“SUAMIKU MENYIAPKAN KAMAR UNTUK KELUARGA ADIKNYA TINGGAL DI RUMAH KAMI—TAPI DIA TIDAK TAHU, AKU SUDAH RESIGN DAN MASA SEWA APARTEMEN ITU SUDAH BERAKHIR”**
Ayah mertuaku menelepon saat aku sedang berada di kantor.
“Nak, minggu depan keluarga adik iparmu akan pindah ke rumah kalian. Mereka tujuh orang. Untuk sementara mereka akan tinggal di sana dalam jangka panjang.”
Aku tidak berteriak.
Aku juga tidak menangis.
Aku hanya tertawa pelan sambil menatap surat pengunduran diri yang baru saja kucetak.
Malam harinya, ketika aku pulang ke apartemen kami di Mandaluyong, aku melihat suamiku, Rafael Villanueva, sedang mengeluarkan pakaian-pakaianku dari walk-in closet.
Blus, mantel, tas, bahkan kotak-kotak sepatuku berserakan di lantai.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyaku.
Dia bahkan tidak terlihat gugup.
“Aku hanya mengosongkan ruang. Junjun dan keluarganya akan datang minggu depan. Mereka butuh kamar. Mereka tujuh orang, Liza.”
Aku mengangguk.
Dengan tenang aku menarik koper dari bawah tempat tidur.
Satu per satu aku memasukkan pakaian kedua putri kami ke dalamnya.
Rafael menatapku.
“Kamu sedang apa?”
Aku tersenyum.
“Kebetulan sekali. Aku baru saja mengundurkan diri hari ini.”
Tangannya langsung berhenti bergerak.
“Dan besok aku akan membawa Mia dan Sophie pulang ke rumah ibuku di Laguna.”
Wajahnya langsung pucat.
“Apa? Maksudmu apa?”
Aku mengeluarkan kartu akses apartemen dari tas dan melemparkannya ke lantai.
Kartu itu meluncur hingga mengenai kakinya.
“Besok pemilik unit akan datang mengambil kuncinya. Masa sewanya sudah habis.”
Mata Rafael membelalak.
Seolah-olah untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia mendengar kata *sewa*.
Dia mengambil kartu itu dan hampir berteriak.
“Sewa? Jadi apartemen ini cuma kontrakan?”
Aku menatapnya dingin.
“Kamu kira ini milik kita?”
“Lalu bagaimana dengan uang yang diberikan keluargaku saat pernikahan kita? Bukankah itu untuk uang muka rumah?”
Aku tersenyum tipis.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena akhirnya kami sampai pada titik di mana dia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kebohongan.
Aku membuka tasku dan mengeluarkan sebuah map.
Aku melemparkannya ke atas tempat tidur.
Kontrak sewa, bukti transfer bank, tangkapan layar percakapan, dan berbagai kuitansi berhamburan keluar.
“Baca.”
Dia tidak bergerak.
Maka aku sendiri yang berbicara.
“Uang **Rp90 juta** yang keluargamu sebut sebagai bantuan pernikahan itu dikembalikan oleh ibumu keesokan harinya. Kamu sendiri yang mentransfernya kembali. Semua buktinya ada di sini.”
Tubuhnya langsung kaku.
“Liza—”
“Selama enam tahun kamu menggunakan cerita itu untuk membuatku merasa berutang budi pada keluargamu.”
Aku mengangkat salah satu kuitansi.
“Apartemen ini kubayar sendiri setiap bulan. Depositnya aku yang bayar. Iuran gedung aku yang bayar. Listrik, air, internet, makanan, uang sekolah anak-anak—semuanya aku yang tanggung.”
Wajah Rafael perlahan memerah.
Bukan karena malu.
Karena marah.
“Tapi mereka tetap keluargaku!”
“Aku tahu.”
“Junjun itu adikku!”
“Aku juga tahu.”
“Dia punya empat anak! Kalau bukan di sini, mereka mau tinggal di mana?”
Aku menatapnya lurus.
“Di mana mereka akan tinggal? Tanyakan pada mereka.”
“Liza, jangan egois.”
Aku tertawa.
“Egois?”
Aku menunjuk lemari yang setengahnya sudah kosong.
“Kamu mengosongkan tempat untuk keluarga adikmu tanpa bertanya padaku. Kamu bahkan tidak bertanya kepada kedua anakmu apakah mereka rela kehilangan rumah yang tenang.”
Aku melirik ke arah pintu.
Di sana berdiri Mia yang berusia enam tahun dan Sophie yang berusia empat tahun. Mereka berpelukan erat dan gemetar ketakutan.
Namun Rafael bahkan tidak menyadari keberadaan mereka.
“Mereka sudah beli tiket!” teriaknya. “Mereka datang besok! Apa yang harus kukatakan pada Ayah? Pada Ibu? Pada Junjun?”
“Apa yang harus kamu katakan?”
Aku melangkah mendekatinya.
“Katakan yang sebenarnya. Katakan bahwa rumah yang kamu janjikan itu bukan milikmu.”
Kata-kataku seakan menampar wajahnya.
