SAAT AKU GEMETAR DI RUANG BERSALIN MENJALANI PERSALINAN PERTAMAKU, ADIK TIRI SUAMIKU MASUK UNTUK MEMOTRETKU DALAM KEADAAN MEMALUKAN. DAN KETIKA MEREKA MENJADIKAN BAYIKU SEBAGAI ALAT ANCAMAN, SEBUAH CATATAN LAMA DI KANTOR KELURAHAN MENJATUHKAN SELURUH KELUARGA MEREKA**
## BAGIAN 1: DI BAWAH LAMPU PUTIH RUANG BERSALIN, MARTABATKU DIRAMPAS SEBELUM AKU SEMPAT MENYENTUH ANAKKU, DAN ORANG PERTAMA YANG MEMBELA AKU DIPUKUL DI DEPANKU
Pada hari anak pertamaku lahir, aku pikir itulah hari ketika keluargaku akhirnya menjadi utuh.
Aku pikir, seberapa pun sakit tubuhku, seberapa pun napasku hampir putus setiap kali mengejan, cukup bagiku melihat suamiku menggenggam tanganku dan berkata:
“Aku di sini, Alina. Kamu pasti bisa.”
Namaku Alina Mercado.
Usiaku dua puluh sembilan tahun.
Aku mantan guru di sebuah sekolah swasta di Pasig dan sudah tiga tahun menikah dengan Gabriel Soriano.
Sejak bulan pertama kehamilanku, dia terus mengatakan bahwa aku adalah perempuan terpenting dalam hidupnya.
Karena itu, meski sangat takut menghadapi persalinan, aku meyakinkan diriku bahwa aku aman.
Kami berada di sebuah rumah sakit swasta di Quezon City.
Ruang bersalin terasa dingin.
Bau disinfektan menusuk hidung.
Lampu putih di langit-langit begitu terang hingga membuat mataku perih.
Aku sudah tidak tahu berapa jam aku menahan rasa sakit.
Keningku basah oleh keringat.
Kakiku gemetar.
Aku bahkan hampir tidak bisa merasakan tangan Gabriel yang menggenggam tanganku.
Di tengah rasa sakit itu, aku mendengar suara dokter.
“Sedikit lagi, Bu Soriano. Kepala bayinya sudah terlihat.”
Air mataku mengalir.
Bukan hanya karena sakit.
Tetapi karena rasa takut dan harapan yang bercampur menjadi satu.
Aku menatap Gabriel.
“Gabe… jangan tinggalkan aku.”
Dia meremas tanganku.
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji.”
Itulah janji terakhir yang pernah kupercaya darinya.
Karena beberapa detik kemudian, pintu ruang bersalin tiba-tiba terbuka.
Aku mengira seorang perawat yang masuk.
Namun yang terdengar justru suara tawa tinggi, manja, dan sangat kukenal.
“Ya Tuhan. Jadi begini rupanya wajah perempuan yang sedang melahirkan?”
Jantungku serasa jatuh.
Itu Cassandra Soriano.
Adik tiri Gabriel dari pihak ayah.
Dua puluh empat tahun.
Selalu tampil sempurna.
Selalu harum.
Selalu diperlakukan seperti putri kerajaan oleh keluarga Soriano.
Dan yang paling penting, dia membenciku sejak hari aku menikahi kakaknya.
Di tangannya ada sebuah ponsel.
Dia tidak masuk karena khawatir.
Dia tidak masuk untuk membantu.
Dia masuk untuk memotretku.
Klik.
Klik.
Klik.
Suara kamera terdengar bertubi-tubi.
Aku terbaring di ranjang persalinan.
Tubuhku basah oleh keringat.
Wajahku pucat.
Aku menangis.
Dan bahkan tidak punya tenaga untuk menutupi diriku sendiri.
Di saat paling rentan dalam hidupku, Cassandra berdiri di ujung ranjang sambil tersenyum lebar.
