Posted in

SEORANG ANAK YATIM MEMOHON AGAR SEORANG PRIA MAU BERPURA-PURA MENJADI AYAHNYA SELAMA SATU HARI—NAMUN PERMINTAAN SEDERHANA ITU AKAN MENGUBAH HIDUP MEREKA BERDUA UNTUK SELAMANYA*

*SEORANG ANAK YATIM MEMOHON AGAR SEORANG PRIA MAU BERPURA-PURA MENJADI AYAHNYA SELAMA SATU HARI—NAMUN PERMINTAAN SEDERHANA ITU AKAN MENGUBAH HIDUP MEREKA BERDUA UNTUK SELAMANYA**

Victor Imperial berusia tiga puluh delapan tahun. Ia adalah CEO sekaligus pemilik satu-satunya kerajaan teknologi dan properti terbesar di Asia. Apa pun yang diinginkannya bisa ia dapatkan hanya dengan satu perintah. Namun, di balik kekayaannya yang mencapai triliunan rupiah, hatinya sedingin es dan sekeras batu.

Lima tahun yang lalu, ia kehilangan istri dan putri semata wayangnya, Sophia, dalam sebuah kecelakaan tragis. Sejak saat itu, Victor menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan dan menutup diri dari semua orang.

Pada suatu pagi yang diguyur hujan gerimis, alih-alih menghadiri acara perusahaan yang sangat penting, Victor memilih duduk sendirian di sebuah taman yang tenang di dekat sekolah dasar negeri. Hari itu adalah hari peringatan meninggalnya istri dan putrinya.

Saat menatap kosong ke kejauhan, sebuah suara kecil memecah kesunyiannya.

## PERMOHONAN SEORANG ANAK YATIM

“Permisi, Pak…”

Victor menoleh. Seorang gadis kecil, mungkin berusia sekitar dua belas tahun, berdiri di hadapannya. Ia mengenakan seragam sekolah putih yang rapi namun sudah pudar warnanya. Di lehernya tergantung rangkaian bunga melati untuk dijual. Rambutnya sedikit basah karena gerimis.

Victor mengernyit.

“Ada apa? Kalau mau minta uang, temui pengawalku di seberang jalan. Aku ingin sendirian,” jawabnya dingin sambil memalingkan wajah.

Namun gadis itu tidak pergi. Ia melangkah perlahan mendekat lalu mengeluarkan kantong plastik kecil berisi beberapa keping uang logam dan beberapa lembar uang **Rp20.000** yang sudah kusut.

“Saya tidak minta uang, Pak,” jawab gadis itu dengan suara gemetar namun berani. “Nama saya Maya. Saya punya tabungan **Rp75.000**. Semuanya akan saya berikan kepada Bapak… bolehkah Bapak berpura-pura menjadi ayah saya selama satu hari saja?”

Victor terdiam. Ia kembali menatap Maya dengan wajah penuh kebingungan.

“Berpura-pura jadi ayahmu? Kamu bercanda? Aku tidak punya waktu untuk permainan seperti itu.”

Air mata mulai menggenang di mata Maya.

“Hari ini kelulusan saya dari sekolah dasar. Saya adalah lulusan terbaik di kelas. Sejak bayi saya tinggal di panti asuhan… Semua teman saya akan duduk ditemani orang tua mereka. Hanya saya yang sendirian. Saya cuma ingin… saya cuma ingin ada seseorang yang bertepuk tangan untuk saya saat nama saya dipanggil naik ke panggung.”

Seakan ada rasa sakit lama yang kembali menusuk dada Victor. Ia teringat putrinya, Sophia, yang tidak akan pernah sempat lulus sekolah.

Tatapannya beralih ke uang di tangan Maya. **Rp75.000** sama sekali tidak berarti bagi seorang pria yang menghasilkan ratusan juta rupiah setiap jam. Namun bagi gadis kecil itu, itulah seluruh harta yang ia miliki.

Victor menarik napas panjang. Ia berdiri lalu merapikan jas mahalnya.

“Simpan uangmu,” katanya singkat. “Di mana acara kelulusanmu? Aku tidak suka datang terlambat.”

Mata Maya langsung membesar, lalu senyum paling manis merekah di wajahnya.

“T-Terima kasih, Pak! Terima kasih banyak… Ayah!”

Victor terdiam saat mendengar panggilan itu.

