Posted in

SAAT AKU MEMECAT SOPIR KAMI, BARULAH AKU MENGETAHUI BAHWA BUKAN HANYA ANAKKU YANG DIA ANTAR-JEMPUT—TETAPI JUGA ANAK DARI WANITA YANG SUDAH LAMA DISEMBUNYIKAN SUAMIKU DI UNIT SEBELAH APARTEMEN KAMI**

SAAT AKU MEMECAT SOPIR KAMI, BARULAH AKU MENGETAHUI BAHWA BUKAN HANYA ANAKKU YANG DIA ANTAR-JEMPUT—TETAPI JUGA ANAK DARI WANITA YANG SUDAH LAMA DISEMBUNYIKAN SUAMIKU DI UNIT SEBELAH APARTEMEN KAMI**

Aku sedang berada di tengah rapat di Makati ketika layar ponselku tiba-tiba menyala.

Sebuah pesan masuk dari grup chat para orang tua murid.

> “Mama Theo, katanya kamu sudah memecat Pak Renato? Lalu siapa yang akan menjemput Migo dari Unit 1402?”

Duniaku seakan berhenti berputar.

Namaku Camille Reyes. Aku tinggal bersama suamiku, Adrian, di Unit 1401 sebuah kondominium di Pasig. Sementara Unit 1402 ditempati oleh Bianca Santos, seorang ibu tunggal yang baru pindah enam bulan lalu.

Aku memang memecat sopir kami.

Tapi kenapa anaknya ikut menjadi masalah?

Tanganku gemetar saat membalas pesan itu.

> “Mama Grace, maksudnya apa? Migo, anak Bianca, juga dijemput oleh Pak Renato?”

Jawabannya datang dengan cepat.

> “Iya, Mama. Sudah hampir setengah tahun. Katanya selalu berangkat dan pulang bareng Theo. Pak Renato bilang itu perintah Pak Adrian. Kami kira kamu sudah tahu.”

Rasanya seperti ada air es yang disiramkan ke tengkukku.

**Perintah Adrian.**

Suamiku yang selalu mengaku sibuk bekerja. Pria yang selama lima tahun kupilih untuk kupercaya.

Belum sempat aku mencerna semuanya, teleponku berdering.

“Camille, apa lagi yang kamu lakukan sekarang?” bentak Adrian dari seberang telepon. “Kenapa kamu memecat Pak Renato? Berikan kunci mobilnya sekarang juga.”

Aku memejamkan mata.

“Kenapa kamu marah sekali?” tanyaku dingin. “Dia sopir kita. Aku yang membayarnya. Aku berhak memecatnya.”

“Hentikan drama ini,” hardiknya. “Migo harus dijemput. Dia masih di sekolah, hujan deras, dan tidak ada yang menemaninya.”

Senyum pahit muncul di bibirku.

“Migo? Dia anak kita?”

Adrian terdiam beberapa detik.

Lalu suaranya berubah lebih rendah. Lebih berbahaya.

“Camille, jangan libatkan anak itu. Bianca adalah ibu tunggal. Kasihan dia.”

Kasihan.

Lalu bagaimana denganku?

Aku istrinya. Aku ibu dari anaknya. Aku yang membeli mobil, membayar sopir, bahan bakar, perawatan, parkir, semuanya. Tapi sekarang justru aku yang dianggap tidak punya hati karena tidak mau menggunakan uangku untuk melayani wanita tetangga?

Aku segera menelepon Pak Renato.

Butuh waktu lama sebelum dia menjawab.

“Bu,” katanya, tetapi rasa hormat dalam suaranya sudah hilang.

“Pak Renato, sejak pagi tadi pekerjaan Anda bersama kami sudah berakhir. Apakah kartu akses dan kunci sudah dikembalikan?”

Dia tertawa kecil.

“Maaf, Bu. Tapi saya mengikuti perintah Pak Adrian. Beliau yang mempekerjakan saya. Beliau juga yang membayar gaji saya.”

Rahangku langsung mengeras.

“Anda yakin?”

“Iya, Bu. Dan saya masih harus menjemput seorang anak sekarang. Bu Bianca sudah berkali-kali menelepon.”

Saat itulah kesabaranku habis.

