KETIKA LOSIONKU BERBAU IKAN, TEMAN SEKAMARKU MENYEBARKAN RUMOR BAHWA AKU MENGIDAP PENYAKIT—TAPI SEBUAH JEBakan TAK TERLIHAT DI ASRAMA MENGUNGKAP SIAPA SEBENARNYA YANG TANGANNYA KOTOR
Kupikir losion yang baru kubeli hanya basi.
Sampai botol ketiga pun mengeluarkan bau seperti ikan yang dijemur di bawah terik matahari.
Keesokan harinya, teman sekamarku berteriak histeris ketika melihat jari-jarinya menghitam.
Dan saat itulah aku sadar: bukan hanya losionku yang dia rusak. Selama ini dia juga sedang menghancurkan namaku di belakangku.
Namaku Mara Santiago, mahasiswi tingkat tiga jurusan Teknologi Laboratorium Medis di sebuah universitas di Quezon City.
Aku bukan berasal dari keluarga kaya, tapi aku juga bukan orang yang bisa diinjak begitu saja.
Aku penerima beasiswa, bekerja paruh waktu di laboratorium kampus, dan sudah terbiasa berhemat hanya untuk membeli barang yang benar-benar kuinginkan.
Karena itulah, ketika aku membeli losion impor dari toko resmi online, aku menjaganya dengan sangat hati-hati.
Bukan karena pelit.
Tapi karena di kamar asrama kami ada satu orang yang gemar meminjam tanpa izin.
Bianca Reyes.
Cantik, berisik, selalu tampil sempurna, dan selalu punya alasan setiap kali ada barang yang hilang.
“Aku tidak tahu.”
“Bukan aku.”
“Mungkin kamu yang lupa menaruhnya.”
Itu kalimat andalannya.
Botol pertama, kupikir rusak saat pengiriman.
Begitu kubuka, aroma busuk seperti ikan membusuk langsung menyergap hidungku hingga hampir membuatku muntah.
Botol kedua, hasilnya sama.
Botol ketiga membuat darahku mendidih.
“Bianca,” panggilku sambil mengangkat botol losion. “Kamu pakai ini?”
Dia berada di ranjang seberang, pura-pura membaca buku meski jelas sedang mendengarkan.
Dia menutup bukunya dengan keras.
“Kamu gila? Buat apa aku pakai losion murahanmu? Aku punya sendiri.”
“Cium baunya.”
Aku menyodorkan botol itu.
Dia bahkan tidak mau menyentuhnya.
Sebaliknya, dia menutup hidung dan mundur seolah-olah aku sampah.
“Jijik. Mungkin bukan losionmu yang bau, Mara. Mungkin kamu.”
Duniaku terasa berhenti.
Di kamar juga ada Janelle dan Trish, dua teman sekamar kami yang lain.
Biasanya mereka akan menegur Bianca jika dia sudah keterlaluan.
Tapi malam itu mereka hanya saling berpandangan lalu mengalihkan mata.
Suara Bianca semakin keras, seakan sengaja ingin didengar seluruh penghuni lorong asrama.
“Kalau kamu sakit, ya periksa ke dokter. Jangan salahkan barangmu. Siapa tahu kamu membawa penyakit aneh lalu menulari kami.”
Aku merasakan telingaku panas.
“Maksudmu apa?”
Dia menyeringai.
“Kamu cukup pintar untuk mengerti sendiri.”
Aku melangkah mendekatinya.
“Bianca, jaga ucapanmu.”
“Kenapa? Kena ya?”
Tanganku mencengkeram botol itu semakin erat.
Aku ingin berteriak tentang semua barang yang pernah dia curi.
Semua kebohongan yang pernah dia ucapkan.
Bulan lalu saja aku memergokinya memakai gaun hitam milikku saat pergi berkencan dengan putra seorang pengusaha terkenal di Katipunan.
Dia mengaku meminjamnya dari Trish.
Namun ketika kutemui di depan gerbang kampus, dia bahkan hampir tidak bisa menutup resleting gaun itu karena panik.
“Kalau ada tangan kotor di kamar ini,” kataku dingin, “itu bukan tanganku.”