**Ayah.**

Sudah sangat lama… tidak ada seorang pun yang memanggilnya dengan sebutan itu.

BAGIAN 2: PANGGUNG KELULUSAN

Aula sekolah dasar negeri itu ramai dan bising. Bau minyak wangi murah, keringat, dan aroma jajanan pasar bercampur di udara. Victor Imperial, pria yang biasanya duduk di kursi VIP barisan depan dalam forum ekonomi dunia, kini berjalan di koridor sekolah yang sempit bersama seorang anak yatim piatu.

Beberapa orang tua murid menatap Victor dengan heran. Jas bespoke buatan Italia yang dikenakannya, jam tangan seharga miliaran rupiah, dan aura berkuasa yang dipancarnya terasa sangat kontras dengan lingkungan sekitar.

“Ayah, kita duduk di sebelah sana,” bisik Maya pelan, sambil menunjuk barisan kursi plastik di sudut tengah. Suaranya terdengar canggung namun ada nada bangga yang tak bisa ia sembunyikan.

Victor hanya mengangguk dan mengikuti langkah kecil Maya. Saat mereka duduk, kepala sekolah mulai membacakan kata sambutan. Di sebelah mereka, seorang ibu dengan perhiasan emas mencolok melirik Maya dengan tatapan meremehkan.

“Eh, Maya… Ibu kira kamu sendirian lagi seperti tahun lalu. Siapa ini? Pengurus panti asuhanmu yang baru?” tanya wanita itu dengan nada menyindir.

Sebelum Maya sempat merasa minder, Victor menoleh. Tatapan matanya yang sedingin es langsung membuat wanita itu membeku.

“Saya ayahnya,” jawab Victor dengan suara berat dan penuh penekanan. Pendek, namun cukup untuk membuat wanita itu langsung memalingkan wajah dan tidak berani menoleh lagi.

Maya menatap Victor dari samping, matanya berbinar haru.

Acara inti pun dimulai. Satu per satu nama murid dipanggil ke atas panggung. Hingga akhirnya, suara pengeras suara menggema:

“Dan predikat lulusan terbaik dengan nilai sempurna, jatuh kepada… Maya Adelia!”

Gemuruh tepuk tangan terdengar, namun yang paling nyaring berasal dari kursi di sebelah Maya. Victor berdiri dari duduknya. Pria yang terkenal tidak pernah tersenyum di depan media itu kini bertepuk tangan dengan bangga untuk seorang anak yang baru dikenalnya beberapa jam lalu.

Maya berjalan ke atas panggung dengan kepala tegak. Saat menerima piagam penghargaan, matanya mencari-cari di antara kerumunan dan mengunci pandangannya pada Victor. Dari atas panggung, ia menggerakkan bibirnya tanpa suara: Terima kasih, Ayah.

BAGIAN 3: RAHASIA DI BALIK KALUNG MELATI

Setelah acara selesai, Victor mengajak Maya makan di sebuah restoran sederhana atas permintaan Maya. Maya bersikeras ingin merayakan kelulusannya dengan makan bakso. Bagi Victor, ini adalah pengalaman pertamanya makan di tempat seperti ini setelah bertahun-tahun.

“Kamu anak yang pintar, Maya,” ujar Victor tulus sambil memperhatikan Maya yang makan dengan lahap.

“Saya harus pintar, Pak… eh, Ayah,” jawab Maya sambil tersenyum malu. “Ibu panti bilang, hanya pendidikan yang bisa mengubah nasib saya. Saya ingin sukses agar bisa membantu anak-anak lain di panti.”

Victor tersenyum tipis. Sifat mandiri Maya mengingatkannya pada mendiang istrinya. Pandangan Victor kemudian beralih pada sebuah kalung melati yang sejak tadi tergantung di leher Maya. Rangkaian bunga itu tampak agak layu, namun di tengahnya ada sebuah liontin perak kecil yang usang.

“Liontin apa itu?” tanya Victor penasaran.

Maya memegang liontin tersebut. “Ini satu-satunya barang yang ada di selimut saya saat saya ditinggalkan di depan panti asuhan dua belas tahun lalu. Di dalamnya ada foto, tapi sudah sangat pudar karena terkena air.”

Maya membuka liontin kecil itu dan menyodorkannya kepada Victor.

Victor menerimanya dengan santai, namun begitu matanya menatap foto usang di dalam liontin itu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat.

