SEPULUH TAHUN TELAH BERLALU SEJAK LAKI-LAKI PALING POPULER DI SEKOLAH MENYATAKAN PERASAANNYA KEPADAKU
Namun saat aku menerima pengakuannya, seluruh stadion meledak dalam tawa.
Sepuluh tahun kemudian, dia berlutut di hadapanku dan mengakui sebuah rahasia yang mengerikan…
BAB 1
Aku tidak pernah berpikir akan kembali ke kota ini.
Sepuluh tahun yang lalu, aku pergi dari sini sambil menjadi bahan tertawaan hampir seluruh teman sekelasku.
Kini, aku kembali hanya untuk menandatangani sebuah kontrak bisnis penting.
Namun, takdir tampaknya memang suka bermain-main.
Baru saja aku memasuki sebuah hotel mewah di pusat kota, aku mendengar suara yang sangat familiar dari belakang.
— Angela… apakah itu kamu?
Aku menoleh.
Wanita di hadapanku mengenakan pakaian mahal.
Riasannya sempurna dan tas yang dibawanya terlihat sangat mewah.
Aku langsung mengenalinya.
Sofia Mendoza.
Mantan teman sekelasku.
Dan wanita yang pernah membuat hidupku seperti neraka saat SMA.
Matanya membesar.
— Ya Tuhan! Benar-benar kamu!
Dia langsung menarik lenganku.
— Ada reuni di lantai dua. Ayo ikut!
Aku bahkan belum sempat menolak ketika dia menyeretku menuju aula acara.
Musik tiba-tiba berhenti.
Lebih dari tiga puluh pasang mata serentak menatap ke arahku.
Ruangan itu langsung sunyi.
Lalu bisikan mulai terdengar.
— Itu Angela?
— Benar dia!
— Sudah sepuluh tahun menghilang.
— Kukira dia tidak akan pernah muncul lagi.
Aku membeku.
Seolah kembali ke masa lalu.
Seolah aku kembali menjadi gadis enam belas tahun yang diperhatikan dan dibicarakan semua orang.
Sofia tersenyum.
— Lihat siapa yang kubawa.
Ada yang bersiul.
Ada yang tertawa.
Ada yang memandangiku dari kepala hingga kaki.
Dan tepat pada saat itu…
Seorang pria berdiri.
Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat.
Marco Villanueva.
Cinta pertamaku.
Pria yang kucintai sepanjang masa remajaku.
Dan pria yang menghancurkan hatiku.
Dia menatapku lama.
Matanya dipenuhi emosi.
— Angela…
Suaranya terdengar serak.
— Kamu sudah kembali.
Aku hanya mengangguk pelan.
Namun Sofia langsung menyela di antara kami.
— Sepertinya kalian punya banyak hal untuk dibicarakan.
Suasana langsung berubah aneh.
Semua orang memandang Marco.
Karena mereka semua tahu apa yang terjadi dulu.
Mereka adalah saksinya.
Dan mereka juga yang tertawa paling keras.
BAB 2
Sepuluh tahun yang lalu.
Marco adalah siswa paling populer di sekolah.
Pintar.
Tampan.
Kaya.
Sedangkan aku hanyalah gadis biasa yang dibesarkan oleh nenekku.
Namun kami bertetangga sejak kecil.
Berangkat sekolah bersama.
Pulang bersama.
Tumbuh bersama.
Aku diam-diam mencintainya selama bertahun-tahun.
Pada hari itu.
Sekolah mengadakan festival besar.
Di tengah stadion.
Marco menghampiriku sambil membawa buket bunga yang sangat besar.
Semua orang bertepuk tangan dan bersorak.
Aku sangat gugup.
Dia tersenyum.
— Angela.
— Aku menyukaimu.
Pada saat itu.
Aku merasa menjadi gadis paling bahagia di dunia.
Namun beberapa saat kemudian…
Seseorang berteriak dari belakang.
— Kamu menang, Marco!
— Tantangan Truth or Dare-mu berhasil!
Seketika seluruh stadion meledak dalam tawa.
Ada yang berteriak.
Ada yang merekam video.
Ada yang tertawa terbahak-bahak.
Rasanya dunia runtuh di hadapanku.
Seorang siswa bahkan merebut buket bunga itu.
Marco tersenyum canggung.
— Ayo.
— Itu cuma permainan.
— Jangan dianggap serius.
Malam itu.
Aku berlari keluar dari sekolah sambil menangis.
Aku menangis sepanjang malam.
Seminggu kemudian.
Aku pindah sekolah.
Enam bulan kemudian.
Aku dan nenekku meninggalkan kota itu.
Dan aku menghilang dari kehidupan mereka selamanya.
BAB 3
Reuni berlangsung dalam suasana canggung.
Tak seorang pun ingin membahas masa lalu.