Wajahnya memerah.
“Kamu tidak punya bukti.”
“Untuk saat ini.”
Aku tidak melanjutkan pertengkaran.
Aku membawa botol itu kembali ke mejaku dan pura-pura tidur.
Padahal aku tidak tidur sama sekali.
Sepanjang malam aku memikirkan tiga botol losion itu.
Isinya hampir tidak berkurang.
Artinya seseorang membukanya, mencampur sesuatu ke dalamnya, lalu menutupnya kembali tanpa benar-benar menggunakannya.
Seolah tujuan utamanya hanya ingin merusakku.
Keesokan harinya di laboratorium kampus, aku teringat sebuah reagen yang pernah digunakan dalam demonstrasi praktikum.
Cairannya bening seperti air.
Namun setelah mengering di kulit, akan muncul noda hitam yang sulit hilang dalam waktu singkat.
Tidak berbahaya dalam jumlah kecil.
Tapi cukup untuk meninggalkan tanda pada orang yang diam-diam menyentuh barangku.
Aku tidak akan menuangkannya ke tubuh Bianca.
Aku tidak akan mengancamnya.
Aku hanya akan meletakkan losion itu di tempat biasanya.
Kalau tidak ada yang mengutak-atik, tidak akan terjadi apa-apa.
Saat kembali ke asrama, suasana tenang.
Bianca sedang bermain ponsel di tempat tidurnya.
Janelle dan Trish sedang makan di bawah.
Aku membuka laci, berpura-pura sibuk, lalu meletakkan losion itu di atas meja.
Terlihat jelas.
Mudah dijangkau.
Setelah itu aku pergi mandi.
Saat kembali, botol itu masih di tempatnya.
Tapi posisi tutupnya berbeda.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Malam harinya, sekitar pukul sepuluh lewat, ponselku terus bergetar.
Pesan dari Cassie, teman sekelasku.
“Mara, kamu sudah lihat grup kelas?”
“Ada apa?”
“Tolong jangan panik.”
Dia mengirim beberapa tangkapan layar.
Begitu kubuka, tanganku langsung dingin.
Ada foto surat keterangan medis milikku saat tahun pertama kuliah.
Nama lengkapku.
Nomor mahasiswa.
Namun bagian diagnosis telah diubah menjadi penyakit yang tidak pernah kualami.
Dan di bawahnya ada caption dari Bianca:
“Pengingat buat semuanya. Hati-hati dengan orang yang kelihatannya bersih tapi gaya hidupnya jorok. Pantas saja bau.”
Aku tidak menangis.
Belum.
Aku memperbesar gambar itu.
Ada kesalahan font.
Potongan huruf yang tidak sejajar.
Jelas hasil editan.
Tetapi formulir dasarnya memang dokumen asli milikku.
Bagaimana dia mendapatkannya?
Data medis seharusnya bersifat rahasia.
Yang memiliki akses hanya klinik kampus dan bagian administrasi mahasiswa.
Saat itu aku sadar.
Ini bukan lagi sekadar konflik teman sekamar.
Ini bukan lagi soal losion.
Ini bukan lagi soal iri hati.
Dia telah merusak reputasiku dengan diagnosis palsu.
Aku langsung mengenakan jaket dan menuju kantor Pak Ramon, dosen pembimbing kami.
Dia sedang merapikan dokumen ketika aku datang.
Begitu melihatku, seolah dia sudah tahu alasan kedatanganku.
Aku menunjukkan semua tangkapan layar.
“Pak, kenapa rekam medis saya bisa ada di tangan Bianca? Dan kenapa dia mengeditnya untuk memfitnah saya?”
Wajahnya mengeras.
Namun bukan karena marah.
Melainkan karena kesal.
“Mara, mungkin hanya kesalahpahaman. Kadang dokumen tertinggal di kantor. Tidak perlu dibesar-besarkan.”
“Dia menyebarkan fitnah kepada lebih dari seratus mahasiswa.”
“Mungkin dia hanya peduli pada keselamatan teman-teman sekelas kalian.”
Aku menatapnya.
Peduli?
