SAKIT PERUTKU BEGITU PARAH, seolah ususku dipelintir tanpa henti sampai aku tak punya pilihan selain buru-buru pergi ke IGD. Dokter bilang aku harus segera dioperasi karena usus buntu.
Saat dokter mengetik resep obat di komputer, tiba-tiba dia berhenti lalu menatapku dengan bingung.
“Kamu belum pernah melahirkan, tapi kenapa sudah pakai IUD?”
IUD? (Alat kontrasepsi dalam rahim)
Tanganku langsung mencengkeram erat rekam medis itu. Tidak mungkin.
Aku sangat sulit hamil. Demi punya anak, aku sudah menghabiskan ratusan juta rupiah, menahan sakit dari suntikan dan operasi, serta melewati malam-malam tanpa tidur karena stres dan kekhawatiran.
“Dok… mungkin Anda salah?”
Dokter memutar layar komputer ke arahku lalu menunjuk bayangan kecil gelap di hasil X-ray.
“Lihat, ini kan jelas IUD. Kamu pasang sendiri lalu lupa?”
Jari-jariku gemetar saat menatap layar itu.
Lupa? Bagaimana mungkin?
Aku tidak pernah memasang IUD!
Selama tujuh tahun, ibu mertuaku terus menghina di depan wajahku:
“Mandul! Ayam saja masih bisa bertelur!”
Semua rasa malu dan sakit hati itu kutelan sendiri.
Tapi sekarang, melihat bayangan itu di dalam tubuhku… jantungku langsung terasa dingin.
Ternyata bukan karena aku tidak bisa punya anak.
Melainkan karena ada seseorang… yang sejak awal memang tidak ingin aku hamil!
## Kebenaran yang Menyakitkan
Aku memegang perut bagian bawahku.
Tujuh tahun lalu, setelah menikah dengan Angelo, kami mengetahui ada kista kecil di tubuhku.
Saat itu aku sangat takut, tetapi Angelo menggenggam tanganku dan berkata:
“Jangan takut, Annalyn. Kita cuma perlu mengangkat kista itu. Aku akan menemanimu menghadapi semuanya.”
Selama tujuh tahun, Angelo selalu menemaniku ke rumah sakit.
Setelah operasi usus buntu selesai, aku meminta dokter sekaligus melepas IUD itu.
Saat sedang beristirahat di ruang rawat, Angelo menelepon.
“Annalyn, kamu di mana? Dari tadi aku telepon nggak diangkat.”
“Aku di rumah sakit… baru selesai operasi,” jawabku lemah.
Nada suaranya langsung panik berlebihan.
“Rumah sakit? Rumah sakit mana?!”
Seolah sadar reaksinya terlalu mencurigakan, dia buru-buru menenangkan diri.
“Sa-sayang, operasi apa? Kamu sakit apa?”
Pikiranku kacau, jadi aku tidak menjawab banyak dan langsung menutup telepon.
Tak lama kemudian, pintu kamar rawatku terbuka.
Angelo masuk sambil terengah-engah.
“Kenapa operasi di sini? Kenapa nggak di rumah sakit tempat paman bekerja? Kamu pasti bisa dirawat lebih baik di sana.”
Saat berbicara, matanya diam-diam terus mengamati ekspresiku.
Aku menggenggam erat IUD yang baru dilepas di telapak tanganku sambil memaksa tersenyum.
“Karena sakitnya tiba-tiba parah sekali, jadi aku dibawa ke rumah sakit terdekat.”
Tepat saat itu, ibu mertuaku, Maria, masuk ke kamar.
Begitu mendengar penjelasanku, dia langsung mulai mengomel.
“Cuma usus buntu saja pakai drama segala! Gimana kalau melahirkan nanti? Eh iya, aku hampir lupa… mungkin memang kamu nggak bakal pernah melahirkan.”
“Ma, sudahlah. Annalyn masih lelah,” kata Angelo sambil memberiku air minum.
Begitu yakin aku belum tahu soal IUD itu, Angelo buru-buru pergi.
“Sayang, ada urusan kantor yang harus kuurus. Mama dulu yang jagain kamu di sini.”
Aku hanya mengangguk.
Begitu Angelo pergi, Maria langsung menatapku dengan jijik.
“Aku nggak punya waktu merawat perempuan mandul.”
Lalu dia pun keluar.
## Dokumen yang Mengejutkan
Tiga hari kemudian setelah keluar dari rumah sakit, aku tidak pulang ke rumah.
Aku pergi ke rumah sakit tempat paman Angelo bekerja—tempat aku menjalani operasi kista tujuh tahun lalu.
Saat tahu pamannya sedang tidak bertugas, aku langsung menuju bagian rekam medis…
Pembalasan yang Dingin
Aku menggunakan koneksi dari temanku yang bekerja di dinas kesehatan untuk mengakses arsip digital tujuh tahun lalu. Petugas rekam medis awalnya ragu, tetapi setelah melihat surat resmi dan wajahku yang pucat menahan amarah, dia membiarkanku membaca dokumen itu.
