanggup meruntuhkan keriuhan di ruang tamu yang pengap itu. Musik karaoke yang tadi sempat mati kini benar-benar dimatikan total oleh salah seorang sepupuku.

Ibu berbalik perlahan, wajahnya yang semula penuh drama pengorbanan mendadak menegang. “Ibu… aku hanya mengajari Mara tata krama. Dia sekarang pelit sekali, bahkan iuran kesehatan kami tidak mau dibayar—”

“Cukup, Lorna!” Nenek memotong ucapan Ibu, matanya yang sudah rabun menatap tajam anak perempuan tertuanya itu. “Jangan gunakan namaku, hari ulang tahunku, atau rumah ini untuk menyebarkan racunmu lagi. Mara, kemari, Nak.”

Aku melangkah mendekati kursi kayu Nenek, dilepaskan dari kepungan tatapan menghakimi para paman dan tante. Dari dalam tas jinjingku, aku tidak mengeluarkan dompet atau uang tunai untuk membungkam mereka. Aku mengeluarkan sebuah map cokelat kecil yang sudah agak usang, namun isinya dirawat dengan sangat baik.

Dari dalam map itu, aku menarik selembar kuitansi resmi berasuransi dan sebuah surat pernyataan sepihak.

Kebenaran di Balik “Anak yang Tidak Tahu Balas Budi”

Aku meletakkan kuitansi itu di atas meja kopi, tepat di tengah ruangan agar Paman Nestor dan Tante Baby bisa melihatnya.

“Paman Nestor, Tante Baby,” suaraku terdengar sangat tenang, kontras dengan gemuruh di dadaku. “Kalian bilang aku anak durhaka karena menolak membayar iuran kartu kesehatan Ibu dan Ayah tahun ini sebesar Rp1.350.000. Silakan lihat kuitansi itu. Berapa nominal yang tertulis di sana?”

Paman Nestor mengerutkan kening, memakai kacamata bacanya, lalu membungkuk. Detik berikutnya, matanya melebar.

Kuitansi Pembayaran Polis Asuransi Kesehatan Seumur Hidup (Unit Link & Rider Medis Utama)

  • Atas Nama Tertanggung: Lorna Dela Cruz & Hubby
  • Status: Lunas Dibayar di Muka (Single Premium / Fully Paid)
  • Nominal: Rp180.000.000
  • Tanggal Transaksi: 14 Februari 2023 (Tiga tahun lalu)

“Ini… ini apa, Mara?” Tante Baby ikut berbisik, wajahnya mendadak kehilangan keberanian untuk mencelaku.

“Tiga tahun lalu, saat aku mendapatkan bonus besar dari proyek pertamaku setelah menikah, hal pertama yang kulakukan bukanlah membeli mobil atau perhiasan,” kataku, menatap Ibu yang kini mulai mundur selangkah, tangannya yang memegang saputangan gemetar hebat.

“Aku membayar polis asuransi kesehatan swasta tingkat tertinggi untuk Ibu dan Ayah. Langsung lunas seumur hidup. Mereka tidak akan pernah kekurangan biaya medis, bahkan jika harus dioperasi di rumah sakit terbaik sekalipun. Kartu kesehatannya aktif, fasilitasnya kelas satu, dan preminya sudah selesai.”

Seluruh ruangan membisu. Sepupuku yang tadi menghujatku di Facebook langsung menundukkan kepala.

Manipulasi yang Berakhir di Sini

“Lalu… lalu kenapa ibumu setiap tahun meminta uang iuran BPJS dan kartu kesehatan Rp1.350.000 itu?” tanya Paman Nestor bingung, beralih menatap Ibu dengan tatapan menuntut penjelasan.

Aku tersenyum tipis, memandang Ibu yang kini membuang muka, tidak berani menatap mata siapa pun di ruangan itu.

“Karena uang Rp1.350.000 itu tidak pernah dipakai untuk kesehatan, Paman,” jawabku lugas. “Itu adalah umpan. Ibu sengaja menyembunyikan kartu asuransi mewah yang kubelikan, tetap memakai fasilitas gratisan, lalu setiap tahun meminta ‘uang iuran’ kepadaku hanya untuk menguji apakah aku masih bisa dikendalikan. Uang itu selalu berakhir di meja judi mahjong Tante Lorna atau dipakai untuk membelikan barang mewah untuk dirinya sendiri agar bisa pamer.”

Aku mengeluarkan lembar kedua: Surat pernyataan penolakan fasilitas yang ditandatangani Ibu sendiri secara rahasia kepada pihak agen asuransi, meminta agar semua pemberitahuan klaim atau manfaat dialihkan ke rekening pribadinya jika berupa tunai.

“Ibu ingin aku terus merasa bersalah. Ibu ingin seluruh keluarga mengira aku pelit, agar Ibu bisa terus menjadi ‘korban’ yang dikasihani di Facebook,” lanjutku, air mataku akhirnya menetes, bukan karena lemah, melainkan karena kelegaan yang luar biasa.

“Tapi yang paling membuatku tidak bisa memaafkanmu, Ibu… adalah ketika semalam Ibu membawa-bawa anak di dalam kandungan ini. Ibu menggunakannya sebagai taruhan sumpah hanya untuk memuaskan egomu.”

Keputusan Akhir di Hari Ulang Tahun Nenek

Nenek Remedios menghela napas panjang, lalu memukul lantai dengan tongkat kayunya sekali. Tok!

“Lorna,” suara Nenek bergetar oleh amarah yang tertahan. “Kamu memeras anakmu sendiri, memfitnahnya di depan keluarga besar, dan mengutuk calon cucuku hanya demi uang judi dan gengsi? Keluar dari rumah ini sekarang. Aku tidak sudi melihat wajah penipu di hari ulang tahunku.”

Ibu tidak bisa membela diri. Tidak ada tangisan dramatis lagi. Topeng martirnya telah hancur berkeping-keping di lantai ruang tamu. Dengan langkah seribu, dia menarik lengan Ayah yang sejak tadi diam, lalu keluar dari rumah melewati kerumunan kerabat yang kini menatapnya dengan pandangan jijik.

Paman Nestor mendekatiku, wajahnya merah padam karena malu. “Mara… Paman minta maaf. Paman tidak tahu…”

“Sudahlah, Paman,” potong Paolo, suamiku, sambil merangkul pundakku dengan protektif. “Kami datang ke sini hanya untuk merayakan ulang tahun Nenek, dan untuk memastikan tidak ada lagi cerita bohong yang ditulis tentang istri saya.”

Penilaian Keluarga (Sebelum Kuitansi)Kenyataan yang Sebenarnya (Setelah Kuitansi)
Mara pelit, hanya memikirkan suami dan kehamilannya.Mara sudah membelikan asuransi seumur hidup senilai Rp180 juta.
Ibu adalah korban penelantaran anak kandung.Ibu menggunakan uang iuran palsu untuk judi dan gengsi.
Mara harus meminta maaf atas status Facebook Ibu.Ibu diusir oleh Nenek karena ketahuan memfitnah darah dagingnya sendiri.

Aku mengecup kening Nenek Remedios, memberikan kue kecil yang dibawa Paolo, lalu berpamitan. Saat kami berjalan kembali menuju gerbang, udara kampung terasa begitu segar di paru-paruku.

Aku memegang perutku yang masih rata. Ketakutanku semalam bahwa aku tidak akan bisa menjadi ibu yang baik seketika sirna. Hari ini, aku belajar bagaimana cara melindungi anakku dari racun masa lalu—dengan ketegasan, dengan kebenaran, dan dengan menolak untuk menjadi korban lagi.