Pintu kantor tiba-tiba terbuka.
Bianca masuk dengan tangan terlipat dan senyum kemenangan.
“Lihat? Dia mengadu lagi. Kalau kamu tidak menyembunyikan apa-apa, kenapa takut?”
Aku menoleh padanya.
“Dari mana kamu mendapatkan rekam medis saya?”
“Aku menemukannya.”
“Di mana?”
“Di lorong kampus.”
“Rekam medis rahasiaku jatuh begitu saja di lorong?”
Untuk pertama kalinya dia tidak bisa langsung menjawab.
Pak Ramon buru-buru menyela.
“Sudah cukup. Kalian selesaikan secara pribadi saja.”
Saat itulah aku tertawa.
Pelan.
Tapi cukup membuat mereka terdiam.
“Secara pribadi? Baiklah. Kalau begitu saya akan membuatnya resmi.”
Aku mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan.
“Halo, saya ingin melaporkan penyebaran dokumen medis yang telah dimanipulasi dan pencemaran nama baik melalui media digital…”
Warna wajah Bianca langsung menghilang.
Tiga puluh menit kemudian, dua polisi datang ke kantor.
Namun sebelum mereka sempat berbicara, terdengar jeritan dari lorong asrama putri.
Jeritan yang sangat kukenal.
Bianca.

Pintu terbuka.
Janelle berlari masuk dengan napas terengah-engah.
“Mara,” katanya sambil gemetar.
“Tangan Bianca… menghitam.”
Seluruh ruangan mendadak senyap. Pak Ramon berdiri dari kursinya dengan wajah panik, sementara Bianca yang baru saja kembali dari asrama setelah dipanggil polisi, menatap kedua telapak tangannya dengan mata membelalak horor.
Noda hitam pekat, seperti tinta gurita yang meresap ke dalam pori-pori kulit, menutupi seluruh telapak tangan dan ujung jari-jarinya. Dia mencoba menggosoknya ke bajunya, tetapi noda itu tidak bergeser sedikit pun.
“Apa… Apa ini?!” jerit Bianca, suaranya melengking tinggi, dipenuhi ketakutan yang murni. “Mara! Kamu meracuniku! Pak Ramon, lihat dia! Dia mencoba membunuhku!”
Dua polisi yang baru saja tiba saling berpandangan, lalu menatapku.
Aku melangkah maju dengan tenang, menatap tangan Bianca yang menghitam dengan senyuman tipis. “Itu bukan racun, Bianca. Itu adalah Silver Nitrate ($AgNO_3$) encer dari laboratorium kimia. Cairan itu bening seperti air saat diaplikasikan, tidak berbau, dan sama sekali tidak berbahaya bagi kulit.”
Aku menjeda kalimatku, membiarkan keheningan menyiksa dirinya.
“Tapi, cairan itu bereaksi terhadap sinar ultraviolet dan protein kulit, meninggalkan noda hitam pekat yang tidak akan hilang selama minimal satu minggu. Aku mengoleskannya di sekeliling tutup botol losionku sebelum aku masuk ke kamar mandi sore ini.”
Wajah Bianca yang tadinya memerah karena marah, seketika berubah pucat pasi bagai mayat.
“Janelle, Trish,” panggilku kepada dua teman sekamarku yang berdiri di ambang pintu. “Kalian melihat sendiri posisiku saat berada di kamar mandi, bukan? Dan kalian juga tahu bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh meja atau barang pribadiku.”
Janelle mengangguk pelan, menatap Bianca dengan tatapan jijik yang baru. “Iya… Tadi sore aku melihat Bianca mendekati mejamu saat kamu mandi, Mara. Aku pikir dia hanya mengambil ikat rambut.”
Jebakan yang Membongkar Segalanya
“Ini belum selesai,” kataku, berbalik menghadap Pak Ramon yang mulai berkeringat dingin di balik mejanya. “Pertanyaannya adalah, mengapa losionku berbau ikan busuk sejak botol pertama?”
Aku mengeluarkan ponselku dan memutar sebuah rekaman video. Itu adalah video rahasia yang kuambil menggunakan kamera tersembunyi yang kupasang di sudut rak buku—jebakan tak terlihat yang sudah kupersiapkan sejak botol kedua rusak.
