Posted in

AKU MENGUSIR ISTRIKU YANG SEDANG HAMIL DEMI MENIKAHI CINTA PERTAMAKU YANG KINI MENJADI JANDA DENGAN DUA ANAK.TAPI AKU MENGIRA DIA AKAN MENDERITA—AKU TAK MENYANGKA DIA AKAN MELAKUKAN INI…

AKU MENGUSIR ISTRIKU YANG SEDANG HAMIL DEMI MENIKAHI CINTA PERTAMAKU YANG KINI MENJADI JANDA DENGAN DUA ANAK.
TAPI AKU MENGIRA DIA AKAN MENDERITA—AKU TAK MENYANGKA DIA AKAN MELAKUKAN INI…

“Mulai hari ini, aku menceraikanmu, Luna Marquez. Semuanya sudah selesai. Kau bukan istriku lagi.”

“Arman…” suara Luna bergetar. “Aku hamil. Kandunganku sudah sembilan bulan. Kata dokter, seminggu lagi aku akan melahirkan. Tapi kau masih sanggup membawa wanita itu pulang ke rumah ini?”

Arman malah tertawa kecil.

“Bianca adalah cinta pertamaku. Dia kenangan terindah masa SMA-ku. Kau tidak akan pernah bisa menandinginya,” katanya dengan angkuh.

Luna menatap dua manusia tak berhati di depannya.

“Dua minggu lalu kau bilang pergi dinas. Tapi ternyata kau menghilang tiga bulan karena menikah dengan wanita lain?!”

Tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah Arman—seorang manajer di perusahaan properti ternama.

Di sampingnya berdiri seorang wanita dengan gaun krem elegan, rambut tertata rapi, dan senyum tipis penuh kemenangan.

Dialah Bianca.

Mantan pacar Arman semasa SMA.

Seorang janda dengan dua anak.

Dan kini, istri baru Arman.

“Aku sudah memutuskan,” kata Arman dingin. “Aku sudah menikah dengan Bianca. Dialah wanita yang pantas untuk masa depanku. Dia cantik, keluarganya kaya, punya bisnis sendiri. Tidak seperti dirimu yang hanya hidup dari uang suami.”

Luna menoleh pada Bianca. Tak ada belas kasihan di mata wanita itu—hanya kesombongan.

“Suatu hari nanti kau akan menyesal, Arman,” ucap Luna tegas meski hatinya terluka.

Dari sudut ruang tamu, terdengar suara sinis Doña Teresa, ibu Arman.

“Berani sekali kau bicara,” katanya mengejek. “Bianca kaya dan punya masa depan. Sedangkan kau? Hanya anak yatim piatu dari panti asuhan.”

Tatapan Luna tetap lurus, tanpa rasa takut.

“Mungkin aku memang dibesarkan di panti asuhan,” jawabnya tenang, “tapi aku tidak merebut kebahagiaan milik orang lain.”

“Cukup—eh, Luna! Pergi dari rumahku sekarang juga!” bentak Arman.

Tak ada air mata. Tak ada teriakan.

“Arman,” katanya pelan sambil melangkah pergi, “semoga pilihanmu sepadan dengan apa yang sudah kau hancurkan.”

Di luar, gerimis turun perlahan. Luna memesan Grab. Tujuannya: Hope Children’s Home—panti asuhan yang dulu membesarkan dirinya.

Mobil datang. Dia duduk di kursi belakang.

Namun belum jauh mobil melaju, perutnya tiba-tiba terasa sangat sakit. Cairan hangat mengalir di kedua kakinya.

Air ketubannya pecah.

“Pak…” katanya menahan sakit, wajahnya pucat, “tolong ke rumah sakit terdekat. Saya akan melahirkan.”

Sang driver langsung memutar arah.

“Bertahan ya, Bu. Kita langsung ke rumah sakit.”

Di dalam mobil, Luna menelepon satu nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.

“Ibu Sari…” suaranya lemah namun tegar.
“Saya di Medika Hospital. Air ketuban saya pecah. Saya butuh Ibu…”

“Astaga, Nak! Kami segera ke sana!” jawab suara penuh kekhawatiran di seberang telepon.

Mobil berhenti di depan Emergency Room Medika Hospital. Para perawat membantu Luna masuk.

