Posted in

PADA HARI NENEK MENINGGAL, HAL PERTAMA YANG KULAKUKAN BUKAN MENANGIS—AKU MELEPAS KALUNGNYA. TANPA DIKETAHUI KELUARGAKU, ITU ADALAH CARA TERAKHIR NENEK UNTUK MENYELAMATKANKU

PADA HARI NENEK MENINGGAL, HAL PERTAMA YANG KULAKUKAN BUKAN MENANGIS—AKU MELEPAS KALUNGNYA. TANPA DIKETAHUI KELUARGAKU, ITU ADALAH CARA TERAKHIR NENEK UNTUK MENYELAMATKANKU

Pada hari Nenek meninggal, hal pertama yang kulakukan bukanlah menangis.

Aku melepaskan kalung emas tipis dari lehernya.

Setelah itu, aku mencabut ubin longgar di belakang tungku tua, mengambil uang yang dibungkus tiga lapis plastik, dan barulah aku menelepon Ayah.

Ketika mereka tiba di rumah, mereka bahkan tidak melihat jenazah Nenek terlebih dahulu.

Yang pertama mereka buka adalah lemari.

Nenek mengembuskan napas terakhirnya menjelang senja, di rumah kecil kami di sebuah desa.

Masih ada ubi rebus yang mengepul di atas tungku. Aku duduk di samping ranjangnya, memegang mangkuk kecil berisi nasi dan garam. Sudah beberapa hari tubuhnya lemah, tetapi dia tetap memaksakan diri tersenyum dan berkata,

“Aku masih kuat, Nak. Kamu makan dulu.”

Aku mendengarnya menarik napas panjang.

Satu.

Dua.

Lalu seluruh rumah menjadi sunyi.

Aku tidak langsung berdiri. Aku meletakkan mangkuk itu di bangku kecil terlebih dahulu. Kemudian aku mendekatinya dan menatap wajahnya yang kurus, bibirnya yang sedikit terbuka, dan matanya yang belum sepenuhnya terpejam.

“Nenek,” bisikku.

Tidak ada jawaban.

Aku mengangkat tangan dan perlahan menutup kedua matanya.

Dua usapan lembut.

Persis seperti yang pernah kulihat di rumah duka tetangga.

Lalu tanganku turun ke lehernya.

Kalung itu masih ada di sana.

Tipis, tetapi emas asli.

Itulah satu-satunya benda berharga yang tersisa milik Nenek.

Berkali-kali aku mendengar Ibu berkata,

“Kalau wanita tua itu meninggal, kalung itu milikku. Aku menantunya.”

Tetapi aku tahu kalung itu bukan untuknya.

Pengait kalung itu cukup keras. Saat akhirnya berhasil kulepas, telapak tanganku terasa berat.

Aku menyembunyikannya di balik kaus dalamku, menempel pada kulitku.

Dingin.

Keras.

Seolah-olah itu adalah jantung Nenek yang belum ingin pergi jauh dariku.

Setelah itu, aku menuju ke belakang tungku.

Ada satu ubin yang sudah lama goyah.

Nenek mengira aku tidak tahu.

Tetapi setiap malam, saat dia mengira aku sudah tidur, aku melihatnya berjongkok di sana dan menyelipkan sesuatu ke bawah ubin itu.

Aku mencabut ubin tersebut.

Di bawahnya ada sebuah plastik yang dibungkus lagi dengan dua lapis plastik lainnya.

Di dalamnya terdapat lembaran uang dengan lipatan yang berbeda-beda.

Aku menghitungnya dengan jari yang gemetar.

Empat belas ribu enam ratus tiga puluh peso.

Aku membaginya.

Sepuluh ribu peso kuselipkan ke dalam kausku bersama kalung itu.

Sisanya kubungkus kembali dengan rapi dan kukembalikan ke bawah ubin.

Lalu aku mengambil ponsel tua di samping tungku.

Aku menelepon Ayah.

Delapan kali dering sebelum dia menjawab.

“Ada apa lagi?” tanyanya dingin.

“Ayah,” kataku, “Nenek sudah tiada.”

Dia terdiam sesaat.

“Kapan?”

“Baru saja.”

“Kamu yakin?”

“Dia sudah tidak bernapas.”

Dari belakang, aku mendengar suara Ibu.

Aku tidak bisa memahami apa yang dia katakan, tetapi aku langsung merasakan nada kesal dalam suaranya.