“Pak Renato, dengarkan saya. Jika Anda menyentuh mobil saya lagi, saya akan memanggil polisi. Saya tidak sedang mengancam.”

Aku menutup telepon.

Setelah itu aku langsung menghubungi pihak pengelola apartemen untuk menonaktifkan kartu aksesnya.

Namun sebelum sempat berdiri, pintu kantorku terbuka dengan keras.

Adrian masuk.

Bahu kemejanya basah kuyup karena hujan. Wajahnya penuh amarah. Seolah-olah aku yang menjadi penjahat.

“Camille, apa kamu sudah gila?” bentaknya. “Kenapa kamu mempermalukan Bianca?”

Aku menatapnya lama.

“Lucu sekali. Kamu memakai sopir kami untuk mengurus anak perempuan lain, tapi aku yang dianggap mempermalukan orang?”

“Kami hanya bertetangga!” bantahnya. “Apa salahnya membantu?”

Aku membuka aplikasi peta di ponsel dan menunjukkannya ke wajahnya.

“Sekolah Theo ada di Ortigas. Sekolah Migo ada di San Juan. Jaraknya sepuluh kilometer. Bantuan seperti apa yang harus memutar sejauh itu setiap hari, Adrian?”

Wajahnya memerah.

“Pak Renato punya waktu luang.”

“Dia punya waktu karena aku membayarnya untuk anakku. Bukan untuk rahasia yang kamu sembunyikan.”

Kemarahan tampak jelas di matanya.

“Pikiranmu kotor. Tidak ada apa-apa antara aku dan Bianca.”

“Tidak ada?” tanyaku. “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu hampir kehilangan akal hanya karena anaknya tidak dijemput?”

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Grup penghuni apartemen.

Bianca mengirim pesan.

> “@Unit1401 Bu Camille, kalau memang Anda tidak ingin Migo dijemput Pak Renato, seharusnya Anda memberi tahu lebih awal. Sekarang dia berdiri di luar sekolah sambil menangis kehujanan. Saya tidak mengerti kenapa anak kecil harus menjadi korban masalah orang dewasa.”

Dalam hitungan detik, balasan berdatangan.

> “Kasihan sekali anaknya.”

> “Parah juga Unit 1401.”

> “Sudah jadi ibu tunggal masih diperlakukan seperti itu.”

> “Punya uang tapi tidak punya hati.”

Aku membaca semuanya dengan tenang.

Bianca memang hebat.

Hanya dengan beberapa kalimat, dia berhasil menjadikanku tokoh jahat. Dia menjadi korban. Anaknya menjadi pihak yang tersakiti. Dan Adrian, tentu saja, menjadi pria baik yang suka membantu.

Adrian melangkah mendekat dan mengulurkan tangan ke arah kunci mobil di mejaku.

“Berikan. Aku akan menjemput Migo.”

Aku lebih cepat. Kunci itu langsung kugenggam erat.

“Coba saja rebut.”

“Camille,” katanya memperingatkan.

“Itu bukan mobilmu.”

Dia tertawa dingin.

“Bukan mobilku? Aku yang membayar sopir. Aku yang mengisi kartu bensin. Aku yang mengatur uang keluarga. Kamu pikir karena punya gaji kecil, semuanya jadi milikmu?”

Saat itulah aku tertawa.

Tidak keras.

Tapi cukup membuatnya terdiam.

Selama lima tahun aku memilih diam demi menjaga harga dirinya. Aku menyerahkan akses rekening gajiku kepadanya. Aku membiarkan orang-orang berpikir bahwa dialah yang menafkahi keluarga kami.

Padahal rumah, mobil, sopir, dan biaya sekolah Theo—semuanya berasal dariku.

Dari perusahaan yang diwariskan ayahku.

Dari kekayaan yang tidak pernah ia pelajari karena terlalu sibuk berpura-pura menjadi raja.

“Baiklah,” kataku. “Kalau memang milikmu, coba telepon. Mungkin mobil itu akan menjawab.”

Tubuhnya bergetar karena marah.

“Baik! Aku akan membeli mobilku sendiri!”

Dia keluar dan membanting pintu.

Aku memperhatikannya berjalan menjauh di lorong.

Begitu duduk kembali, aku menelepon bank.

> “Tolong blokir kartu yang berakhiran 8864. Berlaku mulai sekarang.”

