Posted in

Mantan suamiku telah meninggal, tetapi aku tidak meninggalkan ibunya.

**Mantan suamiku telah meninggal, tetapi aku tidak meninggalkan ibunya.**

Aku membawanya tinggal bersama di rumah suamiku yang baru sebagai bentuk janji.

Namun rahasia di balik pintu yang sedikit terbuka itu membuat jantungku seakan berhenti berdetak…

Suatu sore di Kota Cebu, sinar matahari keemasan menyelimuti gang kecil tempat aku dibesarkan. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang mengingatkanku pada masa kecilku—saat aku dan Jiro berlari tanpa alas kaki di pasir basah di belakang rumah.

Namaku Alina.

Dan Jiro…

adalah seluruh masa mudaku.

Hidup kami tidak mudah saat itu. Ibuku berjualan ikan setiap pagi, dan aku selalu membantu meski tubuhku bahkan belum setinggi meja jualannya. Kehidupan Jiro sedikit lebih baik. Ayahnya adalah kapten kapal, tetapi dia tidak pernah membuatku merasa lebih rendah darinya.

Setiap hari, dia menyimpan sekotak susu kecil di dalam tasnya. Saat kami duduk di bawah pohon kelapa, dia akan menyerahkannya kepadaku sambil tersenyum.

— Minumlah ini. Kamu terlalu kurus.

Aku selalu tersenyum dan menerimanya, tetapi tidak pernah bertanya mengapa dia selalu mengingat hal-hal kecil tentang diriku.

Kami tumbuh bersama, saling mencintai, lalu merantau ke Manila untuk mencari nafkah.

Jiro menjadi teknisi pendingin ruangan.

Aku bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran kecil di Quezon City.

Hidup kami tidak mewah, tetapi damai.

Sampai suatu hari…

semuanya runtuh.

Sebuah kecelakaan konstruksi merenggut nyawa Jiro hanya dalam hitungan detik.

Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.

Tidak sempat menggenggam tangannya untuk terakhir kali.

Aku tidak siap kehilangan dia selamanya.

Ibunya—Nenek Rosa—hampir tidak mampu bangkit dari kesedihan. Ia mengalami stroke ringan. Separuh tubuhnya melemah, dan matanya tampak kosong, seolah jiwanya ikut pergi bersama putranya.

Aku sebenarnya bisa pergi.

Aku masih muda.

Semua orang mengatakan hal yang sama.

Tetapi aku tidak pergi.

Aku tetap tinggal.

Aku meninggalkan pekerjaanku di Manila dan membawa Nenek Rosa kembali ke rumah kecil kami di Cebu. Aku merawatnya siang dan malam. Ada malam-malam ketika demamnya sangat tinggi dan aku tidak tidur sama sekali, takut jika aku lengah sedikit saja, aku akan kehilangan dia seperti kehilangan Jiro.

Suatu kali, ia menggenggam tanganku sambil menangis.

— Kamu tidak berutang apa pun kepadaku… kamu tidak harus tetap tinggal.

Aku menggeleng.

— Aku memang tidak berutang apa pun… tetapi aku tidak sanggup meninggalkan Ibu.

Sejak saat itu…

aku menjadi anaknya.

Waktu berlalu.

Luka perlahan sembuh, meski tidak pernah benar-benar hilang.

Saat usiaku 29 tahun, justru dialah yang pertama kali menyuruhku menikah lagi.

Aku menolak.

Ia hanya diam.

Sampai suatu hari, ia memperkenalkanku kepada Mateo.

Mateo tinggal di Kota Davao dan memiliki toko kecil bahan bangunan. Ia seorang duda dengan seorang putri berusia empat tahun bernama Lira.

Dia tidak tampan.

Juga tidak kaya.

Tetapi matanya…

jujur.

Pada pertemuan pertama, aku langsung berkata:

— Jika kita menikah, aku ingin mantan ibu mertuaku tinggal bersama kita. Dia tidak punya tempat lain untuk pergi.

Mateo tidak ragu sedikit pun.

— Justru lebih baik begitu. Semakin banyak orang tua di rumah, semakin banyak berkah.

Jawaban itu…

meluluhkan hatiku.

Setahun kemudian, kami menikah.

Aku membawa Nenek Rosa ke rumah baru kami di Davao.

Dan di sanalah…

semuanya mulai terasa indah.

Lira memanggilku “Mama”.

Dia memanggil Nenek Rosa “Nenek”.

Mateo memperlakukannya seperti ibu kandungnya sendiri.

Setiap makan malam dipenuhi tawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

aku percaya bahwa aku memiliki keluarga lagi.

Sampai aku hamil.

Tiga bulan.

Sebuah kehidupan kecil perlahan tumbuh di dalam diriku—seperti sebuah keajaiban.

Namun sejak saat itu pula…

semuanya mulai berubah.

Aku sering melihat Nenek Rosa duduk lama di depan altar kecil milik Jiro.

Kadang ia menangis diam-diam.

Kadang…

ia memandang Mateo dengan tatapan aneh.

Bukan kebencian.

Bukan pula kasih sayang.

Melainkan sesuatu yang tidak mampu kujelaskan.

Mateo sendiri…

tetap baik seperti biasa.