Sampai seorang pria yang sudah mabuk tertawa keras.
— Marco.
— Akhirnya kamu bertemu Angela lagi.
— Selama sepuluh tahun ini kamu menyebut namanya setiap hari.
Ruangan langsung sunyi.
Wajah Sofia mendadak pucat.
Marco menggenggam gelasnya erat.
Namun pria itu tetap melanjutkan.
— Aku masih ingat saat kamu hampir berkelahi karena kejadian waktu itu.
— Kalau saja bukan karena…
— Cukup!
Marco berteriak keras.
Semua orang terkejut.
Termasuk aku.
Ini pertama kalinya aku melihatnya kehilangan kendali.
Matanya memerah saat menatapku.
— Angela.
— Bolehkah aku berbicara denganmu secara pribadi?
Aku hendak menjawab.
Namun Sofia tiba-tiba berdiri.
— Marco!
Suaranya sedikit gemetar.
— Apa lagi yang ingin kamu katakan?
— Sudah sepuluh tahun berlalu.
— Bukankah dulu kamu sudah memilih?
Mataku membesar.
Memilih?
Marco menatapnya dengan dingin.
— Justru karena sudah sepuluh tahun berlalu, aku tidak akan diam lagi.
Sofia semakin pucat.
Perlahan Marco mengeluarkan sebuah foto lama dari dompetnya.
Foto stadion itu.
Aku.
Berdiri sendirian.
Memegang buket bunga.
Saat semua orang menertawaiku.
Foto itu bahkan sudah dilaminasi.
Jejak usia terlihat jelas di permukaannya.
Suaranya serak.
— Selama sepuluh tahun…
— Aku membawanya setiap hari.
Seluruh ruangan membeku.
Termasuk aku.
Aku tidak tahu harus merasakan apa.
Dia menatapku.
— Angela.
— Sudah waktunya kamu mengetahui yang sebenarnya.
— Pada hari itu…
Tiba-tiba pintu terbuka.
Seorang pegawai hotel berlari masuk.
— Maaf!
— Ada seseorang yang mencari Nona Angela!
Kami semua menoleh bersamaan.
Di luar jendela kaca.
Sebuah iring-iringan mobil hitam berhenti.
Perlahan pintu mobil di tengah terbuka.
Seorang pria tinggi turun dari dalam.
Mengenakan setelan jas hitam.
Auranya dingin dan penuh wibawa.
Saat melihat pria itu.
Ekspresi Marco langsung berubah.
Sedangkan Sofia menjadi pucat seperti melihat hantu.
Pria itu mendongak ke lantai dua.
Dan langsung menemukan keberadaanku.
Kemudian dia mulai berjalan memasuki hotel.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Lurus menuju aula reuni.
Dan sebelum pintu itu kembali terbuka…
Aku mendengar suara Sofia yang gemetar.
— Mustahil…
— Kenapa dia…
— Kenapa dia bisa menjadi suamimu, Angela?
Bersambung…
Pintu aula reuni terbuka lebar dengan satu hentakan pelan, namun dampaknya sanggup membuat seisi ruangan menahan napas. Pria berjas hitam itu melangkah masuk. Setiap derap pantofelnya di atas lantai marmer terdengar seperti ketukan jam kematian bagi kesombongan orang-orang di ruangan ini.
Dia adalah Julian Vance. CEO dari Vance International—raksasa bisnis yang memegang kendali atas separuh proyek megah di kota ini, sekaligus pria yang beberapa bulan lalu mengikat janji suci denganku di luar negeri.
Julian berjalan lurus membelah kerumunan. Tanpa memandang kiri atau kanan, tatapan matanya yang tajam hanya tertuju padaku. Begitu sampai di depanku, aura dinginnya meleleh, digantikan oleh kehangatan yang hanya ditunjukkannya padaku.
“Kamu lama sekali, Sayang,” bisik Julian rendah sambil melingkarkan tangannya di pinggangku, mengecup pelipisku sekilas. “Kupikir dokumen kontraknya tertinggal.”
“Maaf, aku tidak sengaja terjebak reuni,” jawabku tenang, sengaja mengeraskan suara agar terdengar oleh Sofia yang kini berpegangan pada sandaran kursi, tubuhnya bergetar hebat. Perusahaan keluarga Sofia baru saja mengajukan kebangkrutan bulan lalu, dan satu-satunya cara mereka bertahan adalah memohon investasi dari Vance International. Dia baru saja menyadari bahwa nasib keluarganya kini berada di tanganku.
Namun, reaksiku teralihkan oleh Marco. Pria yang sepuluh tahun lalu menjadi pusat duniaku itu kini menatap Julian dengan kepalan tangan yang memutih.
“Julian…” desis Marco, suaranya sarat akan kebencian yang mendalam. “Jadi bajingan sepertimu yang menyembunyikannya dariku selama ini?”
