Sebelum Nenekku Mengembuskan Napas Terakhir, Ia Mewariskan Sebuah Pena Ajaib yang Bisa Mewujudkan Apa Pun yang Digambar. Namun Saat Giliranku Menggunakannya, Rahasia Kelam yang Selama Ini Dikubur Keluargaku Justru Terungkap.**
Sebelum meninggal, nenekku meninggalkan sebuah pena tua kepada keluarga kami.
Itu bukan pena biasa.
Apa pun yang digambar dengan pena itu…
Akan menjadi kenyataan.
Pamanku menggambar surat penerimaan di **Universitas Indonesia**, dan sepupuku yang selama ini hanya menghabiskan waktu di warnet tiba-tiba dinyatakan diterima dengan beasiswa penuh.
Bibiku menggambar tiket undian berhadiah senilai **Rp30 miliar**, dan dalam hitungan hari mereka pindah dari rumah reyot ke sebuah vila mewah di BSD City.
Tambang emas di bawah kolam ikan keluarga…
Digambar.
Gedung enam puluh lantai yang berdiri di atas bekas sawah…
Digambar.
Bayi laki-laki di dalam kandungan bibiku, tunangan tampan milik sepupuku, hingga deretan mobil mewah di halaman rumah…
Semuanya hanya hasil sebuah gambar.
Sampai akhirnya…
Tiba giliranku.
Wajah **Nenek Salvacion** langsung berubah. Mata yang semula redup tiba-tiba dipenuhi kecemasan. Dengan tangan gemetar, ia menyodorkan pena itu kepadaku.
*”Lira,”* bisiknya lirih, *”Nak… sekarang giliranmu. Kalau ada sesuatu yang kauinginkan, gambarlah sekarang juga.”*
Menurut Nenek, keluarga **Dimalanta** berasal dari seorang pelukis tua yang pernah diberkati roh penjaga gunung.
Darah keluarga kami adalah kuncinya.
Kalau bukan keturunan Dimalanta, pena itu tidak akan bereaksi, sekeras apa pun digunakan.
Tetapi bagi keturunan asli…
Satu goresan saja sudah cukup.
Orang pertama yang mencobanya adalah Bibi Vangie.
Sambil tertawa ia menggambar selembar tiket undian di balik kalender bekas.
*”Kalau ini benar-benar berhasil, aku tidak perlu kerja seumur hidup lagi,”* candanya.
Begitu pena diangkat, sebuah mobil langsung berhenti di depan rumah.
Beberapa orang turun sambil membawa kamera, bunga, dan replika cek raksasa.
*”Apakah benar ini Ibu Evangelina Dimalanta? Selamat! Anda memenangkan hadiah utama undian nasional!”*
Bibi Vangie langsung terduduk di lantai.
Paman Roman hanya bisa melongo karena iri.
Anaknya, **Jomar**, tidak mau kalah.
Di kampung ia terkenal sebagai pengangguran yang hobi judi online dan bermain gim sepanjang hari.
Ia merebut pena itu lalu menggambar sebuah amplop tebal.
Di bagian depan tertulis jelas:
**”Universitas Indonesia – Surat Penerimaan Beasiswa Penuh.”**
Keesokan harinya, namanya muncul di berbagai media sebagai siswa jenius asal Jawa Barat.
Sepupuku **Bea**, yang sepanjang hari hanya sibuk berswafoto dan tidak pernah mau bekerja, menggambar seorang pengusaha muda tampan yang sedang berlutut melamarnya.
Sebelum pukul enam sore, seorang pria berjas benar-benar datang membawa cincin berlian dan seikat mawar.
Namun yang paling serakah adalah Paman Roman.
Uang saja tidak cukup baginya.
Di atas selembar karton besar, ia menggambar sebuah gedung pencakar langit lengkap dengan pusat perbelanjaan di lantai bawah dan apartemen mewah di bagian atas.
Esok paginya…
Di atas tanah kosong bekas sawah keluarga…
Benar-benar berdiri gedung setinggi enam puluh lantai.
Kacanya berkilau diterpa matahari.
Paman Roman tertawa puas.
*”Emas bisa habis. Uang bisa lenyap. Tapi gedung sewaan? Itu menghasilkan uang selamanya!”*
Semua orang berpesta.
