“MAMA, PAPA TIDAK PERGI. DIA BERSEMBUNYI DI LOTENG. DIA TURUN UNTUK BERMAIN DENGAN TANTE SAAT MAMA PERGI.” UCAPAN INOSEN DARI ANAKKU YANG BARU BERUSIA TIGA TAHUN ITU MEMBUAT DUNIAKU SEAKAN BERHENTI BERPUTAR. SELAMA INI AKU PIKIR SUAMIKU BERADA DI JERMAN… TAPI APA YANG KUTEMUKAN DI ATAS MANSIUN KAMI JUSTRU MENGHANCURKAN HIDUPNYA SELAMANYA.
Perjalanan Palsu yang Jauh
Namaku Clara, tiga puluh dua tahun, CEO sebuah perusahaan trading internasional besar. Karena posisiku, aku menghasilkan miliaran rupiah. Suamiku, Troy, juga seorang direktur di perusahaanku. Aku memberinya jabatan itu karena aku mencintainya, meski kenyataannya dia sering hanya bergantung pada keputusanku.
Kami memiliki seorang anak laki-laki berusia tiga setengah tahun bernama Leo. Agar anak kami tidak terlantar saat aku bekerja di kantor, aku mengizinkan sepupuku yang lebih muda, Stella, tinggal di mansion kami untuk menjadi pengasuh sekaligus teman bermain Leo.
Suatu hari, Troy berpamitan.
“Sayang, aku harus terbang ke Jerman untuk konferensi bisnis selama satu bulan,” katanya lembut sambil mengenakan mantel tebal dan membawa koper. Dia menciumku dan Leo sebelum naik mobil menuju bandara.
Aku sama sekali tidak curiga. Aku tetap menjalani rutinitasku—berangkat dari rumah pukul delapan pagi dan pulang sekitar pukul tujuh malam.
Bisikan Polos
Seminggu setelah Troy “pergi”, aku sedang bersiap ke kantor. Aku baru saja memakai sepatu ketika Leo mendekat sambil memegang robot mainannya. Dia menatapku dengan mata polosnya yang besar.
“Mama…” panggil Leo pelan. “Kenapa Papa selalu kepanasan?”
Aku mengernyit lalu tertawa kecil.
“Nak, Papa kan ada di Jerman. Di sana dingin karena lagi musim salju.”
Anak tiga tahun itu menggeleng.
“Bukan. Papa ada di sini. Dia sembunyi di loteng rumah kita.”
Tanganku yang sedang merapikan tas langsung terhenti.
“Apa, Nak?”
“Iya, Mama,” lanjut Leo polos. “Papa sembunyi di loteng. Terus kalau mobil Mama sudah pergi ke kantor, Papa turun. Dia main sama Tante Stella di kamar. Habis itu sebelum Mama pulang, Papa naik lagi ke loteng sambil keringatan.”
Rasanya seperti seluruh tubuhku disiram air mendidih. Napasku tercekat. Loteng! Mansion kami memang punya loteng besar yang selama ini hanya dipakai sebagai gudang.
“L-Leo… kamu yakin?” tanyaku dengan suara gemetar.

“Iya. Kemarin Leo dengar Tante Stella bilang ke Papa, ‘Cepat, Sayang, naik lagi ke loteng. Istrimu yang bodoh itu sebentar lagi pulang.’”
Jebakan Sang Ratu
Seluruh tubuhku mendadak dingin.
Suamiku… dan sepupuku sendiri?!
Mereka mempermainkanku di rumah yang kubayar dengan uangku sendiri?!
Aku menahan air mataku. Rasa sakit di dadaku perlahan berubah menjadi kemarahan yang membara dan mematikan. Aku menarik napas panjang…
Aku berlutut di depan Leo, mencium keningnya dengan lembut, dan berusaha keras menjaga agar suaraku tetap terdengar tenang. “Leo anak pintar. Sekarang Leo main di kamar dulu ya, Mama ada barang yang tertinggal.”
Setelah Leo masuk ke kamarnya, senyuman di wajahku langsung sirna. Aku berjalan ke arah cermin di lorong, menatap pantulan diriku sendiri. Selama ini aku dikhianati oleh dua orang yang paling kupercaya: suami yang kuangkat derajatnya, dan sepupu yang kuberi tumpangan hidup mewah. Meratapi nasib bukan gayaku. Sebagai seorang CEO, jika ada aset yang merusak dan berkhianat, maka aset itu harus dimusnahkan.
Aku mengeluarkan ponselku, membatalkan semua rapat di kantor hari ini, dan menghubungi kepala tim keamanan serta pengacara pribasaku.
“Bawa tim ke mansion saya sekarang juga. Masuk lewat pintu belakang secara senyap,” perintahku dingin.
Sambil menunggu mereka tiba, aku berjalan perlahan menuju tangga spiral yang menuju ke loteng. Tangga itu terletak di sudut belakang lantai dua, tersembunyi di balik sebuah pintu kayu besar. Aku membukanya tanpa suara dan melangkah naik.
Semakin aku mendekati pintu loteng, hawa panas mulai terasa—dan bau parfum yang sangat kukenal. Itu parfum Stella.
