Posted in

PADA ULANG TAHUNKU SENDIRI, AKULAH YANG MEMASAK UNTUK SELURUH KELUARGA—TAPI KUE ULANG TAHUNKU, HADIAHKU, DAN AMPLop BERISI Rp23.000.000 MALAH DIBERIKAN KEPADA IPARKU; AKHIRNYA AKU MEMBALIKKAN MEJA DAN PULANG KE RUMAHKU YANG SEBENARNYA

PADA ULANG TAHUNKU SENDIRI, AKULAH YANG MEMASAK UNTUK SELURUH KELUARGA—TAPI KUE ULANG TAHUNKU, HADIAHKU, DAN AMPLop BERISI Rp23.000.000 MALAH DIBERIKAN KEPADA IPARKU; AKHIRNYA AKU MEMBALIKKAN MEJA DAN PULANG KE RUMAHKU YANG SEBENARNYA

Tepat di hari ulang tahunku, aku sendirian memasak di dapur sementara seluruh keluarga suamiku tertawa dan bercanda di ruang tamu.

Saat aku keluar dari dapur, tiba-tiba lampu padam.

Aku pikir, akhirnya ada juga yang menyiapkan kejutan untukku.

Namun ketika lilin di atas kue yang kubeli dengan uangku sendiri dinyalakan, perempuan lainlah yang duduk di depannya—iparku.

Dan mereka semua bernyanyi bersama untuknya.

Sehari sebelum ulang tahunku yang ke-30, suamiku, Carlo, mengirim pesan ke grup keluarga.

Carlo:
“Besok ulang tahun Mara. Kak Ramon, Kak Bianca, datang ya. Kita makan-makan sederhana di rumah. Tidak usah bawa apa-apa.”

Mertuaku, Lourdes, langsung membalas.

Mama Lourdes:
“Betul. Sudah lama kita tidak makan bersama. Mara, siapkan lebih banyak lauk. Jangan lupa ikan asam manis.”

Lalu ia mengirimiku Rp145.000 di grup.

Mama Lourdes:
“Buat beli ikan.”

Carlo malah tersenyum dan menandai namaku.

Carlo:
“Sayang, ambil saja uangnya. Kamu kan suka ikan. Ini ulang tahunmu, jadi masakkan sesuatu yang enak untuk dirimu sendiri.”

Saat itu aku sedang melakukan video call dengan sahabatku, Trina, yang tinggal di sebuah apartemen mewah di kawasan bisnis Jakarta.

Mendengar ucapan Carlo, Trina langsung mengangkat alis.

“Ini ulang tahunmu, tapi kamu yang beli bahan makanan, kamu yang memasak, dan nanti kamu juga yang membereskan semuanya? Mara, itu bukan pesta keluarga. Itu jasa katering gratis.”

Aku hanya tertawa.

“Mereka kan keluargaku juga. Mungkin mereka hanya ingin berkumpul untuk merayakan ulang tahunku.”

Trina menggeleng.

“Sampai kapan kamu akan menyembunyikan siapa dirimu sebenarnya dari mereka? Kamu tidak perlu menderita hanya untuk membuktikan bahwa kamu istri yang baik.”

“Setelah ulang tahunku,” jawabku. “Aku akan memberi tahu mereka. Aku hanya tidak ingin mereka berpikir bahwa aku menikahi Carlo untuk memamerkan keluargaku.”

“Ingat, Mara. Ada orang-orang yang tidak menjadi lebih baik ketika tahu kamu kaya. Mereka hanya menjadi lebih pandai berpura-pura.”

Sebelum aku sempat menjawab, Carlo menelepon.

“Kenapa kamu belum mengambil uang kiriman Mama?” tanyanya. “Nanti Mama mengira kamu meremehkan Rp145.000 itu.”

“Aku sedang sibuk.”

“Ambil saja. Dan jangan lupa ucapkan terima kasih di grup. Mama sedang menunggu.”

Aku menghela napas lalu menekan tombol klaim.

Keesokan harinya, saat mengayuh sepeda menuju sekolah putriku, Sophie, Carlo menelepon lagi.

“Mara, kamu sudah ambil uangnya tapi tidak bilang terima kasih. Kak Ramon dan Kak Bianca melihatnya. Mama jadi malu.”

Karena kesal, aku tidak menyadari ada sepeda motor yang melaju cepat di sampingku. Kaca spionnya menyenggol sepedaku.

Aku terjatuh ke jalan.

“Mara? Ada apa?” teriak Carlo dari telepon.

Sikuku terasa sangat sakit dan bahuku mati rasa.

Namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia menelepon hanya untuk memarahiku karena Rp145.000.

“Perlukah kamu menelepon berkali-kali hanya karena aku belum sempat berterima kasih?” tanyaku marah. “Aku juga tidak pernah meminta uang itu.”

“Istirahat saja,” jawabnya. “Aku masih ada rapat.”

Lalu ia menutup telepon.