Mereka menyembelih kambing.
Membuka minuman mahal.
Membeli mobil baru.
Bahkan mulai bertengkar memperebutkan siapa yang paling berhak memegang pena itu.
Hanya aku yang tetap diam.
Karena di tengah tawa mereka…
Aku melihat wajah Nenek semakin pucat.
Seolah ia melihat sesuatu yang tidak bisa kami lihat.
Malam harinya, ia memanggilku ke samping tempat tidurnya.
*”Lira,”* katanya lirih, *”sekarang giliranmu. Gunakan pena itu… sebelum semuanya terlambat.”*
Paman Roman, Bibi Vangie, Jomar, dan Bea berdiri mengelilingiku.
Mereka semua tersenyum.
Namun senyum itu bukan karena bahagia.
Melainkan karena tamak.
Aku mengambil pena itu.
Anehnya terasa sangat berat meski ukurannya kecil.
Terbuat dari kayu hitam yang mulai retak, sementara ujungnya selalu tampak basah oleh tinta meskipun tidak pernah dicelupkan ke mana pun.
*”Apa yang akan kamu gambar?”* tanya Paman Roman. *”Rumah? Mobil? Uang? Atau ijazah? Jangan bodoh.”*
Aku tersenyum tipis.
*”Kata Nenek, setiap keturunan hanya boleh menggunakan pena ini tiga kali seumur hidup.”*
Bibi Vangie mengernyit.
*”Maksudmu?”*
*”Silakan kalian gunakan dulu kalau masih ada yang diinginkan. Setelah kalian puas, baru aku menggambar.”*
Mendengar itu wajah mereka langsung berbinar.
*”Nah, begitu dong!”* seru Paman Roman. *”Akhirnya anak ini tahu balas budi juga.”*
*”Benar,”* sambung Bibi Vangie. *”Kalau bukan karena kami, kamu pasti sudah terlantar sejak kecil. Orang tuamu sudah meninggal. Kami yang membesarkanmu.”*
Aku hanya menunduk.
**Balas budi.**
Begitulah mereka menyebut ruang bawah tanah gelap tempatku tidur sejak usia delapan tahun.
Begitulah mereka menyebut nasi sisa dan kuah dingin yang selalu kuberikan.
Begitulah mereka menyebut uang asuransi orang tuaku yang mereka ambil.
Jeep peninggalan Ayah yang dirampas Paman Roman.
Warung kecil milik orang tuaku yang mereka kuasai.
Bahkan rumahku sendiri…
Mereka usir aku dari sana.
Setiap kali Paman Roman kalah berjudi…
Aku selalu dijadikan kambing hitam.
*”Kamu pembawa sial!”* bentaknya suatu hari. *”Orang tuamu mati gara-gara kamu! Sekarang nasib burukmu ikut menghancurkan kami!”*
Namun aku tidak pernah membalas.
Karena aku tahu…
Pena itu tidak boleh digunakan sembarangan.
Aku tahu itu…
Karena aku pernah melihat kekuatan aslinya.
Sepuluh tahun lalu.
Malam Tahun Baru.
Kami sedang pulang dari Bandung menggunakan mobil tua milik Paman Roman.
Hujan turun sangat deras.
Jalan licin.
Di kursi depan Paman Roman dan Jomar bertengkar.
Jomar meminta uang untuk bermain di warnet.
Paman menolak.
Dalam kemarahannya, Jomar tiba-tiba merebut setir.
*”Kalau kalian tidak mau kasih uang, kita mati bersama saja!”*
Mobil berputar.
Menghantam pembatas jalan.
Lalu terjun ke jurang.
Aku masih ingat jeritan Ibu yang memelukku.
Lengan Ayah yang melindungi tubuhku.
Dingin.
Gelap.
Dan besi mobil yang menekan kami.
Saat sadar…
Aku melihat Kakek Aurelio.
Tubuhnya terjepit di kursi belakang.
Napasnya tinggal sedikit.
Namun dari balik bajunya…
Ia mengeluarkan pena yang sama.
Ia berbisik pelan.
Lalu menggambar sebuah tangan di udara.
Dan di tengah hujan deras…
Muncullah sebuah tangan raksasa dari kegelapan.
Tangan itu mengangkat seluruh mobil kami.
