*Saya Tidak Diundang ke Ulang Tahun ke-70 Ibu Mertua Saya—Tapi Saya yang Diminta Membayar Rp510 Miliar**
“Mommy… aku mau kue cokelat…” anakku menarik ujung bajuku sambil menatap dengan mata besar yang hampir menangis.
Saat itu aku sedang membungkuk mengikat tali sepatunya ketika ponselku bergetar. Pesan dari Marco—suamiku.
*”Malam ini aku tidak pulang. Makan malam perusahaan.”*
Aku tidak membalas. Namun tanpa sadar aku membuka Facebook.
Postingan dari Clarissa Santos—adik Marco—langsung muncul di berandaku. Ada sembilan foto dengan caption:
*”Ulang tahun Mama yang ke-70

Keluarga lengkap, kebahagiaan sempurna!”*
Aku membukanya.
Golden Pearl Manila—sebuah ballroom mewah dengan lampu kristal berkilauan, dipenuhi bunga segar, lebih dari dua puluh meja, dan tamu yang berdesakan.
Marco berdiri di belakang ibunya—Doña Elena Santos—dengan tangan di pundaknya dan senyum bak anak teladan.
Clarissa mengenakan gaun merah, memegang gelas anggur sambil bersulang dengan para tamu.
Semua orang ada di sana—keluarga, teman, rekan kerja.
Aku memperhatikan satu per satu setiap meja.
Aku tidak ada.
Anakku juga tidak ada.
“Mommy… kue…” anakku kembali menarik tanganku.
Aku tersenyum dan mengusap rambutnya.
“Ayo, Nak. Kita makan yang lebih enak.”
Tepat pukul sembilan malam, Marco menelepon berkali-kali.
Aku akhirnya mengangkatnya.
Suaranya hampir panik.
—Lena! Kamu di mana? Cepat datang ke Golden Pearl! Bawa kartu ATM-mu!
Aku bersandar di sofa dan melirik anakku yang sudah tertidur di sampingku.
—Kenapa?
—Jangan banyak tanya! Tagihan ulang tahun Mama sudah ditagih hotel! Uang kami masih kurang!
—Berapa?
—Rp510 miliar!
Aku tersenyum tipis.
—Ini ulang tahun ibumu. Aku tidak diundang. Bahkan anakmu juga tidak. Lalu aku yang harus bayar?
Ia terdiam sesaat, lalu suaranya berubah dingin.
—Lena, hentikan dramamu. Banyak orang di sini. Apa kamu tidak malu?
Aku duduk tegak dan menjawab dengan tenang.
—Dengarkan baik-baik. Hotel itu… milikku. Kalian tidak akan mampu membayarnya. Dan kamu… tidak perlu pulang lagi.
Seketika sambungan menjadi sunyi.
Terdengar suara gaduh di latar belakang, lalu suara Doña Elena.
—Marco? Dengan siapa kamu bicara?
Aku menutup telepon.
—
Keesokan paginya, pukul tujuh tepat, seseorang mengetuk pintu dengan keras.
Saat kubuka, Marco berdiri di sana.
Kemejanya kusut. Matanya merah. Jelas ia tidak tidur semalaman.
—Kamu bercanda, ya? tanyanya tanpa basa-basi.
Aku berbalik masuk dan memanaskan susu.
—Nak, sini. Minum dulu.
—Lena! Aku sedang bicara denganmu!
Ia mengikutiku dan mencengkeram lenganku.
—Kamu bilang hotel itu milikmu? Kamu sudah gila? Kamu cuma ibu rumah tangga—
Aku menarik tanganku.
—Siapa yang bilang aku cuma ibu rumah tangga?
Aku memberikan susu kepada anakku.
—Pelan-pelan, masih panas.
—Sudahlah! Manajernya bilang bos yang memerintahkan tagihan itu ditahan. Siapa sebenarnya kamu?
Aku menatapnya lurus.
—Aku tidak punya hubungan dengan pemiliknya.
—Karena aku pemiliknya.
Ia membeku sesaat lalu tertawa.
—Kamu? Pemilik Golden Pearl?
—Bukan hanya Golden Pearl. Azure Crown Hospitality. Tiga hotel di Manila, Cebu, dan Makati… semuanya milikku.
Perlahan senyumnya menghilang.
—Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?
—Aku bekerja.
—Di belakangku?
—Aku tidak perlu meminta izin darimu.
Aku menatapnya tanpa berkedip.
—Saat kamu menghabiskan malam untuk bersenang-senang, aku sedang bernegosiasi.
—Saat kamu menemani ibumu berbelanja, aku sedang bertemu investor.
—Saat kamu mengatakan aku tidak berguna, aku baru saja membeli hotel lain.
Marco tidak mampu berkata apa-apa.
—Tagihan semalam… katanya lirih.
—Bisakah kamu—
—Tidak.
Aku memotongnya.
—Siapa yang mengadakan pesta, dia yang membayar. Aku tidak ada hubungannya dengan itu.
