Posted in

TIGA HARI SEBELUM PERNIKAHAN, DIA MEMBATALKAN GEDUNG RESEPSI YANG SUDAH TIGA TAHUN KUPERSIAPKAN… HANYA DEMI MERAYAKAN ULANG TAHUN WANITA LAIN. TAPI DIA TIDAK TAHU, AKTA NIKAHKU SUDAH LAMA TERCATAT ATAS NAMA PRIA LAIN.**

TIGA HARI SEBELUM PERNIKAHAN, DIA MEMBATALKAN GEDUNG RESEPSI YANG SUDAH TIGA TAHUN KUPERSIAPKAN… HANYA DEMI MERAYAKAN ULANG TAHUN WANITA LAIN. TAPI DIA TIDAK TAHU, AKTA NIKAHKU SUDAH LAMA TERCATAT ATAS NAMA PRIA LAIN.**

## BAGIAN 1

Tiga hari sebelum pernikahan, justru tunangankulah yang membatalkan gedung resepsi yang hampir tiga tahun kami persiapkan.

Bukan karena ada keadaan darurat.

Bukan pula karena pernikahannya ditunda.

Melainkan karena cinta masa kecilnya, **Sofia Reyes**, yang baru pulang dari Amerika, ingin merayakan ulang tahunnya di sana.

Teman-teman **Adrian Santos** langsung heboh.

“Bro, kamu sudah gila, ya?”

“Kamu kasih **Grand Pearl Ballroom** buat Sofia? Bukannya itu tempat resepsimu sama Nicole?”

“Nicole sudah tahu belum?”

“Dia yang ngurus hampir semua persiapan pernikahan kalian! Mulai dari menu sampai dekorasi bunga, semuanya dia yang urus.”

Adrian hanya diam sambil menyesap wiski.

Lalu dia tersenyum tipis.

“Nicole itu cinta mati sama aku.”

“Dulu saja dia hampir kehilangan nyawanya demi menyelamatkanku dari kebakaran.”

“Menurut kalian dia bakal marah cuma gara-gara satu gedung resepsi?”

“Lagipula, dia selalu bilang, asal bisa menikah denganku, menikah di mana pun tidak masalah.”

“Ini kesempatan bagus buat membuktikan apakah omongannya benar.”

Aku berdiri di luar ruang VIP.

Di tanganku masih ada termos makanan berisi bubur hangat yang kumasak khusus untuknya.

Aku mendengarkan dalam diam.

Lalu…

Aku perlahan berbalik.

Tawa mereka masih terdengar dari dalam.

“Kita semua tahu siapa yang sebenarnya Adrian inginkan.”

“Apa pun yang Sofia mau, pasti dia turuti.”

“Ingat nggak? Dari dulu kita sudah yakin Sofia yang bakal jadi istrinya.”

“Mereka kan memang cinta masa kecil.”

Tiba-tiba Adrian membanting gelasnya keras-keras.

“Sudah, diam.”

“Jangan sampai Nicole dengar omong kosong begitu.”

“Kalau dia mulai drama lagi, yang repot tetap aku.”

Semua orang malah tertawa semakin keras.

“Tenang saja.”

“Kamu kan sudah pegang kendali penuh atas Nicole.”

“Mau kamu ngapain juga, dia nggak bakal ninggalin kamu.”

Tak lama kemudian, ponsel Adrian berbunyi.

Di layar tertulis:

**

❤️

 Sofia 

❤️

**

Seketika seluruh meja menjadi hening.

Semua saling berpandangan.

“Wah… Sofia.”

Nada suara Adrian langsung berubah.

Lembut.

Sangat asing di telingaku.

“Sofia?”

“Kamu sudah bangun?”

Terdengar suara pelan dari seberang telepon.

“Adrian… benarkah kamu berhasil mendapatkan Grand Pearl untuk pesta ulang tahunku?”

“Mereka bilang daftar tunggunya sampai enam bulan.”

Adrian tersenyum.

“Iya.”

“Semuanya sudah kubooking.”

“Di hari ulang tahunmu, seluruh ballroom itu milikmu.”

Sofia berpura-pura sungkan.

“Tapi… bukankah itu tempat resepsimu dengan Nicole?”