“Kami pulang malam ini,” kata Ayah.

Lalu dia menutup telepon.

Aku duduk di samping tungku dan memakan ubi rebus itu perlahan.

Tanpa air mata.

Bukan karena aku tidak sedih.

Tetapi karena aku tahu, jika aku mulai menangis, mungkin aku tidak akan mampu berdiri lagi.

Sekitar pukul sembilan malam, cahaya senter menembus celah pintu.

Ayah masuk.

Ibu menyusul di belakangnya.

Mereka hanya melihat jenazah Nenek selama satu detik.

Lalu Ibu langsung menuju peti tua tempat menyimpan barang-barang.

“Di mana semua barangnya?” tanyanya sambil mengobrak-abrik pakaian.

“Hanya ini? Kain-kain bekas?”

Dia melempar daster tua, selimut tambal-sulam, dan kantong kecil berisi koin ke lantai.

Ayah mendekatiku.

Dia menyorotkan senter ke wajahku.

“Apakah Nenekmu menyembunyikan uang?”

Aku memejamkan mata karena silau.

“Aku tidak tahu.”

“Tidak tahu?” suaranya meninggi. “Sebelas tahun kamu tinggal di sini dan kamu tidak tahu?”

“Dia tidak pernah memberitahuku.”

Dari arah peti, Ibu berteriak,

“Memang ada uang! Tapi cuma seribu lebih sedikit! Apa-apaan ini?”

Dia berdiri dan menghampiriku.

“Kalungnya di mana?” tanyanya.

Dadaku terasa nyeri, tetapi aku tidak menyentuh kausku.

“Kalung apa?”

“Jangan pura-pura, Mira. Bulan lalu aku masih melihatnya memakainya. Kalung emas tipis itu.”

Aku mundur sedikit.

Bukan karena takut.

Aku hanya harus terlihat takut.

“Mungkin diberikan kepada Tante Lorna,” kataku. “Bulan lalu dia membawa dua ekor ayam untuk Nenek. Mereka lama sekali mengobrol di kamar.”

Wajah Ibu langsung memerah.

“Dasar wanita itu!” teriaknya. “Aku kira dia baik, ternyata hanya menunggu si tua mati!”

Dia terus mengumpat tanpa henti.

Sementara Ayah hanya menatapku.

Lalu dia meremas lenganku kuat-kuat.

“Benar? Bukan kamu yang mengambilnya?”

Aku menatap matanya.

“Ayah, aku masih anak-anak. Untuk apa aku mengambil kalung itu?”

Dia menatapku lama.

Lalu melepaskan pegangannya.

Dia percaya.

Karena di matanya, aku hanyalah gadis kecil berusia sebelas tahun.

Tidak punya kekuatan.

Tidak punya koneksi.

Dan tidak cukup berani untuk berbohong.

Dia tidak tahu bahwa Neneklah yang mengajariku kapan harus diam.

Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, sebuah van kecil datang.

Mereka membawa jenazah Nenek tanpa pakaian baru, tanpa bunga, tanpa doa yang layak.

Dia bahkan masih mengenakan gaun pudar yang biasa dipakainya saat menyiram tanaman.

Saat siang, Ayah dan Ibu kembali membawa sebuah guci abu-abu yang tergores di sisinya.

“Biaya kremasinya tiga ribu peso,” kata Ayah sambil meletakkannya di atas meja.

Dia menatapku seolah aku berutang uang itu kepadanya.

Kemudian Ibu duduk di kursi bambu dan berbicara dengan suara yang dibuat lembut.

“Mira, kamu sudah besar. Tahun depan umurmu dua belas tahun. Tinggallah di sini saja. Ada kebun di belakang. Kamu juga sudah bisa memasak.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana dengan sekolahku?”

“Ada sekolah dasar di desa sebelah. Jalan kaki saja.”

“Aku sudah kelas enam.”

“Ya selesaikan saja. Setelah itu terserah. Kamu perempuan, tidak perlu sekolah tinggi.”

Ayah mengeluarkan selembar uang seratus peso dan beberapa koin.

Dia meletakkannya di meja.

“Hemat-hematlah. Kami akan kembali kalau ada waktu.”

Aku tahu mereka tidak akan kembali.

Saat mereka pergi, Ibu membawa dua selimut milik Nenek dan sebuah jaket tua.