Belum setengah jam kemudian, seorang wanita berhijab sederhana berlari masuk dengan napas terengah.

Dialah Ibu Sari—pengasuh panti yang telah menjadi ibu baginya.

“Luna…” panggilnya sambil menangis. “Anakku…”

Luna tersenyum tipis. “Maaf ya, Bu…”

“Jangan bicara begitu,” katanya sambil menggenggam tangan Luna erat. “Kau selalu kuat. Dari dulu.”

Saat kursi roda Luna didorong menuju ruang persalinan, sebuah kursi roda lain datang dari arah berlawanan.

Di sampingnya berdiri seorang pria berseragam militer.

“Sedikit lagi, Kak. Kamu pasti kuat,” katanya lembut.

Namanya Kapten Elias Reyes.

Dia sedang menemani kakak perempuannya yang juga akan melahirkan.

Ketika dua kursi roda itu berpapasan di depan pintu ruang persalinan, Elias tanpa sengaja menatap wajah wanita hamil lain itu—pucat, tetapi matanya tetap tegar.

Mata pria itu langsung membelalak.

“Luna? Luna Marquez? Benarkah itu kamu?”

Luna menoleh dengan sisa tenaganya, dahinya berkerut menahan mulas yang semakin hebat. Melalui pandangannya yang mengabur, ia mengenali rahang tegas dan sepasang mata elang itu.

“E-Elias? Kapten Elias?” bisik Luna tak percaya.

Elias Reyes bukan sekadar pria berseragam militer. Dia adalah anak kandung dari pemilik asli panti asuhan tempat Luna dibesarkan. Bertahun-tahun lalu, sebelum Elias masuk akademi militer dan dikirim ke perbatasan, mereka adalah sahabat dekat. Elias adalah pria yang diam-diam mencintai Luna, namun mundur teratur saat mengetahui Luna memilih menikah dengan Arman.

“Iya, ini aku, Luna! Kenapa kamu sendirian? Di mana bajingan bernama Arman itu?!” tanya Elias, suaranya meninggi penuh amarah melihat kondisi Luna yang ringkih tanpa didampingi suami.

Namun, suster langsung memotong. “Maaf, Pak, pasien harus segera masuk ke ruang bersalin! Pembukaannya sudah lengkap!”

Luna ditarik masuk. Elias terpaksa tertahan di luar, mengepalkan tangannya hingga memutih. Saat itulah, Ibu Sari mendekatinya dan menceritakan seluruh kebiadaban Arman, Bianca, dan Doña Teresa. Mendengar itu, darah sang kapten mendidih.


Tiga jam kemudian, tangisan bayi laki-laki yang nyaring memecah ketegangan. Luna melahirkan seorang putra yang tampan dan sehat.

Ketika Luna dipindahkan ke ruang perawatan, Elias masuk dengan seragam militernya yang gagah, namun tatapannya melembut demi melihat bayi di pelukan Luna.

“Luna,” kata Elias pelan, berlutut di samping ranjangnya. “Bajingan itu membuangmu karena mengira kamu sebatang kara dan tak punya apa-apa. Dia tidak tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Luna tersenyum getir. “Aku memang tidak punya apa-apa, Elias.”

“Kamu salah,” Elias menggeleng, lalu mengeluarkan sebuah dokumen resmi berserel berlogo firma hukum internasional terbesar di negeri itu. “Kakekku, pendiri panti asuhan, sengaja merahasiakan ini demi melindungimu dari orang-orang serakah. Luna… kamu bukan anak telantar. Kamu adalah cucu kandung sekaligus pewaris tunggal dari mendiang marsekal dan pengusaha batu bara terbesar di ibu kota. Panti asuhan itu dibangun hanya untuk menyembunyikanmu dari konflik keluarga besar saat kamu bayi.”

Elias menyerahkan dokumen itu. “Seluruh aset, saham gabungan, dan tanah senilai ratusan miliar rupiah kini resmi jatuh ke tanganmu, Luna. Pengacara keluarga sudah mengurusnya.”

Luna terpaku menatap surat-surat di tangannya. Air matanya menetes, bukan karena sedih, melainkan karena keadilan Tuhan yang datang di waktu yang tepat.


