ULANG TAHUNKU, PACARKU YANG SEORANG DOKTER HANYA MENGIRIM Rp156 RIBU—TAPI UNTUK DOKTER MAGANG WANITANYA, DIA MEMBERI Rp15,6 JUTA DAN BERKATA “AKU AKAN MENCINTAIMU SAMPAI TUA”; MAKA AKU PUN DIAM-DIAM MENINGGALKAN MANILA, DAN SAAT ITULAH DIA MENGETAHUI HARGA SEBENARNYA DARI CINTA
Di hari ulang tahunku, Marco Villareal tidak pulang untuk makan malam bersamaku.
Dia hanya mengirim transfer digital sebesar Rp156 ribu, dengan pesan:
“Aku mencintaimu.”
Beberapa menit kemudian, dokter magangnya, Bea Alcantara, mengunggah postingan.
Screenshot transfer darinya: Rp15,6 juta.
Caption dari Marco:
“Aku akan mencintaimu sampai tua.”
Aku tidak menangis.
Aku tidak marah.
Aku tidak meneleponnya.
Aku hanya meletakkan ponsel di atas meja, menatap kue ulang tahun yang kubuat sendiri, dan saat itulah aku mengerti:
Ternyata aku bukan perempuan yang dia cintai.
Aku hanya perempuan yang membantunya sampai dia mampu mencintai orang lain.
Di bawah postingan Bea, teman-teman Marco mulai berkomentar.
“Gila sih Dokter Marco, Rp15,6 juta kayak receh aja!”
“Eh, aku lihat postingan Lira. Dia cuma dikasih Rp156 ribu? Kayaknya Bea memang lebih spesial.”
“Kapan sih Dokter ninggalin pacarnya yang lama? Sayang banget chemistry dia sama Bea.”
Aku menatap komentar-komentar itu tanpa berkedip.
Namaku Lira Mendoza.
Tujuh tahun aku mencintai Marco.
Saat dia belum punya nama besar, ketika masih menjadi dokter residen di rumah sakit kecil di Caloocan, akulah yang mengantarkan makanan setiap kali dia berjaga selama tiga puluh enam jam.
Saat kedua orang tuanya meninggal dan meninggalkan utang, akulah yang menjual toko online kecilku demi membantunya membayar semuanya.
Saat dia ingin menyerah, akulah yang menggenggam tangannya di luar ruang IGD dan berkata:
“Marco, kita pasti bisa melewati ini. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Dan sekarang, di hari ulang tahunku, saat aku duduk sendirian di condo kecil kami di Mandaluyong, dia justru berada di sebuah KTV bersama perempuan yang katanya “cuma intern.”
Bea mengunggah postingan lagi.
Kali ini video.
Mereka berada di ruang privat sebuah KTV di BGC. Marco mengenakan polo putih, memegang mikrofon, menyanyikan lagu cinta sambil menatap lurus ke arah kamera.
Di latar belakang, seseorang berteriak:
“Dokter Marco, ngaku aja! Kamu memang cinta sama Bea, kan?”
Lalu ada yang tertawa:
“Kapan kamu ninggalin Lira? Kasihan Bea, sembunyi-sembunyi terus!”
Video itu tiba-tiba berhenti.
Rasanya seperti ada tangan dingin yang mencekik leherku.
Aku menoleh ke meja makan.
Ayam adobo, mi goreng pancit canton, lumpia, nasi bawang putih, dan kue kecil dengan lilin angka dua puluh delapan.
Aku memasak semuanya selama dua jam.
Kupikir setidaknya malam ini dia akan pulang.
Kupikir setidaknya sekali saja, dia akan memilihku.
Tapi selama tujuh tahun bersama, selalu saja ada alasan.
Operasi darurat.
Rapat mendadak.
Jaga malam di rumah sakit.
Konsultasi pasien.
Dan aku, karena terlalu mencintainya, selalu percaya.
Aku mengambil foto bersama kue ulang tahunku. Aku tersenyum ke kamera meski bibirku gemetar.
Lalu aku mengunggahnya ke Facebook.
“Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri.”
Aku tidak menulis apa pun tentang Marco.
Tidak menyindir.
Tidak mengeluh.
Tapi bahkan belum sampai sepuluh menit, dia langsung menelepon.
Begitu kuangkat, suara yang kudengar adalah nada kesal—bukan rasa bersalah.
“Maksud postinganmu apa?”
Aku memejamkan mata.
“Tidak ada maksud apa-apa.”
“Jangan pura-pura, Lira. Kamu mau mempermalukanku? Mau keluargamu tahu kalau aku tidak pulang di ulang tahunmu?”
“Itu bukan niatku.”
“Aku kerja. Sudah kubilang tadi. Dan aku juga sudah kirim uang, kan?”
Aku terdiam.
“Rp156 ribu,” kataku pelan.
Dia menghela napas panjang, seolah aku yang merepotkan.