“Sayang kalau dibuang,” katanya. “Masih bisa dipakai.”

Dia bahkan tidak menoleh kepadaku.

Ketika becak motor mereka menghilang di ujung jalan, aku menutup pintu.

Aku mengambil uang dari bawah ubin.

Lalu mengeluarkan sepuluh ribu peso dan kalung yang kusimpan di balik kausku.

Empat belas ribu tujuh ratus tiga puluh peso.

Satu kalung emas.

Dan seratus peso dari Ayah.

Itulah seluruh duniaku.

Aku meletakkan semuanya di lantai dan menatapnya lama.

Lalu terdengar ketukan.

Tiga ketukan pelan dari halaman belakang.

Aku berdiri dan berjalan perlahan ke jendela.

Di luar, dalam gerimis malam, berdiri Kak Pia, putri sulung tetangga kami yang bersekolah di kota.

Tubuhnya basah kuyup.

Di tangannya ada sebuah amplop tua.

“Mira,” bisiknya, “sebelum Nenekmu meninggal, beliau menitipkan sesuatu untukmu.”

Dia membuka amplop itu.

Dan saat aku membaca kalimat pertama di surat tersebut, seluruh tubuhku membeku.

Di sana tertulis:

“Jika kamu membaca surat ini, berarti mereka sudah mengambil jasadku. Tetapi mereka belum menemukan apa yang sebenarnya kusimpan.”

Aku membuka jendela lebih lebar, membiarkan gerimis malam membasahi wajahku yang kaku. Tanganku gemetar saat menerima amplop tua yang disodorkan Kak Pia.

“Nenekmu datang ke rumahku dua minggu lalu, Mira,” bisik Kak Pia, suaranya parau tertelan suara rintik hujan. “Beliau tahu waktunya tidak lama lagi. Beliau memohon kepadaku untuk menyimpan surat ini dan menyerahkannya kepadamu tepat setelah orang tuamu pergi dari rumah ini. Nenekmu bilang… ini satu-satunya cara agar kamu bisa bertahan hidup.”

Setelah membisikkan kata-kata itu, Kak Pia berpamitan dan menghilang di kegelapan malam, meninggalkanku sendirian dengan surat di tangan.

Aku mengunci jendela, lalu duduk di lantai bambu dekat tungku yang mulai mendingin. Di bawah temaram lampu minyak, aku membuka lipatan kertas kusam di dalam amplop itu. Tulisan tangan Nenek gemetar, namun setiap garisnya terukir dengan ketegasan seorang wanita yang menghabiskan seumur hidupnya untuk bertahan kesendirian.

“Mira, cucuku sayang.

Jika kamu membaca surat ini, berarti mereka sudah mengambil jasadku. Tetapi mereka belum menemukan apa yang sebenarnya kusimpan.

Jangan menangis, anakku. Dengarkan Nenek baik-baik. Uang di bawah ubin dan kalung emas di leher Nenek hanyalah umpan. Nenek tahu ibumu serakah, dan nenek sengaja membiarkan mereka fokus mencari benda-benda itu agar perhatian mereka teralih dari harta yang sesungguhnya.

Ayah dan ibumu berencana menjualmu kepada keluarga kaya di kota untuk dijadikan pelayan seumur hidup setelah kamu lulus sekolah dasar. Mereka sudah menerima uang mukanya bulan lalu. Itulah alasan mengapa mereka membiarkanmu tinggal sendiri di desa ini; mereka hanya menunggumu sedikit lebih besar.

Nenek tidak akan membiarkan masa depanmu dihancurkan oleh mereka seperti mereka menghancurkan hidup Nenek dulu. Kamu harus lari, Mira. Malam ini juga.

Pergilah ke pohon mangga besar di sudut paling barat kebun belakang kita. Gali tanah tepat di bawah akar yang berbentuk seperti cakar naga. Di sana, Nenek mengubur sebuah kotak besi. Di dalamnya ada akta kelahiranmu yang asli, paspor lamamu yang pernah dibuat ibumu saat bayi, dan buku tabungan atas namamu yang berisi uang hasil penjualan tanah warisan kakekmu di kota utara—uang yang tidak pernah nenek ceritakan pada ayahmu.

Bawa kotak itu, bawa uang tunai yang berhasil kamu selamatkan, dan pergilah ke terminal bus kota sebelum fajar. Kak Pia sudah berjanji akan mengantarmu dan membantumu naik bus menuju rumah Tante Lorna di provinsi seberang. Tante Lorna sudah tahu segalanya dan dia akan melindungimu.