Satu Bulan Kemudian…

Arman sedang pusing tujuh keliling di kantornya. Pernikahannya dengan Bianca yang dikira akan membawa kejayaan justru menjadi mimpi buruk. Bisnis Bianca ternyata fiktif; wanita itu terlilit utang judi miliaran rupiah, dan dua anaknya sangat nakal hingga memorak-morandakkan rumah. Ibunya, Doña Teresa, kini setiap hari bertengkar dengan Bianca yang egois dan menolak mengurus rumah tangga.

Tiba-tiba, pintu ruangan Arman didorong terbuka tanpa permisi. Sang Direktur Utama perusahaan properti tempat Arman bekerja masuk dengan wajah pucat pasi, diikuti oleh beberapa pria berjas hitam dan seorang pria berseragam militer berpangkat kapten.

“Arman! Berdiri kamu!” bentak sang Direktur Utama.

“A-Ada apa, Pak?” Arman berdiri dengan gugup.

“Perusahaan kita baru saja diakuisisi secara penuh oleh Marquez Holding. Dan pemilik barunya meminta kamu dipecat secara tidak hormat hari ini juga karena kasus pelanggaran moral!”

Arman melotot. “Marquez Holding? Siapa pemiliknya, Pak? Tolong jangan pecat saya!”

Elias Reyes melangkah maju, menatap Arman dengan pandangan menjijikkan. “Kamu ingin tahu siapa pemiliknya? Ikut aku ke lobi.”

Dengan tubuh gemetar, Arman digiring ke lobi utama gedung pencakar langit itu. Di sana, puluhan wartawan sudah berkumpul. Di tengah-tengah lobi, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti. Seorang pengawal membukakan pintu.

Turunlah seorang wanita yang sangat anggun. Ia mengenakan setelan blazer formal berwarna putih, rambutnya disanggul modern, memancarkan aura otoritas yang sangat kuat. Di pelukannya, ada seorang bayi sehat yang tampan.

Arman hampir terkena serangan jantung di tempat. Wanita itu adalah Luna Marquez. Istri yang diusirnya sebulan lalu dalam keadaan hamil tua.

“L-Luna?!” terik Arman histeris, mencoba menerobos pengawal namun langsung ditahan oleh Elias. “Luna! Kamu… bagaimana bisa?!”

Luna berjalan anggun mendekati Arman. Tak ada lagi tatapan rapuh. Yang ada hanyalah tatapan seorang ratu yang sedang melihat kecoak di kakinya.

“Halo, Arman. Bagaimana kabar istri barumu yang kaya raya itu?” tanya Luna, suaranya tenang namun begitu mengintimidasi melalui pengeras suara yang dipegang asistennya.

“Luna, maafkan aku! Aku dijebak oleh Bianca! Tolong jangan pecat aku, kita bisa rujuk kembali, demi anak kita—” Arman memohon-mohon hingga berlutut di lantai lobi, mengabaikan jepretan kamera wartawan.

Luna mundur satu langkah, menghindari tangan Arman yang kotor.

“Dulu aku diam saat kau injak-injak, Arman. Tapi hari ini, aku tidak akan membiarkan pria amoral sepertimu menyentuh seujung kuku anakku,” ucap Luna dingin. “Bukan hanya memecatmu, aku juga sudah membeli seluruh surat utang istri barumu. Hari ini, pengadilan akan menyita rumah ibumu, dan kalian semua akan digiring ke sel tahanan atas kasus penipuan dan pencucian uang.”

Doña Teresa dan Bianca yang tiba-tiba muncul di lobi setelah mendapat kabar pemecatan Arman, langsung menjerit histeris saat dua polisi datang dan memborgol tangan mereka. Mereka menangis, memohon belas kasihan kepada Luna yang dulu mereka sebut ‘anak yatim piatu miskin’.

Luna tidak menoleh lagi. Ia membalikkan badannya, berjalan berdampingan dengan Kapten Elias Reyes yang tersenyum bangga di sisinya.

Arman hanya bisa merangkak di lantai, menangis meraung-raung meratapi kebodohannya. Dia mengira telah membuang batu kerikil demi sebuah permata palsu, tanpa pernah menyadari bahwa wanita yang diusirnya adalah sebuah berlian murni yang kini telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.