Posted in

Mereka Meninggalkannya di Rumah Karena Pakaiannya Dianggap Memalukan—Tanpa Mereka Sadari, Dialah Pemilik Sebenarnya dari Rumah Mewah, Perusahaan, dan Kehidupan yang Selama Ini Mereka Banggakan

Mereka Meninggalkannya di Rumah Karena Pakaiannya Dianggap Memalukan—Tanpa Mereka Sadari, Dialah Pemilik Sebenarnya dari Rumah Mewah, Perusahaan, dan Kehidupan yang Selama Ini Mereka Banggakan

“Sudah tidak ada kursi kosong di van, Bu. Mungkin lebih baik Ibu tinggal di rumah saja untuk menjaga rumah.”

Bianca tersenyum saat mengatakan itu, seolah-olah benar-benar peduli kepadaku.

Padahal aku bisa melihat dengan jelas van tujuh penumpang yang terparkir di depan rumah mewah kami.

Hampir kosong.

Hari itu adalah ulang tahun ke-60 suamiku, Ramon Dela Cruz, salah satu kontraktor terbesar di Jakarta. Ia mengadakan pesta mewah di sebuah hotel bintang lima di kawasan bisnis ibu kota. Para pengusaha, pejabat, pemasok, insinyur, dan tokoh penting lainnya akan hadir.

Namaku Elena Magsino-Dela Cruz.

Aku adalah istrinya selama empat puluh tahun.

Akulah wanita yang memasak bubur ketika kami tidak punya apa-apa. Akulah yang menjual tanah warisan keluarga di kampung untuk membangun toko material pertama kami. Akulah yang mengangkat karung semen saat kami masih berjuang mengejar mimpi.

Karena itu, pagi hari itu aku bangun lebih awal.

Aku menyetrika gaun lamaku yang berwarna putih melati, dengan bordir bunga kecil di bagian lengan. Itulah gaun yang kupakai saat kami pertama kali membuka toko.

Kupikir ketika Ramon melihatnya, dia akan teringat bagaimana kami memulai semuanya.

Aku salah.

“Bu, jangan membuat suasana jadi canggung,” kata anakku, Adrian, sambil merapikan jam tangannya yang nilainya bahkan lebih mahal daripada rumah pertama kami dulu. “Ini acara bisnis. Banyak orang penting yang datang.”

“Adrian,” jawabku tenang, “aku istri ayahmu.”

Ramon bahkan tidak menoleh.

Ia sibuk memperbaiki dasinya di depan cermin.

“Bianca benar, Elena,” katanya dingin. “Kamu lebih cocok tinggal di rumah. Lagipula… pakaianmu sudah ketinggalan zaman. Kamu akan terlihat tidak cocok di sana.”

Rasanya seperti ada bongkahan es yang dijatuhkan ke dalam dadaku.

Bukan karena dia mengatakan pakaianku sudah tua.

Tetapi karena cara dia mengatakannya.

Seolah-olah akulah noda memalukan dalam kehidupan mewah yang selalu dia pamerkan.

Lalu aku melihatnya melirik ke arah wanita yang berdiri di dekat tangga.

Trisha.

Konsultan citranya.

Usianya tiga puluh tahun lebih muda daripada Ramon. Namun cara dia menggandeng lengan suamiku membuatnya tampak seperti wanita yang memiliki hak atas dirinya.

Beberapa kali aku melihatnya keluar dari apartemen di kawasan elite yang selalu Ramon sebut sebagai tempat rapat.

Dua kali aku memilih diam.

Tiga kali aku menelan rasa sakit.

Pada kali keempat, aku berhenti bertanya.

Bukan karena aku tidak tahu.

Tetapi karena aku sedang mempersiapkan sesuatu.

Aku mendekati cucuku, Nico, yang berusia sembilan tahun. Ia sedang duduk di sofa memainkan ponselnya.

Aku hanya ingin merapikan kerah bajunya.

Namun ia menepis tanganku.

“Nenek, jangan sentuh aku,” katanya sambil mengernyit. “Tangan Nenek kasar. Nanti bajuku rusak. Ini merek mahal.”

Aku menatap kedua tanganku.

Ya.

Memang kasar.

Tangan yang mencuci popok ayahnya ketika masih bayi.

Tangan yang menghitung uang receh agar dia bisa sekolah.

Tangan yang menandatangani pinjaman, sertifikat tanah, jaminan, dan kontrak saat Ramon hanya berdiri di depan kamera menerima pujian.

Saat itu, ada sesuatu yang putus di dalam diriku.

Bukan hatiku.

Melainkan ikatan yang selama ini kutahan.

Aku tersenyum pelan.

