Posted in

SAAT AKU MENYERAHKAN PRIA YANG SEHARUSNYA MENJADI SUAMIKU KEPADA KAKAK KEMBARKU, MEREKA MENGIRA AKULAH YANG KALAH—HINGGA TIGA TAHUN KEMUDIAN AKU PULANG DAN MENYADARI BAHWA BUKAN HANYA AKU YANG MENDAPAT KESEMPATAN MENGULANG HIDUP**

SAAT AKU MENYERAHKAN PRIA YANG SEHARUSNYA MENJADI SUAMIKU KEPADA KAKAK KEMBARKU, MEREKA MENGIRA AKULAH YANG KALAH—HINGGA TIGA TAHUN KEMUDIAN AKU PULANG DAN MENYADARI BAHWA BUKAN HANYA AKU YANG MENDAPAT KESEMPATAN MENGULANG HIDUP**

Pada malam pesta pertunanganku, aku membuka pintu kamar tamu dan melihat pria yang seharusnya menikah denganku sedang berbaring di ranjang yang sama bersama kakak kembarku.

Dia tidak sadar sepenuhnya.

Sedangkan kakakku…

Terjaga sepenuhnya.

Aku hanya mengajukan satu pertanyaan.

“Enzo, apa kamu tahu apa yang kamu lakukan saat masuk ke kamar ini?”

Dia terdiam cukup lama.

Lalu, di depan kedua orang tuaku, dia menundukkan kepala dan berkata pelan,

“Aku tahu. Jangan salahkan Mira.”

Saat itulah aku mengerti.

Bukan hanya aku yang kembali ke masa lalu.

Namaku **Althea Salazar**.

Aku memiliki saudara kembar bernama **Mira**.

Namun di rumah kami, Mira selalu menjadi anak yang “lebih harus dijaga.”

Katanya tubuhnya lemah.

Mudah lelah.

Mudah terluka.

Karena itulah, meskipun kami sama-sama anak kandung, akulah yang selalu diminta mengalah.

**Enzo Villafuerte** adalah sahabat masa kecil kami.

Kami bertiga tumbuh bersama di kawasan elit **Pantai Indah Kapuk**, bertetangga sejak kecil, berangkat sekolah dengan mobil yang sama, merayakan ulang tahun, Natal, hingga liburan bersama ke Puncak.

Walaupun aku dan Mira sangat mirip, Enzo tidak pernah salah mengenali kami.

Kalau orang dewasa bertanya,

“Kok kamu selalu tahu mana Althea dan mana Mira?”

Dia hanya tertawa lalu menjawab,

“Mereka tidak benar-benar sama. Thea lebih manis.”

Dulu aku berpikir…

Jawaban itu cukup untuk membuatnya mencintaiku seumur hidup.

Sampai malam pertunangan kami.

Di kehidupan pertamaku, aku melihat ponsel Enzo menyala di atas meja.

Ada pesan dari Mira.

> **”Enzo, aku minum terlalu banyak. Kalau kamu tidak datang, aku akan pergi dengan siapa saja. Tolong selamatkan aku.”**

Aku ketakutan.

Bukan karena Mira.

Aku takut kehilangan Enzo.

Jadi…

Aku menghapus pesan itu.

Keesokan harinya terjadi sesuatu yang tak pernah bisa kami hapus dari hidup kami.

Mira mengenakan gaun tidur putih.

Dia berdiri di balkon rumah.

Sebelum mengakhiri hidupnya, dia menoleh kepadaku dan tersenyum pahit.

“Sekarang kamu puas, Thea?”

Sejak hari itu…

Duniaku tidak pernah sama lagi.

Ibu menamparku.

Ayah hampir mengusirku dari rumah.

Hanya Enzo yang berdiri melindungiku.

“Semua ini salahku,” katanya.

“Aku terus-menerus menolak perasaan Mira.”

Pada akhirnya kami tetap menikah.

Kami memiliki seorang anak.

Dua puluh tahun berlalu.

Namun selama dua puluh tahun itu…

Ada bagian dari hati Enzo yang tidak pernah bisa kusentuh.

Saat dia meninggal di rumah sakit, aku menggenggam tangannya sambil menangis.

Namun dia menarik tangannya perlahan.