“Apa dia tidak akan sakit hati?”

Adrian tertawa kecil.

“Nggak akan.”

“Dia nggak terlalu peduli soal begituan.”

“Yang penting kamu bahagia.”

Sofia tertawa manja.

“Kamu memang selalu baik sama aku.”

“Nanti aku pakai gaun warna perak.”

“Kamu yang pertama melihatnya.”

Adrian tersenyum.

“Aku tunggu.”

Setelah telepon ditutup, teman-temannya kembali menggoda.

“Gila, Adrian.”

“Baru ulang tahun Sofia saja, kamu perlakukan dia seperti ratu.”

“Jangan-jangan nanti dia malah kelihatan lebih seperti pengantin daripada calon istrimu.”

Adrian bersandar santai di kursinya.

“Aku dan Nicole sudah seperti suami istri sejak lama.”

“Hal-hal seperti itu sudah tidak penting lagi buat dia.”

“Sofia baru saja pulang ke Indonesia.”

“Aku cuma ingin dia merasa disambut.”

Di balik pintu…

Rasanya seperti ada batu besar menghantam dadaku.

Aku teringat menu pernikahan.

Aku mencicipinya lebih dari dua puluh kali sebelum akhirnya memilih yang terbaik.

Aku juga teringat area hidangan penutup.

Pernah aku mengusulkan agar meja kue biasa diganti dengan sudut cokelat buatan tangan.

Saat itu Adrian langsung marah.

“Cuma cokelat saja sampai hampir **Rp15.000.000**?”

“Memangnya uang jatuh dari langit?”

“Tamu datang untuk makan.”

“Bukan untuk mengagumi kemewahanmu.”

Pada akhirnya…

Dia memilih cupcake yang paling murah.

Bahkan saat membayarnya pun dia masih terus mengeluh karena merasa terlalu mahal.

Baru saat itulah aku benar-benar mengerti.

Bukan karena dia pelit.

Dia hanya tidak pernah rela mengeluarkan uang untukku.

Aku turun dengan tenang.

Begitu manajer hotel melihatku, dia segera menghampiri.

“Bu Nicole?”

“Kok sudah mau pulang?”

“Pak Adrian masih menunggu Ibu di atas.”

Aku menyerahkan termos makanan itu.

“Tolong antarkan ini untuknya.”

Dia mengangguk, tetapi tampak masih ingin mengatakan sesuatu.

“Bu Nicole…”

“Untuk bunga pernikahannya… apakah tetap jadi dipesan?”

“Kami menerima permintaan perubahan.”

“Katanya Grand Pearl Ballroom sekarang dipakai untuk pesta ulang tahun Nona Sofia.”

Aku menatapnya.

“Siapa yang menandatangani perubahan reservasi itu?”

Dia membuka komputer.

Hanya beberapa detik…

Wajahnya langsung pucat.

“Menurut Pak Adrian…”

“Ibu sudah menyetujuinya.”

“Bahkan katanya ada konfirmasi elektronik dari Ibu.”

Aku tersenyum.

“Aku tidak pernah menandatanganinya.”

Manajer itu semakin gugup.

“Bu Nicole… mungkin hanya ada kesalahpahaman…”

Aku menggeleng.

“Tidak masalah.”

Aku mengeluarkan sebuah kartu nama lama dari dompet.

Lalu meletakkannya dengan hati-hati di meja resepsionis.

“Besok.”

“Pukul sembilan pagi.”

“Aku ingin melihat seluruh riwayat reservasinya.”

Begitu melihat logo yang tercetak di kartu nama itu…

Matanya langsung membelalak.

Hampir saja termos bubur yang kubawa terlepas dari tangannya.

“Bu…”

“Apakah Anda…”

Aku menatapnya lurus.

“Tidak perlu bertanya.”..

Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir (ending) dari cerita tersebut:

BAGIAN 2

Manajer hotel itu gemetar menatap kartu nama di tangannya. Di sana tertulis logo Pradipta Group, konglomerat pemilik jaringan hotel mewah Grand Pearl di seluruh Asia Tenggara. Dan di bawahnya tertera namaku: Nicole Pradipta.