“Lira, kamu dangkal sekali. Itu simbolis. Lima-dua-nol. I love you. Tidak semua hal tentang uang.”
Aku hampir tertawa.
Tidak semua hal tentang uang.
Tapi untuk perempuan lain, Rp15,6 juta adalah harga dari kalimat “sampai tua.”
“Oke,” jawabku.
“Bagus. Aku nggak mau drama. Aku masih sibuk.”
Dia mematikan telepon.
Aku hanya menatap layar.
Saat itulah aku merasa ada sesuatu dalam diriku yang mati.
Bukan marah.
Bukan cemburu.
Bukan iri.
Lelah.
Lelah yang bahkan tidak bisa diperbaiki dengan permintaan maaf, pelukan, atau janji baru.
Aku memakan sepotong kecil kue.
Lapisan gulanya manis.
Tapi di lidahku terasa pahit.
Seperti hubungan kami.
Dari luar terlihat indah.
Di dalam ternyata sudah membusuk.
Malam itu aku mulai membereskan barang-barangku.
Aku tidak terburu-buru.
Aku melipat pakaianku. Memasukkan paspor, ijazah, tabungan, dan amplop lama berisi semua bukti pembayaran utang Marco ke dalam koper.
Di meja rias, kulepas cincin yang dia berikan tiga tahun lalu.
Bukan cincin tunangan.
Katanya itu cincin janji.
“Kalau aku sudah jadi dokter konsultan,” katanya waktu itu, “aku akan menikahimu.”
Sekarang dia memang sudah menjadi konsultan.
Tapi perempuan lain yang dia antar ke restoran mahal.
Perempuan lain yang dia jemput setelah shift malam.
Perempuan lain yang dia buat merasa dicintai.
Menjelang subuh, aku melihat postingan Marco.
Foto matahari terbit di Tagaytay.
Caption:
“Pagi yang indah.”
Di bawahnya ada postingan Bea.
Matahari terbit yang sama.
Tapi di fotonya terlihat jelas punggung Marco berdiri di balkon.
Caption Bea:
“Seindah apa pun harinya, tetap lebih indah kalau bersamamu.”
Aku tidak menangis lagi.
Aku hanya tertawa kecil.
Pantas saja dia tidak pulang.
Pantas saja alasannya “kerja.”
Pantas saja dia selalu lelah saat berbicara denganku, tapi masih punya tenaga pergi ke Tagaytay bersama perempuan lain.
Aku menarik koperku menuju pintu.
Tapi sebelum pergi, ada satu hal yang ingin kulakukan.
Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali.
Bukan untuk memohon.
Bukan untuk bertengkar.
Tapi untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa semuanya benar-benar sudah selesai.
Maka aku langsung pergi ke St. Gabriel Medical Center, rumah sakit tempat Marco bekerja.
Saat tiba di lorong dekat doctors’ lounge, aku mendengar suara Bea.
“Dok, bagaimana kalau Kak Lira melihat kita?”
Marco menjawab dengan nada dingin disertai tawa kecil.
“Dia nggak bakal pergi. Dia sudah terlalu terbiasa menungguku.”
Tubuhku membeku di luar pintu.
Lalu suaranya terdengar lagi, lebih jelas, lebih menyakitkan:
“Kasih saja uang besar, nanti dia balik lagi.”
Aku perlahan mendorong pintu itu.
Dan aku melihat Bea duduk di pangkuannya.
Marco—pria yang selama tujuh tahun kuselamatkan hidupnya—menatapku seolah akulah yang tertangkap basah.
“Lira,” katanya sambil pucat pasi.
Tapi sebelum dia berdiri, aku mengangkat amplop yang kubawa.
Di dalamnya ada semua kuitansi.
Semua utang.
Semua uang yang kuhabiskan demi membangun hidupnya.
Dan di belakangku, tiga orang masuk ke lounge itu.
Direktur medis rumah sakit.
Kepala HR rumah sakit.
Dan seorang perempuan yang sudah lama tidak kulihat.

Bibi Marco.
Perempuan yang dulu pernah memohon padaku agar tidak meninggalkannya saat dia sedang tidak punya apa-apa.
Dia menatap Marco dengan suara bergetar.
“Nak… apa yang sudah kamu lakukan pada Lira?”
BAB 3: Nilai yang Sesungguhnya
Suasana di dalam doctors’ lounge mendadak sunyi senyap. Keangkuhan di wajah Marco runtuh seketika saat melihat Direktur Medis dan Kepala HR berdiri di belakangku. Bea langsung bangkit dari pangkuan Marco dengan wajah pucat pasi, buru-buru merapikan jas laboratoriumnya yang kusut.
“L-Lira… Apa-apaan ini? Kenapa kamu membawa jajaran direksi ke sini?” suara Marco bergetar, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya sebagai dokter konsultan.
Aku tidak menjawabnya. Aku melangkah maju dan meletakkan amplop tebal yang kubawa ke atas meja kopi di tengah ruangan.
