Posted in

Ruang tamu yang baru saja kubersihkan, dan empat koper yang menyeret malam tenangku pergi

Ruang tamu yang baru saja kubersihkan, dan empat koper yang menyeret malam tenangku pergi

Malam itu, hujan turun pelan namun tanpa henti di Manila, seperti selimut basah yang diseret di atas atap rumah-rumah di belakang kami.

Aku sedang mengaduk panci chicken adobo di dapur ketika ponsel suamiku, Paolo Reyes, tiba-tiba bergetar berkali-kali di meja makan.

Ia melirik layar, lalu segera mengambil ponselnya dan keluar ke balkon.

Aku bahkan tidak perlu bertanya untuk mengetahui siapa yang menelepon.

Sekilas aku melihat nama yang muncul di layar.

Bianca.

Bianca Reyes.

Adik perempuan suamiku.

Usianya tiga puluh dua tahun, memiliki dua anak, seorang suami yang hampir setengah tahun tidak mempunyai pekerjaan tetap, sebuah toko kelontong yang sudah tutup, dan kebiasaan aneh bahwa setiap kali ia tenggelam dalam masalah, seolah-olah seluruh dunia berutang kepadanya.

Aku mengecilkan api kompor.

Dari balkon, hujan menelan separuh suara Paolo, tetapi beberapa kata masih terdengar jelas.

“Rumahnya disegel?”

“Bank benar-benar datang?”

“Bianca, tenang dulu.”

“Jangan menangis. Aku akan bicara dengan Mira.”

Aku meletakkan sendok sayur.

Aku adalah Mira.

Mira Dela Cruz Reyes.

Aku seorang supervisor shift malam di sebuah perusahaan BPO di Ortigas. Gaji bulananku ₱42.000, atau sekitar Rp11.970.000 per bulan. Tidak cukup untuk disebut kaya, tetapi cukup untuk membayar cicilan motor, listrik, air, makanan, dan asuransi kesehatan ibuku di Cavite.

Townhouse kecil kami di Quezon City tidak mewah.

Ada dua kamar tidur, ruang tamu sempit, dapur kecil, dan balkon yang hanya cukup untuk dua pot tanaman basil.

Namun bagiku, itulah rumah yang kubayar dengan enam tahun kerja shift malam, sakit perut karena kelelahan, tidur di siang hari sementara tetangga mengebor dinding, dan setiap peso yang kusisihkan sambil tetap mengirim uang kepada ibuku.

Paolo masuk kembali.

Wajahnya lebih pucat daripada saat ia keluar.

Ia menatap adobo, lalu menatapku, seolah mencari kalimat yang tepat agar aku tidak meledak.

Aku yang berbicara lebih dulu.

“Bianca kehilangan rumahnya?”

Ia terdiam.

“Kau mendengarnya?”

“Yang kudengar sudah cukup.”

Aku mematikan kompor dan mengelap tanganku dengan handuk.

“Dia ingin tinggal di sini sementara waktu?”

Paolo menundukkan kepala dan mengusap wajahnya.

“Hanya sementara, Mira. Rumah mereka disegel bank sore tadi. Mereka hanya diizinkan mengambil beberapa barang sebelum pintunya dikunci. Bianca menangis. Kedua anak itu tidak punya tempat tidur malam ini.”

Aku melihat jam di dinding.

Pukul 9.15 malam.

Aku bertanya:

“Di mana suaminya?”

“Joel bersamanya. Pikirannya juga sedang kacau.”

Aku hampir tertawa.

Joel memang selalu “sedang kacau”.

Saat tokonya bangkrut, pikirannya kacau.

Saat becaknya digadaikan, pikirannya kacau.

Saat aplikasi pinjaman online menelepon setiap hari untuk menagih, pikirannya tetap kacau.

Begitu kacaunya sampai satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah duduk di luar rumah, merokok, dan menunggu Paolo menyelesaikan semua masalahnya….

…seperti yang selalu Paolo lakukan sejak mereka kecil.

“Sementara itu berapa lama, Paolo?” tanyaku, mencoba menahan getaran di suaraku.

“Dua atau tiga minggu,” jawab Paolo cepat, terlalu cepat. “Sampai Joel mendapat pekerjaan baru di agensi sekuriti, atau sampai Bianca bisa menyewa kamar murah di dekat Caloocan.”

