Posted in

Mertuaku Yakin Aku Tak Akan Pernah Meninggalkan Putranya. Karena Itu, Ia Menyuruhku Berdiri di Depan Seluruh Tamu Pesta dan Memaksaku Berlutut Sambil Mengangkat Gelas. Namun, Hanya Dengan Satu Panggilan Telepon Dariku, Musik Langsung Terhenti dan Seluruh Keluarganya Membeku

Mertuaku Yakin Aku Tak Akan Pernah Meninggalkan Putranya. Karena Itu, Ia Menyuruhku Berdiri di Depan Seluruh Tamu Pesta dan Memaksaku Berlutut Sambil Mengangkat Gelas. Namun, Hanya Dengan Satu Panggilan Telepon Dariku, Musik Langsung Terhenti dan Seluruh Keluarganya Membeku

Bagian 1: Pada Ulang Tahun ke-60 Ayah Mertuaku, Ibu Mertuaku Mempermalukanku di Depan Semua Tamu. Namun, Ia Tidak Tahu Siapa Sebenarnya Wanita Pendiam yang Sedang Ia Paksa Berlutut Itu

Ibu mertuaku sangat yakin bahwa aku tidak akan pernah berani menceraikan putranya.

Dalam pikirannya, aku tidak punya tempat untuk pergi.

Tidak ada orang tua yang akan menerimaku kembali.

Tidak ada saudara yang akan menolongku.

Aku juga tidak memiliki nama keluarga terpandang yang bisa kubanggakan di hadapan orang-orang yang gemar mengukur harga diri seorang wanita dari latar belakang keluarganya.

Karena itulah, malam itu, di tengah pesta meriah ulang tahun ke-60 ayah mertuaku, ia dengan percaya diri menunjukku menggunakan gelas anggur yang sedang dipegangnya.

“Mara, berdiri.”

Separuh ruangan acara langsung terdiam.

Kami sedang berada di sebuah gedung acara privat di Tagaytay. Udara di luar terasa sejuk, tetapi di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, babi panggang utuh, bunga-bunga segar, dan senyum-senyum palsu.

Seluruh kerabat keluarga Del Rosario duduk di meja-meja panjang dengan pakaian terbaik mereka. Rasanya mereka datang bukan untuk memberi ucapan selamat, melainkan untuk menunjukkan siapa yang paling terpandang di keluarga besar itu.

Di tengah panggung tergantung spanduk besar bergambar ayah mertuaku.

“Selamat Ulang Tahun ke-60, Don Ernesto Del Rosario.”

Di bawahnya duduk istrinya, Doña Victoria Del Rosario.

Wanita yang selama tiga tahun terakhir terus membuatku merasa bahwa aku tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini.

Ia mengenakan setelan hijau zamrud dengan sulaman benang emas. Kalung berlian di lehernya berkilau, bedaknya begitu tebal, dan tatapannya kepadaku seolah mengatakan bahwa ia telah lama menunggu momen ini.

Di sampingnya duduk suamiku, Paolo.

Ia hanya diam.

Kepalanya tertunduk.

Tangannya sibuk mengupas udang untuk diletakkan di piring ibunya.

Bahkan ia tidak menoleh sedikit pun ke arahku.

“Apa kau tidak dengar?”

Aku pun berdiri dari kursiku.

Di tanganku masih ada segelas jus calamansi. Gelas itu terasa dingin, tetapi tatapan seluruh keluarga mereka jauh lebih dingin daripada es.

Doña Victoria tersenyum.

Itu bukan senyum seorang ibu mertua kepada menantunya.

Itu adalah senyum seseorang yang yakin ia sudah menggenggam hidupmu.

“Sudah tiga tahun kau menjadi istri anakku, tapi sampai sekarang kau belum juga memberi kami seorang cucu.”

Beberapa tamu saling berpandangan.

Sebagian menundukkan kepala, berpura-pura tidak mendengar.

Namun, keluarga Paolo tampak jelas menikmati pemandangan itu.

Terutama Bianca, sepupunya yang selalu memandangku dengan tatapan meremehkan setiap kali kami bertemu.

