Posted in

Saat aku pura-pura koma, aku menaruh kamera di sudut ruang kamar rawatku hanya untuk merekam suamiku yang tengah mesum dengan selingkuhannya, yang bekerja sebagai perawat. Saat aku bangun, suamiku terkejut. Karena aku…

Bau antiseptik menusuk pelan, bercampur dingin yang merayap dari dinding ruang rawat inap ini.

Segalanya putih. Terlalu bersih. Terlalu sunyi.

Aku terbaring di atas ranjang, tubuhku kaku seperti bukan milikku sendiri. Kelopak mataku tertutup rapat, napasku teratur, dan suara mesin di sampingku menjadi satu-satunya tanda bahwa aku masih hidup.

Dua minggu….Itulah waktu yang mereka pikir aku habiskan dalam kegelapan.

Padahal tidak. Aku sudah sadar sejak tiga hari lalu.

Aku bisa merasakan semuanya. Setiap sentuhan. Setiap suara.

Setiap bisikan yang mereka kira tak akan pernah sampai ke telingaku.

Dan sejak saat itu… aku memilih diam.

Aku memilih tetap menjadi “wanita koma” di mata mereka. Karena hanya dengan cara itu… aku bisa melihat siapa mereka sebenarnya.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Langkah kaki masuk. Aku mengenalnya. Alan. Suamiku.

Dulu, suara langkah itu selalu membuatku tenang. Selalu membuatku merasa pulang.

Sekarang… justru membuat dadaku terasa aneh.

Kursi ditarik. Suaranya menggesek lantai, kasar di telingaku.

Dia duduk di dekatku. Aku bisa merasakannya. Tatapannya. Diamnya. Seolah dia sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Ra…” Suara itu akhirnya keluar. Pelan. Serak. Seolah penuh penyesalan.

Jantungku berdegup. Aku menunggu. Menunggu sesuatu yang tidak aku ketahui, tapi entah kenapa membuat seluruh tubuhku menegang.

“Ra, maaf…” Ada jeda panjang setelahnya. Dan di jeda itulah… hatiku mulai retak.

“Aku harus katakan semuanya sama kamu…” Nada suaranya berubah. Tidak setenang biasanya.

Aku ingin membuka mata. Ingin melihat wajahnya. Ingin memastikan bahwa ini benar-benar Alan yang sama dengan pria yang menikah denganku dulu. Tapi aku tidak bergerak. Aku memilih tetap diam.

“Aku tidak bisa menunggu kamu tanpa kepastian.” Kalimat itu jatuh begitu saja. Ringan di mulutnya. Berat menghantam dadaku.

Dua minggu. Hanya dua minggu. Dan itu sudah cukup untuk membuatnya menyerah.

Aku ingin tertawa. Sungguh. Tapi bahkan untuk sekadar menggerakkan bibir pun… aku tidak melakukannya.

“Aku sudah berusaha, Ra. Aku datang setiap hari, aku temani kamu… tapi aku juga manusia.”

Aku bisa mendengar bagaimana dia mencoba terdengar masuk akal. Mencoba membenarkan dirinya sendiri.

“Aku punya kebutuhan. Aku punya hidup yang harus berjalan.”

Sunyi. Kalimat-kalimat itu menggantung di udara.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku sadar… aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar sakit. Ini… dingin. Sangat dingin.

“Ra…” Suaranya melembut lagi. Terlalu lembut. Terlalu dibuat-buat.

“Aku janji… aku akan tetap merawat kamu. Semua biaya pengobatan kamu, aku tanggung. Kamu tidak perlu khawatir.”

Janji. Lucu. Dulu kata itu adalah segalanya bagiku. Sekarang… terdengar seperti sisa belas kasihan yang dilempar begitu saja.

“Aku cuma butuh seseorang di samping aku.” Degup jantungku semakin cepat.

Ada sesuatu yang buruk akan datang. Dan aku tidak salah.

“Aku mau menikah.” Dunia di sekitarku seakan berhenti.

Hening. Kosong. Namun dia belum selesai.

