Posted in

Pada Hari Pernikahan Mantan CEO-ku dengan Asistennya, Mobil Pengantinku Melintas Tepat di Depan Mereka—Saat Ia Melihat Pria yang Menjadi Suamiku, Mawar di Tangannya Terjatuh ke Jalan, dan Dalam Sekejap Semuanya Berubah

Pada Hari Pernikahan Mantan CEO-ku dengan Asistennya, Mobil Pengantinku Melintas Tepat di Depan Mereka—Saat Ia Melihat Pria yang Menjadi Suamiku, Mawar di Tangannya Terjatuh ke Jalan, dan Dalam Sekejap Semuanya Berubah

Baru semalam berlalu, tetapi video itu sudah ditonton oleh hampir seluruh Jakarta.

Adrian Velasco, pria yang kucintai selama tujuh tahun, berlutut di tengah restoran rooftop di kawasan SCBD. Di tangannya ada sebuah cincin, sementara asistennya, Trisha Mendoza, menangis haru saat menerima lamaran itu.

Caption videonya berbunyi:

“CEO menemukan cinta sejatinya.”

Aku tidak menangis.

Aku juga tidak mengamuk.

Aku hanya mematikan layar ponsel, berdiri, lalu mencari Adrian.

Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya sendiri, sebenarnya apa posisiku dalam hidupnya.

Pacar?

Seseorang yang hanya diminta menunggu?

Atau hanya wanita yang sengaja disembunyikannya sementara ia mempersiapkan wanita lain untuk menjadi ratunya?

Selama tujuh tahun kami bersama.

Aku menemaninya sejak kantornya masih kecil di kawasan Sudirman.

Aku yang selalu membuatkan kopi saat ia begadang tiga hari berturut-turut.

Aku bahkan menjual semua perhiasanku ketika perusahaannya hampir bangkrut.

Namun selama tujuh tahun itu, ia tidak pernah mengenalkanku kepada keluarganya.

Ia tidak pernah mengajakku menghadiri acara keluarga.

Tidak pernah sekalipun mengunggah fotoku di media sosial.

Kalau ada yang bertanya siapa aku, jawabannya selalu sama.

“Hanya teman.”

Awalnya aku menerima alasan itu.

Katanya,

“Mika, aku harus membuktikan diriku dulu. Aku tidak ingin kamu terseret masalah keluargaku.”

Aku mempercayainya.

Karena ketika kita benar-benar mencintai seseorang, sering kali kita lebih mudah mempercayai alasannya daripada menerima kenyataannya.

Malam itu, pintu ruang VIP di kantornya terbuka sedikit.

Sebelum sempat masuk, aku sudah mendengar suaranya.

“Aku tidak punya pilihan,” kata Adrian. “Kalau aku tidak menikahi Trisha, ayahnya akan menikahkannya dengan rekan bisnis yang jauh lebih tua.”

Seorang pria tertawa.

“Lalu bagaimana dengan Mikaela? Tujuh tahun dia menemanimu. Tidak takut dia membuat keributan?”

Adrian menjawab tanpa ragu.

“Keributan apa? Dia tidak punya keluarga berpengaruh. Tidak ada tempat bergantung. Seberapa pun sakit hatinya, dia tidak akan pernah meninggalkanku.”

Dadaku terasa seperti disiram air es.

Ternyata…

Ia tidak pernah benar-benar mencintaiku.

Ia hanya terbiasa karena aku selalu ada.

Aku bukan wanita yang berharga.

Ia hanya terlalu yakin bahwa aku tidak akan pergi.

Aku pergi dari sana tanpa mengeluarkan suara.

Sesampainya di apartemen kecilku di kawasan Tebet, aku menelepon Mama.

“Ma,” kataku pelan, “aku bersedia bertemu dengan pria yang Mama kenalkan.”

Lama sekali Mama terdiam.

“Mika, beberapa hari yang lalu kamu masih menolak. Jangan jadikan pernikahan sebagai balas dendam.”

“Ini bukan balas dendam,” jawabku tenang. “Aku hanya lelah terus memilih seseorang yang tidak pernah memilihku.”

Mama menarik napas panjang.

“Namanya Gabriel Lim. Dia baik, pendiam. Keluarganya punya bisnis di Surabaya dan juga kantor di Jakarta. Kami tidak akan memaksamu kalau memang tidak cocok.”

“Aku tidak butuh masa pendekatan yang lama,” kataku. “Kalau dia orang yang baik, itu sudah cukup.”