Julian menoleh lambat, menatap Marco dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara. “Menyembunyikan? Angela pergi karena kekejaman kalian. Aku hanya menemukan mutiara yang kalian buang ke lumpur, lalu menjaganya.”
“Kamu tidak tahu apa-apa!” Marco berteriak frustrasi, melangkah maju hingga beberapa teman sekelas kami harus menahannya. Dia tidak memedulikan Julian lagi; matanya yang memerah dan basah menatapku dengan keputusasaan yang amat sangat.
“Angela, demi Tuhan, dengarkan aku sekali ini saja!” Marco tiba-tiba menjatuhkan kedua lututnya ke lantai.
Brak.
Suara lututnya yang menghantam lantai membuat seluruh aula kembali hening dicekam ket ketegangan. Laki-laki paling populer, lambang kesempurnaan SMA kami dulu, kini berlutut dengan air mata yang luruh di pipinya.
“Hari itu… di stadion… aku tidak pernah bermaksud menjadikanmu bahan taruhan,” isak Marco, suaranya bergetar hebat penuh penyesalan. “Aku benar-benar ingin menyatakan cintaku padamu. Bunga itu nyata, perasaanku nyata!”
Aku menatapnya datar, mencoba menahan sesak yang tiba-tiba menyeruak dari masa lalu. “Lalu kenapa kamu membiarkan mereka tertawa? Kenapa kamu bilang itu cuma permainan?”
“Karena kalau aku tidak melakukannya, mereka akan menghancurkanmu!” raung Marco. Dia menunjuk Sofia dengan jari yang gemetar. “Sofia… Sofia tahu aku menyukaimu. Dia mengancamku semalam sebelum festival. Ayah Sofia memegang surat utang tanah rumah nenekmu. Sofia bilang, jika aku menolak menyatakannya sebagai dare, ayahnya akan mengusirmu dan nenekmu dari rumah itu dalam waktu 24 jam!”
Aku tertegun. Kepalaku mendadak pening.

“Aku bodoh, Angela. Aku mengira dengan berpura-pura itu cuma dare, Sofia akan puas dan melepaskan tanah nenekmu,” Marco menunduk dalam, air matanya menetes ke lantai. “Tapi aku salah. Seminggu setelah kamu pindah, aku baru tahu kalau Sofia tetap memaksa ayahnya menyita rumah itu. Aku mengutuk diriku sendiri selama sepuluh tahun ini… Aku mencarimu ke mana-mana, Angela. Aku mencintaimu…”
Rahasia mengerikan itu akhirnya terbongkar. Pria yang kubenci selama sepuluh tahun ternyata melakukannya untuk melindungiku, meski dengan cara yang paling salah dan menghancurkan harga diriku.
Aku merasakan remasan hangat di pinggangku. Julian menarikku sedikit lebih rapat ke tubuhnya. Dia tidak tampak terkejut; sebagai pria yang menyelidiki seluruh masa laluku sebelum menikahiku, Julian pasti sudah tahu rahasia ini. Dia hanya ingin aku mendengarnya sendiri agar lukaku sembuh.
Aku menatap Marco yang masih bersimpuh di lantai, lalu beralih menatap Sofia yang kini sudah menangis ketakutan. Rasa sakit yang kupendam selama sepuluh tahun mendadak menguap, digantikan oleh rasa hampa.
“Terima kasih sudah mengatakannya, Marco,” kataku, suaraku terdengar sangat tenang di telingaku sendiri. “Setidaknya sekarang aku tahu cinta pertamaku bukan seorang bajingan.”
Marco mendongak, matanya memancarkan secercah harapan. “Angela…”
“Tapi itu tidak mengubah apa pun,” lanjutku tegas sambil menggenggam tangan Julian, merasakan cincin pernikahan kami saling bersentuhan. “Sepuluh tahun lalu kamu memilih untuk berbohong demi melindungiku, dan akibatnya kita kehilangan satu sama lain. Kini, aku sudah memiliki pria yang tidak perlu berbohong ataupun menumbalkanku hanya untuk melindungiku.”
Julian tersenyum tipis, sebuah tatapan kemenangan mutlak terpancar dari matanya. Dia menatap Marco sejenak, lalu beralih ke Sofia.
“Nona Mendoza,” suara Julian terdengar sedingin es. “Sampaikan pada ayahmu, janji temu untuk membahas investasi besok pagi… resmi dibatalkan.”
Setelah mengatakan itu, Julian berbalik, membimbingku berjalan keluar dari aula reuni. Aku tidak menoleh lagi ke belakang. Kepergianku sepuluh tahun lalu dipenuhi tangis dan tawa ejekan, namun kepergianku kali ini diiringi oleh keheningan dari orang-orang yang akhirnya sadar, bahwa gadis yang dulu mereka remehkan kini telah kembali sebagai pemenang.