MANTAN SUAMIKU MENGGUNAKAN BLACK CARD MILIKKU UNTUK MENIKAHI CINTA PERTAMANYA. TAPI SAAT TIBA WAKTUNYA MEMBAYAR, SELURUH RUANGAN LANGSUNG TERDIAM.
“Aku ingin menonaktifkan secara permanen semua akses ke akun kartu kredit premium atas namaku.”
“Ya, semuanya. Termasuk seluruh kartu tambahan.”
“Termasuk kartu yang digunakan oleh Roberto Villanueva, Carmen Villanueva, dan Angela Villanueva.”
“Laksanakan sekarang juga.”
Setelah menutup telepon, aku meletakkan ponsel dengan tenang lalu menyeruput kopi.
Di luar jendela, lampu-lampu kota mulai menyala.
Hari ini adalah hari pernikahan mantan suamiku.
Tidak.
Lebih tepatnya, hari pernikahan pria yang menceraikanku tiga bulan lalu demi menikahi cinta pertamanya.
Pernikahan itu diselenggarakan di resor pantai paling eksklusif di kota.
Menurut berbagai pemberitaan, seluruh garis pantai disewa khusus untuk acara tersebut.
Sejak pagi, media sosial sudah dipenuhi foto-foto pernikahan mereka.
Teman-teman lama kami terus mengunggah berbagai postingan.
Sang pengantin wanita mengenakan gaun pengantin berhiaskan ribuan kristal yang berkilauan.
Pengantin pria memakai setelan jas buatan khusus dari luar negeri.
Dekorasi dipenuhi bunga-bunga impor.
Panggung utama dibangun tepat di tepi pantai.
Saat matahari mulai terbenam, tempat itu tampak seperti kerajaan dalam dongeng.
Ibu Roberto, Carmen Villanueva, muncul mengenakan gaun malam mewah.
Ia menggandeng menantu barunya dan berkeliling menyapa para tamu.
“Akhirnya anak saya menemukan wanita yang tepat.”
“Inilah perempuan yang benar-benar pantas untuknya.”
“Tidak seperti seseorang yang hanya bergantung pada keluarga kami selama bertahun-tahun.”
Tawanya terdengar keras.
Orang-orang di sekitarnya terpaksa ikut tersenyum.
Sementara itu, Angela, adik Roberto, sedang melakukan siaran langsung.
Judul siarannya:
“Akhirnya kakakku menikahi cinta sejatinya!”
Ia terus memperlihatkan perhiasan-perhiasan mahal.
Meja-meja penuh hidangan laut premium.
Dan deretan minuman impor yang memenuhi aula.
“Lihat ini semuanya!”
“Kakakku adalah pria sempurna.”
“Dia membayar seluruh biaya pernikahan ini.”
“Kakak iparku tinggal menikmati hidup tanpa perlu memikirkan apa pun.”
Kolom komentar langsung ramai.
【Wah, benar-benar kehidupan orang kaya!】
【Apa kakakmu memang sekaya itu?】
Angela tersenyum bangga.
【Tentu saja. Kartu kredit kakakku tidak ada batasnya.】
Aku tersenyum kecil.
Lalu mematikan layar ponsel.
Tidak seorang pun tahu bahwa kartu itu tidak pernah menjadi milik Roberto.
Akulah pemilik sebenarnya.
Selama enam tahun pernikahan kami.
Apartemen mewah yang mereka tinggali.
Mobil sport yang selalu ia banggakan.
Liburan ke luar negeri.
Pesta-pesta mewah.
Semuanya dibayar menggunakan akun atas namaku.
Hanya saja mereka tidak pernah mengetahuinya.
Di mata mereka.
Aku hanyalah seorang istri biasa yang tidak memiliki pekerjaan penting.
Seorang perempuan yang hidup bergantung pada suaminya.
Semakin malam, pesta semakin meriah.
Pemotongan kue selesai.
Pertukaran cincin selesai.
Dan pembawa acara mengumumkan bahwa upacara pernikahan resmi berakhir.
Tepuk tangan menggema di seluruh aula.
Manajer umum resor mendekat sambil membawa map tebal berisi tagihan.
“Selamat atas pernikahan Anda, Tuan Roberto dan Nyonya.”
“Berikut adalah rincian total biaya acara malam ini.”
“Apakah kami boleh memproses pembayarannya sekarang?”
Roberto merangkul pengantin barunya.
Wajahnya penuh percaya diri.
Ia mengeluarkan black card yang sangat kukenal dari saku jasnya.