Rahangnya mengeras.
“Kamu tidak akan pergi.”
Dia meraih koperku dan menariknya menjauh.
Aku mencengkeram pegangannya erat.
“Lepaskan.”
“Tidak!”
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan kami, aku melihat wajah aslinya.
Bukan anak yang baik.
Bukan kakak yang sabar.
Bukan pria yang selalu berkata, *“Maklumi saja, mereka keluargaku.”*
Melainkan seorang pria yang ketakutan kehilangan orang yang selama ini dimanfaatkannya.
Dia menarik koper itu sekuat tenaga.
Aku kehilangan keseimbangan.
Dan ketika aku mencoba merebutnya kembali, dia mendorongku.
Pinggangku menghantam sudut tajam lemari.
Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhku.
“Mommy!”
Mia berteriak.
Kedua anakku berlari dan memeluk kakiku sambil menangis.
Barulah Rafael tersadar.
Dia menatap tangannya.
Lalu menatapku.
Lalu menatap anak-anak.
Namun dia tidak meminta maaf.
Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah:
“Ini semua salahmu. Kalau saja kamu tidak keras kepala—”
Aku langsung mengangkat ponselku.
Menyalakan kamera.
Dan mengarahkannya ke wajahnya.
“Ulangi.”
Dia terdiam.
“Ulangi sekali lagi saat aku sedang merekam.”
Keberanian di matanya langsung menghilang.
Dia mundur selangkah.
“Liza, jangan berlebihan.”
“Aku tidak berlebihan, Rafael. Aku hanya mengumpulkan bukti.”
Aku memeluk Mia dan Sophie.
“Anak-anak, ambil mainan favorit kalian. Kita akan pergi.”
Sophie menangis sambil memegang boneka kelinci kecilnya.
Sementara Mia hanya menatap ayahnya.
“Daddy,” tanyanya pelan, “kenapa Daddy menyakiti Mommy?”
Rafael tidak menjawab.
Aku berlutut di depan mereka.
“Kita tidak harus tinggal di tempat yang membuat kita takut.”
Aku berdiri sambil menggenggam tangan kedua putriku.
Saat itulah ponsel Rafael berdering.
Di layar tertulis:
**Papa**
Dia langsung menjawabnya.
Sebelum sempat berbicara, suara keras ayahnya terdengar dari seberang telepon.
“Rafael! Junjun dan keluarganya sudah di terminal bus. Besok pagi mereka sampai. Pastikan kamar mereka siap. Dan bilang pada istrimu jangan banyak tingkah. Itu rumah keluarga kita.”
Aku perlahan menoleh ke arah Rafael.
Lalu berkata dengan suara jelas agar terdengar melalui telepon:
**“Itu bukan rumah keluarga Anda.”**
Seketika sambungan telepon menjadi hening.
Lalu terdengar suara penuh kemarahan.
“Apa yang kamu katakan?”
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Saya bilang, besok pemilik apartemen akan datang mengambil kembali unit ini.”
Mulut Rafael terbuka.
Namun sebelum dia sempat berbicara, terdengar ketukan keras di pintu.
Tiga kali berturut-turut.
Saat kubuka, di sana berdiri petugas administrasi gedung bersama seorang wanita yang memegang map.
“Ny. Villanueva?” tanyanya.
“Ya.”

“Maaf mengganggu, Bu. Tapi kami perlu konfirmasi sekarang. Ada satu keluarga yang baru datang ke lobi dan mengatakan bahwa mereka akan tinggal di unit ini mulai hari ini.”
Rafael langsung membeku.
Dan dari lorong luar, aku mendengar suara yang sangat kukenal.
Suara ibu mertuaku.
“Rafael! Liza! Di mana kalian? Buka pintunya!” suara ibu mertuaku, Bu Teresa, menggema di lorong gedung apartemen yang biasanya sunyi. Di belakangnya, tampak Junjun, istrinya yang membawa bayi, serta tiga anak mereka yang lain yang tampak kelelahan dengan barang bawaan yang menumpuk di troli bandara.
Mereka ternyata datang lebih cepat dari jadwal.
Petugas administrasi gedung menatapku dengan bingung, sementara wanita di sebelahnya—yang kutahu adalah perwakilan dari pemilik unit—tampak mulai kehilangan kesabaran.
“Ny. Villanueva, bisa jelaskan apa yang terjadi? Unit ini harus dikosongkan besok pagi sesuai surat pembatalan sewa yang Anda kirim bulan lalu. Siapa orang-orang ini?” tanya perwakilan pemilik unit tegas.
Sebelum aku menjawab, Bu Teresa sudah menerobos masuk ke dalam apartemen. Matanya langsung tertuju pada koper-koper yang terbuka dan pakaian yang berserakan di lantai.
“Liza! Apa-apan ini? Kenapa rumah ini berantakan sekali? Dan siapa orang-orang ini?” Bu Teresa berkacak pinggang, menatap petugas gedung dengan pandangan merendahkan. “Keluar dari sini! Ini rumah anak dan menantu saya!”