Tatapannya tertuju ke jendela.

Bukan kepadaku.

“Thea…”

bisiknya lemah.

“Kalau ada kehidupan berikutnya… jangan hapus pesan Mira.”

Baru saat itulah aku mengerti.

Hidup yang selama ini kuanggap sebagai kisah cinta…

Ternyata hanyalah penjara penuh penyesalan.

Saat aku membuka mata lagi…

Aku kembali ke malam pertunangan.

Ponsel Enzo kembali berada di tanganku.

Pesan Mira masih ada.

Kali ini…

Aku tidak menghapusnya.

Aku hanya menandainya sebagai belum dibaca lalu meletakkannya kembali di atas meja.

Namun sebelum sempat kulepaskan…

Enzo memegang pergelangan tanganku.

“Thea! Sedang apa?”

Rambutnya berantakan.

Dasi yang tadi kupasang sudah miring.

Matanya merah seperti baru terbangun dari mimpi buruk.

Aku menatapnya dan tersenyum.

Walaupun dadaku terasa seperti disayat.

“Ponselmu menyala. Aku cuma mau mengembalikannya.”

Dia langsung merebut ponselnya.

Begitu membaca pesan itu…

Wajahnya langsung pucat.

Dia tidak menjelaskan apa pun.

Tidak meminta maaf.

Dia langsung berlari keluar.

Bahu kami sempat bertabrakan.

Namun dia bahkan tidak menoleh.

Beberapa jam kemudian…

Aku menemukan Enzo dan Mira di kamar tamu.

Tempat tidurnya berantakan.

Mira menangis.

Enzo berdiri di samping ranjang seolah siap menanggung seluruh kesalahan dunia.

Keesokan paginya…

Ayah dan Ibu mengumpulkan seluruh keluarga.

“Thea…”

kata Ibu dengan suara bergetar.

“Semuanya sudah terjadi. Mira yang paling menderita. Kamu lebih kuat. Mungkin… kamu saja yang mengalah.”

Aku menatap Enzo.

“Ini memang yang kamu inginkan?”

Dia terdiam lama.

Lalu mengucapkan jawaban yang sama seperti di kehidupan sebelumnya.

“Jangan salahkan Mira.”

Aku mengangguk.

Pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahanku…

Mira mengenakan gaun pengantinku.

Sedangkan aku membeli tiket keluar dari Indonesia.

Di Bandara Soekarno-Hatta…

Aku tidak menangis.

Untuk pertama kalinya…

Dadaku terasa begitu ringan.

Selama tiga tahun…

Aku berkeliling dunia.

Singapura.

Seoul.

Sydney.

Queenstown.

Dari unggahan media sosial Mira, setiap hari aku melihat kehidupan “sempurna” mereka.

Secangkir kopi di samping tempat tidur.

Enzo mengenakan celemek saat memasak.

Buket bunga setiap hari jadi pernikahan.

Caption favoritnya selalu sama.

> **”Untung sekarang aku tidak perlu lagi mencintainya dari kejauhan.”**

Aku tahu…

Kalimat itu ditujukan kepadaku.

Karena itu…

Aku selalu menekan tombol suka.

Unggahan terakhirnya adalah foto sekotak vitamin asam folat.

Captionnya berbunyi,

**”Bersiap menyambut calon bayi.”**

Ayah.

Ibu.

Keluarga.

Teman-teman.

Semua memberikan tanda hati.

Namun tiba-tiba muncul satu komentar.

> **”Bukannya dulu yang mau menikah dengan Enzo itu Althea? Kapan Mira jadi istrinya?”**

Itu komentar teman kuliah kami yang tinggal di Kanada dan tidak sempat menghadiri pernikahan.

Beberapa menit kemudian…

Komentar itu menghilang.

Lalu muncul komentar baru.

> **”Selamat ya, Kak Mira. Nanti hadiah pernikahannya aku kirim menyusul.”**

Aku hanya tersenyum kecil.

Ternyata…

Begitu mudah bagi semua orang berpura-pura bahwa tidak pernah terjadi apa-apa.

Aku mematikan ponsel.

Lalu memandang permukaan tenang Danau Wakatipu dari apartemen kecil yang kusewa di Queenstown.

