MENGHENTIKAN PERNIKAHANKU SENDIRI DI DEPAN 300 TAMU SAAT MENYADARI KURSI ANAKKU YANG BERUSIA ENAM TAHUN KOSONG. SEMUA ORANG MENGIRA AKU SUDAH GILA. NAMUN SAAT MENEMUKANNYA DI DALAM KAMAR MANDI, APA YANG KULIHAT DAN KUDENGAR BENAR-BENAR MENGHANCURKAN HATIKU… DAN MEMBUATKU MEMUTUSKAN UNTUK MENGHANCURKAN HIDUP WANITA YANG BERDIRI DI ALTAR ITU.
## Impian Tentang Keluarga Utuh
Namaku Julian, usia tiga puluh lima tahun. Sebagai CEO sebuah perusahaan properti besar, hidupku sangat sibuk, tetapi seluruh duniaku hanya berpusat pada putri semata wayangku, Maya.
Aku seorang duda. Ibu Maya meninggal tiga tahun lalu. Sejak saat itu, aku menjadi ayah sekaligus ibu baginya.
Agar ada yang membantu merawat Maya, aku memutuskan menikah lagi.
Aku bertemu Vanessa.
Dia cantik dan terkenal sebagai event organizer sukses. Di depanku, Vanessa selalu sangat manis kepada Maya. Dia membelikan mainan, memeluknya, dan terus berkata:
“Aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri, Julian.”
Aku percaya pada semua kata-kata manisnya.
Kupikir akhirnya aku menemukan malaikat yang akan menyatukan kembali keluargaku.
## Pernikahan dan Sang Putri yang Menghilang
Hari pernikahan kami akhirnya tiba.
Acara itu digelar di sebuah katedral kaca yang sangat mewah, dihadiri 300 tamu dari kalangan miliarder, politisi, dan sahabat dekat.
Aku berdiri di altar sambil menunggu Vanessa berjalan mendekat.
Musik mulai dimainkan.
Pintu besar terbuka.
Vanessa masuk dengan gaun putih berkilauan yang sangat indah. Dia tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arah kamera.
Namun saat dia berjalan mendekat, tiba-tiba dadaku terasa tidak tenang.
Aku melihat ke barisan depan VIP tempat putriku seharusnya duduk.
Kursi Maya kosong.
Keningku langsung berkerut.
Di mana anakku?
Aku tadi menitipkannya pada pengasuh dan Vanessa di ruang rias.
Saat Vanessa sampai di altar, dia menggenggam tanganku.
“Sayang, kamu tampan sekali,” bisiknya lembut.

“Vanessa, di mana Maya? Kenapa dia tidak ada di kursinya?” tanyaku cemas.
Mata Vanessa sempat menunjukkan rasa kesal, tetapi cepat berubah kembali menjadi senyum manis.
“Oh, tadi dia bilang lapar, jadi sedang makan di belakang. Biar saja dulu di sana, upacara kita mau dimulai.”
Pendeta mulai berbicara.
Tetapi pikiranku sama sekali tidak tenang.
Aku seorang ayah.
Dan instingku berteriak bahwa ada sesuatu yang salah.
Tidak mungkin putriku tidak hadir di hari paling penting dalam hidup kami.
“Tunggu sebentar, Father,” kataku keras hingga pendeta berhenti bicara.
Aku melepaskan tangan Vanessa.
“Julian! Apa yang kamu lakukan?! Semua orang melihat!” bisik Vanessa panik.
Aku menghadap para tamu.
“Maaf sebentar. Aku harus mencari putriku.”
Tiga ratus tamu langsung mulai berbisik-bisik.
Aku berlari turun dari altar, mengabaikan panggilan Vanessa dan keluarganya.
Aku mencari Maya di luar, di taman, dan di ruang rias… tetapi dia tidak ada.
Sampai akhirnya aku melewati sebuah toilet umum di belakang katedral.
Aku mendengar suara tangisan kecil…
Suara tangisan itu tertahan, bersenandung pilu di antara desau mesin pengering tangan.
Aku mengenali suara itu. Itu suara Maya.
Aku mendorong pintu toilet pria—kosong. Aku tidak peduli lagi dengan norma, aku langsung menerobos masuk ke dalam toilet wanita. Di sana, di depan bilik paling ujung, berdiri seorang wanita paruh baya yang sangat kukenal: ibunya Vanessa, Merry.
Merry sedang berdiri sambil bersedekap, mengetukkan selop mahalnya ke lantai dengan wajah masam. Begitu melihatku masuk dengan setelan jas pengantin yang berantakan, wajahnya langsung pias.