Aku menatap dua kamar tidur di rumah kami. Kamar utama adalah tempat kami tidur, dan kamar kedua adalah ruang kerjaku—tempat aku meletakkan komputer, dokumen BPO, dan satu-satunya tempat di mana aku bisa tidur siang dengan tenang setelah pulang kerja subuh.

Sebelum aku sempat memberikan jawaban, suara klakson taksi terdengar nyaring dari depan gerbang.

Paolo bergegas turun tanpa menunggu persetujuanku.

Ketika aku menyusul ke ruang tamu, pintu depan sudah terbuka lebar. Udara malam yang lembap dan dingin menusuk kulitku. Di sana, di bawah rintik hujan Manila, Bianca masuk dengan langkah besar, menyeret dua koper hitam besar yang basah. Di belakangnya, Joel menggendong anak bungsu mereka yang tertidur, sementara anak sulungnya yang berusia tujuh tahun memegangi ujung baju ayahnya dengan wajah ketakutan. Dua koper lagi diletakkan begitu saja oleh Joel di atas karpet ruang tamuku yang baru saja kusedot debunya sore tadi.

Air hujan dari koper-koper itu mulai menetes, membentuk genangan kecil di atas lantai kayu laminasi kami.

“Diyos ko, Paolo! Ang siksik naman pala dito,” (Ya Tuhan, Paolo! Ternyata sempit sekali di sini) kata Bianca tanpa menyapa atau memandangku. Ia langsung mengempaskan tubuhnya ke atas sofa kainku, menyilangkan kaki, dan mulai mengipasi dirinya dengan tangan. “Anak-anak sudah kelaparan dari sore. Kamu masak apa?”

Joel meletakkan anak bungsu mereka di sisi sofa yang lain, lalu menatapku dengan senyap sebelum bergumam, “Pasensya na, Mira.” (Maaf, Mira).

Paolo menatapku dengan pandangan memohon. “Mira, tolong… malam ini saja. Kasihan anak-anak.”

Aku menelan semua kata makian yang sudah sampai di ujung lidahku. Demi dua anak kecil yang tidak bersalah itu, aku menarik napas dalam-dalam. “Ada adobo di dapur. Makanlah. Setelah itu, kalian tidur di kamar kedua. Tapi Paolo, komputer dan berkas kerjaku jangan sampai disentuh.”

Dua Minggu yang Menjadi Dua Bulan

“Sementara” adalah kebohongan terbesar yang pernah kuizinkan masuk ke dalam rumahku.

Tiga minggu berlalu, lalu berganti menjadi dua bulan.

Kamar keduaku kini tidak lagi terlihat seperti ruang kerja. Pakaian anak-anak berserakan di lantai, aroma minyak telon dan susu basi menempel di dinding, dan komputer kerjaku terpaksa kupindahkan ke sudut ruang tamu yang sempit. Setiap kali aku mencoba bekerja shift malam dari rumah, suara tangisan anak atau dentum televisi yang dinyalakan Joel selalu memecah konsentrasiku.

Gaji ₱42.000 milikku yang biasanya bersisa, kini habis sebelum tengah bulan. Tagihan listrik melonjak dua kali lipat karena Bianca menyalakan AC di kamar kedua sepanjang hari. Tagihan air membengkak. Dan persediaan makanan di kulkas habis dalam hitungan hari.

Joel belum juga mendapatkan pekerjaan. Kegiatannya setiap hari hanya duduk di balkon—merokok dan menghabiskan kopi instanku—sementara Paolo diam-diam memberikan uang jajan dari gajinya sendiri sebagai montir.

Puncaknya terjadi pada suatu Sabtu sore, ketika aku baru saja bangun tidur setelah menyelesaikan shift malam yang melelahkan.

Aku berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, dan aku mendengar suara Bianca dari ruang tamu, berbicara di telepon dengan seseorang.

“Iya, Tita. Kami nyaman di sini. Lagipula Paolo bilang rumah ini atas nama dia juga. Kami tidak perlu buru-buru pindah. Biarkan saja si Mira itu cemberut setiap hari, yang penting Paolo tidak akan mengusir adik kandungnya sendiri.”

Langkahku terhenti di batas koridor. Dadaku bergemuruh.

Rumah ini dibeli dengan namaku dan nama Paolo, tetapi 80% uang mukanya berasal dari tabunganku, dan cicilan bulanannya dipotong langsung dari rekening BPO-ku.