Di sana, tertera laporan operasi kistaku. Di baris paling bawah, tertulis instruksi tambahan yang ditandatangani oleh paman Angelo: “Pemasangan IUD atas permintaan suami pasien, demi kesehatan reproduksi pasca-kista.”
Air mataku luruh, bukan karena sedih, melainkan karena murka yang teramat sangat. Paman Angelo memalsukan persetujuanku, Angelo yang merencanakannya, dan Maria… wanita tua itu pasti tahu segalanya. Mereka bersekongkol menjadikanku lelucon selama tujuh tahun, membiarkanku disuntik ratusan kali, dan menghabiskan tabunganku sendiri demi program hamil yang tidak akan pernah berhasil.
Aku menyalin semua dokumen itu, memasukkan besi kecil IUD yang sudah dilepas ke dalam plastik klip, lalu melangkah keluar dengan kepala tegak. Rasa sakit di perutku sudah hilang, digantikan oleh dinginnya tekad untuk menghancurkan mereka.
Panggung Sandiwara Berakhir
Malam itu, aku pulang ke rumah. Di ruang tamu, Maria sedang bersantai sambil minum teh, sementara Angelo baru saja pulang kerja.
“Oh, si mandul akhirnya pulang. Kupikir kamu mau selamanya di rumah sakit,” cibir Maria tanpa melihatku.
“Annalyn, kamu dari mana saja? Aku mencarimu ke mana-mana,” kata Angelo, mencoba berakting sebagai suami yang perhatian.

Aku berjalan pelan ke meja kopi, lalu melemparkan map rekam medis dari rumah sakit pamannya tepat di depan wajah mereka. Di atas map itu, aku menjatuhkan plastik klip berisi IUD yang bernoda darah kering.
Wajah Angelo langsung memucat seketika saat melihat benda itu. Tubuhnya gemetar.
“Apa ini? Kamu mau pamer sampah?” Maria meraih map itu dan membukanya. Detik berikutnya, mulutnya terkunci rapat.
“Tujuh tahun,” suaraku terdengar begitu tenang namun mematikan. “Tujuh tahun kalian memberi tahu seluruh dunia bahwa aku mandul. Tujuh tahun aku menahan hinaan bagai kotoran di rumah ini. Ternyata, suami yang kupikir malaikat adalah seorang pengecut yang memasang alat pembatas rahim ini saat aku tak sadarkan diri di meja operasi.”
“Annalyn… dengarkan aku dulu… ini demi kebaikanmu! Waktu itu kistamu parah, kalau kamu hamil kamu bisa bahaya…” Angelo merangkak mendekat, mencoba memegang kakiku, tetapi aku mundur dengan jijik.
“Jangan sebut namaku dengan mulut busukmu itu, Angelo. Pamanmu sudah mengakui semuanya sore tadi setelah aku mengancam akan mencabut izin praktiknya dan melaporkannya ke polisi,” dustaku gertak, meski dokumen di tanganku sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan karier pamannya.
Maria, yang biasanya bermulut tajam, tiba-earth kehilangan kata-kata. Dia menatap putranya, lalu menatapku dengan ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kalian ingin aku tidak bisa punya anak karena kalian takut aku akan menguasai aset keluarga ini, kan? Karena kalian tahu, seluruh modal awal bisnis Angelo berasal dari warisan orang tuaku,” ujarku sambil tersenyum sinis.
Akhir dari Sebuah Siksaan
Aku mengeluarkan ponselku dan menekan tombol play. Suara rekaman Maria yang menghinaku “lebih rendah dari ayam” menggema di ruangan, diikuti oleh bukti visual dokumen yang sudah kuunggah ke grup keluarga besar mereka dan seluruh kolega bisnis Angelo beberapa menit yang lalu.
“Semua orang sudah tahu kelakuan menjijikkan kalian,” kataku sambil menarik koper yang sudah kusiapkan sejak siang. “Surat cerai dan gugatan pidana atas malpraktik serta konspirasi medis akan sampai besok pagi. Dan Angelo… aku menarik seluruh saham dan asetku dari perusahaanmu. Nikmatilah kemiskinan bersama ibumu yang tercinta.”
Angelo bersujud di lantai, menangis memohon ampun, sementara Maria terduduk lemas di sofa sambil memegangi dadanya. Namun, hatiku sudah membeku. Tidak ada lagi ruang untuk belas kasihan.
Aku membalikkan badan dan melangkah keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Saat pintu gerbang tertutup di belakangku, aku menarik napas dalam-dalam. Udara malam terasa begitu segar. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku merasa benar-benar bebas, dan rahimku… akhirnya siap menyambut masa depan yang baru, tanpa mereka.