“Silakan gesek saja.”
Suaranya keras.
Seolah ingin didengar semua orang.
Para tamu langsung menoleh.
Tatapan kagum terlihat di mata mereka.
Petugas menerima kartu tersebut.
Memasukkannya ke mesin pembayaran.
“Bip.”
Tidak terjadi apa-apa.
Petugas tampak bingung.
“Maaf, Pak. Mungkin ada gangguan sinyal.”
Ia mencoba lagi.
“Bip.”
Tetap gagal.
Senyumnya perlahan menghilang.
Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan.
Roberto mengernyit.
“Apa masalahnya?”
“Tunggu sebentar, Pak.”
Manajer segera membawa mesin lain.
Kartu itu kembali digesek.
“BEEEEEP—”
Suara peringatan nyaring terdengar di seluruh aula.
Di layar muncul tulisan merah besar:
【KARTU DIBLOKIR SECARA PERMANEN】
Dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi sunyi.
Musik masih terus diputar.
Tetapi tak seorang pun berbicara.
Senyum Roberto membeku.
Wajah pengantin wanita langsung pucat.
Bahkan Angela yang sedang siaran langsung tidak mampu bergerak.
Manajer menatap layar beberapa detik sebelum menoleh kembali kepada Roberto.
“Pak…”
“Menurut sistem kami, pemilik akun sendiri yang meminta seluruh akses diblokir dua jam yang lalu.”
“Akun ini tidak dapat digunakan lagi.”
Warna wajah Roberto langsung menghilang.
Ia merebut kartu itu.
“Tidak mungkin!”
“Coba lagi!”
Manajer menarik napas panjang.
Lalu berkata pelan:
“Pak…”
“Total biaya pernikahan malam ini adalah Rp10,8 miliar.”
“Dan jika pembayaran tidak segera dilakukan, kami terpaksa menyerahkannya kepada departemen hukum sesuai kontrak yang telah ditandatangani.”
Para tamu serempak menarik napas kaget.
Ponsel Angela terjatuh dari tangannya.
Namun siaran langsung masih terus berjalan.
Ratusan ribu orang menyaksikan semuanya secara langsung.
Pada saat itulah.
Ponsel Roberto bergetar.
Sebuah pesan baru masuk.
Darinya.
Hanya satu kalimat.
“Benarkah kau pikir aku pergi tanpa membawa apa pun?”
Tangannya mulai gemetar.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun.
Ia membuka aplikasi perbankannya sendiri.
Dan melihat isi rekeningnya yang sebenarnya.
Rp245.
Tidak lebih.

Tidak kurang.
Dan tepat pada saat itu.
Terdengar teriakan keras dari pengantin wanita.
Karena baru saat itulah ia mengetahui bahwa bahkan cincin berlian besar di jarinya pun ternyata belum pernah dibayar lunas.
“S-sebelas miliar rupiah?” Suara Roberto tercekat di tenggorokan, terdengar seperti tikus yang terjebak di sudut ruangan. Seluruh keangkuhan yang ia pamerkan sejak pagi menguap, menyisakan wajah pucat pasi dan keringat dingin yang membasahi setelan jas mahal buatan khususnya.
“Maaf, Pak. Tepatnya sepuluh miliar delapan ratus juta rupiah,” koreksi sang manajer resor, suaranya kini dingin, kehilangan semua keramahan formal yang tadi ia tunjukkan. “Dan jika dalam tiga puluh menit ke depan tidak ada kartu atau metode pembayaran lain yang valid, kami memiliki instruksi ketat dari pemilik resor untuk mengunci seluruh akses keluar dan memanggil pihak berwajib atas tuduhan penipuan massal.”
Di belakangnya, Carmen—ibu Roberto yang tadi sibuk menyindirku sebagai benalu—melangkah maju dengan langkah terhuyung-huyung. Gaun malam mewahnya kini terasa mencekik.
“Roberto! Apa-apaan ini?! Cepat gunakan kartu cadanganmu! Kenapa membiarkan pelayan ini mempermalukan kita di depan semua orang?!” pekik Carmen, suaranya melengking tinggi, mencoba menutupi kepanikan yang mendera.
“Kartu cadangan yang mana, Bu?!” bentak Roberto frustrasi, suaranya bergetar hebat. Ia merogoh dompetnya dengan panik, mengeluarkan tiga kartu kredit lain. Semuanya adalah kartu tambahan yang terikat pada Black Card milikku. Dan semuanya—tanpa kecuali—memiliki status yang sama: MATI TOTAL.