“Direktur Ramos, Kepala HR Santos,” panggilku dengan suara yang tenang namun bergaung tegas di ruangan itu. “Ini adalah seluruh bukti aliran dana selama tujuh tahun terakhir. Mengingat sebagian besar utang malpraktik dan biaya operasional klinik pribadi yang digunakan Dokter Marco Villareal menggunakan dana talangan dari rekening bisnis saya—yang statusnya adalah pinjaman modal bersyarat—saya secara resmi menarik seluruh aset tersebut hari ini.”
Marco terbelalak. “Lira! Kamu gila?! Itu urusan pribadi kita!”
“Urusan pribadi?” Bibi Marco, Tita Elena, melangkah maju dengan mata berkaca-kaca namun dipenuhi rasa kecewa yang mendalam. Dia menatap keponakannya itu seolah melihat orang asing. “Marco… tujuh tahun lalu, saat ibumu meninggal dan penagih utang mengepung rumah kita, Lira yang menjual seluruh bisnisnya untuk menyelamatkan mukamu! Dia yang membiayai residensimu! Dan ini caramu membalasnya? Berselingkuh di rumah sakit dengan anak magang?!”
“Tita, ini salah paham! Bea hanya—” Marco mencoba membela diri, namun Direktur Ramos mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Marco.
“Dokter Villareal,” ujar Direktur Ramos dengan nada dingin yang mematikan. “Rumah sakit ini memiliki kode etik yang sangat ketat mengenai hubungan profesional antara dokter konsultan dan dokter magang. Terlebih lagi, reputasi Anda dibangun di atas komitmen finansial yang baru saja dicabut oleh Nona Mendoza. Rumah sakit tidak bisa membiarkan seorang dokter yang terancam kebangkrutan dan skandal moral tetap menangani pasien.”
Kepala HR Santos menyerahkan sebuah map dokumen kepada Marco. “Dokter Marco, Anda diskors tanpa batas waktu mulai hari ini, efektif segera. Dan untuk Dokter Magang Bea Alcantara, rotasi Anda di St. Gabriel dibatalkan. Anda dikembalikan ke universitas dengan catatan pelanggaran etik.”
Bea langsung menangis histeris. “Dokter Marco, tolong aku! Kamu bilang kamu mencintaiku sampai tua! Kamu bilang kamu punya segalanya!”
Tapi Marco tidak mendengarkannya. Matanya terpaku pada dokumen di tangannya, menyadari bahwa seluruh dunianya baru saja runtuh dalam hitungan menit.
BAB 4: Selamat Tinggal, Manila
Aku menatap Marco untuk terakhir kalinya. Tujuh tahun pengorbananku selesai hari ini. Rasa lelah yang mendera jiwaku mendadak menguap, digantikan oleh kebebasan yang luar biasa.
“Selamat ulang tahun untukku, Marco,” bisikku pelan sebelum berbalik dan melangkah keluar dari rumah sakit itu tanpa menoleh lagi.
Aku langsung menuju Bandara Internasional Ninoy Aquino. Koperku sudah siap, pasporku sudah di tangan, dan tiket satu arah keluar dari Manila sudah tercetak. Aku meninggalkan semua kenangan pahit di Mandaluyong dan Caloocan. Aku pergi untuk membangun kembali hidupku yang sempat tertunda demi ego seorang pria.
Tiga jam kemudian, saat aku sedang menunggu di boarding gate, ponselku bergetar tanpa henti. Puluhan panggilan tak terjawab dari Marco. Akhirnya, sebuah pesan teks masuk darinya:
“Lira, tolong kembali. Aku mohon. Bank baru saja menyita mobil dan membekukan apartemen kita karena semuanya atas namamu. Rumah sakit memecatku, dan Bea meninggalkanku setelah tahu aku tidak punya uang lagi. Aku salah, Lira. Rp15,6 juta itu tidak ada artinya. Kamulah satu-satunya cinta sejatiku. Tolong beri aku kesempatan lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Aku menatap layar ponselku, lalu melirik ke arah papan pengumuman bandara yang menunjukkan jadwal penerbanganku.
Aku tidak membalas pesannya dengan kemarahan. Aku hanya mengetik satu kalimat terakhir:
“Uang Rp156 ribu kemarin sangat berguna untuk membeli air mineral di bandara. Terima kasih, Marco. Sekarang kamu sudah tahu harga dari cintaku: Sesuatu yang tidak akan pernah mampu kamu beli lagi seumur hidupmu.”
Aku mengeluarkan kartu SIM dari ponselku, mematahkan menjadi dua, dan melemparkannya ke tempat sampah. Saat melangkah masuk ke dalam pesawat, aku tersenyum lebar menatap langit biru di balik jendela.
Lira Mendoza yang lama telah mati di Manila. Dan hari ini, hidupku yang sebenarnya baru saja dimulai.