Aku dan Sophie mampir ke klinik untuk membersihkan lukaku.

Saat menunggu di lorong, putriku tiba-tiba berkata,

“Mama, kenapa sih tidak hati-hati? Sayang uangnya. Daddy kerja keras. Kata Nenek, aku harus mengawasi Mama supaya Mama tidak menghabiskan uang keluarga Reyes.”

Aku seperti disiram air es.

“Apa yang kamu bilang?”

“Nenek bilang aku harus mengawasi Mama. Soalnya Mama tidak bekerja.”

Sophie baru berusia enam tahun.

Tetapi sedikit demi sedikit, mertuaku telah mengajarinya untuk merendahkan ibunya sendiri.

Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi untuk menyiapkan makanan. Aku membuat mi goreng spesial, kare-kare, lumpia, chicken pastel, salad buah, dan ikan asam manis.

Tidak ada seorang pun yang membantuku.

Saat Kak Ramon dan Kak Bianca datang, mereka hanya duduk di sofa menonton televisi sambil makan kacang.

Aku keluar dari dapur.

“Terima kasih sudah datang untuk merayakan ulang tahunku,” kataku. “Silakan makan buah dulu. Aku hanya perlu menyelesaikan satu hidangan lagi.”

Ramon tiba-tiba tertawa.

“Carlo, kamu belum bilang ke istrimu?”

Wajah Carlo memerah dan ia mengalihkan pandangan.

“Sama saja. Tetap acara keluarga juga.”

Perutku langsung terasa dingin.

“Apa yang belum kamu katakan padaku?”

“Tidak usah dipikirkan,” jawab Carlo. “Kecap asin habis. Tolong beli dulu di minimarket bawah.”

Saat aku kembali dari minimarket, lampu rumah dimatikan.

Aku masih memegang sebotol kecap ketika pintu terbuka.

“Selamat ulang tahun!”

Aku menelan ludah.

Selama beberapa detik, aku melupakan semua rasa lelah dan sakit. Aku berpikir mungkin selama ini aku salah paham. Mungkin mereka memang menyiapkan kejutan untukku.

Namun ketika masuk ke ruang makan, aku melihat Bianca memakai mahkota ulang tahun.

Di depannya ada kue yang kupesan sendiri.

Di atas meja juga ada kotak hadiah yang dikirim Trina untukku.

Dan seluruh keluarga berdiri mengelilingi Bianca sambil bernyanyi.

“Selamat ulang tahun, Kak Bianca!” seru Carlo dengan gembira.

Mama Lourdes mengeluarkan amplop merah tebal dan menyerahkannya kepada Bianca.

“Bianca, ini Rp23.000.000 untukmu. Kamu pantas mendapatkannya. Sebentar lagi kamu akan dipromosikan menjadi kepala departemen di Villanueva Holdings. Masa depanmu sangat cerah.”

Semua orang bertepuk tangan.

Hanya aku yang berdiri di dekat pintu, memegang botol kecap, sementara lengan yang terluka masih bergetar menahan sakit.

Mama Lourdes menatapku lalu menyeringai.

“Kenapa cuma berdiri di situ? Jangan bilang kamu juga berharap dapat hadiah.”

Ramon tertawa.

“Ma, hari ini juga ulang tahunnya.”

Mertuaku memutar bola mata.

“Ulang tahun atau bukan, memang apa yang perlu dirayakan? Dia cuma ibu rumah tangga yang hidup dari suaminya.”

Lalu ia menunjuk kotak hadiah di atas meja.

“Bianca, buka saja hadiah itu. Kelihatannya mahal. Pasti cocok untukmu.”

Aku membeku.

Karena hadiah itu bukan untuk Bianca.

Dan isi di dalam kotak itu adalah hal terakhir yang ingin mereka lihat.

Babak Akhir: Runtuhnya Topeng Keluarga Reyes

Bianca dengan wajah penuh kemenangan merobek kertas kado mahal pembungkus kotak tersebut. “Wah, merek desainer ternama! Trina memang tahu selera wanita karier kelas atas seperti aku,” puji Bianca, berasumsi bahwa sahabat Mara salah mengirimkan hadiah ke alamat rumah ini.

Namun, begitu kotak itu terbuka, senyum di wajah Bianca langsung lenyap.

Di dalam kotak itu tidak ada tas mewah atau perhiasan. Hanya ada sebuah plakat kaca kristal grafir berlogo Villanueva Holdings—perusahaan tempat Bianca bekerja—dan sebuah map dokumen resmi berwarna hitam.

“Apa ini? Dokumen kerja?” gumam Ramon bingung, ikut mengintip.

Aku melangkah maju, meletakkan botol kecap asin di atas meja dengan ketukan keras yang memecah keheningan. “Buka map itu, Bianca. Bacalah dengan suara lantang supaya Mama Lourdes tahu ke mana uang Rp23.000.000 miliknya harus ditransfer.”

