Pacar onlineku tidak pernah mengirimiku foto.
Selama setahun, kami hanya berpacaran melalui pesan teks.
Namun pada hari pertemuan pertama kami, aku terkejut melihatnya berdiri di antara ribuan orang di auditorium.
Aku selalu berpikir pacar onlineku berbohong.
Hari itu, aku pergi ke auditorium universitas untuk menonton sepupuku, Marco Reyes, berkompetisi dalam debat antar perguruan tinggi.
Sambil menunggu kompetisi dimulai, aku mengirim pesan kepada pacar onlineku.
“Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?”
Dia membalas dengan cepat.
“Aku sedang berpartisipasi dalam kompetisi hari ini.”
Aku tersenyum.
“Kebetulan sekali! Aku juga menonton kompetisi.”
“Benarkah? Aku harap timmu menang!”
Aku membalas dengan gembira.
“Kamu juga! Semoga beruntung!”
Tiba-tiba, penyiar memanggil nama tim berikutnya.
Marco naik ke panggung diiringi tepuk tangan meriah.
Aku langsung berdiri.
“Marco! Kamu berhasil! Kamu yang terbaik!” Suaraku menggema di seluruh auditorium.
Tiba-tiba, seorang pemuda lain yang sedang bersiap naik panggung untuk tim lawan terdiam.
Dokumen di tangannya jatuh ke lantai.
Kompetisi berlangsung selama lebih dari dua jam.
Tim Marco akhirnya menang dengan selisih tipis.
Aku berlari ke belakang panggung dan memberinya sebotol air.
“Kau hebat!”
Marco tersenyum dan mengacak rambutku.
“Kenapa kau di sini?”
“Aku sedang memfotokopi di dekat sini, jadi aku mampir.”
Rekan-rekan timnya memperhatikanku.
“Apakah itu sepupumu?”
“Dia sangat imut.”
“Perkenalkan kami.”
Marco tiba-tiba berdiri di depanku.
“Jangan terlalu dekat dengannya.”
Semua orang tertawa.
Aku sudah terbiasa.
Marco selalu melindungiku sejak kecil.
Aku hendak pulang ketika seseorang menabrakku dengan keras.
Bang!
Ponselku jatuh ke lantai.
“Aduh!” Kami berdua membungkuk untuk mengambilnya bersamaan.
Tangan kami bersentuhan.
Saat aku mendongak, aku membeku.
Dia adalah pemimpin tim lawan.
Orang yang menjatuhkan berkas tadi.
Dia tinggi.
Matanya tajam dan dingin.
“Maaf…”
Aku meminta maaf secara naluriah.
Tapi Marco sudah berdiri di sampingku.
“Apa yang kau lakukan pada sepupuku?”
“Dia memukulku,”
jawab pria itu dengan tenang.
Suasana menjadi tegang.
Mereka saling menatap tajam.
Seolah-olah satu kata saja bisa memicu perkelahian.
Aku segera meraih lengan Marco.
“Aku baik-baik saja.”
Pria itu tidak mengatakan apa pun lagi.
Dia hanya menatapku.
Dan itu membuatku semakin gugup.
Seolah-olah dia sedang mengkonfirmasi sesuatu.
Aku tidak tinggal lama di sana.
Aku segera pergi.
Sesampainya di asrama, aku langsung mengambil ponselku.
“Sayang!
Aku bertemu cowok yang benar-benar menakutkan hari ini!”
Aku mengirim pesan.
Tidak ada balasan.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Masih hening.
Aku mulai bertanya-tanya.
Karena biasanya dia membalas dengan cepat.
Tiba-tiba, teman sekamarku masuk.
“Kamu menonton debatnya?”
“Ya.”
“Wow, dua senior jenius itu keren sekali!”
“Dua jenius?”
“Hmm? Kamu tidak kenal mereka?”
Mereka segera membuka papan pesan universitas.
Dua gambar muncul di layar.
Gambar pertama adalah Marco. Dan gambar kedua…
Tubuhku langsung menegang.
Dia.
Pria yang menabrakku tadi.
Teman-temanku mulai bercerita dengan antusias. “Itu Ethan Castillo!”
“Mahasiswa terbaik di universitas!”
“Keluarganya kaya.”
“Tampan, pintar, dia punya segalanya.”
“Dan yang terpenting, dia tidak pernah memperkenalkan pacarnya kepada siapa pun.”
Aku mengangguk.
Tapi aku tidak bisa menjelaskan mengapa pikiranku tiba-tiba menjadi kacau.
Ponselku bergetar.
Pacarku akhirnya membalas.
“Maaf, sayang.”
“Aku baru saja selesai kompetisi, jadi aku tidak bisa banyak bicara.”
Aku membeku.
Kompetisi?
Mataku langsung tertuju pada foto Ethan di papan pesan.
Seluruh jadwal kompetisi tercantum di sana.
Itu persis waktu yang sama saat aku berbicara dengan pacarku.
Aku membuat tebakan yang aneh.
Dengan jari-jari gemetar, aku mengetik:
“Sayang…”
“Kompetisi apa yang kamu ikuti hari ini?”
Aku baru saja mengirim pesan ketika aku mendengar sorak-sorai dari para mahasiswa di luar asrama.
Aku keluar ke balkon.