Selama tiga tahun ini, aku menyembunyikan identitasku dari Adrian. Aku ingin dicintai apa adanya, bukan karena harta keluargaku. Namun, kesederhanaanku justru membuatnya menginjak-injak harga diriku.

“B-baik, Nona Nicole. Besok pagi semua berkas akan siap,” bisik manajer itu dengan membungkuk dalam.

Aku berjalan keluar hotel, menatap langit malam yang dingin. Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depanku. Kaca mobil perlahan turun, menampilkan wajah tegas seorang pria tampan berjas rapi.

Ethan Pradipta—sepupu jauhku, sekaligus pria yang namanya telah tercatat sah di akta nikahku sejak dua tahun lalu.

Pernikahan kami adalah buah dari kesepakatan bisnis dan wasiat kakek, yang sengaja kami rahasiakan demi memberi waktu padaku untuk “menyelesaikan” obsesi bodohku pada Adrian. Dan malam ini, waktu itu telah habis.

“Masih mau melanjutkan sandiwara ini, Nicole?” tanya Ethan tenang, namun matanya memancarkan ketegasan.

Aku membuka pintu mobil, masuk, lalu menatapnya mantap. “Tidak. Hubungi pengacara. Pernikahan palsu yang direncanakan Adrian untuk tiga hari lagi… mari kita ubah menjadi panggung kehancurannya.”

BAGIAN 3 (HARI H)

Tiga hari berlalu dengan cepat. Adrian bahkan tidak pernah meneleponku untuk meminta maaf soal pembatalan gedung. Baginya, aku hanyalah keset yang akan selalu menunggunya di rumah.

Hari ini, Grand Pearl Ballroom dihias dengan sangat megah. Tema perak dan kristal yang mewah—jauh lebih mewah daripada konsep pernikahan murah yang Adrian paksakan padaku dulu. Sofia Reyes berdiri di tengah aula dengan gaun perak berkilau, dikelilingi oleh Adrian dan teman-temannya yang terus memujinya.

“Adrian, terima kasih banyak. Ini ulang tahun terbaik dalam hidupku,” ucap Sofia manja sambil memeluk lengan Adrian.

Adrian tersenyum bangga. “Apapun untukmu, Sofia. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik.”

Tepat saat itu, pintu ballroom terbuka lebar. Langkah kaki yang anggun menggema di seluruh ruangan.

Semua mata tertuju ke pintu masuk. Aku berjalan masuk dengan gaun malam berwarna merah darah yang elegan, didampingi oleh Ethan Pradipta di sampingku. Penampilanku memancarkan aura kelas atas yang belum pernah dilihat oleh Adrian sebelumnya.

Adrian terkejut melihat kedatanganku, terutama saat melihat tanganku melingkar di lengan Ethan. Wajahnya langsung mengeras. Dia berjalan menghampiriku dengan penuh amarah.

“Nicole! Sedang apa kamu di sini? Dan siapa pria ini?! Berani-beraninya kamu datang membawa laki-laki lain ke acara Sofia!” bentak Adrian berbisik, berusaha menahan suaranya agar tidak memicu keributan.

Aku menatapnya datar. “Aku hanya ingin melihat ke mana perginya uang Rp15.000.000 yang kamu sebut ‘pemborosan’ saat aku meminta sudut cokelat untuk pernikahan kita. Ternyata, uang itu dengan mudahnya kamu keluarkan untuk air mancur sampanye di pesta ulang tahun wanita lain.”

“Kamu… kamu cemburu?!” Adrian mendengus remeh. “Jangan kekanak-kanakan, Nicole! Sofia baru pulang dari Amerika. Lagipula, aku membatalkan gedung ini karena aku tahu kamu pasti maklum. Kita bisa menikah di aula gereja kecil atau di halaman rumah bulan depan. Mengapa kamu harus membuat drama di sini?”

Sofia ikut mendekat, memasang wajah polos yang dibuat-buat. “Nicole, tolong jangan marahi Adrian. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut merayakan ulang tahunku di sini…”

“Diam, Sofia. Kamu tidak punya hak bicara di properti milik keluargaku,” potongku dingin.