Keesokan harinya Adrian datang ke apartemenku membawa sekotak peach tart dari sebuah toko terkenal di Jakarta Selatan.

“Ini favoritmu, kan?” katanya sambil tersenyum.

Aku menatap kotak itu.

Tiba-tiba aku teringat unggahan Trisha sebulan sebelumnya.

“Nothing beats peach tart. Comfort food favoritku selamanya.”

Aku tersenyum.

Bukan karena bahagia.

Selama tujuh tahun aku mengira Adrian hafal semua kesukaanku.

Ternyata bukan.

Yang ia hafal adalah kesukaan Trisha.

Sementara aku hanya menikmati sisa-sisa perhatian yang tidak pernah benar-benar menjadi milikku.

“Aku sebenarnya tidak suka makanan manis,” kataku.

Ia terdiam.

“Dulu kamu makan, kok.”

“Dulu aku makan supaya suasana hatimu tetap baik.”

Keningnya langsung berkerut.

“Mika, kalau ini soal Trisha, jangan kekanak-kanakan. Dia sedang punya masalah keluarga. Dia butuh bantuanku.”

“Aku memang menyebut nama Trisha?”

Ia tidak bisa menjawab.

Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan di pintu.

Trisha berdiri di sana.

Rambutnya masih basah, memeluk sebuah map.

“Pak Adrian, maaf mengganggu. Saya cuma mengantar daftar tamu untuk makan malam pertunangan besok.”

Makan malam pertunangan.

Ia mengucapkannya tepat di depan wajahku, seolah aku tidak punya hak untuk merasa terluka.

Aku menoleh kepada Adrian.

“Besok kalian bertunangan?”

“Hanya formalitas,” jawabnya cepat. “Supaya keluarganya tenang.”

Trisha tersenyum manis.

Namun tatapannya terasa tajam.

“Kak Mika, jangan khawatir ya. Kata Pak Adrian, Kakak tetap orang yang paling beliau pikirkan.”

Aku mengambil kotak peach tart itu, lalu menyodorkannya kepadanya.

“Untukmu saja.”

“Mulai hari ini aku tidak mau lagi memakan sesuatu yang sejak awal memang seharusnya menjadi milikmu.”

Wajah Trisha langsung pucat.

Rahang Adrian mengeras.

“Mikaela.”

“Minta maaf kepada Trisha.”

Aku menatap pria yang selama tujuh tahun kucintai.

“Dia datang ke rumahku untuk mengatakan kalau kalian akan menikah.”

“Lalu yang harus minta maaf justru aku?”

“Dia tidak punya niat buruk.”

Aku tertawa pelan.

“Kalau begitu…”

“Aku yang punya.”

Seminggu kemudian, aku akhirnya bertemu dengan Gabriel Lim.

Ia tidak mengucapkan janji-janji manis.

Ia juga tidak membanggakan kekayaannya.

Di sebuah restoran tenang di kawasan Plaza Senayan, ia hanya bertanya,

“Apakah kamu benar-benar yakin ingin menikah?”

Aku menjawab pelan,

“Aku hanya yakin bahwa aku tidak mau lagi bertahan dengan seseorang yang malu mengakuiku.”

Gabriel mengangguk.

“Kalau begitu…”

“Aku tidak akan pernah menyembunyikanmu.”

Entah kenapa, justru kalimat sederhana itulah yang hampir membuatku menangis.

Dua minggu kemudian…

Hari itu adalah hari pernikahan Adrian dan Trisha.

Dan…

Hari pernikahanku juga.

Hotel yang sama.

Jam yang sama.

Saat mobil pengantinku memasuki halaman hotel mewah di kawasan SCBD, iring-iringan mobil pengantin Adrian justru sedang keluar dari area hotel.

Dua mobil putih berhenti saling berhadapan di tengah driveway.

Sopir membukakan pintu mobilku.

Aku duduk di sana mengenakan gaun pengantin putih.

Dari mobil di seberang…

Adrian melihatku.

Mawar merah di tangannya terlepas dan jatuh ke jalan.

Namun matanya membelalak jauh lebih lebar ketika ia melihat pria yang datang menghampiri untuk membantuku turun dari mobil pengantin…

Ketika Gabriel Lim melangkah keluar dari mobil pengantin kami, aura ketenangan yang biasanya melekat padanya seolah berubah menjadi ketegasan yang mutlak. Mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna, ia mengulurkan tangannya kepadaku dengan senyum lembut yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Di seberang sana, napas Adrian seolah tercekat. Wajahnya yang semula memucat kini berubah menjadi sekaku batu.