Satu per satu kami berhasil diselamatkan.
Semua selamat…
Kecuali Ayah dan Ibu.
Mereka masih hidup ketika tiba di rumah sakit.
Dokter mengatakan mereka masih memiliki harapan jika segera dioperasi.
Namun Paman Roman dan Bibi Vangie menolak membayar.
*”Kalau akhirnya tetap meninggal, uang kita sia-sia,”* kata Bibi.
*”Kalau kami keluar uang sebanyak itu, siapa yang akan menggantinya?”* tambah Paman. *”Kamu masih kecil, Lira. Tidak usah ikut campur.”*
Aku berlutut di depan mereka.
Memohon sambil memegang kaki Paman Roman hingga suaraku habis.
Namun…
Ia hanya mendorongku hingga jatuh.
Malam itu…
Aku kehilangan segalanya.
Kupikir tangan raksasa yang kulihat hanyalah halusinasi seorang anak kecil yang hampir mati.
Sampai malam setelah pemakaman Ayah dan Ibu.
Aku menangis sendirian di kamar gelap ketika terdengar ketukan pelan di pintu.
Tiga kali.
Tok.
Tok.

Tok.
Lalu…
Aku mendengar suara Ibu.
*”Nak…”* bisiknya dari balik pintu.
Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian cerita tersebut:
Bab Akhir: Bayaran dari Tinta Darah
“Nak… buka pintunya,” bisik suara Ibu dari balik kegelapan.
Malam itu, sepuluh tahun yang lalu, aku membuka pintu dengan jantung berdebar. Namun, yang berdiri di sana bukanlah ibuku yang tersenyum hangat, melainkan sesosok makhluk yang terbuat dari bayangan hitam pekat dengan coretan tinta kasar yang menyerupai wajah Ibu. Air matanya adalah tinta yang menetes, mengotori lantai kayu.
Di belakangnya, Nenek Salvacion berdiri sambil memegang pena tua itu dengan wajah berselimut penyesalan terdalam.
“Pena ini tidak menciptakan sesuatu dari ketiadaan, Lira,” bisik Nenek malam itu sambil menarikku menjauh dari perwujudan semu itu. “Pena ini memindahkan takdir. Mengambil dari masa depan, meminjam dari yang hidup, atau merenggut dari yang telah tiada. Setiap goresan memiliki harga yang harus dibayar.”
Nenek menghapus gambar perwujudan Ibu dengan air suci, membuat bayangan itu memekik dan lenyap menjadi asap hitam. Sejak malam itu, aku paham. Keberuntungan instan yang didapat dari pena ini hanyalah utang yang menanti untuk ditagih.
Kembali ke masa sekarang, di kamar Nenek yang pengap.
Nenek Salvacion mengembuskan napas terakhirnya tepat setelah aku meletakkan pena itu kembali ke atas meja. Matanya tertutup, menyisakan senyum getir yang terpatri di wajahnya yang keriput. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menangisi kematian Nenek.
“Nenek sudah mati! Sekarang pena ini sepenuhnya milik kita!” seru Jomar serakah.
Paman Roman langsung menyambar pena itu. “Lira, kamu sudah bilang tidak butuh apa-apa, kan? Biar kami yang pakai sisa kuotamu!”
Bibi Vangie, Jomar, dan Bea langsung berebut kertas. Keserakahan telah membutakan mata mereka dari keganjilan yang mulai terjadi di luar rumah.
Mereka mulai menggambar lagi. Paman Roman menggambar tumpukan emas batangan. Bibi Vangie menggambar awet muda untuk wajahnya. Bea menggambar jet pribadi, dan Jomar menggambar sebuah pulau pribadi. Mereka menggambar dengan kalap, tertawa keras bak orang gila.
Namun, tepat saat tinta dari gambar terakhir mereka mengering…
DUARRR!
Suara gemuruh dahsyat mengguncang bumi. Gedung enam puluh lantai yang digambar Paman Roman di atas bekas sawah tiba-tiba retak. Bukan karena gempa, melainkan karena tanah di bawahnya amblas—tanah itu tidak pernah memiliki fondasi nyata. Gedung megah itu runtuh seketika, meratakan vila mewah BSD City milik Bibi Vangie yang berada di dekatnya.
