Posted in

SEKEMBALINYA DARI PERJALANAN BISNIS DI CEBU, AKU DIMARAHI PEMBANTU RUMAH TANGGA KARENA MENGAMBIL DUA EKOR KEPITING YANG DIKIRIM IBUKU—HINGGA DIA MEMBAWA PUTRINYA KE RUMAH DAN MENGATAKAN BAHWA MEREKALAH PEMILIK RUMAH YANG SEBENARNYA**

SEKEMBALINYA DARI PERJALANAN BISNIS DI CEBU, AKU DIMARAHI PEMBANTU RUMAH TANGGA KARENA MENGAMBIL DUA EKOR KEPITING YANG DIKIRIM IBUKU—HINGGA DIA MEMBAWA PUTRINYA KE RUMAH DAN MENGATAKAN BAHWA MEREKALAH PEMILIK RUMAH YANG SEBENARNYA**

Ketika aku pulang dari perjalanan bisnis tiga hari di Cebu, aku menemukan dua ekor kepiting raksasa di dapur.

Itu kiriman ibuku dari Davao.

Namun bahkan sebelum sempat meminta chef memasaknya, pembantu rumah tangga kami sudah berdiri menghalangiku.

“Ma’am Elena,” katanya dingin, “siang ini Tuan Arturo dan Tuan Miko tidak makan di rumah.”

Aku mengangguk sambil melepaskan blazer.

“Aku tahu. Justru karena itu masak untukku. Yang satu jadi bubur kepiting, yang satu lagi dikukus dengan garlic butter.”

Aling Nida tidak bergerak.

Dia hanya menatapku seolah-olah akulah orang asing di rumahku sendiri.

“Tidak boleh dihabiskan begitu saja,” katanya dengan nada seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.

Aku menoleh kepadanya.

“Kenapa?”

“Itu mahal sekali. Masa langsung dimasak semua? Apa kamu sudah minta izin kepadaku?”

Aku terdiam beberapa detik.

Kepadanya?

Kepada Aling Nida, pembantu rumah tangga yang baru tiga bulan bekerja di rumah kami?

Ayahku dan adikku, Miko, sama-sama alergi seafood. Memang hanya aku yang makan kepiting di rumah.

Karena itulah Ibu mengirimkannya khusus untukku.

Aku berusaha tetap tenang.

“Aling Nida, itu memang untukku. Kalau mau, aku bisa sisakan sedikit untuk kalian.”

Dia langsung cemberut.

“Walaupun mereka tidak makan, bukan berarti kamu boleh boros begitu. Kamu sudah dua puluh sembilan tahun, Ma’am Elena. Harus belajar rendah hati. Tidak selamanya kamu bisa jadi putri kesayangan di rumah ini.”

Aku tersenyum sinis.

“Aling Nida, tugasmu adalah memasak dan membersihkan rumah. Bukan mengajariku cara menjalani hidup.”

Dia tidak menjawab.

Namun kebencian di matanya terlihat jelas.

Ketika chef pribadi yang kupanggil datang, aku meminta kedua kepiting itu dimasak. Aku hanya makan setengahnya.

Sisanya kubawa ke kantor untuk timku yang hampir tidak pernah tidur karena proyek besar.

Saat hendak keluar rumah, aku mendengar dia berbisik:

“Dasar egois. Pantas saja tidak ada laki-laki yang serius dengannya.”

Aku memejamkan mata.

Kalau bukan karena Ayah memiliki perut yang sensitif dan Miko sangat pemilih soal makanan, mungkin dia sudah lama kupecat.

Keesokan paginya, aku turun lebih awal untuk minum kopi.

Ayah baru saja pulang jogging.

Aling Nida hampir berlari keluar dari dapur sambil membawa handuk.

“Tuan Arturo, Anda berkeringat sekali. Biar saya bantu.”

Ayah menghindar dengan sopan.

“Tidak usah, Nida. Terima kasih.”

Dia segera mengambilkan segelas air.