“Kak Alina, jangan bergerak. Ekspresimu dramatis sekali.”
Aku berteriak dengan suara serak.
“Keluar! Keluar sekarang juga!”
Dia menutup hidungnya seolah melihat sesuatu yang menjijikkan.
“Ih. Jadi begini ya persalinan normal? Kak Gabe, kamu yakin mau melihat ini? Jangan-jangan nanti kamu kehilangan selera seumur hidup.”
Seluruh tubuhku membeku.
Bukan karena dinginnya ruangan.
Melainkan karena suamiku mendengar semua itu.
Dan dia tidak langsung berbicara.
Dia tidak langsung menghentikan Cassandra.
Dia tidak langsung menutupi tubuhku.
Dia tidak langsung berkata:
“Cukup. Dia istriku.”
Sebaliknya, dia hanya berdiri di sana.
Masih menggenggam tanganku.
Tetapi wajahnya seolah berubah menjadi batu.
Dokter akhirnya berteriak.
“Nona, Anda tidak boleh berada di sini. Tolong keluar!”
Namun Cassandra tidak mendengarkan.
Dia malah mengangkat ponselnya lebih tinggi.
“Tunggu sebentar, Dok. Kami keluarga. Aku cuma mau kenang-kenangan. Ini bayi pertama kakakku.”
Suaraku gemetar.
“Gabriel… suruh dia keluar.”
Gabriel menatap Cassandra lalu menatapku.
“Cass, keluar dulu.”
Bukan perintah.
Bukan kemarahan.
Lebih terdengar seperti permintaan.
Cassandra cemberut.
“Kak, Kak Alina berlebihan sekali. Cuma foto kok. Biar nanti dia lihat sendiri betapa gilanya dia tadi.”
Seorang perawat mencoba mengambil ponselnya.
Namun Cassandra mundur.
Dan saat itulah pintu kembali terbuka.
Adikku, Mateo, masuk.
Mateo yang mengantarku ke rumah sakit saat kontraksi mulai datang.
Mateo yang membayar uang muka karena Gabriel tidak bisa menemukan kartu kreditnya.
Mateo yang menunggu di luar ruang bersalin hampir sepanjang malam.
Usianya baru dua puluh dua tahun.
Tetapi dialah satu-satunya keluarga sejati yang masih kupunya.
Ibu kami sudah meninggal.
Ayah kami juga sudah tiada.
Karena itu, ketika dia melihat Cassandra memotretku dalam kondisi seperti itu, dia langsung kehilangan kesabaran.
“Apa yang kamu lakukan?”
Dia merebut ponsel Cassandra.
“Astaga! Itu ponselku!”
Mateo membuka galeri foto.
Tangannya gemetar karena marah.
Dan dia melihat foto-fotoku.
Foto-foto yang seharusnya tidak dilihat siapa pun.
Foto-foto yang bisa menghancurkan martabatku sebagai perempuan, istri, ibu, dan manusia.
Satu per satu dia menghapusnya.
“Kamu bukan manusia. Walaupun kakakmu menikah dengan kakakku, kamu tidak punya hak melakukan ini.”
Para perawat berteriak.
Mereka mencoba melerai.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Saat Cassandra berhasil merebut kembali ponselnya, dia langsung menjatuhkan diri ke lantai.
Lalu menangis sekeras-kerasnya.
“Dia menyerangku! Dia merebut ponselku! Dia menghapus foto-fotoku!”
Dia bahkan berguling di lorong seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
“Aku susah payah mengambil foto itu! Kenapa dia menghapusnya? Memangnya dia siapa?”
Seluruh lantai bersalin terdiam.
Kerabat keluarga Soriano yang menunggu di luar langsung berdatangan.
Ibu mertuaku, Dona Remedios.
Ayah Gabriel, Don Ernesto.
Dua orang bibi.
Seorang sepupu.
Dan beberapa kerabat lain yang bahkan tidak kukenal.