Sementara itu, Angela, sang adik yang masih terpaku, tidak menyadari bahwa ponselnya yang terjatuh di lantai dalam posisi kamera menghadap ke atas, merekam seluruh kekacauan itu secara real-time. Kolom komentar siaran langsungnya meledak dengan kecepatan yang mengerikan:
【Hahahaha! Jadi pangeran kaya ini ternyata penipu?】 【Katanya Black Card tanpa batas? Ternyata punya mantannya yang diblokir!】 【Sepuluh miliar lebih! Siap-siap pakai baju tahanan warna oranye setelah malam pengantin!】
Cincin Berlian yang Berdarah
Di tengah keheningan yang mencekam, pengantin barunya, sang “cinta pertama” yang selama ini diagung-agungkan, menatap cincin berlian besar di jari manisnya dengan mata membelalak horor.
Tepat pada saat itu, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam pekat melangkah membelah kerumunan tamu undangan. Mereka bukan staf resor, melainkan petugas keamanan dari butik perhiasan mewah tempat Roberto mengambil cincin tersebut minggu lalu.
“Selamat malam, Tuan Roberto,” kata petugas itu tanpa ekspresi, mengeluarkan dokumen penyitaan. “Kami menerima notifikasi dari bank bahwa transaksi penjaminan untuk cincin berlian 5 karat ini telah dibatalkan secara sepihak oleh pemilik akun utama, Nyonya Jovanka. Karena pembayaran belum lunas dan status akun dibekukan, kami di sini untuk mengambil kembali aset butik kami.”
“T-tidak! Jangan! Ini cincinku!” teriak sang pengantin wanita histeris. Namun, tanpa memedulikan tangisannya, petugas tersebut dengan tegas menarik cincin berkilauan itu dari jarinya, memasukkannya kembali ke dalam kotak beludru, dan pergi begitu saja.
Sang pengantin wanita menatap tangannya yang kini kosong, lalu menatap Roberto dengan pandangan penuh kebencian. “Kau bilang kau kaya! Kau bilang istrimu yang dulu itu miskin dan semua ini milikmu! Kau menipuku, Roberto!”
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Roberto dari wanita yang baru beberapa menit lalu berjanji akan menemaninya dalam suka dan duka.
Akhir dari Sebuah Dongeng Palsu
Di apartemenku yang tenang, aku meletakkan cangkir kopi yang sudah kosong. Di layar laptop, aku melihat siaran langsung Angela akhirnya terputus, namun rekaman kekacauan itu sudah diunduh dan menjadi tren nomor satu di seluruh platform media sosial negara ini.
Selama enam tahun, mereka meremehkanku. Mereka mengira aku hanya seorang ibu rumah tangga yang beruntung bisa dinikahi oleh putra kebanggaan keluarga Villanueva. Mereka tidak pernah tahu bahwa akulah yang memutar roda bisnis di balik layar, dan akulah pemegang tunggal seluruh aset yang mereka pamerkan.
Ponselku kembali bergetar. Nama Roberto muncul di layar. Aku mengangkatnya, namun tidak mengatakan apa pun.
“Jovanka… tolong aku… aku mohon…” suara Roberto terdengar menangis, meratap di ujung telepon dengan latar belakang suara ribut polisi yang mulai berdatangan di resor pantai. “Aktifkan kartunya sebentar saja, Jovanka. Aku akan mengembalikan semuanya padamu setelah ini. Tolong, keluargaku dipermalukan…”
Aku tersenyum tipis, menatap pemandangan kota yang indah dari balik jendela apartemenku—apartemen yang besok pagi akan menerima surat penyitaan untuk mereka kosongkan karena cicilannya juga telah kuhentikan.
“Roberto,” kataku dengan suara yang teramat tenang. “Saat kau menceraikanku, kau bilang cinta pertamamu adalah segalanya dan uang bisa dicari. Sekarang, biarkan cinta sejatimu itu yang membayar tagihanmu.”
“Jovanka, jangan—”
Aku mematikan sambungan telepon, lalu memblokir nomornya secara permanen.
Malam itu, dongeng indah yang mereka bangun di atas uangku runtuh dalam hitungan jam. Mereka mengira bisa melangkah di atas harga diriku untuk merayakan kebahagiaan mereka. Namun, mereka lupa satu hal: ketika kartu hitam itu mati, status, kehormatan, dan topeng kekayaan mereka pun ikut mati—meninggalkan mereka sebagai pecundang yang harus membayar mahal untuk sebuah keangkuhan.