“Om… Gabriel?” gumam Adrian, suaranya bergetar hebat hingga terdengar samar dari jarak kami yang dekat.

Aku terpaku sejenak, namun genggaman tangan Gabriel yang hangat dan kokoh di jemariku membuatku tetap tegak.

Gabriel tidak langsung menatap Adrian. Ia dengan telaten membantuku merapikan ujung gaun pengantinku yang panjang, memastikan aku turun dengan aman tanpa cacat sedikit pun. Setelah memastikan aku berdiri dengan nyaman di sisinya, barulah Gabriel mengangkat pandangannya. Dingin, tajam, dan penuh wibawa.

“Jadi ini mantan karyawanmu yang sering kamu ceritakan, Adrian?” suara Gabriel mengalun tenang, namun sanggup membelah keheningan di driveway hotel.

Trisha, yang baru saja memungut buket mawar yang jatuh, ikut membeku. Wajahnya kehilangan seluruh warna saat menyadari siapa pria yang berdiri di sampingku. Pria yang selama ini mengendalikan modal utama dari konsorsium bisnis yang menyokong perusahaan Adrian. Pria yang statusnya jauh di atas Adrian—pemilik takhta tertinggi di keluarga Lim yang selama ini bahkan tidak bisa ditemui Adrian tanpa janji temu berbulan-bulan sebelumnya.

“Mikaela…” Adrian melangkah maju, mengabaikan Trisha yang menahan lengannya. Matanya memerah, dipenuhi badai penyesalan, kebingungan, dan ego yang hancur berkeping-keping. “Kamu… bagaimana bisa kamu dengan Om Gabriel? Mika, ini pasti salah paham, kan? Kamu melakukan ini hanya untuk membalas dendam padaku?”

Mendengar itu, Gabriel terkekeh pelan. Sebuah tawa yang tidak ramah.

“Adrian,” potong Gabriel, suaranya berat dan mengintimidasi. “Jaga bicaramu. Mulai hari ini, dia adalah bibimu. Panggil dia dengan hormat.”

Kata-kata itu bagai tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Adrian. Tubuhnya limbung selangkah ke belakang. Tujuh tahun ia menyembunyikanku karena menganggapku tidak punya keluarga berpengaruh dan tidak punya tempat bergantung. Tujuh tahun ia mengabaikan seluruh pengorbananku karena yakin aku tidak akan pernah punya keberanian untuk pergi.

Dan sekarang, dalam sekejap mata, semuanya berbalik. Aku tidak hanya pergi, aku kembali sebagai seseorang yang posisinya berada jauh di atasnya—posisi yang tidak akan pernah bisa ia gapai seumur hidupnya.

“Pak Adrian… ayo masuk, para tamu sudah menunggu,” bisik Trisha dengan suara gemetar, air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tahu betul, jika Adrian membuat masalah dengan Gabriel Lim, maka hancurlah sudah masa depan mereka.

Adrian tidak bergeming. Matanya terus menatapku, memohon sebuah bantahan, memohon agar aku mengatakan bahwa ini semua hanya mimpi buruk.

Aku menatap Adrian untuk terakhir kalinya. Tidak ada benci, tidak ada dendam. Yang tersisa hanya rasa syukur karena Tuhan telah melepaskanku dari orang yang salah. Aku beralih menatap Gabriel, pria yang dalam waktu singkat telah memberiku ruang, rasa aman, dan pengakuan yang tidak pernah kudapatkan selama tujuh tahun lalu.

“Ayo masuk, Mas. Tamu-tamu kita sudah menunggu di ballroom utama,” kataku lembut kepada Gabriel, sengaja menekankan kata ballroom utama—tempat yang jauh lebih megah dari ruang aula samping yang disewa Adrian untuk pernikahannya.

Gabriel tersenyum, lalu mengecup keningku di depan mata Adrian yang kian meredup penuh penyesalan.

“Mari, Istriku,” jawab Gabriel.

Kami berjalan melewati Adrian dan Trisha tanpa menoleh lagi. Di belakang kami, kelopak mawar yang terjatuh di jalanan perlahan terlindas oleh roda kendaraan yang melintas, persis seperti akhir dari kisah tujuh tahunku yang bodoh. Hari ini, di tempat yang sama, Adrian menikahi asisten pilihan egonya dalam bayang-bayang kehancuran kariernya, sementara aku melangkah menuju altar, siap menjadi ratu yang sesungguhnya di hidup yang baru.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.