“J-Julian? Kenapa kamu di sini? Upacaranya kan—”
“Di mana Maya?!” bentakku, suaraku menggelegar di dalam ruangan berlantai marmer itu.
Sebelum Merry sempat menjawab, suara tangisan dari dalam bilik terdengar lagi, diikuti ketukan lemah pada pintu kayu. “Papa…? Papa, Maya di sini… Pintu luarnya dikunci dari luar, Pa. Maya takut, gelap…”
Darahku mendidih ke titik tertinggi. Aku melihat sebuah pasak kayu sengaja diganjal di selot pintu dari luar. Merry sengaja mengunci putriku yang baru berusia enam tahun di dalam toilet umum!
1. Kebenaran di Balik Dinding Toilet
Aku langsung menendang pasak kayu itu hingga hancur dan merenggut pintu bilik hingga terbuka.
Di dalam, Maya sedang duduk meringkuk di lantai sudut bilik yang dingin. Gaun merah muda indahnya yang kupilihkan bersamanyasudah kotor terkena air lantai. Matanya bengkak, wajahnya sembap, dan tangannya gemetar hebat memeluk boneka beruang kecilnya.
“Papa!” Maya langsung melompat memeluk leherku, menangis histeris sampai sesak napas. “Tadi Tante Vanessa bilang… kalau Maya ikut foto di depan, Maya bakal ngerusak estetika pesta pernikahan. Tante Vanessa bilang Maya anak pembawa sial yang bikin ibunya meninggal…”
Setiap kata yang keluar dari mulut mungil putriku seperti pisau berkarat yang menghujam jantungku.
Aku menatap Merry dengan tatapan membunuh. Wanita tua itu melangkah mundur hingga punggungnya menempel ke dinding.
“Julian, dengerin dulu… Vanessa nggak bermaksud begitu,” Merry terbata-bata, mencoba membela anaknya. “Vanessa cuma mau pernikahan ini sempurna. Ini diliput media besar! Kamera ada di mana-mana! Kalau anak kecil rewel atau merusak gaun Vanessa yang mahal itu, kan memalukan! Vanessa melakukan ini demi kebaikan namamu juga sebagai CEO!”
“Demi kebaikanku?” Aku berdiri perlahan sambil menggendong Maya yang masih sesenggukan. “Kalian mengunci anak yatim piatu di toilet umum yang dingin di hari pernikahan ayahnya, dan kamu sebut itu demi kebaikanku?!”
Aku tidak membuang waktu untuk berdebat dengan wanita ular ini. Aku melepas jas pengantinku, membungkus tubuh Maya yang kedinginan, lalu membawanya keluar.
Saat aku berjalan kembali menuju aula katedral, amarah di dadaku sudah berubah menjadi bahan bakar yang siap menghanguskan apa saja. Vanessa Quinto bukan seorang malaikat. Dia adalah monster yang mengenakan gaun putih.
2. Penghancuran di Altar Kaca
Pintu besar katedral terbuka lagi. Tiga ratus tamu yang tadinya berisik mendadak sunyi saat melihatku kembali—bukan sebagai pengantin pria yang bahagia, melainkan sebagai seorang ayah yang murka, menggendong anaknya yang menangis sesenggukan dengan jas yang melilit tubuhnya.
Vanessa berdiri di altar, wajahnya tegang namun dia mencoba mempertahankan senyum profesionalnya di depan kamera media.
“Julian! Astaga, ada apa dengan Maya? Kenapa kamu membawanya ke sini dengan kondisi sekotor itu?” Vanessa setengah berbisik saat aku melangkah naik ke altar, suaranya terdengar manis namun matanya memancarkan ancaman. “Bawa dia ke belakang sekarang, Julian. Kita membuang-buang waktu penyiaran!”
Aku berhenti tepat dua langkah di depannya. Pendeta menatap kami dengan bingung.
Aku menurunkan Maya perlahan, membiarkannya berdiri di sampingku sambil memegang erat celanaku. Kemudian, aku merebut mikrofon yang dipegang oleh pendeta.
“Perhatian semuanya,” suaraku menggema di seluruh katedral kaca lewat pengeras suara.
Vanessa mencoba merebut mikrofon itu. “Julian, kamu gila ya?! Jangan bikin malu di depan relasimu!”
Aku menepis tangannya dengan kasar hingga dia hampir kehilangan keseimbangan di atas sepatu hak tingginya.
“Pernikahan hari ini… DIBATALKAN!” kataku lantang.
Suasana langsung pecah. Terdengar pekikan kaget dari para tamu. Keluarga Vanessa langsung berdiri dari kursi mereka. Kilatan lampu kamera dari wartawan media mulai berkedip gila-gilaan, menangkap momen skandal terbesar tahun ini.