“Aku butuh ada yang merawat aku… dan memenuhi kebutuhan biologisku.” Aku ingin menjerit. Ingin bangun. Ingin menampar wajahnya saat itu juga. Tapi aku tetap diam. Aku tetap menjadi tubuh tak bernyawa di hadapannya.

Dan kemudian—, dia menyebut nama itu. “Aku akan menikah dengan Calista.”

Calista.

Nama yang asing… tapi langsung terasa menyakitkan.

“Dia yang selama ini sudah merawat kamu.”

Oh.

Jadi begitu. Perawat.

Atau mungkin… lebih dari itu.

“Dia baik, Ra. Dia perhatian. Dia mengerti aku.”

Setiap kata seperti pisau yang ditancapkan perlahan ke dalam dadaku.

Tidak terburu-buru. Tapi dalam. Sangat dalam.

“Semoga kamu bisa mengerti aku.”

Dan di situlah—, sesuatu dalam diriku benar-benar mati. Bukan tubuhku. Tapi perasaanku. Cintaku. Kepercayaanku.

Aku tetap diam. Tak bergerak. Tak bereaksi. Seolah semua yang dia katakan… tidak pernah sampai kepadaku. Padahal—, aku mendengar semuanya. Dengan sangat jelas.

Pintu kembali terbuka. Langkah kaki lain masuk. Lebih ringan. Lebih percaya diri.

“Mas…” Suara perempuan. Lembut. Manja.

Aku mengenalnya. Suara yang pernah kudengar sebelumnya. Tata. Atau… Calista.

“Sudah kamu bilang?” tanyanya pelan.

“Sudah,” jawab Alan.

“Apa dia bereaksi?”

Aku hampir tertawa.

Bereaksi? Bagaimana caranya? Aku bahkan dianggap tidak hidup.

Alan terkekeh kecil. “Tentu saja tidak. Dia tidak akan dengar.”

Dan di detik itu—, aku tersenyum. Tipis. Dingin. Meski tak seorang pun bisa melihatnya.

Kalau saja mereka tahu…bahwa setiap kata mereka… masuk, tersimpan, dan tidak akan pernah kulupakan.

Langkah kaki Calista mendekat. Aku bisa membayangkan dia berdiri di samping ranjangku. Menatapku. Mungkin dengan senyum meremehkan.

“Kasihan ya…” ucapnya. “Cantik, kaya… tapi berakhir seperti ini.”

Aku merasakan sesuatu berdenyut keras di dadaku.

Namun aku tetap diam.

“Mas, kamu yakin semuanya aman?”

“Tentu saja,” jawab Alan tanpa ragu. “Semua aset atas nama dia… masih bisa kita atur. Mama juga sudah bantu.”

Mama. Sinta. Jadi… ini bukan hanya tentang mereka berdua. Tapi tiga orang. Sempurna. Pengkhianatan yang lengkap.

“Aku tidak sabar,” bisik Calista. “Menjadi istri kamu secara sah.”

Alan tertawa kecil. Dan suara itu…terdengar asing bagiku sekarang.

Aku masih terbaring. Tak bergerak. Tak bersuara. Namun di dalam diriku…semuanya sudah berubah.

Aku tidak akan bangun. Belum. Aku akan tetap menjadi wanita koma.

Wanita yang mereka anggap tidak tahu apa-apa. Karena dari posisi ini…aku bisa mendengar semuanya. Melihat semuanya. Dan menyusun semuanya. Kalau ini adalah permainan…maka mereka baru saja melakukan kesalahan terbesar. Karena mereka mengira aku lemah.

Mereka mengira aku tidak sadar. Padahal—, aku sedang mengingat setiap detail.

Setiap kata. Setiap rencana. Dan ketika aku bangun nanti…bukan air mata yang akan mereka lihat. Bukan amarah. Tapi—, kehancuran.

Perlahan. Tenang. Elegan.

“Teruslah bicara…Karena setiap kata yang kalian ucapkan hari ini…akan menjadi awal dari akhir kalian.”