BAGIAN KETIGA (AKHIR)

Adrian tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku. “Properti keluargamu? Nicole, apakah kamu sudah gila karena stres menjelang pernikahan? Kamu itu cuma gadis yatim piatu yang bekerja sebagai desainer lepas!”

Sebelum aku sempat membalas, manajer hotel bersama beberapa petugas keamanan berbadan besar datang mendekat.

“Pak Adrian Santos,” ucap manajer hotel dengan nada dingin, sangat berbeda dari sikap ramahnya yang biasa. “Mohon maaf, berdasarkan instruksi langsung dari pemilik Grand Pearl Ballroom, acara ulang tahun Nona Sofia Reyes harus dihentikan sekarang juga.”

Wajah Adrian memerah. “Apa-apaan ini?! Saya sudah membayar penuh! Saya sudah menandatangani konfirmasi elektronik atas nama Nicole!”

“Dan pemalsuan dokumen itu adalah tindak pidana, Adrian,” sahut Ethan Pradipta, membuka suara untuk pertama kalinya. Suaranya yang berat memotong kepanikan di ruangan.

Ethan memberi isyarat, dan sebuah layar proyektor besar di panggung yang tadinya menampilkan foto-foto Sofia, tiba-tiba berubah. Layar itu menampilkan dokumen resmi: Akta Pernikahan Negara.

Di sana tertera foto wajahku, berdampingan dengan foto Ethan Pradipta, lengkap dengan stempel sah dari catatan sipil yang bertanggal dua tahun lalu.

Seluruh ruangan mendadak senyap. Teman-teman Adrian melongo tak percaya. Sofia menutup mulutnya dengan syok.

“N-Nicole… apa… apa maksudnya ini?!” Adrian terbata-bata, matanya menatap layar lalu beralih padaku dengan panik. “Kamu… kamu sudah menikah?!”

“Ya, Adrian. Aku sudah lama menikah dengan Ethan Pradipta,” jawabku tenang. “Pernikahan yang kusiapkan bersamamu selama tiga tahun ini sebenarnya hanyalah sebuah ujian. Aku ingin melihat, apakah pria yang pernah kuselamatkan dari kebakaran dulu benar-benar tulus mencintaiku, atau hanya memanfaatkan keluguanku.”

Aku melangkah satu babak lebih dekat, menatapnya dengan pandangan penuh penghinaan.

“Dan tebak apa? Kamu gagal total. Kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu hanya menikmati fakta bahwa ada seorang wanita yang bodoh dan bisa kamu kendalikan sesukamu. Kamu menghemat setiap rupiah untukku, demi bisa menjadi pahlawan yang royal di depan cinta masa kecilmu.”

“Nicole… tidak, ini pasti salah paham! Aku mencintaimu, Nicole! Tolong jangan bercanda!” Adrian mencoba meraih tanganku, tetapi Ethan langsung menepisnya dengan kasar hingga Adrian terhuyung ke belakang.

“Jaga tanganmu dari istriku, Tuan Santos,” ancam Ethan dengan kilatan mata yang mematikan.

Manajer hotel segera memberi tanda kepada sekuriti. “Sesuai perintah Ibu Nicole Pradipta, kosongkan ballroom ini dalam waktu lima menit. Dan untuk Pak Adrian, tim hukum Pradipta Group akan segera mengirimkan gugatan atas pemalsuan tanda tangan elektronik dan tuntutan ganti rugi atas kerusakan nama baik.”

“Nicole! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Nicole!!” teriak Adrian histeris saat para petugas keamanan menyeretnya keluar dari ballroom mewah itu bersama Sofia yang menangis menahan malu. Teman-teman Adrian yang dulu mengejekku kini tertunduk, merayap keluar dari pintu belakang karena ketakutan.

Aula besar itu kini kosong, menyisakan kemegahan yang sia-sia.

Ethan menoleh ke arahku, senyum tipis terukir di wajahnya. “Jadi, Nona Pradipta… permainan sudah selesai. Mau pulang ke rumah kita sekarang?”

Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan beban berat yang selama tiga tahun ini menghimpit dadaku akhirnya lenyap tanpa bekas. Aku tersenyum, menyambut uluran tangannya.

“Ya. Ayo pulang.”

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.