Aku berjalan masuk ke ruang tamu. Bianca langsung menutup teleponnya dengan gugup, tetapi sedetik kemudian ia menegakkan bahunya, memasang wajah menantang yang biasa ia gunakan.

“Ada apa, Mira? Baru bangun? Tolong masakan sup untuk anak-anak, mereka belum makan,” katanya santai.

Aku tidak menatapnya. Aku menatap Paolo yang kebetulan baru saja pulang kerja dan sedang melepas sepatunya di pintu.

“Paolo,” panggilku, suaraku terlampau tenang, jenis ketenangan yang biasanya menandai awal dari badai besar. “Hari ini tepat dua bulan. Dan besok pagi, aku ingin empat koper di kamar kedua sudah keluar dari rumah ini.”

Batas Akhir

Ruang tamu mendadak sunyi. Joel yang sedang merokok di balkon langsung menengok ke dalam.

“Mira, apa-apaan kamu ini?!” Bianca berdiri, suaranya melengking. “Kamu mau mengusir kami ke jalanan? Di mana hati nuranimu? Kami ini keluarga Paolo!”

“Kamu keluarga Paolo, bukan keluargaku,” jawabku lurus, menatap matanya. “Aku sudah memberikan kalian tempat bernaung selama dua bulan secara gratis. Aku membayar makanan kalian, listrik kalian, bahkan rokok suamimu. Tapi mendengar kamu berbicara seolah-olah kamu punya hak atas rumah yang kubayar dengan darah dan keringatku? Itu batas akhirku.”

“Paolo! Lihat istrimu!” Bianca berteriak, mulai mengeluarkan air mata andalannya. “Dia kejam sekali! Dia ingin anak-anakmu kelaparan di jalanan!”

Paolo melangkah di antara kami, wajahnya penuh kepanikan. “Mira, tolonglah. Joel minggu depan ada panggilan wawancara—”

“Minggu depan yang mana, Paolo? Minggu depan yang konon sudah dijanjikan sejak dua bulan lalu?” potongku. Aku berjalan ke meja kerja kecilku, mengambil dua lembar kertas, dan melemparkannya ke atas meja kopi di depan mereka.

Satu adalah lembar tagihan listrik dan air bulan ini yang mencapai ₱15.000. Satunya lagi adalah surat perjanjian sewa kamar kos murah di daerah Cubao yang sudah kubayar uang mukanya pagi ini menggunakan uangku sendiri.

“Aku tidak sekejam itu sampai membiarkan keponakanmu tidur di jalanan,” kataku, menatap Paolo dengan kecewa yang mendalam. “Aku sudah mencarikan mereka tempat tinggal sementara yang sesuai dengan kemampuan mereka. Ini alamatnya, dan sewanya sudah kubayar untuk bulan pertama.”

Bianca melihat kertas sewa itu lalu melemparnya dengan jijik. “Kamar kos sempit begini? Kamu gila, Mira? Kami tidak mau tinggal di tempat kumuh seperti ini!”

“Kalau begitu, silakan cari hotel berbintang dengan uang suamimu sendiri,” jawabku dingin.

Aku menatap Paolo, pria yang kucintai tetapi terlalu lemah untuk melindungi kedamaian rumah tangga kami sendiri. “Paolo, pilihannya ada di tanganmu malam ini. Kamu yang membantu mereka mengemas empat koper itu dan mengantar mereka ke Cubao besok pagi… atau aku yang akan mengepack barang-barangmu sendiri dan ikut mengirimmu pergi bersama mereka.”

Paolo memandangku, melihat kilat di mataku yang menunjukkan bahwa aku tidak sedang menggertak. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan kami, ia menyadari bahwa sifat “tidak enakan” terhadap keluarganya hampir saja menghancurkan satu-satunya wanita yang benar-benar berjuang bersamanya dari bawah.

Ia menunduk, lalu berbalik menatap adiknya. “Bianca… Joel… kemas barang-barang kalian. Besok pagi aku antar kalian ke Cubao.”

Bianca menjerit protes, memaki-maki kakaknya, sementara Joel hanya bisa terdiam membisu. Namun aku tidak lagi peduli.

Malam itu, hujan di luar Manila perlahan reda. Aku kembali ke dapur, melanjutkan hidupku, tahu bahwa ruang tamu yang bersih dan ketenangan yang sempat terseret pergi, akhirnya telah kembali ke tempat yang seharusnya.