Foto itu adalah foto seorang wanita muda yang sedang tersenyum lebar sambil memegang perutnya yang buncit. Di belakang wanita itu, samar-samar terlihat siluet sebuah rumah besar dengan desain arsitektur yang sangat ia kenal.

Itu adalah Arini, istri Victor. Dan rumah itu adalah rumah lama mereka sebelum mereka pindah ke ibu kota.

“Dari… dari mana kamu mendapatkan ini?” suara Victor bergetar hebat, wajahnya mendadak pucat pasi.

“Saya sudah bilang, ini satu-satunya peninggalan ibu kandung saya,” jawab Maya bingung melihat perubahan drastis pada wajah Victor. “Ibu panti bilang, wanita di foto ini yang mengantarkan saya malam-malam dalam keadaan terluka, sebelum wanita itu menghilang…”

Otak Victor berputar cepat, menyusun kepingan masa lalu yang selama ini terkubur dalam kebohongan.

Lima belas tahun lalu, sebelum ia menjadi sesukses sekarang, istrinya pernah diculik oleh musuh bisnisnya saat sedang hamil tua. Setelah menebusnya dengan seluruh hartanya saat itu, Arini kembali kepadanya, namun bayinya dinyatakan meninggal di rumah sakit karena persalinan prematur akibat trauma. Victor tidak pernah melihat jasad bayi itu karena kondisi Arini yang kritis saat itu mendominasi seluruh fokusnya.

Ternyata… bayinya tidak meninggal. Arini telah melahirkannya dalam pelarian dan menyembunyikannya di panti asuhan demi melindunginya dari para penculik, sebelum akhirnya kembali ke sisi Victor dengan membawa rahasia menyakitkan itu demi keselamatan sang anak. Dan putri yang bersamanya dalam kecelakaan lima tahun lalu, Sophia, adalah anak kedua mereka.

Gadis kecil di hadapannya ini… Maya… bukan orang asing.

Dia adalah darah dagingnya yang hilang.

BAGIAN KETIGA: AKHIR

Air mata yang sudah lima tahun tidak pernah menetes, kini mengalir deras di pipi sang CEO tangguh. Victor menatap Maya dengan pandangan yang sepenuhnya berubah—bukan lagi rasa iba, melainkan rasa cinta seorang ayah yang mendalam.

“Ayah? Kenapa Ayah menangis? Apa saya salah bicara?” Maya panik, ia segera mengambil tisu yang ada di meja dan mencoba menghapus air mata Victor.

Victor meraih tangan kecil Maya. Tangannya yang besar menggenggam erat jemari putrinya.

“Maya…” suara Victor parau karena emosi yang membuncah. “Kamu tidak perlu memberikan uang Rp75.000 itu padaku. Dan aku… aku tidak perlu berpura-pura lagi.”

Maya mengerutkan keningnya, tidak mengerti.

Victor mengeluarkan sebuah dompet kulitnya, membuka bagian dalamnya, dan menunjukkan sebuah foto yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Foto itu adalah foto pernikahan Victor dan Arini. Wajah wanita di foto dompet Victor persis sama dengan wanita yang ada di liontin usang milik Maya.

Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak menatap foto itu, lalu menatap Victor bergantian.

“Ini… ini ibumu, Maya. Dan aku… aku adalah ayah kandungmu yang asli,” bisik Victor dengan suara bergetar.

Keheningan melanda meja mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya Maya menyadari kebenaran di depan matanya. Air mata mulai mengalir di pipi tembamnya.

“Ayah…?” panggil Maya, kali ini bukan sebagai bagian dari kesepakatan satu hari, melainkan dengan seluruh jiwa dan kerinduannya selama dua belas tahun.

Victor langsung bangkit dari kursinya dan mendekap Maya ke dalam pelukan yang sangat erat. Di dalam restoran kecil itu, di bawah rintik hujan yang mulai mereda di luar, dua jiwa yang selama ini kesepian dan terluka akhirnya menemukan jalan pulang.

Permintaan sederhana seorang anak yatim untuk ditemani selama satu hari, ternyata adalah cara semesta mengembalikan putri yang telah lama hilang kepada ayahnya. Mulai hari itu, hidup Maya berubah selamanya dari seorang penjual melati menjadi pewaris tunggal kerajaan bisnis terbesar di Asia. Dan bagi Victor, hatinya yang sedingin es telah mencair, digantikan oleh kehangatan baru untuk menjalani masa depan bersama putri kandungnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.