“Apa yang terjadi?! Mobil-mobilku!” teriak Paman Roman melihat deretan mobil mewah di halaman tiba-tiba terbakar dan meleleh menjadi cairan tinta hitam yang berbau busuk.
“Wajahku! Wajahku kenapa?!” pekik Bibi Vangie histeris. Kulit wajahnya mendadak berkerut ekstrem, mengelupas, dan berubah menjadi hitam legam seperti kertas yang dibakar. Tubuhnya dipaksa membayar harga dari “keawetmudaan” yang ia pinjam secara paksa.
Tunangan tampan Bea mendadak kaku, matanya berubah menjadi putih, dan tubuhnya ambruk ke lantai—berubah menjadi boneka jerami berlumuran tinta hitam. Sementara itu, kandungan Bibi Vangie yang semula berisi bayi laki-laki mendadak mengempis, mengeluarkan asap pekat yang menyesakkan dada.
“Lira! Apa yang kamu lakukan?! Ini pasti garagara kamu!” bentak Paman Roman, merangkak di lantai sambil memegang dadanya yang mulai menyempit. Tubuhnya mulai melemah, energi kehidupannya disedot habis oleh alam untuk membayar semua kemewahan palsu yang mereka nikmati.
Aku berdiri di sudut kamar, menatap mereka dengan dingin. Aku mengambil pena tua yang terjatuh dari tangan Paman Roman yang gemetar.
“Aku tidak melakukan apa-apa, Paman,” kataku pelan, memandangi ujung pena yang kini berwarna merah pekat—bukan lagi hitam. “Aku hanya membiarkan kalian menghabiskan sisa kuota kalian sendiri. Pena ini mendeteksi keturunan Dimalanta. Tapi pena ini paling membenci mereka yang serakah dan tega menumpahkan darah keluarganya sendiri demi uang.”
Aku berjalan ke arah dinding kamar yang kosong.
“Kalian membiarkan Ayah dan Ibu mati karena kalian tidak mau keluar uang. Kalian merebut semua milikku dan membuangku ke ruang bawah tanah,” lanjutku, air mata mulai mengalir di pipiku, namun suaraku tetap kokoh. “Malam ini, seluruh utang takdir kalian telah jatuh tempo.”
Dengan tangan yang mantap, aku menorehkan goresan pertamaku—dan terakhirku—menggunakan pena itu di atas dinding.
Aku tidak menggambar uang. Tidak menggambar kekuasaan.
Aku menggambar sebuah timbangan keadilan, dan sebuah pintu penjara yang kokoh.
Begitu pena kuangkat dari dinding, pintu kamar mendadak didobrak paksa. Belasan petugas kepolisian dan tim pemberantasan korupsi masuk dengan senjata lengkap. Di belakang mereka, seorang pria paruh baya yang kukenal sebagai pengacara mendiang Ayah berjalan membawa sebuah map besar.
“Roman Dimalanta, Evangelina Dimalanta, dan Jomar Dimalanta, Anda semua ditahan atas kasus penipuan pencucian uang berskala nasional, penggelapan aset anak di bawah umur, dan keterlibatan dalam sindikat judi online internasional,” ujar petugas polisi itu tegas.
Semua kekayaan instan mereka yang tersisa kini disita oleh negara atas bukti-bukti korupsi dan kejahatan finansial yang tiba-tiba “muncul” secara sah di sistem kepolisian—hasil dari perwujudan gambar timbangan keadilanku.
Paman Roman dan yang lainnya diseret keluar dari rumah sambil menangis dan meraung, menghadapi sisa hidup mereka di balik jeruji besi dalam keadaan miskin, cacat, dan terhina.
Setelah rumah kembali sunyi, aku menatap pena tua di tanganku. Kayunya kini sepenuhnya retak dan hancur menjadi abu di telapak tanganku, menghilang bersama angin malam. Tugasnya telah selesai. Sihir itu telah musnah bersama sirnanya keserakahan keluarga Dimalanta.
Aku berjalan keluar dari rumah itu, menatap langit malam yang bersih. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku merasa bebas. Ayah dan Ibu telah terbalaskan, dan aku tidak perlu lagi menggambar masa depanku—aku akan menulisnya sendiri dengan tanganku sendiri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.