Aku mengintip melalui celah pintu loteng yang sedikit terbuka. Di sana, di antara kardus-kardus barang bekas, sebuah kasur busa digelar. Di atasnya, tampak koper besar Troy yang katanya dibawa ke Jerman, lengkap dengan tumpukan baju kotor, botol-botol minuman mahal, dan kipas angin portabel yang menyala maksimal.
Troy sedang duduk di sana dengan hanya mengenakan celana pendek, tubuhnya penuh keringat, sedang asyik bermain game di ponselnya.
“Sabar ya, Sayang,” suara manja Stella terdengar dari arah tangga bawah, dia rupanya baru saja naik membawakan nampan berisi makanan mewah. “Si bodoh Clara sudah berangkat ke kantor. Kamu bisa turun dan kita bisa bersenang-senang di kamar bawah.”
Troy tertawa, merangkul pinggang Stella saat wanita itu mendekat. “Ah, melelahkan sekali harus bersembunyi di loteng sialan ini setiap hari. Tapi demi uang perusahaannya, aku rela. Begitu pengalihan saham yang kita urus diam-diam itu selesai, kita akan depak Clara dan hidup mewah di Jerman yang asli.”
Mendengar itu, aku tidak marah. Aku justru tersenyum sinis. Logika bisnisku langsung berjalan. Pengalihan saham? Mereka tidak tahu bahwa sistem keamanan finansial perusahaanku memerlukan otentikasi biometrik ganda yang hanya bisa diakses olehku.
Aku mundur perlahan, turun ke lantai bawah tanpa menimbulkan suara. Saatnya menyusun panggung untuk kehancuran mereka.
BAB 4: Tamatnya Sang Benalu
Pukul dua siang. Aku sengaja menunggu waktu di mana mereka biasanya berada di dalam kamar tamu lantai bawah. Aku melangkah masuk melalui pintu depan mansion, ditemani oleh pengacaraku, tiga petugas polisi, dan empat sekuriti berbadan tegap.
Aku berjalan langsung ke depan kamar Stella dan mendobrak pintunya tanpa peringatan.
BRAK!
Troy dan Stella yang sedang bersantai di atas ranjang langsung terlompat kaget. Wajah Troy seketika memucat, seolah-olah melihat hantu.
“C-Clara?! K-kenapa kamu sudah pulang?!” gagap Troy, tubuhnya gemetar hebat. Dia melirik ke arah luar jendela, menyadari bahwa ini baru siang hari.
“Bagaimana penerbanganmu ke Jerman, Troy? Apakah loteng mansionku cukup dingin untuk menyimulasikan musim salju di sana?” tanyaku dengan nada santai sambil melipat tangan di dada.
Stella langsung turun dari ranjang, mencoba meraih tanganku. “Kak Clara, ini salah paham! Kak Troy baru saja datang! Dia baru pulang dari bandara karena penerbangannya dibatalkan!”
“Diam, Stella,” potongku tajam, membuat sepupuku itu langsung menciut. “Leo sudah menceritakan semuanya. Tentang permainan kalian setelah mobilku pergi, dan tentang kalimat ‘istrimu yang bodoh’ yang kamu ucapkan kemarin.”
Troy mencoba mendekat, memasang wajah memelas yang biasa dia gunakan untuk melunakkan hatiku. “Clara, maafkan aku. Aku khilaf. Tolong pikirkan masa depan Leo…”
“Aku justru sedang menyelamatkan masa depan Leo dari ayah kriminal seperti bersamamu,” ujarku dingin.
Aku memberi isyarat kepada pengacaraku, yang langsung maju menyerahkan dua map dokumen.
“Dokter Troy dan Nona Stella,” ujar pengacaraku tegas. “Hari ini, Nona Clara secara resmi mencabut jabatan Anda sebagai direktur di perusahaan. Selain itu, kami telah mendeteksi upaya pemalsuan dokumen dan manipulasi tanda tangan untuk pengalihan saham yang Anda lakukan minggu lalu. Kami sudah melaporkannya atas tuduhan penipuan, penggelapan aset, dan pemalsuan dokumen negara.”
Dua petugas polisi langsung maju ke depan, mengeluarkan borgol besi dari pinggang mereka.
“Troy, Stella, kalian berdua ditahan,” ujar petugas polisi tersebut, langsung mengunci pergelangan tangan mereka.
“Clara! Tidak! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku suamimu!” teriak Troy histeris saat diseret keluar dari kamar. Wajahnya yang tampan kini dipenuhi air mata keputusasaan.
Stella menangis meraung-raung, “Kak Clara, tolong kasihanilah aku! Aku saudaramu! Aku tidak punya tempat tinggal!”
Aku menatap mereka berdua yang diseret melewati koridor mansion menuju mobil polisi di luar. “Kalian punya tempat tinggal baru sekarang. Gratis, di balik jeruji besi.”
Setelah mansion kembali tenang, aku berjalan ke kamar Leo. Anakku sedang asyik menyusun lego. Aku memeluknya erat, merasakan kedamaian yang akhirnya kembali ke rumah ini.
Troy dan Stella mengira mereka bisa bersembunyi di atas loteng dan mencuri hidupku. Tapi mereka lupa, di mansion ini, akulah ratunya—dan tidak ada satu pun tikus yang bisa bersenang-senang di dalam rumahku tanpa izin dariku.