Mereka tidak bertanya apa yang terjadi padaku.
Mereka tidak bertanya kenapa Cassandra berada di ruang bersalin.
Mereka tidak bertanya kenapa aku menangis.
Yang mereka lihat pertama kali hanyalah Cassandra duduk di lantai.
Dan itulah yang langsung mereka percayai.
“Cassie, apa yang terjadi?”
“Siapa yang menyakitimu?”
“Mateo?”
Cassandra yang beberapa menit sebelumnya menghinaku saat melahirkan kini menangis di dada ibu mertuaku.
“Tante… dia kasar padaku. Dia merebut ponselku. Dia mendorongku. Dia membentakku. Aku takut.”
Dona Remedios terkejut seolah dialah korbannya.
“Mateo Mercado! Kurang ajar!”
Mateo berdiri di depan pintu ruang bersalin dengan rahang bergetar.
“Dia memotret kakakku saat melahirkan. Aku hanya menghapus foto-foto itu.”
Saat itulah Gabriel datang.
Dan dalam satu detik semuanya berubah.
Dia tidak bertanya padaku.
Dia tidak meminta penjelasan dokter.
Dia tidak mendengarkan Mateo.
Dia langsung menghampiri adikku dan menghajarnya dengan satu pukulan keras di wajah.
Brak!
Mateo jatuh ke lantai.
Aku menjerit.
“Mateo!”
Namun tubuhku terlalu lemah.
Anakku baru saja lahir.
Lukaku bahkan belum selesai dijahit.
Aku bahkan belum bisa bernapas dengan normal.
Aku mencoba bangun.
Namun perawat menahanku.
“Bu, jangan bergerak!”
Aku tidak peduli.
Karena di luar pintu aku melihat Gabriel menendang adikku.
“Berlututlah pada Cassandra.”
Mata Mateo membelalak.
Darah mengalir dari sudut bibirnya.
“Aku tidak akan berlutut pada perempuan yang memotret kakakku saat melahirkan.”
Wajah Gabriel mengeras.
“Itu adikku.”
Mateo menjawab dengan suara serak.
“Dan itu kakakku.”
Beberapa detik kemudian suasana menjadi sangat sunyi.
Lalu Gabriel tertawa.
Dingin.
Merendahkan.
“Kamu berani menyerang perempuan dan masih merasa benar?”
Ayah Gabriel mendekat.
Aku pikir dia akan menghentikan semuanya.
Ternyata tidak.
Dia malah menyuruh dua sepupu menahan Mateo.
“Ajari anak ini sopan santun.”
Dan kekacauan pun dimulai.
Mereka mendorong Mateo ke dinding lorong.
Memukulnya.
Menendangnya.
Menghinanya.
Menyebutnya sampah.
Menyebutnya miskin.
Menyebutnya tidak tahu diri.
Sementara aku, yang seharusnya pertama kali memeluk bayiku, hanya bisa terbaring di ranjang sambil mendengar tubuh adikku membentur dinding.
“Berhenti! Tolong berhenti!”
Aku berteriak sampai suaraku habis.
Tetapi tidak seorang pun mendengarkan.
Cassandra berdiri di samping mereka.
Dan aku bisa melihat jelas senyum di wajahnya.
Dia tidak menangis.
Dia hanya berpura-pura.
Lalu ketika seorang perawat membawa bayiku untuk diperlihatkan sebentar kepada kami, Cassandra langsung menyambar lebih dulu.
“Aku saja, Sus. Aku tantenya.”
Aku bahkan belum sempat menyentuh anakku.
Namun bayi itu sudah berada di pelukannya.
Tanganku gemetar.
“Berikan anakku.”
Dia menunduk memandangi bayiku lalu menatapku.
Senyumnya bukan senyum seorang tante.
Itu senyum seseorang yang merasa menang dalam permainan yang aturan mainnya dia buat sendiri.
“Kak Alina, pilihlah.”
Aku tidak mengerti.