Di tengah kesunyian itu…

Aku merasa seperti pohon yang berdiri sendirian.

Masih hidup.

Tetapi tidak lagi memiliki tempat bersandar.

Malam harinya…

Ibu menelepon.

Itu telepon pertamanya setelah tiga tahun.

“Thea,” katanya canggung.

“Bagaimana kabarmu di Swiss?”

“Bu… aku di Selandia Baru.”

Dia terdiam.

“Oh… kupikir dari unggahanmu…”

“Itu enam bulan lalu. Ada apa, Bu?”

Ayah mengambil alih telepon.

Suaranya masih setegas dulu.

“Pulanglah. Kami ingin mengenalkanmu dengan seseorang. Anak keluarga Cuevas, Gabriel. Baru pulang dari Amerika. Keluarganya baik, kita sudah lama saling kenal. Sudah waktunya kamu menikah.”

Tanganku yang memegang pagar balkon langsung terhenti.

**Gabriel Cuevas.**

Anak pendiam yang dulu selalu mengikuti kami ke mana-mana.

Sahabat Enzo saat latihan tenis.

Jarang tersenyum.

Jarang bicara.

Aku selalu mengira dia tidak menyukaiku.

“Dia setuju?” tanyaku.

“Iya,” jawab Ibu cepat.

“Dia sudah setuju.”

Keesokan harinya aku terbang kembali ke Jakarta.

Hampir tengah malam saat aku tiba di rumah keluarga kami di Pantai Indah Kapuk.

Tak ada seorang pun yang menyambutku di ruang tamu.

Di taman…

Bunga iris yang dulu kutanam sendiri sudah tidak ada.

Semuanya diganti mawar merah tanpa duri.

Asisten rumah tangga yang baru berkata,

“Pak Enzo yang merawat semuanya untuk Bu Mira. Katanya beliau tidak ingin tangan Bu Mira terluka oleh duri.”

Aku hanya tersenyum.

Saat menaiki tangga menuju lantai tiga…

Kulihat sebuah sosok berdiri di ujung lorong.

Kupikir itu Ayah.

Namun ketika cahaya lampu menerangi wajahnya…

Aku melihat seseorang yang sama sekali tidak kuduga akan menyambut kepulanganku.

**Gabriel Cuevas.**\

Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuat jantungku berhenti berdetak.

“Althea… akhirnya kamu pulang.”

“Di kehidupan ini… aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian lagi.”

Aku terpaku di anak tangga teratas. Langkah kaki yang tadinya ringan mendadak terasa begitu berat, tertahan oleh beban kalimat yang baru saja diucapkan Gabriel.

“Apa… apa maksudmu, Gabriel?” tanyaku dengan suara yang hampir berupa bisikan.

Gabriel berjalan mendekat. Langkahnya tenang, namun matanya memancarkan intensitas yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tidak ada lagi sosok pemuda pendiam yang selalu bersembunyi di balik bayang-bayang Enzo. Di hadapanku kini berdiri seorang pria dewasa yang menatapku seolah aku adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia ini.

“Di kehidupan pertama, aku hanya bisa melihatmu dari jauh,” katanya, suaranya bergetar menahan emosi yang telah dipendam puluhan tahun. “Aku melihatmu menanggung kesalahan yang bukan milikmu. Aku melihatmu menikah dengan pria yang ragu, merawatnya selama dua puluh tahun, hingga hari dia meninggal di rumah sakit itu…”

Napas Ibu tercekat. Gabriel juga kembali. Dia… mengingat semuanya.

“Saat Enzo meninggal, aku melihatmu menangis di koridor rumah sakit,” lanjut Gabriel, selangkah lebih dekat hingga aku bisa mencium aroma kayu cendana yang menenangkan darinya. “Aku ingin menghampirimu, Thea. Tapi aku tahu, di matamu, aku hanyalah orang asing. Maka malam itu, aku berdoa kepada Tuhan… jika ada kesempatan kedua, aku tidak ingin menjadi penonton lagi. Aku akan mencintaimu sebelum kamu hancur.”

Air mata yang selama tiga tahun ini kutahan di Singapura, Seoul, dan Queenstown, akhirnya luruh juga. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Di dunia yang begitu lihai berpura-pura ini, ternyata aku tidak sendirian.