“Aku mengerti,” kataku. “Van itu penuh. Dan rumah ini juga penuh. Penuh kesombongan, penuh lupa diri, dan penuh orang yang sudah tidak ingat lagi dari keringat siapa kemewahan mereka dibangun.”

Mereka terdiam.

Bianca tertawa lebih dulu.

Tawa tipis yang dipaksakan.

“Bu, jangan berlebihan. Nanti kami bawakan steak saat pulang. Atau kalau mau, kami pesan makanan untuk Ibu.”

“Tidak perlu,” jawabku. “Nikmati saja pestanya.”

Mereka pergi seperti keluarga kerajaan.

Parfum mahal.

Perhiasan berkilauan.

Hadiah-hadiah yang dibungkus kertas emas.

Ramon berjalan di tengah.

Trisha di sampingnya.

Adrian, Bianca, dan Nico mengikuti dari belakang.

Tak seorang pun menoleh.

Bahkan sekali pun tidak.

Saat van itu menghilang dari halaman, aku menutup pintu perlahan.

Aku naik ke kamar yang selama ini kubagi bersama Ramon.

Dari bawah tempat tidur, aku menarik koper tua berwarna cokelat.

Aku tidak mengambil perhiasan.

Tidak mengambil tas-tas mahal yang dibeli Ramon setiap kali ingin membungkam kesalahannya.

Hanya tiga gaun.

Beberapa dokumen.

Sebuah celengan kecil.

Dan sebuah map tebal yang sudah kusiapkan selama berbulan-bulan bersama pengacaraku, Mara Villanueva.

Di dalam map itu terdapat semua hal yang tidak pernah mereka bayangkan masih ada di tanganku.

Sertifikat tanah.

Akta jual beli.

Sertifikat saham asli.

Surat kuasa bank.

Keputusan rapat direksi.

Dan yang paling sederhana sekaligus paling menakutkan:

Bukti bahwa 64% saham Dela Cruz Builders masih terdaftar atas namaku.

Bukan atas nama Ramon.

Bukan atas nama Adrian.

Atas namaku.

Saat kami baru memulai usaha, Ramon membenci urusan administrasi.

Dia selalu berkata,

“Kamu saja yang urus, Elena. Kamu lebih teliti.”

Maka akulah yang menandatangani semuanya.

Akulah yang mengurus seluruh dokumen.

Akulah pemilik sah gudang pertama kami, tanah pertama yang kami beli, beberapa unit apartemen investasi, rumah mewah tempat mereka tinggal, dan saham yang mengendalikan seluruh perusahaan.

Selama empat puluh tahun, aku tidak pernah menggunakan kekuasaan itu.

Aku pikir keluarga tidak seharusnya dikendalikan oleh kepemilikan.

Aku pikir cinta sudah cukup untuk membuat mereka tetap menghormati.

Ternyata aku salah.

Aku turun ke ruang tamu dan meletakkan tiga amplop di atas meja.

Satu untuk Ramon.

Satu untuk Adrian.

Satu untuk bagian keuangan perusahaan.

Di samping amplop-amplop itu, aku meninggalkan kunci rumah.

Lalu aku memesan taksi menuju terminal dan membeli tiket bus ke kampung halaman sahabat lamaku, Cora.

Saat bus meninggalkan Jakarta, ponselku mulai bergetar.

Ramon.

Aku tidak mengangkatnya.

Adrian.

Aku tidak mengangkatnya.

Bianca.

Aku juga tidak mengangkatnya.

Tak lama kemudian, pesan masuk dari pengacaraku.

“Ibu Elena, semua pemberitahuan sudah dikirim. Kartu tambahan sudah diblokir. Besok pagi kita mulai proses pemisahan aset secara resmi. Mohon jangan kembali sendirian.”

Aku menarik napas panjang dan menyandarkan tubuh ke kursi.

Pada saat yang sama, mungkin mereka sudah pulang dari pesta.

Mungkin Ramon sedang membuka amplop pertama.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia membaca kalimat yang tidak pernah dia bayangkan:

“Pemberitahuan Pengosongan Properti: Pemilik sah yang terdaftar atas rumah ini adalah Elena Magsino-Dela Cruz.”

Di hotel bintang lima malam itu, Ramon Dela Cruz baru saja menyelesaikan pidatonya yang disambut tepuk tangan meriah. Di sampingnya, Trisha tersenyum bangga, sementara Adrian dan Bianca sibuk bersosialisasi dengan para kolega kelas atas. Ramon merasa berada di puncak dunia.

Namun, kejayaan itu runtuh dalam hitungan detik saat ponsel Adrian berdering. Itu dari direktur keuangan perusahaan.