Tetapi beberapa kali aku memergoki dia dan Nenek Rosa sedang berbicara. Dan begitu aku masuk, mereka langsung menghentikan percakapan.

Perasaan tidak nyaman di dadaku semakin besar.

Sampai suatu sore.

Aku pulang lebih awal.

Rumah sangat sunyi.

Lira sedang tidur di kamarnya.

Aku berjalan perlahan ke dalam rumah…

dan saat itulah aku mendengar suara Nenek Rosa dari dapur.

Suaranya bergetar.

— Aku tidak sanggup lagi menyembunyikan apa yang terjadi dulu…

Dadaku langsung sesak.

Aku mendekati pintu yang sedikit terbuka.

Suara Mateo terdengar pelan tetapi berat.

— Tenanglah, Bu… kalau Alina sampai tahu… dia tidak akan sanggup menerimanya…

Aku membeku.

Tubuhku terasa dingin.

Apa yang sebenarnya “terjadi dulu”?

Dan mengapa Mateo mengetahuinya?

Tanganku gemetar saat perlahan mendorong pintu itu sedikit lebih lebar.

Cahaya dari dalam menerobos keluar.

Dan kalimat berikutnya yang diucapkan Nenek Rosa…

menghancurkan seluruh duniaku—

… “Uang santunan dari kecelakaan Jiro… semuanya bukan dari perusahaan konstruksi, Mateo. Uang yang selama ini membiayai pengobatan strokeku, membelikan kita rumah di Cebu, dan modal tokomu ini… semuanya berasal dari uang tebusan kesalahanmu.”

Aku menahan napas, menutup mulutku rapat-rapat agar jeritan syok tidak lolos dari tenggorokanku. Air mata langsung merebak di pelupuk mataku.

Nenek Rosa terisak, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya yang gemetar. “Jiro meninggal karena kelalaianmu, Mateo. Kamulah kontraktor utama yang memasang sistem pendingin ruangan yang rapuh di lantai atas proyek Manila itu!”

Duniaku runtuh seketika. Jantungku berdegup begitu kencang hingga telingaku berdenging. Mateo? Pria yang kini menjadi suamiku, pria yang kupeluk setiap malam, adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Jiro?

Mateo berlutut di hadapan Nenek Rosa, menggenggam tangan wanita tua itu dengan air mata yang juga mengalir deras di pipinya.

“Aku tahu, Bu. Aku sangat tahu,” suara Mateo terdengar serak dan penuh penyesalan yang teramat dalam. “Malam itu, setelah kecelakaan terjadi, aku hancur. Aku menyerahkan seluruh asetku secara rahasia kepada Ibu melalui pengacara, karena aku tahu aku telah merenggut nyawa seorang anak dan calon suami. Aku tidak masuk penjara karena perusahaan menutupinya, tetapi jiwaku mati sejak hari itu.”

Mateo menundukkan kepalanya hingga menyentuh lutut Nenek Rosa. “Saat Ibu mengenalkanku pada Alina setahun lalu, Ibu tahu siapa aku. Ibu memintaku menikahi Alina bukan hanya untuk menebus dosaku, tetapi karena Ibu tahu aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membahagiakannya. Dan aku benar-benar mencintainya sekarang, Bu… Aku mencintai Alina dan bayi di kandungannya lebih dari nyawaku sendiri.”

“Tapi kebohongan ini membunuhku perlahan, Mateo,” tangis Nenek Rosa pecah. “Setiap kali aku melihat Alina tersenyum, setiap kali dia mengusap perutnya yang membuncit, aku melihat bayang-bayang Jiro. Alina berhak tahu siapa pria yang dinikahinya!”

Aku mundur selangkah, lututku lemas menabrak rak sepatu di dekat pintu.

KRETAK.

Suara itu membuat percakapan di dalam dapur terhenti seketika.

“Alina?” Pintu dapur terbuka lebar. Mateo berdiri di sana, wajahnya mendadak pucat pasi saat melihatku bersandar di dinding dengan air mata yang membasahi seluruh wajah. Di belakangnya, Nenek Rosa memandangku dengan tatapan hancur.

“Alina… ini tidak seperti yang kamu dengar… aku bisa jelaskan,” Mateo melangkah maju, tangannya gemetar mencoba menggapaiku.

“Jangan sentuh aku!” teriakku, suaranya melengking memecah kesunyian rumah. Aku memeluk perutku yang baru berusia tiga bulan, merasakan ironi yang begitu kejam mencabik-cabik hatiku.

Pria yang menyelamatkanku dari keterpurukan, pria yang memberikan keluarga baru untukku, ternyata adalah pria yang menciptakan lubang hitam di masa laluku.

Aku menatap Nenek Rosa, wanita yang kuanggap seperti ibu kandungku sendiri. “Ibu… Ibu tahu semuanya? Dan Ibu membiarkan aku menikahinya?”

Nenek Rosa hanya bisa menangis pasrah.

Di antara kebencian yang mendidih atas kematian Jiro, dan cinta yang tulus dari Mateo untuk anak di dalam kandunganku, aku berdiri di persimpangan jalan yang paling menyakitkan. Sore itu di Davao, kebahagiaan yang kubangun dengan susah payah ternyata berdiri di atas fondasi rasa bersalah dan rahasia darah yang paling kelam.