Di dalam video itu, terlihat jelas Bianca masuk ke kamarku saat keadaan sepi. Dia membawa sebuah botol kecil berisi cairan keruh. Dengan senyum licik, dia membuka botol losionku, meneteskan cairan keruh itu ke dalamnya, lalu mengocoknya.
“Cairan keruh itu adalah Trimethylamine sintetis, senyawa yang memberikan bau khas pada ikan busuk,” jelasku dengan nada dingin yang menusuk. “Sebagai mahasiswi Teknologi Laboratorium Medis, sangat mudah bagiku untuk mengidentifikasi bau itu. Dan tebak dari mana senyawa itu berasal? Seseorang telah memesannya menggunakan akun inventaris laboratorium atas nama… Pak Ramon.”
DUARR.
Pak Ramon langsung terduduk lemas di kursinya. Wajahnya kehilangan seluruh warna.
“M-Mara, ini bisa dibicarakan…” bisik Pak Ramon, suaranya bergetar hebat.
“Membicarakan apa, Pak? Tentang bagaimana Anda memberikan akses rekam medis rahasiaku kepada Bianca? Atau tentang bagaimana Anda membantunya mendapatkan bahan kimia dari laboratorium untuk menyabotase barang-barangku?” Aku melangkah mendekati meja Pak Ramon, meletakkan dokumen cetak manifes inventaris laboratorium yang berhasil kuunduh dari sistem kampus tadi malam.
Di sana tertulis jelas: Trimethylamine, diambil oleh Bianca Reyes atas persetujuan dosen pembimbing, Pak Ramon.
Kehancuran Sang Ratu Kampus
Kedua polisi di ruangan itu segera mengerti situasinya. Salah satu dari mereka melangkah maju, mengeluarkan borgol.
“Nona Bianca Reyes, Anda ditahan atas tuduhan pencemaran nama baik, manipulasi dokumen elektronik, dan pelanggaran privasi data medis. Dan Pak Ramon, Anda juga harus ikut ke kantor polisi atas penyalahgunaan wewenang dan keterlibatan dalam konspirasi ini.”
“Tidak! Lepaskan aku! Ayahku orang terpandang di Katipunan! Dia bisa menuntut kalian semua!” Bianca berteriak histeris, air matanya merusak riasan wajahnya yang sempurna. Namun, noda hitam di tangannya justru semakin memperjelas dosanya di depan kamera ponsel para mahasiswa yang kini berkumpul di koridor, merekam seluruh kejadian itu.
Saat Bianca diseret melewati hadapanku, aku membungkuk sedikit, berbisik tepat di telinganya.
“Kamu bilang tanganku kotor karena penyakit, Bianca? Lihat tanganmu sekarang. Seluruh kampus, seluruh media sosial, dan hukum akan melihat… siapa sebenarnya yang tangannya kotor di sini.”
Bianca memandangku dengan tatapan penuh dendam dan ketakutan yang amat sangat, sebelum akhirnya dibawa pergi masuk ke dalam mobil polisi.
Akhir yang Bersih
Keesokan harinya, suasana di jurusan Teknologi Laboratorium Medis berubah total.
Pihak rektorat universitas bergerak cepat demi menjaga nama baik kampus. Pak Ramon dipecat secara tidak hormat dan menghadapi tuntutan pidana pembocoran data rahasia. Bianca Reyes resmi dikeluarkan dari universitas, dan reputasinya sebagai “Ratu Kampus” hancur dalam semalam setelah video penangkapannya dan bukti manipulasi rekam medis itu viral di grup angkatan.
Di kamar asrama, suasana menjadi jauh lebih tenang. Janelle dan Trish meminta maaf secara terbuka karena sempat meragukanku.
Aku berdiri di depan cermin, mengoleskan losion baru yang benar-benar wangi bunga segar di lenganku. Kali ini, tidak ada bau ikan busuk. Tidak ada gosip miring. Hanya ada keadilan yang bersih, yang kubangun dengan tanganku sendiri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.