“Tante, pelan-pelan dong. Nanti Kak Mara menangis lagi.”

Beberapa orang langsung tertawa.

Aku tetap diam.

Aku sudah terbiasa.

Selama tiga tahun menjalani pernikahan dengan Paolo, aku belajar bahwa tidak semua hinaan harus langsung dibalas.

Terkadang, diam yang tepat justru lebih tajam daripada seribu kata.

“Bukan cuma soal cucu.”

Doña Victoria meletakkan gelasnya di atas meja dengan sengaja hingga menimbulkan suara keras.

“Kau sama sekali tidak berguna bagi keluarga ini. Kau tidak pandai bergaul. Kau tidak tahu berterima kasih. Dan minggu lalu aku bahkan mendengar kau mengatakan kepada anakku bahwa kau ingin bercerai.”

Seolah ada tangan dingin yang menyentuh tengkukku.

Aku tidak menyangka Paolo menceritakan hal itu kepada ibunya.

Kupikir percakapan kami sebagai suami istri di dalam kamar akan tetap menjadi rahasia di antara kami berdua.

Ternyata aku salah.

Di rumah itu, bahkan luka yang kusimpan pun selalu dilaporkan kepada ibunya.

“Bu, jangan sekarang…”

Suara Paolo terdengar pelan.

Itu bukan pembelaan.

Ia hanya memohon agar ibunya tidak membuat keributan terlalu besar.

Dua hal itu sangat berbeda.

Doña Victoria pun menoleh ke arahnya….

Doña Victoria menoleh ke arahnya, memberikan tatapan tajam yang langsung membungkam mulut Paolo seketika.

“Diam, Paolo! Ibu sedang mendidik istrimu yang tidak tahu diuntung ini!” ketusnya, sebelum kembali mengarahkan pandangan matanya yang penuh racun kepadaku.

“Kau ingin bercerai, Mara? Silakan! Tapi sebelum kau keluar dari pintu rumah kami, kau harus tahu diri. Angkat gelasmu, berlutut di depan suamimu dan ayah mertuaku, lalu minta maaf atas kelancanganmu karena telah mengacaukan kebahagiaan keluarga ini!”

Suasana di aula privat itu seketika membeku. Musik klasik yang mengalun lembut dari sudut ruangan terasa kontras dengan ketegangan yang merayap di setiap meja.

Bianca tersenyum puas, melipat tangannya di dada sambil menanti kehancuranku. Kerabat yang lain mulai berbisik-bisik, menatapku dengan kasihan, seolah-olah aku adalah seekor semut yang siap diinjak oleh sepatu mahal Doña Victoria.

Aku menatap Paolo, berharap setidaknya ada satu percikan harga diri di matanya sebagai seorang suami. Namun, ia justru memalingkan wajah, berpura-pura sibuk memotong daging di piringnya.

Di sinilah aku. Tiga tahun mengorbankan mimpiku, memasak untuk mereka, membersihkan rumah, dan menahan setiap makian demi seorang pria yang bahkan tidak berani menatap mataku saat ibunya menginjak-injak harga diriku.

Doña Victoria benar tentang satu hal: aku memang tidak memiliki orang tua yang akan menerimaku kembali, karena mereka sudah tiada. Aku juga tidak memakai nama besar keluargaku selama tiga tahun ini karena aku ingin hidup sederhana bersama Paolo.

Namun, ia salah besar jika mengira aku tidak punya tempat untuk pergi.

Sebuah Panggilan Telepon

Aku tidak berlutut. Aku justru meletakkan gelas jus calamansi di tanganku ke atas meja dengan sangat perlahan.

Aku merosotkan tangan ke dalam tas kecilku, mengambil ponsel, dan menekan satu tombol panggilan cepat. Aku menyalakan pengeras suara agar seluruh ruangan bisa mendengar.

Telepon itu hanya berdering sekali sebelum diangkat oleh sebuah suara bariton yang tegas dan penuh wibawa di seberang sana.

“Halo, Nona Mara. Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?”