Saat Ayah meminumnya, wajahnya langsung memerah seperti remaja yang sedang jatuh cinta.

Begitu Miko datang, dia bahkan lebih berlebihan.

“Tuan Miko, saya masakkan beef tapa kesukaan Anda.”

“Tuan Miko, sudah bawa payung? Katanya nanti hujan.”

“Tuan Miko, mau saya buatkan mango float untuk malam nanti?”

Aku duduk diam sambil mengamatinya.

Kepadaku, dia selalu berbicara dengan nada penuh duri.

Tetapi kepada dua pria di rumah ini, dia seperti malaikat.

Di meja makan, tiba-tiba dia duduk di samping Ayah, seolah tempat itu memang miliknya.

“Tuan Arturo,” katanya manja, “dua kepiting kemarin dibawa semua oleh Ma’am Elena. Bahkan dibagikan ke teman-teman kantornya.”

Ayah tersenyum kepadaku.

“Nak, tidak apa-apa berbagi. Tapi jangan terlalu banyak makan seafood. Tidak baik untuk perut.”

“Hanya sedikit kok, Pa,” jawabku. “Timku senang sekali.”

Ayah tertawa.

“Kalau begitu nanti Ayah beli lagi. Biar cukup untuk semua.”

Tiba-tiba Aling Nida membanting sumpitnya.

“Tuan Arturo, itu sebabnya dia jadi manja. Dia cuma anak perempuan. Nanti juga menikah dan pergi. Yang seharusnya lebih diprioritaskan adalah Tuan Miko. Dialah yang akan meneruskan nama keluarga.”

Miko langsung mengangkat kepala dari piringnya.

“Aling Nida, Anda datang dari abad berapa? Kak Elena itu bayi kesayangan keluarga ini.”

Ayah ikut mengangguk.

“Di rumah ini tidak ada istilah ‘cuma anak perempuan’. Justru Elena adalah anak yang paling aku jaga.”

Wajah Aling Nida memerah karena marah.

Namun bukannya membalas mereka, dia malah menatapku tajam.

Aku berdiri.

“Ada masalah dengan saya?”

Seketika dia memasang wajah korban.

“Tuan Arturo, dengar itu? Saya yang peduli pada keluarga ini, malah saya yang dianggap jahat.”

Aku tertawa dingin.

“Itu bukan peduli. Itu namanya pikiran sempit. Jangan bawa keyakinan bahwa anak laki-laki lebih berharga ke rumah ini.”

Rahangnya mengeras.

“Kurang ajar. Kamu masih bermimpi menikmati kekayaan keluargamu. Nanti kalau sudah menikah, lihat saja apakah ayahmu masih mau membantumu.”

Kali ini Miko yang menjawab.

“Aling Nida, rumah ini atas nama Kak Elena. Dan bahkan kalau dia menikah sekalipun, aku akan tetap berada di pihaknya selamanya.”

Ayah berdiri dengan wajah serius.

“Nida, kamu sudah kelewatan. Elena bukan anakmu. Kamu tidak berhak berbicara seperti itu kepadanya.”

Malam itu, di grup keluarga, Ayah mengirimiku Rp25 juta.

Pesannya singkat:

“Nak, jangan dipikirkan. Kamu tetap putri kesayangan Ayah.”

Beberapa menit kemudian, Miko ikut mengirim pesan.

“Kak, Aling Nida benar-benar aneh. Minggu lalu dia bahkan mengirim akun Facebook putrinya kepadaku.”

Aku langsung duduk tegak.

“Kamu tidak menambahkannya, kan?”

Butuh waktu lama sebelum dia menjawab.

“Sempat kuterima. Tapi langsung kuhapus lagi. Rasanya menyeramkan.”

Lalu muncul pesan suara dari Ibu yang sedang berada di Singapura.

“Arturo. Miko. Aku lihat semuanya lewat CCTV. Kalian membiarkan putriku dihina?”

Keduanya langsung panik.