Dengan tangan gemetar, Bianca membuka map tersebut. Matanya terbelalak lebar saat membaca baris pertama surat keputusan di dalamnya.

“Surat Pembatalan Promosi Jabatan dan Pemutusan Hubungan Kerja atas nama Bianca Reyes, ditandatangani langsung oleh Pemilik Saham Mayoritas Villanueva Holdings: Tamara Villanueva.”

“T-Tamara… Villanueva?” Bianca menatapku dengan wajah pucat pasi. “Kamu… Mara? Nama belakangmu…”

“Ya,” kataku dingin, menatap lurus ke arah mertuaku yang mendadak membeku. “Villanueva Holdings adalah perusahaan milik mendiang kakekku, yang sekarang sepenuhnya kuelola dari rumah. Selama tiga tahun ini, aku sengaja memakai nama Mara Reyes demi menghormati Carlo. Aku ingin melihat apakah kalian menerimaku karena tulus, atau hanya karena status.”

Carlo langsung berdiri, wajahnya memucat hebat. “Mara… kamu… kamu pemilik perusahaan tempat kakakku bekerja? Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku?!”

“Kenapa harus bilang?” aku balik bertanya dengan nada meremehkan. “Supaya kamu tidak memarahiku hanya karena uang ikan Rp145.000? Supaya ibumu tidak mengajari anakku sendiri untuk merendahkan ibunya yang dikira ‘pengangguran’ ini?”

Membalikkan Meja

Mama Lourdes mencoba menyelamatkan muka, meskipun suaranya kini bergetar ketakutan. “Mara, kamu tidak bisa egois begitu! Ini masalah pekerjaan Bianca! Lagipula, kue dan makanan ini kan dibeli dengan uang Carlo—”

“Uang Carlo?” aku memotong kalimatnya sambil tersenyum sinis. Aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan riwayat mutasi rekening. “Rumah ini, mobil yang dipakai Carlo, bahkan modal usaha yang dipakai Ramon, semuanya berasal dari rekening pribadiku atas nama Tamara Villanueva. Carlo hanya memegang kartu tambahan dengan limit yang kuatur.”

Sebelum ada yang sempat merespons, aku memegang tepi meja makan kayu yang penuh dengan hidangan yang telah kumasak dengan sisa-sisa tenagaku. Rasa sakit di bahu akibat kecelakaan sepeda tadi pagi seolah menguap, digantikan oleh harga diri yang menyala kembali.

BRAAAKKK!

Dengan satu sentakan emosi yang membuncah, aku membalikkan meja makan tersebut. Piring-piring pecah berantakan. Ikan asam manis, mi goreng, dan kue ulang tahun yang mereka curi kini hancur berserakan di atas lantai marmer, mengotori sepatu mahal mereka.

Bianca menjerit, sementara Mama Lourdes mundur dengan wajah syok.

“Kalian bilang aku hanya jasa katering gratis, kan?” kataku sambil membersihkan tanganku dengan tisu. “Sekarang, silakan nikmati makanan kalian dari lantai.”

Aku berjalan mendekati Sophie yang ketakutan di sudut ruangan. Aku berlutut dan menatap matanya lembut. “Sophie, ikut Mama pulang ke rumah kita yang sebenarnya. Rumah di mana tidak ada orang yang saling merendahkan.”

Sophie melihat ke arah Carlo yang hanya diam seribu bahasa, lalu melihat ke arahku. Ia mengangguk pelan dan menggenggam tanganku erat.

Pulang ke Rumah yang Sebenarnya

Aku meraih tas kerjaku, mengambil kotak hadiah dari Trina yang berisi plakat tersebut, dan berjalan menuju pintu depan.

Carlo berlari mengejarku, mencoba menahan lenganku. “Mara, tolong… maafkan kami. Aku suamimu, kita bisa bicarakan ini baik-baik!”

Aku menepis tangannya dengan kasar. “Surat cerai akan dikirim oleh pengacaraku besok pagi, Carlo. Dan bersiaplah mengemas barang-barangmu, karena rumah ini atas namaku, dan aku memberi waktu 24 jam bagi keluargamu untuk angkat kaki.”

Di luar rumah, sebuah mobil sedan mewah hitam sudah menunggu di depan pagar. Sopir pribadiku bergegas turun dan membukakan pintu untukku dan Sophie. Trina ada di dalam mobil, tersenyum lebar menyambutku.

“Selamat ulang tahun yang ke-30, Tamara Villanueva,” kata Trina sambil memelukku. “Bagaimana pestanya?”

Aku menoleh ke belakang, melihat rumah yang selama tiga tahun ini memenjarakanku dalam kepura-puraan, kini tampak begitu kecil dan tidak berarti.

“Pesta terbaik dalam hidupku,” jawabku sambil tersenyum lega. Aku menutup pintu mobil, meninggalkan masa lalu yang beracun itu, dan melaju menuju rumahku yang sebenarnya—tempat di mana aku tidak perlu lagi menyembunyikan kekuasaan dan namaku hanya untuk diterima.