“Apa?”
Dia mengangkat bayiku sedikit.
Di sisi lain lorong, Mateo berlutut di lantai sambil memegangi lengan kirinya yang kesakitan.
Dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang, Cassandra berkata:
“Kalau kamu memilih bayimu, mereka akan mematahkan kedua tangan Mateo. Biar dia belajar tidak menyentuh barang milik perempuan.”
Perutku terasa membeku.
Aku menatap Gabriel.
“Katakan itu hanya bercanda.”
Dia tidak menjawab.
Cassandra melanjutkan:
“Tapi kalau kamu memilih adikmu, aku yang akan membesarkan anakmu. Toh aku lebih pantas jadi ibu daripada kamu.”
Seorang perawat terkejut.
Seorang dokter muda langsung berkata:
“Pak, Bu, ini tidak benar. Kami harus memanggil keamanan.”
Namun Don Ernesto membentaknya.
“Ini urusan keluarga. Jangan ikut campur.”
Air mataku mengalir tanpa suara.
Aku baru saja melahirkan.
Tubuhku masih berdarah.
Lukaku masih terbuka.
Aku gemetar dan hampir pingsan.
Tetapi yang lebih menyakitkan daripada tubuhku adalah wajah Gabriel.
Tidak ada belas kasihan.
Tidak ada kekhawatiran.
Tidak ada cinta.
Seolah akulah yang sedang merusak keluarganya.
Dia mendekat dan berbisik:
“Alina, jangan membesar-besarkan ini. Suruh Mateo minta maaf pada Cassandra. Pilih salah satu. Lalu kita pulang dengan tenang.”
Aku menatapnya.
“Pulang?”
“Iya.”
“Setelah mereka memukuli adikku?”
“Dia yang memulai.”
“Setelah aku difoto saat melahirkan?”
Cassandra memutar mata.
“Jangan berlagak seperti artis. Aku juga tidak akan mengunggahnya kalau kamu tidak berlebihan.”
Saat itulah aku merasa sesuatu di dalam diriku putus.
Bukan hanya cinta.
Bukan hanya kepercayaan.
Tetapi benang terakhir yang menghubungkanku dengan keluarga ini.
Dengan suara gemetar aku berkata:
“Gabriel Soriano… kita selesai.”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
“Aku akan meninggalkanmu.”
Semua orang terdiam.
Lalu Dona Remedios tertawa.
“Kamu baru saja melahirkan, Nak. Jangan bicara seperti orang yang tidak waras.”
Aku mencoba berdiri.
Entah dari mana kekuatan itu datang.
Yang kutahu, jika aku tidak bergerak, aku akan kehilangan adikku dan bayiku sekaligus.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tanganku mencengkeram sisi ranjang hingga buku-bukuku memutih.
Gabriel mencoba menahanku.
“Alina, berbaringlah.”
Aku menepis tangannya.
“Jangan sentuh aku.”
Dia mengerutkan kening.
“Aku suamimu.”
Aku menatap lurus ke matanya.
“Tidak lagi.”
Mungkin Cassandra terlalu terbiasa menangis dan membuat semua orang tunduk.
Mungkin dia tidak pernah membayangkan seorang perempuan yang baru melahirkan berani melawannya.
Dia mendekat sambil menggendong bayiku.
Lalu menamparku.
Plak!
Kepalaku terlempar ke samping.
Aku kehilangan keseimbangan.
Sebelum jatuh, aku mendengar teriakan Mateo.
“Kak!”
Tubuhku menghantam lantai.
Ada cairan hangat mengalir di bawahku.
Suara perawat berubah panik.
“Dokter! Dia mengalami perdarahan!”
Seluruh staf medis langsung kacau.
Namun keluarga Soriano hanya mundur menjauh.
Seolah aku benda kotor yang tidak ingin mereka sentuh.
Cassandra masih berdiri sambil menggendong anakku.