“Aku pecat dia besok juga!” kata Ayah.

Tetapi aku menghentikannya.

“Kita cari pengganti dulu. Perut Ayah sensitif.”

Kupikir aku masih harus bersabar beberapa hari lagi.

Ternyata aku salah.

Keesokan paginya aku terbangun karena suara hak sepatu, koper besar yang diseret, dan suara seorang wanita yang terdengar seperti ratu pasar.

Saat membuka pintu kamar, aku melihat seorang wanita yang tidak kukenal sedang menunjuk ke arahku.

“Hei, kamu. Tolong angkat barang-barangku. Mulai sekarang aku tinggal di sini.”

Aling Nida keluar dari kamar tamu dengan kepala tegak.

“Elena, ini Rhea, putriku. Mulai sekarang perlakukan dia dengan baik.”

Aku tertawa karena terlalu terkejut.

“Permisi?”

Aling Nida menyeringai.

“Belajarlah beradaptasi. Karena tidak lama lagi, kamilah perempuan-perempuan yang sebenarnya memiliki rumah ini.”

Sebelum aku sempat menjawab, Rhea mendorong kopernya ke arah kakiku dan berkata:

“Kamu punya waktu satu hari untuk berkemas. Besok kamu harus pergi dari rumah ini.”

Aku menatap koper besar yang membentur ujung kakiku, lalu beralih menatap Rhea yang berdiri angkuh dengan melipat tangan di dada. Pakaiannya dipenuhi logo desainer palsu yang mencolok, dan riasan wajahnya seolah-olah ia siap menghadiri pesta distrik, bukan bertamu ke rumah orang.

Di sampingnya, Aling Nida tersenyum penuh kemenangan, seolah ia baru saja memenangkan lotre dan berhasil menendangku dari takhta.

“Kalian berdua…” Aku menarik napas panjang, menahan tawa yang sudah di ujung tenggorokan. “Benar-benar perlu memeriksakan kondisi kejiwaan ke rumah sakit terdekat.”

“Jaga mulutmu, Elena!” bentak Aling Nida, melangkah maju melindungki putrinya. “Rhea ini calon istri Miko! Kemarin Tuan Miko sudah menerima pertemanan Rhea di Facebook. Itu artinya dia tertarik! Begitu mereka menikah, Rhea yang akan menguasai rumah ini sebagai nyonya muda, dan aku adalah ibu mertua dari penerus keluarga Soriano!”

Mendengar fantasi liar yang keluar dari mulut pembantu rumah tanggaku, aku akhirnya tidak bisa menahan diri. Aku tertawa terbahak-bahak hingga air mata menetes di sudut mataku.

“Oh, jadi ini alasanmu bersikap sok berkuasa selama tiga bulan ini?” tanyaku sambil menyeka air mata. “Hanya karena Miko tidak sengaja menekan tombol ‘terima’ di Facebook sebelum langsung menghapusnya lagi? Kalian mengira itu adalah lamaran pernikahan?”

“Jangan berlagak sombong!” Rhea menyela, melangkah maju dengan sepatu hak tingginya yang mengetuk lantai marmer dengan bising. “Ibuku sudah bilang, kamu cuma anak perempuan yang menumpang di sini. Cepat atau lambat warisan ini jatuh ke tangan Miko. Dan sebagai istrinya nanti, aku punya hak penuh untuk mengusir kakak ipar yang tidak tahu diri sepertimu!”

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rhea hingga tubuhnya terhuyung ke samping. Bukan aku yang melakukannya.

Miko berdiri di sana, napasnya memburu, wajahnya merah padam karena amarah yang tak terkendali. Di belakangnya, Ayah berjalan dengan langkah tegap, memegang ponselnya yang masih terhubung dengan panggilan video dari Ibu di Singapura.