Aku menarik napas panjang.
—Dan hubungan kita juga sudah selesai.
—Pernikahan ini berakhir.
Wajahnya seolah runtuh saat itu juga.
Ponselku berdering.
Manajerku menelepon.
—Bu Lena, keluarga Santos sudah datang. Mereka ingin bertemu dengan pemilik hotel.
—Saya segera ke sana.
Aku berdiri, mengambil tas, lalu menatap Marco.
—Kamu ingin tahu siapa aku sebenarnya?
—
Sesampainya di Golden Pearl, kami langsung menuju VIP Lounge.
Begitu pintu terbuka, ruangan itu penuh sesak.
Doña Elena berdiri di tengah dengan tatapan dingin.
Clarissa menyeringai.
—Kamu ngapain di sini? Mau numpang makan lagi?
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan lurus ke dalam.
Manajer hotel segera membungkuk hormat.
—Selamat pagi, Bu Lena.
Lalu ia berbalik menghadap semua orang.
—Hadirin sekalian…
—Pemilik Azure Crown Hospitality…
—Nona Lena Reyes.
Seluruh ruangan langsung sunyi.
Gelas anggur Clarissa terjatuh dari tangannya.
Marco tidak mampu bergerak.
Dan pada saat itulah Doña Elena menghantam meja dengan keras.
—Itu tidak mungkin!

Aku tersenyum dan meletakkan tagihan di depannya.
—Rp510 miliar.
—Tunai… atau transfer?
Doña Elena menatap secarik kertas di atas meja seolah-olah itu adalah surat eksekusi mati. Wajahnya yang tadinya angkuh kini memucat, berganti antara warna merah padam dan putih pasi.
“Lena… kamu…” Suara Doña Elena bergetar, kehilangan seluruh wibawa yang selama ini ia agung-agungkan di depan menantunya. “Kamu sengaja menjebak kami?!”
“Menjebak?” Aku terkekeh pelan, melangkah mendekat dan melipat kedua tanganku di dada. “Bukankah Ibu sendiri yang memilih ballroom termewah? Bukankah Clarissa yang memesan kaviar dan anggur terbaik tahun 1945 untuk pamer di media sosial? Saya bahkan tidak ada di daftar undangan, bagaimana bisa saya menjebak kalian?”
Clarissa menggelengkan kepalanya histeris, air mata mulai merusak riasan tebalnya. “Marco! Katakan sesuatu! Dia ini istri-mu! Suruh dia membatalkan tagihannya! Rp510 miliar… dari mana kita punya uang sebanyak itu?!”
Marco melangkah maju, tangannya gemetar saat mencoba menyentuh pundakku. “Lena, tolong… kita ini keluarga. Jangan mempermalukan ibuku di depan umum seperti ini. Kalau media tahu—”
“Keluarga?” Aku menepis tangannya dengan kasar. Tatapanku mendingin. “Keluarga mana yang merayakan ulang tahun ke-70 secara besar-besaran, tapi meninggalkan menantu dan cucu kandungnya di rumah kelaparan tanpa memberi tahu apa pun? Kalian menganggapku tidak ada saat kalian senang, tapi begitu tagihan datang, tiba-tiba aku adalah bagian dari keluarga?”
Ruangan VIP itu mendadak terasa mencekam. Para staf hotel berdiri tegap di belakangku, siap menunggu perintah.
“Manajer,” panggilku tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Marco.
“Ya, Bu Lena?” jawab sang manajer dengan sigap.
“Berikan waktu tiga puluh menit kepada keluarga Santos untuk melunasi tagihan ini. Jika dalam tiga puluh menit uangnya tidak masuk ke rekening perusahaan, hubungi tim hukum kita. Sita seluruh aset atas nama Marco Santos dan Doña Elena yang bisa dijadikan jaminan. Jika masih kurang, laporkan mereka atas tindakan penipuan dan kegagalan membayar.”
“Baik, Bu.”
Mendengar kata ‘sita aset’ dan ‘penipuan’, Doña Elena langsung terduduk lemas di kursi. Segala keangkuhannya runtuh berantakan. Ia memandangku dengan mata berkaca-kaca, memohon. “Lena… tolong, Nak… Ibu salah. Ibu minta maaf…”
“Sudah terlambat, Doña Elena,” ucapku datar.
Aku berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Sebelum melangkah keluar, aku berhenti sejenak dan menoleh ke arah Marco yang berdiri mematung bak mayat hidup.
“Surat cerai akan dikirim ke kantormu sore ini, Marco. Jangan pernah mencari aku atau anakku lagi. Nikmatilah sisa harimu bersama ‘keluarga sempurnamu’ ini.”
Aku melangkah keluar dari VIP Lounge dengan kepala tegak, meninggalkan jeritan panik Clarissa dan tangisan penyesalan Marco yang menggema di dalam ruangan. Matahari Manila bersinar cerah di luar, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa benar-benar bebas.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.