Dan di tengah pandanganku yang mulai kabur, aku melihatnya berbisik pada bayiku:
“Tenang saja, Sayang. Kamu lebih cocok jadi anakku.”
Saat semuanya berubah gelap, suara terakhir yang kudengar adalah suara Gabriel.
Dia tidak memanggil dokter.
Tidak memanggil namaku.
Yang dia katakan adalah:
“Jauhkan dulu bayinya. Nanti Alina melakukan sesuatu yang aneh saat sadar.”
Ketika aku membuka mata lagi, yang kulihat hanyalah langit-langit putih.
Seluruh tubuhku terasa sakit.
Tenggorokanku kering.
Hal pertama yang kucari adalah bayiku.
“Bayiku…”
Tidak ada jawaban.
Hal kedua yang kucari adalah Mateo.
“Mateo…”
Seseorang bergerak di samping tempat tidur.
Gabriel.
Dia duduk di kursi dengan dasi yang sudah longgar.
Matanya merah.
Entah karena lelah atau marah.
Di tangannya ada sebuah map.
Dia menatapku seolah aku penyebab semua masalah.
“Kamu sudah bangun.”
Aku mencoba duduk meski pinggulku terasa seperti terbelah dua.
“Di mana anakku? Di mana Mateo?”
Dia tidak langsung menjawab.
Dia membuka map itu dan meletakkan selembar dokumen di meja samping ranjang.
Ada tanda tangan di bagian bawah.
Tanda tanganku.
Tetapi aku tidak ingat pernah menandatanganinya.
Ketika membaca baris pertama, darahku langsung terasa membeku.
**Surat Kuasa Sementara Perwalian Bayi oleh Pihak Ketiga.**
Dokumen itu menyatakan bahwa aku secara sukarela menyerahkan hak pengasuhan sementara bayi yang baru kulahirkan kepada Cassandra Soriano.
Aku menatap Gabriel.
Suaraku nyaris tidak keluar.
“Apa yang kalian lakukan?”

Dia berdiri.
Lalu mengucapkan kalimat yang menyeretku dari rasa sakit menuju neraka.
“Selama kamu tidak sadar, kami menyelesaikan hal-hal yang perlu diselesaikan. Ini yang terbaik untuk anak itu.”
BAGIAN 2: Cap Rahasia di Balik Lembar Kelurahan, dan Kehancuran Dinasti Soriano
Gabriel berdiri dengan angkuh di samping ranjangku, membenarkan letak jam tangan mewahnya seolah dokumen pemerasan itu hanyalah nota pembelian biasa.
“Jangan menatapku seperti itu, Alina,” ucapnya tanpa beban, suaranya terdengar begitu menjijikkan di telingaku. “Cassandra memiliki segalanya untuk membesarkan anak ini. Rumah besar di Forbes Park, pengasuh pribadi, dan masa depan yang terjamin. Sementara kamu? Kamu hanya mantan guru sekolah swasta yang tidak punya pekerjaan lagi. Ditambah lagi, adikmu, Mateo…”
Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kelicikan.
“Mateo saat ini berada di sel tahanan kepolisian Quezon City atas tuduhan penyerangan fisik terhadap Cassandra. Jika kamu menandatangani surat kuasa permanen ini dan melupakan kejadian di ruang bersalin, aku akan mencabut laporan polisi itu. Pilihlah: masa depan bayimu, keselamatan adikmu, atau ego konyolmu.”
Aku menatap dokumen itu. Tubuhku memang masih lemah, jahitan persalinanku masih terasa nyeri, tetapi kepalaku mendadak menjadi sangat dingin dan jernih. Mereka mengira aku adalah mangsa yang mudah karena aku sebatang kara setelah orang tuaku tiada.
Mereka lupa, sebelum aku menjadi guru di Pasig, mendiang ayahku adalah seorang kepala arsip di Kantor Kelurahan (Barangay Hall) pusat San Lorenzo selama tiga puluh tahun. Dan ayahku tidak pernah pergi tanpa meninggalkan warisan terpenting: informasi.