Dan kemudian aku membeku.
Sebuah mobil mewah hitam terparkir di depan gedung. Seorang pria tinggi keluar dari mobil.
Mataku membelalak.
Ethan Castillo.
Pria yang kulihat di papan pesan.
Pria yang tadi menabrakku.
Ia perlahan mendongak.

Dan menatapku langsung.
Seolah-olah, di tengah keramaian, akulah satu-satunya yang ia lihat.
Pada saat yang sama, ponselku bergetar lagi.
Sebuah pesan baru dari pacarku di dunia maya.
“Bisakah kita bertemu malam ini?”
Aku membeku.
Karena saat pesan itu muncul…
Ethan perlahan mengangkat ponsel di tangannya.
Dan ia tersenyum.
Seolah menunggu balasanku…
…seolah sedang menunggu jawabanku dari bawah sana.
Jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar. Seluruh tubuhku kaku, sementara embusan angin malam asrama mendadak terasa dingin menembus kulit. Ethan Castillo… cowok dingin yang ditakuti sekaligus dipuja seantero kampus… adalah pacar online-ku yang super perhatian selama satu tahun ini?!
Teman-teman sekamarku yang ikut keluar ke balkon langsung histeris. “Demi apa?! Itu Ethan Castillo, kan? Kenapa dia ada di depan asrama kita?!” “Dia sedang melihat ke arah siapa?! Tolong, aku bisa pingsan kalau ditatap seperti itu!”
Mereka tidak tahu bahwa tatapan tajam dan intens itu terkunci lurus padaku. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku mengetik balasan di layar ponselku.
“Kamu… ada di bawah asramaku sekarang?”
Dari atas balkon, aku bisa melihat Ethan menunduk sejenak membaca pesanku. Senyum tipis kembali terukir di wajah tampannya yang diterangi lampu jalan. Jarinya bergerak cepat di atas layar, dan sedetik kemudian ponselku bergetar lagi.
Pacarku: Ya. Maaf karena selama ini tidak pernah mengirim foto. Aku hanya ingin memastikan kamu menyukaiku karena diriku, bukan karena status atau wajahku. Dan tadi… saat mendengar suaramu meneriakkan nama Marco di auditorium, aku langsung tahu itu kamu.
Aku membeku. Jadi, berkas-berkasnya yang jatuh berserakan di panggung tadi… itu karena dia terkejut mengenali suaraku? Dan insiden tabrakan di koridor itu… dia sengaja melakukannya untuk memastikan wajahku?
Ingatan tentang bagaimana dia menatapku dengan begitu dalam di koridor tadi membuat wajahku seketika memerah panas.
Pacarku: Jadi, bisakah kamu turun? Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu, Sayang.
Membaca kata “Sayang” yang biasa ia kirimkan lewat chat, namun kini diasosiasikan dengan sosok nyata sekelas Ethan Castillo, membuat keberanianku mendadak kumpul. Tanpa memedulikan tatapan bingung dan seruan interogasi dari teman-teman sekamarku, aku langsung berbalik, menyambar jaket, dan berlari keluar kamar.
Pertemuan yang Nyata
Aku berlari menuruni anak tangga asrama dengan napas memburu. Begitu pintu lobi utama terbuka, hawa malam menyambutku, bersama dengan sosok Ethan yang berdiri bersandar di mobil hitamnya.
Kerumunan mahasiswa di sekitar sana berbisik-bisik, namun Ethan mengabaikan mereka semua. Begitu melihatku keluar, dia langsung menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya yang tadi dinilai dingin oleh teman-temanku, kini berubah menjadi begitu hangat dan lembut—tatapan yang hanya ditujukan untukku.
Aku berjalan mendekat dengan ragu, mendadak merasa sangat kecil di hadapannya. “Ethan…”
“Akhirnya kita bertemu secara langsung, Callista,” suaranya terdengar begitu dalam dan familier, persis seperti bayanganku selama ini.
Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Tanpa ragu, tangan panjangnya menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Tubuhnya hangat, aroma parfumnya yang maskulin dan elegan langsung mendekap indra penciumanku. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup sama kencangnya dengan jantungku.
“Maaf membuatmu menunggu satu tahun,” bisiknya di dekat telingaku, membuat bulu kudukku meremang. “Dan maaf soal insiden di koridor tadi. Aku hanya terlalu terkejut karena pacar online-ku ternyata adalah sepupu dari rival debat terbesarku.”
Aku melepaskan pelukan dan mendongak, menatap garis rahangnya yang tegas. “Kamu tahu… Marco bisa mengamuk kalau dia tahu tentang ini.”
Ethan terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat seksi. Ia meraih jemari tanganku, menyatukannya dengan jemarinya yang besar dan hangat.
“Aku bisa memenangkan debat tersulit di universitas ini, Callista. Menghadapi sepupumu demi mempertahankanmu… tentu bukan masalah besar bagiku,” ujarnya dengan nada penuh percaya diri, matanya berkilat penuh kesungguhan.
Malam itu, di bawah langit bertabur bintang dan di depan seluruh pasang mata yang memandang iri, aku tahu bahwa hubungan online kami yang penuh rahasia telah berakhir, dan sebuah cerita baru yang jauh lebih nyata—dan menantang—baru saja dimulai.