Saat Festival San Juan, ibu mertuaku memasak satu panci besar suman. Aku menghampiri dengan gembira untuk mengambil satu, tetapi dia langsung memukul punggung tanganku…
“Ini cuma untuk anakku. Kalau mau makan, beli sendiri.”
Aku terpaku di tempat.
Aku menoleh ke arah suamiku, Juanito, yang duduk santai di ruang tamu dengan kaki bersilang sambil menikmati suman.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Aku masuk ke kamar dengan tenang.
Aku berpikir selama setengah jam, lalu mengambil ponsel dan memesan River View Suite di sebuah hotel bintang lima.
Setelah itu, aku menelepon ibuku.
“Bu, malam ini aku traktir Ibu makan buffet. Makan lobster sepuasnya.”
Bab 1: Suman di Festival San Juan
01
Pada hari Festival San Juan, Maria Luz memasak satu panci besar suman.
Aroma harum daun pisang memenuhi seluruh dapur.
Aku baru saja pulang kerja, membawa beberapa hiasan dan satu kotak mahal bird’s nest soup yang kubeli khusus untuknya.
“Bu, sumannya sudah matang?”
Aku mencuci tangan lalu berjalan mendekati kompor.
Namun sebelum sempat mengambil satu, Maria Luz tiba-tiba memukul punggung tanganku dengan sendok sayur.
Tidak terlalu sakit.
Tetapi bunyinya terdengar sangat keras.
“Jangan sentuh.”
Dia langsung menutup panci itu tanpa sedikit pun menoleh ke arahku.
“Ini cuma untuk anakku. Kalau mau makan, beli sendiri.”
Tanganku membeku di udara.

Di ruang tamu, suamiku Juanito duduk santai dengan kaki bersilang sambil membuka bungkus daun pisang.
Di piringnya sudah ada dua potong suman besar berisi telur asin dan daging.
Dia mendengar semuanya.
Namun dia bahkan tidak mengangkat kepala.
Aku menatapnya.
Dia menggigit suman itu, lalu berkata pelan dengan mulut masih penuh makanan,
“Ibu sudah capek membuatnya dari pagi. Jangan dibesar-besarkan.”
02
Kata-katanya meluncur begitu saja, ringan dan tanpa beban, seolah-olah dipukul dengan sendok sayur di depan suami sendiri adalah hal yang wajar.
Aku menatap punggung tangan yang kini mulai memerah. Rasa perihnya menjalar bukan di kulit, melainkan langsung ke ulu hati. Suman itu padahal dibeli menggunakan uang belanja dariku, beras ketannya aku yang memikulnya sendiri dari pasar minggu lalu, dan daun pisangnya… aku yang membantunya membersihkan tadi malam hingga punggungku pegal.
Namun, saat matang, aku bahkan tidak punya hak untuk mencicipi sepotong pun.
“Oh,” kataku pelan. Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutku.
Aku tidak menangis. Aku tidak berteriak seperti wanita yang sedang histeris. Aku hanya berbalik, berjalan melewati Juanito yang masih asyik mengunyah, lalu melangkah masuk ke dalam kamar tidur kami. Pintunya kukunci rapat dari dalam.
Di dalam keheningan kamar, aku duduk di tepi ranjang. Setengah jam lamanya aku hanya menatap dinding kosong, merenungkan tiga tahun pernikahan yang kuhabiskan di rumah ini. Tiga tahun penuh dengan “mengalah”, “sabar”, dan “jangan dibesar-besarkan”.
Cukup. Detik ini juga, aku lelah menjadi menantu yang penurut.
Aku membuka ponselku, membuka aplikasi pemesanan hotel, dan tanpa ragu memilih River View Suite di hotel bintang lima terbaik di kota ini untuk tiga malam ke depan. Harganya setara dengan gaji bulanan Juanito, tetapi bagiku yang memiliki karier mapan, itu hanya sebagian kecil dari tabunganku. Selama ini aku hidup hemat demi menabung bersama Juanito, tetapi untuk apa?
Setelah reservasi selesai, aku mencari nomor kontak ibuku.
“Halo, Ibu? Ibu sudah makan malam?” tanyaku begitu sambungan tersambung, berusaha menekan getaran di suaraku agar terdengar ceria.
“Belum, Nak. Ibu baru mau memasak mie instan. Ada apa?” suara lembut Ibu terdengar di seberang sana.
“Jangan masak, Bu. Ganti baju Ibu dengan pakaian yang paling bagus. Malam ini aku traktir Ibu makan buffet di hotel bintang lima. Kita makan lobster sepuasnya.”
“Lho, mendadak sekali? Bagaimana dengan Juanito dan mertuamu? Hari ini kan Festival San Juan, biasanya kalian makan bersama,” tanya Ibu, ragu-jamu.
Aku tersenyum sinis, menatap pintu kamar yang tertutup. “Mereka punya pesta sendiri, Bu. Dan malam ini, kita punya pesta kita sendiri. Aku jemput Ibu lima belas menit lagi.”
03
Aku menutup telepon, lalu menarik koper kecil dari bawah ranjang. Aku memasukkan beberapa potong pakaian kerja, kosmetik, dan dokumen-dokumen pentingku. Tidak ada gunanya meninggalkan barang berharga di rumah yang tidak menganggapku ada.
Saat aku membuka pintu kamar sambil menggeret koper, Juanito masih duduk di sofa, kini sambil bermain game di ponselnya. Ibunya, Maria Luz, sedang sibuk membungkus sisa suman ke dalam wadah plastik—mungkin untuk dibawa ke rumah saudara-saudaranya besok.
Mendengar suara roda koper, Juanito akhirnya mendongak. Dahinya mengernyit.
“Mau ke mana kamu bawa koper? Mau mogok kerja lagi cuma karena masalah suman?” tanyanya dengan nada meremehkan.
Maria Luz ikut menoleh, mencibir dari balik meja makan. “Zaman sekarang menantu sensitif sekali. Cuma dibilangi begitu saja sudah mau pulang ke rumah ibunya. Manja.”
Aku menghentikan langkahku di dekat pintu utama. Aku menatap Juanito, lalu beralih ke Maria Luz. Tidak ada lagi rasa hormat atau keinginan untuk menyenangkan mereka di mataku.
“Aku tidak pulang ke rumah ibuku,” kataku, suaraku terdengar sangat tenang namun dingin. “Aku mau pergi menikmati hidup yang kubayar dengan uangku sendiri. Oh ya, Juanito…”
Aku melirik kotak bird’s nest soup mahal yang tadi kuletakkan di atas meja dapur. Aku berjalan mendekat, mengambil kotak itu kembali, dan memasukkannya ke dalam tas jinjingku.
“Karena Ibu bilang kalau mau makan harus beli sendiri… maka barang apa pun yang kubeli dengan uangku, tidak akan pernah kutinggalkan di rumah ini lagi. Selamat menikmati sumannya.”
Sebelum mereka sempat membalas, aku membuka pintu, melangkah keluar, dan menutupnya dengan dentuman keras—meninggalkan Juanito yang mulai panik dan Maria Luz yang melongo di ruang tamu.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.