Aku menarik napas panjang, lalu menatap Gabriel lurus-lurus ke manik matanya.
“Panggil Don Ernesto, Dona Remedios, dan Cassandra ke ruangan ini sekarang,” kataku, suaraku teramat tenang hingga membuat Gabriel sedikit mengernyitkan dahi.
“Untuk apa? Kamu mau memohon?”
“Panggil mereka. Atau lembar rahasia dari Kantor Kelurahan San Lorenzo tahun 1998 akan mendarat di meja Direktorat Biro Investigasi Nasional (NBI) dalam waktu tiga puluh menit.”
Ketika Meja Berbalik di Ruang Perawatan
Sepuluh menit kemudian, seluruh inti keluarga Soriano berkumpul di dalam ruang rawat inap VIP-ku. Cassandra masuk sambil menggendong bayiku yang sedang tertidur, wajahnya masih memamerkan senyum kemenangan yang angkuh. Dona Remedios melipat tangan di dada dengan pandangan jijik, sementara Don Ernesto berdiri tegak dengan otoritas seorang pebisnis besar.
“Ada apa, Alina? Jangan membuang waktu kami. Kamu mau menandatangani surat itu atau melihat adikmu mendekam di penjara?” cetus Don Ernesto dingin.
Aku menyandarkan tubuhku pada bantal rumah sakit, lalu menunjuk ke arah tas jinjing kerja milikku yang berada di atas sofa. “Gabe, ambil ponsel di dalam kantong depan tasku. Buka folder audio terakhir.”
Gabriel ragu sejenak, namun atas isyarat mata ayahnya, dia berjalan mengambil ponselku. Begitu dia menekan tombol play, sebuah rekaman suara dari Mateo terdengar jelas. Itu bukan suara Mateo yang sedang menangis, melainkan Mateo yang sedang membaca sebuah dokumen resmi.
“Salinan Arsip Kelurahan San Lorenzo, Buku Registrasi Sipil Tahun 1998, Halaman 142. Pernyataan Adopsi Sepihak dan Pemalsuan Dokumen Kelahiran atas nama Cassandra Soriano. Ibu kandung: Maria Santos (mantan pelayan rumah tangga). Ibu angkat yang tercatat palsu: Remedios Soriano.”
Prak.
Dona Remedios mendadak mundur hingga punggungnya membentur pintu. Wajahnya yang tebal oleh kosmetik mahal seketika berubah pucat pasi seperti kertas. Don Ernesto mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara Cassandra tampak kebingungan, matanya bergerak panik menatap kedua orang tuanya.
“Apa… apa maksudnya ini? Papa? Mama?” suara Cassandra mulai bergetar.
“Diam, Cassie!” bentak Don Ernesto, suaranya menggelegar namun sarat akan ketakutan yang luar biasa. Dia menatapku dengan mata melotot. “Dari mana kamu mendapatkan dokumen busuk itu, Alina?!”
“Dokumen busuk?” Aku tersenyum dingin. “Itu adalah catatan asli kelurahan yang sengaja dicabut dan disembunyikan oleh Ayahmu tiga puluh tahun lalu dengan menyuap petugas lama, demi menutupi skandal bahwa anak emas kalian, Cassandra, bukanlah anak kandung Dona Remedios. Dia adalah anak dari hasil perselingkuhan Don Ernesto dengan pelayan rumah tangga kalian yang diusir paksa saat hamil.”
Aku menatap Dona Remedios yang kini gemetar hebat.
“Dona Remedios yang terhormat… Anda bersedia mengadopsi Cassandra dan memalsukan dokumen kelahirannya hanya karena Don Ernesto mengancam akan mencabut seluruh saham keluarga Anda di Soriano Group jika Anda menolak. Seluruh pernikahan megah dan dinasti keluarga kalian dibangun di atas fondasi pemalsuan dokumen negara, pemerasan, dan kebohongan publik.”