“T-Tuan Miko…” Rhea memegang pipinya yang memerah, matanya berkaca-kaca menatap Miko dengan pandangan tidak percaya. “Kenapa Anda memukulku? Aku calon istrimu…”

“Calon istri?!” Miko berteriak, suaranya menggelegar memenuhi seluruh koridor lantai dua. “Sadar diri, sialan! Siapa yang mau menikah dengan wanita halusinasi seperti kalian? Aku menerima pertemananmu karena kupikir kamu kerabat Aling Nida yang butuh bantuan pekerjaan, tapi kamu malah mengirim foto-foto menjijikkan ke pesan pribadiku!”

Aling Nida memucat, ia langsung berlutut di depan Ayah. “Tuan Arturo, tolong… putri saya hanya terlalu mencintai Tuan Miko…”

“Diam, Nida!” Ayah membentak dengan nada yang belum pernah kudengar seumur hidupku. Pria paruh baya yang biasanya lembut itu kini memancarkan aura yang sangat mengintimidasi. “Kalian berdua telah menghina putriku, mengganggu anak lak-lakiku, dan sekarang berani menginjakkan kaki di rumah ini tanpa izin?”

Ayah menunjuk ke arahku.

“Kalian bilang kalian adalah pemilik rumah yang sebenarnya? Biar kuperjelas satu hal yang otak sempit kalian tidak akan pernah bisa pahami.” Ayah mengambil map sertifikat yang selalu tersimpan di ruang kerjanya dan melemparkannya tepat ke depan wajah Rhea.

“Rumah ini, seluruh aset keluarga Soriano, dan perusahaan logistik yang menghasilkan miliaran peso setiap bulan… semuanya dibeli atas nama Elena Soriano. Aku dan Miko hanyalah menumpang di properti milik putriku!”

Rhea terengah-engah, dengan tangan gemetar ia membuka map itu. Matanya membelalak melihat nama Elena Soriano tercetak tebal sebagai pemilik tunggal tanah dan bangunan mewah ini.

“T-Tidak mungkin… Ibuku bilang anak laki-laki yang berkuasa…” gumam Rhea, seluruh energinya mendadak habis hingga ia jatuh terduduk di atas kopernya sendiri.

Aku melangkah maju, berdiri tepat di depan Aling Nida dan Rhea yang kini tampak seperti dua tikus basah yang ketakutan.

“Aling Nida,” kataku dengan nada berbisik yang dingin. “Kemarin kamu bilang kepiting dari ibuku terlalu mahal untuk kuhabiskan sendiri, kan? Hari ini, biaya ganti rugi atas pelanggaran hak privasi, masuk tanpa izin, dan pelecehan terhadap adikku akan jauh lebih mahal dari harga ratusan ekor kepiting.”

Aku menoleh ke arah tangga bawah, di mana empat petugas keamanan kompleks perumahan kami sudah berdiri bersiap bersama dua anggota kepolisian setempat.

“Bawa mereka keluar,” perintahku tegas. “Pastikan koper-koper mereka diperiksa. Jika ada satu sendok perak pun milik rumah ini yang hilang di dalam sana, tambahkan pasal pencurian ke dalam dakwaan mereka.”

“Ma’am Elena! Tolong hamba, Ma’am! Saya khilaf!” Aling Nida menjerit, mencoba meraih kakiku, namun petugas keamanan dengan cepat menyeretnya mundur bersama Rhea yang menangis histeris karena malu. Tetangga kanan kiri mulai keluar rumah, menyaksikan dua wanita itu digiring ke mobil polisi dengan kepala tertunduk.

Setelah suasana kembali tenang, Miko menghela napas panjang dan menendang sisa barang mereka ke luar pintu. “Sialan, drama pagi ini membuatku lapar. Kak, apa masih ada sisa bubur kepiting kemarin?”

Aku tersenyum, merangkul pundak adikku yang tinggi, lalu menatap Ayah yang sedang menenangkan Ibu di telepon. “Masih ada. Ayo kita panaskan. Hari ini, pemilik rumah yang sebenarnya ingin makan dengan tenang tanpa gangguan para parasit.”