Jangan pernah menoleh ke belakang, Mira. Jadilah wanita yang kuat dan berpendidikan. Kalung emas tipis yang kamu ambil dari leher Nenek adalah kunci untuk membuka kotak besi itu. Leburkan pengaitnya, di dalamnya ada kunci kecil yang nenek sembunyikan.

Nenek selalu bersamamu, mengalir di dalam darahmu. Larilah, demi kehidupanmu.”

Air mata yang sejak sore tadi kutahan, akhirnya tumpah membanjiri pipiku. Dadaku sesak, napas bisingku memenuhi ruangan yang sepi. Bukan karena sedih atas kepergian Nenek, melainkan karena rasa takjub dan haru yang luar biasa atas kasih sayang pria tua itu. Bahkan di saat-saat terakhir napasnya, ketika tubuhnya digerogoti rasa sakit, pikiran Nenek hanya terfokus pada satu hal: merancang pelarian yang sempurna untuk menyelamatkanku dari cengkeraman orang tuaku sendiri.

Aku segera menghapus air mataku. Tidak ada waktu untuk meratap.

Aku mengambil kalung emas tipis dari dalam kausku. Aku memperhatikan pengaitnya yang tebal dengan saksama. Dengan menggunakan tang kecil yang biasa digunakan Nenek untuk membetulkan sumbu kompor, aku menjepit dan menarik bagian tengah pengait tersebut.

Klik.

Sebuah selongsong emas kecil terbuka, dan dari dalamnya jatuh sebuah kunci besi kecil berkarat. Jantungku berdegup kencang. Nenek benar-benar telah memikirkan semuanya.

Tanpa membuang waktu, aku mengambil senter tua dan sebuah sekop kecil dari dapur. Aku melangkah keluar melalui pintu belakang, menerobos gerimis yang menusuk kulit. Malam begitu gelap, namun langkah kakiku terasa ringan, dipandu oleh rasa cinta Nenek yang membakar ketakutanku.

Aku sampai di pohon mangga besar di sudut kebun. Di bawah temaram senter, aku menemukan akar yang dimaksud—melingkar kokoh seperti cakar di atas tanah hitam. Aku berlutut dan mulai menggali.

Setelah tiga puluh menit mencangkul tanah yang basah, ujung sekopku menghantam sesuatu yang keras.

KLANG.

Aku membersihkan sisa-sisa tanah dengan tanganku. Sebuah kotak besi berukuran sedang, dibungkus kain terpal tebal, berhasil kuangkat ke permukaan. Dengan tangan gemetar karena dingin dan gembira, aku memasukkan kunci kecil dari kalung Nenek ke dalam lubang gemboknya.

Cklek.

Kotak itu terbuka. Di dalamnya, dilapisi kain beludru merah, terdapat dokumen-dokumen pentingku, selembar surat kuasa dari Nenek, dan sebuah buku tabungan. Aku membuka halaman terakhir buku tabungan itu. Angka yang tertera di sana membuat mataku terbelalak—jumlah yang lebih dari cukup untuk membiayai sekolahku hingga perguruan tinggi, bahkan untuk menyewa rumah yang layak di kota baru nanti.

Aku mendekap kotak itu di dadaku, menatap ke arah langit malam yang gelap. “Terima kasih, Nenek,” bisikku di tengah gemuruh angin malam.

Aku kembali ke dalam rumah, mengemas satu-satunya ransel sekolahku yang usang dengan beberapa pakaian, dokumen penting, uang tunai, dan guci abu abu-abu berisi abu Nenek. Aku tidak akan meninggalkan Nenek sendirian di rumah terkutuk ini. Kami akan pergi bersama, menuju kehidupan yang baru.

Pukul empat pagi, sebelum fajar menyingsing dan sebelum orang-orang desa terbangun, aku melangkah keluar dari rumah kecil itu dan mengunci pintunya untuk terakhir kali. Di ujung jalan, lampu motor Kak Pia sudah berkedip memberikan kode.

Aku berjalan menjauh tanpa menoleh ke belakang. Pada hari Nenek meninggal, aku tidak menangis demi meratapi kematiannya. Aku melangkah maju demi merayakan kebebasan yang telah dia hadiahkan kepadaku.