Runtuhnya Keangkuhan Dinasti Soriano
Dalam hukum Filipina, memalsukan dokumen kelahiran sipil (Falsification of Public Documents) dikombinasikan dengan pemerasan adalah tindak pidana berat dengan ancaman hukuman belasan tahun penjara tanpa jaminan jika terbukti ada konspirasi korporasi di dalamnya. Jika catatan asli ini diserahkan ke pengadilan, Soriano Group yang sedang bersiap melantai di bursa saham akan hancur dalam satu malam karena skandal moral dan hukum pemiliknya.
“Alina…” Gabriel melangkah mendekat, suaranya kini berubah menjadi bisikan memelas. “Tolong, jangan lakukan ini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku suamimu…”
“Kamu bukan suamiku semenjak kamu membiarkan adikmu memukul adikku dan merampas martabatku di ruang bersalin,” kataku, setiap kata yang kuucapkan terasa seperti palu hakim yang mengetuk vonis mati bagi mereka.
Aku menatap Cassandra, yang kini mulai menangis ketakutan—kali ini tangisan yang nyata, bukan pura-pura. “Cassandra, letakkan bayiku kembali ke ranjangnya sekarang juga sebelum aku meminta Mateo menekan tombol kirim ke media cetak dan elektronik.”
Dengan tangan gemetar hebat, Cassandra perlahan meletakkan anakku ke ranjang bayi di sampingku. Dia melangkah mundur, menyembunyikan wajahnya di balik punggung ibunya yang sudah tidak berdaya.
| Kekuasaan Soriano (Satu Jam Lalu) | Realitas Sekarang (Di Dalam Ruang Rawat) |
|---|---|
| Menjadikan bayi sebagai alat ancaman untuk memeras Alina. | Menyerahkan kembali bayi karena takut skandal keluarga terbongkar. |
| Memenjarakan Mateo dan memukulinya di lorong rumah sakit. | Harus mencabut laporan polisi dalam waktu 15 menit ke depan. |
| Memandang Alina sebagai mantan guru miskin yang lemah. | Berlutut di depan Alina karena memegang bukti pemalsuan dokumen negara. |
“Ini tuntutanku,” kataku sambil menatap Don Ernesto dan Gabriel bergantian.
“Pertama, cabut laporan polisi terhadap Mateo sekarang juga. Bawa dia kemari dalam keadaan utuh tanpa ada satu pun luka baru. Kedua, Gabriel, tandatangani surat cerai dan pelepasan hak asuh penuh atas anak ini yang akan disiapkan oleh pengacaraku sore ini. Jika dalam satu jam Mateo tidak berdiri di ruangan ini, lembar kelurahan itu akan menjadi halaman depan berita nasional.”
Don Ernesto tidak membuang waktu. Dia langsung merampas ponsel Gabriel, menghubungi pengacara keluarga dan kepala kepolisian distrik untuk membebaskan Mateo seketika itu juga.
Setengah jam kemudian, pintu kamar rawatku terbuka. Mateo masuk dengan langkah tertatih, sudut bibirnya masih bengkak, tetapi matanya berbinar lega saat melihatku memeluk bayiku dengan utuh. Dia berjalan mendekat, menggenggam tanganku yang bebas.
Keluarga Soriano perlahan keluar dari ruangan satu demi satu dengan kepala tertunduk, meninggalkan kemewahan palsu mereka yang kini berada di ambang kehancuran total. Saat pintu tertutup rapat, aku mengecup kening putri kecilku untuk pertama kalinya dengan air mata kebahagiaan yang sesungguhnya.
Kami memang tidak memiliki rumah di Forbes Park atau saham di perusahaan besar, tetapi di dalam ruangan yang hangat ini, di bawah perlindungan kebenaran, aku, adikku, dan bayiku tahu bahwa kami telah memenangkan pertempuran terbesar kami.