Mendengar suara itu, wajah Don Ernesto—ayah mertuaku yang sejak tadi hanya diam menikmati cerutunya—mendadak berubah. Cerutu di tangannya hampir saja terjatuh. Ia mengenali suara itu. Sangat mengenali suara pengacara korporat nomor satu di negara ini, Atty. Alejandro Santos.

“Atty. Santos,” kataku dengan suara yang sangat tenang, namun mematikan. “Batalkan seluruh investasi sebesar 200 juta peso di Del Rosario Logistics malam ini juga. Tarik semua saham atas nama ibuku dari perusahaan mereka. Dan siapkan surat cerai untuk Paolo Del Rosario. Aku ingin semuanya selesai sebelum fajar.”

“Baik, Nona Mara. Perintah Anda segera dilaksanakan. Pihak bank dan manajemen bursa akan langsung membekukan aset mereka dalam waktu lima menit,” jawab Atty. Santos dengan patuh sebelum memutus panggilan.

Seluruh Ruangan Membeku

Keheningan total.

Bahkan angin malam Tagaytay yang berembus masuk lewat jendela pun terasa berhenti. Musik dari pemain piano di sudut ruangan mendadak terhenti karena sang pianis ikut terpaku melihat situasi di dalam ruangan.

Doña Victoria tertawa hambar, mencoba menutupi kepanikannya. “Hah! Sandiwara apa ini? Kau pikir kau bisa menakuti kami dengan menelepon orang acak dan berpura-pura menjadi kaya? Jangan mimpi, Mara!”

Namun, tawa Doña Victoria terhenti saat ponsel Don Ernesto di atas meja bergetar hebat. Tidak hanya ponsel Don Ernesto, ponsel Paolo dan beberapa kerabat yang memegang saham di perusahaan keluarga mereka juga berbunyi bersamaan secara beruntun.

Don Ernesto mengangkat teleponnya dengan tangan yang gemetar hebat.

“H-halo? Apa?! Direktur Bank Central membekukan kredit kita? Investor utama menarik diri?! Bagaimana dengan proyek pelabuhan?!” Don Ernesto berteriak panik, wajahnya yang tadi kemerahan akibat alkohol mendadak pucat pasi.

Ia menatapku dengan mata terbelalak, napasnya memburu. “M-Mara… k-kau… kau anak dari mendiang Senator Santiago?!”

Mendengar nama itu, wajah Doña Victoria langsung kehilangan seluruh warnanya. Senator Santiago adalah sang mogul bisnis real estate terbesar yang mendanai hampir seluruh lini usaha logistik di wilayah ini—pria yang namanya terlalu besar untuk disentuh oleh keluarga kelas menengah seperti Del Rosario.

Paolo langsung berdiri dari kursinya, menatapku dengan tatapan kosong dan penuh penyesalan. “Mara… kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu…”

“Kalau aku adalah pemilik sah dari seluruh modal yang menghidupi keluargamu?” potongku, menatapnya dengan senyum tipis. “Karena aku ingin melihat, apakah kalian mencintaiku sebagai manusia, atau hanya sebagai alat.”

Aku melangkah maju, mendekati meja utama. Di depan Doña Victoria yang kini gemetar hingga perhiasannya berdenting, aku menuangkan sisa jus calamansi dingin di gelasku tepat ke atas piring makan malamnya yang mewah.

“Tiga tahun lalu aku datang ke rumah ini dengan cinta, dan malam ini aku pergi dengan membawa kembali semua yang menjadi milikku,” kataku, menatap lurus ke mata wanita tua yang kini tampak begitu kecil di hadapanku.

“Paolo, kita selesai. Dan untuk Anda, Doña Victoria… nikmati sisa malam ini, karena besok, rumah mewah kalian ini akan disita oleh pihak bank.”

Aku membalikkan badan, berjalan melewati Bianca yang kini menunduk ketakutan, dan melangkah keluar dari aula privat itu dengan kepala tegak. Di belakangku, terdengar suara Don Ernesto yang berteriak histeris menyalahkan istrinya, namun langkahku sudah terlalu jauh untuk peduli.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.