Tiba-tiba, pintu kamar utama di lantai dua terbuka.

Enzo keluar dengan pakaian santai, disusul oleh Mira yang mengenakan gaun tidur sutra longgar, memperlihatkan perutnya yang mulai membuncit. Namun, langkah mereka terhenti saat melihatku dan Gabriel di ujung lorong.

Wajah Enzo mendadak berubah pucat pasi saat tatapannya bertemu denganku. Ada kerinduan, penyesalan, dan keterkejutan yang campur aduk di matanya. Tiga tahun tanpa kabarku rupanya telah menyiksanya.

“Thea… kamu pulang?” suara Enzo serak. Dia melangkah maju, seolah melupakan keberadaan Mira di sampingnya. “Kamu… kamu tidak pernah membalas pesanku. Aku—”

“Enzo,” Gabriel memotong dengan suara dingin dan tegas, melangkah maju hingga tubuh tegapnya menghalangi pandangan Enzo dariku. “Jaga batasanmu. Dia adalah calon istriku sekarang.”

“Calon istri?” Mira memekik, wajahnya yang semula dipenuhi kebanggaan instan langsung menegang. “Gabriel, apa kamu gila? Dia hanya pelarian! Kenapa semua orang harus berputar di sekeliling Althea?!”

Aku menatap Mira, lalu beralih ke Enzo. Di kehidupan dulu, aku menghabiskan dua puluh tahun untuk mengemis cinta pria ini. Namun sekarang, melihatnya berdiri di sana, aku hanya melihat seorang pria egois yang terperangkap dalam pilihannya sendiri.

“Selamat atas kehamilanmu, Mira,” kataku tenang, tanpa ada nada sinis sedikit pun. “Dan Enzo… terima kasih karena di malam pertunangan itu, kamu memilih untuk masuk ke kamar tamu. Pilihanmu malam itu adalah hadiah terbesar dalam hidupku.”

Enzo mematung. Kata-kataku barusan adalah konfirmasi mutlak baginya: Aku tahu dia juga kembali ke masa lalu, dan aku sengaja membiarkannya pergi. Penyesalan terdalam terpancar dari matanya, karena dia tahu, kehidupan “sempurna” yang dipamerkan Mira di media sosial selama tiga tahun ini hanyalah topeng untuk menutupi rumah tangga mereka yang hambar dan penuh kecurigaan. Enzo mendapatkan Mira yang selalu diinginkannya di kehidupan lalu, namun dia kehilangan jiwanya.

Aku tidak sudi lagi menjadi bagian dari drama mereka. Aku menoleh ke arah Gabriel dan tersenyum. “Ayo turun, Gabriel. Ayah dan Ibu pasti sudah menunggu.”

Gabriel tersenyum—sebuah senyuman tulus yang belum pernah dia perlihatkan di masa lalu—dan mengulurkan tangannya. “Mari, Althea.”

Enam bulan kemudian, pernikahan kami digelar. Bukan di Pantai Indah Kapuk, bukan pula di Jakarta yang penuh dengan kenangan menyesakkan. Kami menikah di sebuah kapel kecil di tepi Danau Wakatipu, Queenstown, dihadiri oleh sahabat-sahabat sejati yang menghargai kami apa adanya. Ayah dan Ibu tidak datang, terlalu sibuk mengurus rumah tangga Mira dan Enzo yang kabarnya mulai sering diwarnai pertengkaran hebat. Tapi aku tidak peduli lagi.

Saat Gabriel menyematkan cincin di jariku, dia berbisik, “Terima kasih sudah pulang, Thea.”

Aku menatap matanya yang hangat, merasakan angin musim gugur Selandia Baru yang menerpa wajahku. Di kehidupan pertama, aku mati dalam penjara penyesalan orang lain. Namun di kehidupan kedua ini, aku menyadari satu hal:

Mengalah bukanlah sebuah kekalahan jika itu membawamu pergi dari tempat yang salah. Terkadang, melepaskan apa yang kita kira milik kita adalah cara semesta untuk menuntun kita kepada seseorang yang benar-benar siap menggenggam tangan kita—bukan hanya di kehidupan ini, tapi di kehidupan mana pun kita dilahirkan kembali.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.