“Halo? Ada apa? Ini sedang acara Papa—”

“Pak Adrian! Segera kembali ke kantor atau hubungi Ibu Elena!” suara di seberang telepon terdengar panik luar biasa. “Seluruh rekening operasional Dela Cruz Builders dibekukan! Ada perintah penarikan modal masal dan pembatalan hak kuasa tanda tangan atas nama Pak Ramon. Semua vendor menghentikan pengiriman material sekarang juga!”

Wajah Adrian seketika memucat. Ia langsung menarik ayahnya menjauh dari kerumunan. Mendengar kabar tersebut, Ramon tertawa meremehkan. “Jangan bercanda. Elena tidak akan berani, dia bahkan tidak tahu cara mentransfer uang.”

Pesta yang seharusnya berlangsung hingga tengah malam itu berakhir kacau. Keluarga Dela Cruz pulang dengan tergesa-gesa, mengabaikan tatapan bingung para tamu undangan.

Saat mereka melangkah masuk ke dalam rumah mewah yang selama ini mereka banggakan, suasananya sunyi senyap. Di atas meja marmer ruang tamu, tiga amplop putih bersih berjajar rapi di samping sebuah gantungan kunci rumah.

Ramon merobek amplop pertama dengan tangan gemetar.

Surat Pemberitahuan Pengosongan Properti: Dengan ini diberitahukan bahwa aset properti berupa tanah dan bangunan yang berlokasi di kawasan Menteng ini adalah milik sah atas nama Elena Magsino-Dela Cruz. Mengingat adanya proses pemisahan aset, penghuni saat ini diberi waktu 3 x 24 jam untuk mengosongkan rumah.

“A-apa ini… Ini pasti lelucon!” Ramon berteriak, suaranya menggema di langit-langit rumah yang tinggi. Ia merobek amplop kedua yang ditujukan untuk Adrian.

Di dalamnya ada salinan akta otentik Dela Cruz Builders. Lembar demi lembar menunjukkan struktur kepemilikan yang sah: Elena Magsino-Dela Cruz: 64% Saham Mutlak. Ramon hanya memegang 26%, dan Adrian hanya 10% sisa saham kosong. Di bawahnya, terdapat surat pembekuan fasilitas kartu kredit korporat dan penyitaan tiga unit mobil mewah, termasuk van yang mereka gunakan hari itu.

“Ma… Mama memblokir semua kartu kita?” Bianca berteriak histeris saat melihat notifikasi penolakan transaksi di ponselnya. “Bagaimana dengan arisan saya? Bagaimana dengan uang sekolah Nico di international school?”

Cucunya, Nico, mulai menangis ketakutan melihat kepanikan orang tuanya. Ia melihat ke arah sofa, tempat di mana beberapa jam lalu ia membentak neneknya karena takut baju mahalnya rusak. Baju mahal yang dibeli dari uang yang ternyata… milik neneknya sendiri.

Ramon mencoba menelepon Elena. Satu kali. Dua kali. Sepuluh kali.

Hanya nada sibuk yang terdengar.

Tepat saat itu, sebuah pesan teks masuk ke ponsel Ramon dari nomor yang tidak dikenal. Itu dari Mara Villanueva, pengacara Elena.

“Selamat malam, Pak Ramon. Klien saya, Ibu Elena, saat ini sudah berada di tempat yang aman. Besok pagi, tim hukum kami akan mendaftarkan gugatan cerai sekaligus gugatan pembagian harta gono-gini dan audit forensik terhadap Dela Cruz Builders atas dugaan pengalihan dana ke pihak ketiga (Trisha). Oh, dan satu hal lagi… besok pagi jam 08.00, silakan serahkan kunci Mercedes dan Alphard kepada kurir kami. Selamat menikmati malam ulang tahun Anda.”

Ramon terduduk lemas di lantai ruang tamu. Dasi mahalnya terasa mencekik lehernya. Ia menatap sekeliling rumah mewah itu, yang kini terasa asing dan dingin.

Selama empat puluh tahun, ia mengira dirinyalah sang raja. Ia mengira Elena hanyalah wanita kampung yang beruntung ia nikahi. Ia lupa bahwa tanpa pondasi kuat yang dibangun oleh jemari kasar istrinya, istana megah ini tidak akan pernah ada.

Di dalam bus yang terus melaju membelah malam menuju pedesaan, Elena menatap ke luar jendela. Gaun putih melatinya sedikit kusut, tangannya yang kasar beristirahat dengan tenang di atas pangkuannya.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia menarik napas tanpa rasa sesak. Mereka menginginkannya tinggal di rumah karena pakaiannya dianggap memalukan—namun malam ini, mereka baru sadar bahwa tanpa “wanita memalukan” itu, mereka bahkan tidak punya rumah untuk pulang.