Setelah telepon berakhir, aku kembali membuka grup chat penghuni apartemen.

Orang-orang masih terus menghakimiku.

Aku menarik napas panjang, membuka folder di ponselku, lalu menekan foto pertama.

Bukti transfer bank ke Pak Renato.

Riwayat GPS mobil.

Dan foto Adrian serta Bianca di dalam mobil kami, bergandengan tangan sementara Migo tertidur di kursi belakang.

Aku mengirim semuanya ke grup.

Lalu mengetik satu kalimat:

**“Karena semua ingin tahu kenapa saya memecat sopir itu, ini alasan yang sebenarnya.

Silakan baca kelanjutannya.”

Keheningan yang mencekam langsung melanda grup chat warga kondominium. Ratusan orang yang tadinya sibuk menghujatku mendadak bungkam. Detik berikutnya, lambang “…” muncul bertubi-tubi di layar ponselku. Tetangga-tetangga yang beberapa menit lalu mengasihani Bianca kini berbalik menyerangnya.

“Ya ampun, ternyata Unit 1402 pelakor!” “Berani-beraninya berlagak jadi korban di grup warga, padahal pakai mobil dan sopir orang lain untuk selingkuh!” “Punya uang tapi tidak punya hati? Maaf Mama Migo, kalimat itu sepertinya lebih cocok untuk Anda sendiri.”

Aku mematikan notifikasi ponsel, mengambil tas kerjaku, dan melangkah keluar dari kantor dengan kepala tegak. Saatnya pulang dan menyelesaikan kekacauan ini sampai ke akarnya.

Sambutan di Unit 1401

Hujan masih mengguyur deras ketika aku tiba di lantai 14 kondominium kami di Pasig. Begitu keluar dari lift, pemandangan menggelikan langsung menyambutku.

Pintu Unit 1402 terbuka lebar. Di dalam lorong, Adrian sedang berdiri membujuk Bianca yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk Migo yang bajunya basah kuyup. Pak Renato, sang sopir, berdiri di sudut lorong dengan wajah gelisah sambil memegang payung basah. Rupanya Adrian benar-benar menjemput mereka menggunakan taksi online karena kartu bensin dan akses mobilnya sudah kublokir.

Begitu melihat langkah kakiku mendekat, Adrian langsung berbalik dengan mata mendelik.

“Camille! Kamu keterlaluan! Apa maksudmu menyebarkan foto-foto itu di grup warga?! Kamu menghancurkan reputasi Bianca!” bentak Adrian, suaranya menggema di lorong sepi itu.

Bianca mendongak, wajahnya yang cantik kini sembap. “Bu Camille, tolong jangan salah paham. Foto di dalam mobil itu… Adrian hanya menenangkan saya yang sedang sedih. Kami tidak ada hubungan apa-apa!”

“Cukup, Bianca. Simpan air mata palsumu untuk sidang perceraian kami nanti,” kataku dingin tanpa menghentikan langkah. Aku berjalan melewati mereka, membuka pintu Unit 1401, dan membiarkannya terbuka lebar.

“Adrian, masuk. Kita selesaikan sekarang,” perintahku tegas.

Runtuhnya Kerajaan Palsu

Adrian masuk dengan langkah angkuh, mengira dia masih memegang kendali. “Bagus kalau kamu mau bicara. Aku mau kita cerai. Aku tidak bisa hidup dengan wanita berhati iblis dan pencemburu seperti kamu! Tapi ingat, setengah dari aset rumah ini, mobil, dan tabungan adalah hakku!”

Aku berjalan menuju meja makan, di mana pengacaraku ternyata sudah duduk menunggu sejak setengah jam yang lalu dengan tumpukan dokumen tebal. Adrian terkejut melihat keberadaan pria asing berjas rapi itu.

“Silakan duduk, Adrian,” ujarku tenang sambil mengambil secangkir teh hangat. “Perkenalkan, ini Pak Aris, kuasa hukumku.”

Pak Aris tersenyum formal dan mendorong selembar dokumen ke hadapan Adrian.