Aku hanya tersenyum tipis, menahan rasa sakit di pinggangku akibat dorongan Rafael tadi. Aku mundur selangkah, merangkul Mia dan Sophie yang masih terisak di belakangku.
“Silakan masuk, Ibu, Junjun,” kataku dengan nada suara yang teramat tenang. “Nikmati malam terakhir kalian di sini.”
Junjun dan istrinya langsung masuk dan mendudukkan anak-anak mereka di sofa beludruku. “Wah, Kak Rafael, apartemennya bagus sekali! Anak-anak pasti betah tinggal di sini bertahun-tahun,” ujar Junjun tanpa tahu malu.
Rafael berdiri mematung di sudut ruangan. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Dia tahu bom waktu yang disembunyikannya selama enam tahun ini akhirnya meledak.
“Rafael, kenapa kamu diam saja? Beritahu istrimu untuk menyiapkan makan malam untuk adikmu,” perintah Bu Teresa ketus.
“Dia tidak bisa menyuruhku lagi, Bu,” potongku sengaja, memutus semua ilusi mereka. Aku menoleh ke arah perwakilan pemilik unit. “Ibu, perkenalkan, ini adalah keluarga suami saya. Mereka yang akan menempati unit ini… tapi sayangnya, hanya sampai besok jam 9 pagi.”
“Maksudmu apa, Liza?!” bentak Bu Teresa, wajahnya mulai memerah.
“Rafael tidak pernah cerita pada Ibu?” Aku menatap Rafael yang kini menunduk, tidak berani menatap mata ibunya sendiri. “Apartemen mewah di Mandaluyong ini bukan milik Rafael. Ini apartemen sewa. Dan tebak siapa yang membayar uang sewanya setiap bulan selama enam tahun ini? Saya.”
Ruangan itu mendadak hening. Bahkan anak-anak Junjun berhenti rewel.
“Jangan bercanda kamu! Rafael bilang uang muka rumah ini pakai uang Rp90 juta yang kami berikan saat pernikahan kalian!” seru Bu Teresa membela anaknya.
Aku mengambil map yang berserakan di kasur dan melemparkannya tepat ke dada Bu Teresa. Dokumen-dokumen itu jatuh berserakan di lantai.
“Uang Rp90 juta itu dikembalikan oleh Rafael ke rekening Ibu keesokan harinya, karena Ibu mengancam akan terkena serangan jantung jika uang itu tidak dikembalikan! Rafael menggunakan cerita itu agar saya merasa berutang budi, sementara dia diam-diam menguras gaji saya untuk membiayai gengsinya!” kataku, suaraku meninggi namun tetap terkontrol.
Bu Teresa membaca sekilas lembar transfer bank yang tergeletak di lantai. Matanya membelalak. Dia menatap anak kesayangannya. “Rafael… ini… ini benar?”
Rafael tidak menjawab. Dia hanya mengepalkan tangannya dengan tubuh gemetar.
“Dan sekarang,” aku mengambil koper besar kedua putriku, “Masa sewa tempat ini sudah habis. Hari ini aku sudah resign dari pekerjaanku, jadi tidak akan ada lagi uang untuk memperpanjang sewa ini. Besok pagi, pemilik unit akan mengunci tempat ini.”
Istri Junjun langsung panik. “Lho? Jadi kami tinggal di mana? Kak Rafael, kamu bilang kami bisa tinggal di sini gratis!”
“Tanyakan pada suamimu dan kakak iparmu,” jawabku dingin.
Aku menatap Rafael untuk terakhir kalinya. “Surat cerai akan dikirim oleh pengacaraku ke alamat ibumu minggu depan. Jangan pernah cari aku atau anak-anak lagi. Rekaman video saat kamu mendorongku tadi sudah tersimpan aman sebagai bukti kekerasan.”
“Liza, tolong… jangan lakukan ini padaku di depan keluargaku…” bisik Rafael, suaranya parau, akhirnya memohon dengan sisa harga dirinya yang runtuh.
Aku tidak memedulikannya. Aku menuntun Mia dan Sophie melewati kerumunan keluarga besar yang kini mulai saling menyalahkan dan berteriak satu sama lain di dalam ruang tamu. Di ambang pintu, aku berbalik dan menatap petugas administrasi gedung serta perwakilan pemilik apartemen.
“Saya serahkan kuncinya sekarang. Jika besok pagi mereka menolak keluar, silakan hubungi polisi atas tuduhan masuk tanpa izin,” kataku sambil menyerahkan kartu akses.
Kami berjalan menyusuri lorong menuju lift. Di belakang kami, sayup-sayup terdengar suara teriakan histeris Bu Teresa yang memaki Rafael, dan tangisan anak-anak Junjun yang telantar.
Saat pintu lift tertutup, aku merasakan beban berat yang selama enam tahun ini menghimpit pundakku mendadak sirna. Aku memeluk Mia dan Sophie erat-erat. Malam itu, di dalam taksi menuju Laguna, kami tidak memiliki rumah lagi di Manila—namun untuk pertama kalinya dalam hidup kami, kami akhirnya merasa bebas.