Posted in

SEORANG GELANDANGAN TUA MEMINTA AIR DI SEBUAH MANSION NAMUN DIUSIR, IA MALAH DITERIMA DI SEBUAH GUBUK… DAN DI SANALAH HIDUP KELUARGA YANG MENOLONG BERUBAH

SEORANG GELANDANGAN TUA MEMINTA AIR DI SEBUAH MANSION NAMUN DIUSIR, IA MALAH DITERIMA DI SEBUAH GUBUK… DAN DI SANALAH HIDUP KELUARGA YANG MENOLONG BERUBAH

Tepat tengah hari, matahari terasa sangat terik.

Di depan Villa Esmeralda, sebuah mansion mewah dengan gerbang tinggi, berdiri seorang pria tua yang sedang mengetuk.

Namanya Tata Selo. Pakaiannya compang-camping, kakinya penuh lumpur, dan bibirnya gemetar karena kehausan.

“Permisi… tolonglah… walau hanya segelas air,” pintanya dengan suara serak.

Keluar Donya Vina, pemilik mansion, sambil mengipasi dirinya.
Di belakangnya ada dua anjing besar.

“Apa lagi ini?!” bentaknya.

“Ma’am, saya hanya minta air…” mohon Tata Selo.

Dengan jijik, Donya Vina menutup hidungnya.

“Pergi dari sini! Kamu bau! Nanti kamu bawa penyakit dan menular ke anjing-anjing impor saya!”

Seorang satpam mengarahkan selang air ke arah pria tua itu untuk menakutinya.

Tata Selo merangkak menjauh, menangis dan hampir pingsan.
Tak jauh dari sana, ada sebuah gubuk reyot.

Mang Pedring, seorang tukang kebun yang baru saja dipecat oleh Donya Vina, melihatnya.

“Pak! Ke sini!” panggilnya.

Ia membantu pria tua itu menuju gubuk mereka.

Mereka disambut oleh Aling Nena dan anak mereka, Bimbo.
“Aduh, badannya panas sekali,” kata Aling Nena dengan cemas.
Makanan mereka hanya: sepotong ikan asin.

Namun saat melihat kondisi pria tua itu, mereka tidak ragu.
Bimbo memberikan jatah nasinya.

“Pak, silakan dimakan.”

Mang Pedring memberikan kendi terakhir air bersih mereka.
Aling Nena mengipasi pria tua itu sampai kondisinya membaik.
“Maaf ya Pak, hanya ini yang kami punya…” kata Mang Pedring.
Tata Selo tersenyum.

“Air yang kalian berikan… lebih nikmat daripada minuman mahal orang kaya.”

Keesokan harinya, Tata Selo pergi setelah meminta nama lengkap keluarga itu.
“Aku akan kembali. Jangan pernah kehilangan harapan,” janjinya.
Satu minggu berlalu.

Satu minggu berlalu, keluarga Mang Pedring kembali dalam kesulitan. Mereka baru saja menerima surat pengosongan lahan dari pihak pengembang karena gubuk mereka dianggap merusak pemandangan di sekitar Villa Esmeralda.

“Kita akan pergi ke mana, Ayah?” tanya Bimbo sambil memeluk bantal kusamnya.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah terdengar dari kejauhan. Bukan satu, melainkan iring-iringan tiga mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan gubuk reyot itu. Donya Vina keluar dari mansionnya dengan wajah penasaran sekaligus iri.

Seorang pria dengan setelan jas mahal, dikawal oleh beberapa pengacara, turun dari mobil. Namun, yang membuat keluarga Mang Pedring terperangah adalah sosok yang keluar dari kursi penumpang belakang.

Dia bukan lagi pria tua compang-camping yang kehausan. Dia berdiri tegak, rapi, dan memancarkan aura wibawa yang luar biasa.

“Tata Selo?” bisik Mang Pedring tidak percaya.

Pria tua itu tersenyum hangat. “Namaku yang sebenarnya adalah Don Marcelino Esmeralda. Pemilik sah dari seluruh tanah di kawasan Villa Esmeralda ini, termasuk mansion besar di sana.”

Donya Vina yang mendengar itu hampir pingsan. Selama ini ia hanya menyewa lahan tersebut dari sebuah konsorsium rahasia, dan ternyata pemilik aslinya adalah “gelandangan” yang ia usir dengan selang air.

Don Marcelino mendekati Mang Pedring dan memberikan sebuah map kulit.

“Di gubuk ini, aku menemukan air yang paling murni, yaitu ketulusan. Pedring, Nena… ini adalah surat kepemilikan mansion di sebelah,” katanya sambil menunjuk ke arah Villa Esmeralda. “Aku sudah membatalkan kontrak sewa wanita sombong itu. Mulai hari ini, kalianlah pemiliknya.”

“T-tapi, Don Marcelino… kami tidak bisa menerima ini,” sahut Aling Nena gemetar.

“Ini bukan hadiah, ini adalah hasil dari benih kebaikan yang kalian tanam saat kalian sendiri sedang kelaparan,” balas Don Marcelino tegas. “Dan untuk Bimbo, aku telah menyiapkan dana pendidikan hingga universitas terbaik di luar negeri.”

Sore itu juga, petugas keamanan yang dulu menyemprot Tata Selo dengan air harus mengemas barang-barang Donya Vina ke dalam truk. Donya Vina menangis meraung-raung, memohon ampun, namun Don Marcelino hanya menatapnya dingin.

“Ingatlah, Vina,” kata Don Marcelino. “Harta bisa membuatmu merasa tinggi, tapi hanya kemanusiaan yang membuatmu benar-benar berharga.”

Keluarga Mang Pedring pindah ke mansion itu bukan untuk menjadi sombong. Mereka mengubah mansion tersebut menjadi tempat yang selalu terbuka bagi siapa pun yang lapar dan haus.

Dan di depan gerbang emas itu, kini tidak ada lagi anjing galak atau selang air yang mengusir orang, melainkan sebuah kendi besar berisi air sejuk dengan tulisan:

“Minumlah, karena di sini tidak ada orang asing, yang ada hanyalah saudara yang belum bertemu.”