“Julian! Apa-apaan kamu?!” Ayah Vanessa berteriak dari barisan depan, mencoba merangsek naik ke altar.
“Kalian ingin tahu kenapa?” Aku menunjuk wajah Vanessa yang kini mulai panik. “Wanita yang kalian lihat anggun di majalah ini, bersama ibunya, baru saja mengunci putriku yang berusia enam tahun di dalam toilet umum bagian belakang. Mereka mengurungnya, menghinanya sebagai pembawa sial, hanya karena mereka takut anakku akan ‘merusak estetika’ foto pernikahan mereka!”
Vanessa menggelengkan kepala dengan dramatis, air mata buayanya mulai keluar. “Nggak! Itu bohong! Julian, kamu salah paham! Maya pasti tersesat dan… dan ibuku cuma mau mencarinya!”
“Oh ya?” Aku tersenyum dingin. Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan ponselku, dan menghubungkannya langsung ke sistem audio dan layar proyektor besar di belakang altar—sistem yang tadinya disiapkan untuk memutar video perjalanan cinta kami.
Sebagai CEO perusahaan properti, aku tahu katedral ini memiliki sistem CCTV pintar yang terhubung ke aplikasi Home & Venue miliknya. Aku baru saja meminta tim IT-ku untuk meretas dan mengunduh rekaman dari koridor toilet sepuluh menit yang lalu.
Layar besar di belakang altar menyala.
Di sana, terlihat jelas video berdurasi dua menit: Vanessa menarik paksa lengan kecil Maya yang menangis, mendorongnya ke dalam toilet, disusul ibunya yang mengganjal pintu bilik dengan pasak kayu sambil tertawa mengejek. Suara Vanessa bahkan terdengar jelas lewat mikrofon CCTV: “Jangan berani-berani keluar sampai acara selesai, anak sialan! Menyingkir dari hari bahagiaku!”
3. Akhir dari sang Event Organizer
Seluruh katedral mendadak sunyi senyap seolah-olah semua oksigen telah disedot keluar. Rekaman video itu adalah bukti mutlak yang tidak bisa didebat dengan air mata atau kebohongan apa pun.
Wajah Vanessa berubah dari pucat menjadi abu-abu. Para tamu undangan—miliarder, politisi, dan rekan bisnisku—menatap Vanessa dan keluarganya dengan tatapan jijik yang amat sangat. Beberapa ibu-ibu dari kalangan sosialita langsung memalingkan muka, berbisik mengutuk kekejaman itu.
“Julian… tolong, maafkan aku… aku cuma stres karena mempersiapkan acara ini…” Vanessa berlutut di altar marmer, mencoba meraih kakiku, gaun pengantin ratusan jutanya kini menyapu lantai tanpa arti lagi.
Aku mundur selangkah, menjauhkan diriku dari jangkauannya.
“Vanessa, kamu menyukai kemewahan, status sosial, dan reputasi bisnismu sebagai event organizer sukses, kan?” kataku dengan nada suara yang teramat tenang, namun mematikan.
“Mulai hari ini, semua kontrak properti perusahaanku dengan agensimu dibatalkan. Aku juga akan memastikan seluruh jaringan bisnis di kota ini tahu kelakuan busukmu. Rekaman ini akan kuserahkan ke pihak kepolisian atas dugaan kekerasan dan penyekapan anak di bawah umur. Berita ini akan menjadi halaman utama besok pagi.”
“Jangan, Julian! Aku mohon! Itu akan menghancurkan hidupku!” raung Vanessa, air matanya kini benar-benar asli karena ketakutan akan kehancuran kariernya.
Aku tidak mendengarkannya lagi. Aku membungkuk, menggendong Maya kembali ke dalam pelukanku. Putri kecilku menyandarkan kepalanya di bahuku, merasa aman karena tahu ayahnya ada di sana untuk melindunginya.
Aku berjalan menuruni altar, membelah barisan 300 tamu yang memberikan jalan untukku dengan penuh rasa hormat dan simpati. Aku melangkah keluar dari katedral kaca yang mewah itu, meninggalkan drama, tangisan histeris Vanessa, dan kehancuran total keluarga Quinto di belakangku.
Saat pintu katedral tertutup, aku mencium kening Maya. Pernikahanku memang hancur berantakan di hari yang sama saat dimulai, tetapi melihat senyum lega di wajah putriku, aku tahu… aku baru saja menyelamatkan satu-satunya keluarga utuh yang sebenarnya kubutuhkan.