“Pak Adrian, mari kita luruskan beberapa hal mengenai ‘aset’ yang Anda sebutkan,” kata Pak Aris dengan nada profesional yang mematikan. “Kondominium Unit 1401 ini dibeli oleh mendiang ayah Nyonya Camille atas nama beliau jauh sebelum pernikahan kalian. Secara hukum, ini adalah harta bawaan murni. Anda tidak memiliki hak satu persen pun atas unit ini.”

Wajah Adrian mulai berubah tegang. “Tapi… tapi mobil…”

“Mobil Mercedes-Benz dan SUV yang biasa Anda pakai terdaftar atas nama perusahaan keluarga Nyonya Camille. Anda hanya berstatus sebagai pengguna. Dan mengenai rekening bank…” Pak Aris menyerahkan lembar rekening koran. “Semua dana yang Anda gunakan selama lima tahun ini berasal dari deviden saham Nyonya Camille. Anda sendiri, berdasarkan data pajak, hanya berpenghasilan dari bisnis properti Anda yang… yah, sayangnya sudah mati suri sejak dua tahun lalu.”

Adrian menatap kertas-kertas itu dengan tubuh gemetar. Ilusi bahwa dia adalah kepala keluarga yang hebat dan kaya raya hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

“Camille… kamu tidak bisa melakukan ini padaku,” bisik Adrian, suaranya mulai bergetar kehilangan pijakan. “Aku suamimu. Aku ayah dari Theo!”

“Kamu mengingat Theo hanya saat posisimu terdesak, Adrian,” balasku, menatapnya dengan rasa jijik yang mendalam. “Saat kamu sibuk memikirkan anak Bianca yang kehujanan, anak kandungmu sendiri sudah aman di rumah ibuku sejak siang tadi. Kamu bahkan tidak menyadari bahwa Theo tidak ada di rumah ini.”

Pengusiran sang Parasit

Tiba-tiba, Bianca muncul di ambang pintu kami yang terbuka, wajahnya pucat pasi. “Adrian… pemilik unitku baru saja menelepon. Dia bilang… dia tidak mau memperpanjang sewa bulan depan karena komplain dari warga gedung. Dia menyuruhku pindah secepatnya.”

Aku menoleh ke arah Bianca dengan senyum tipis. “Oh, maaf aku lupa memberitahumu, Bianca. Pemilik Unit 1402 adalah salah satu pemegang saham di perusahaan ayahku. Setelah melihat foto-foto yang kukirim di grup warga, dia merasa sangat tidak nyaman memiliki penyewa yang tidak tahu terima kasih.”

Bianca tersentak mundur, memegangi dadanya seolah baru saja ditampar.

Aku berdiri dari kursiku, menatap Adrian dan Bianca secara bergantian. Dua parasit yang selama ini hidup mewah dari jerih payahku.

“Pak Renato sudah dipecat, kartu kreditmu sudah mati, dan besok pagi mobil-mobil itu akan ditarik oleh orang kantor,” kataku pada Adrian. “Sekarang, kemasi semua pakaianmu dan keluar dari unitku. Kamu bisa tinggal di Unit 1402 bersama Bianca… setidaknya, untuk satu bulan ke depan sebelum kalian berdua sama-sama telantar di jalanan.”

Adrian menatapku dengan mata memohon, mencoba meraih tanganku. “Camille, tolong… aku khilaf. Aku mencintaimu, aku tidak bisa kehilangan kamu dan Theo…”

“Kamu tidak mencintaiku, Adrian. Kamu hanya mencintai uangku dan fasilitas yang kuberikan,” aku menepis tangannya dengan kasar. “Pak Aris, tolong panggil keamanan gedung untuk mengawal mantan suamiku ini keluar.”

Malam itu, Adrian diusir dari kondominium mewah itu hanya dengan membawa dua koper pakaian, disaksikan oleh tetangga-tetangga koridor yang menatapnya dengan pandangan mencemooh. Bianca dengan cepat menutup pintunya, tampaknya mulai sadar bahwa pria yang dipujanya kini tidak lebih dari seorang pengangguran tanpa harta.

Saat pintu Unit 1401 tertutup rapat dan menguncinya dari dalam, aku mengembuskan napas lega. Akhirnya, udara di dalam rumah ini terasa bersih kembali. Besok, aku akan menjemput Theo, memulai lembaran baru yang bersih, dan memastikan bahwa tidak akan ada lagi pria parasit yang bisa memanfaatkan kebaikanku.