Setelah setahun tunanganku yang seorang kapten pilot bersikap dingin padaku, aku tiba-tiba mengunggah foto seorang bayi yang baru lahir di media sosial, dengan caption:
**“Penerbangan telah mendarat dengan selamat. Semoga di babak baru kehidupan ini, kalian bisa mencintai aku dan putriku.”**
Grup chat seluruh kru penerbangan langsung meledak.
Semua orang beramai-ramai menandai Captain Timothy:
“Captain Tim, sejak kapan Anda menikah dengan Ms. Toni?”
“Wah, kalian sudah punya anak? Bayi perempuan lagi?”
Suasana grup chat memanas seperti minyak yang sedang mendidih karena gosip yang beredar.
Sementara itu, dengan tenang aku menambahkan suamiku—Direktur CAAP (Otoritas Penerbangan Sipil Filipina)—ke dalam grup, lalu mengirim pesan:
**“Kalian salah paham. Beliau inilah suami saya yang sebenarnya.”**
Grup chat yang tadinya riuh mendadak sunyi seperti kuburan.
Layar hanya dipenuhi notifikasi beruntun:
“A membatalkan pesan.”
“B membatalkan pesan.”
“C membatalkan pesan.”
## 1
Semua ini bermula setahun yang lalu, ketika kru Tim kedatangan seorang pramugari baru bernama Hannah.
Sejak hari pertama mereka bertemu, Hannah melakukan segala cara untuk mendekati dan mengejar Tim.
Apa pun trik manja atau cara menggoda yang digunakannya, Tim tidak pernah sekalipun memberinya perhatian.

Saat itu aku sangat percaya diri.
Aku mengenal Tim dengan baik. Dia bukan tipe pria yang mudah tergoda oleh perempuan yang hanya pandai berpura-pura lemah dan menyedihkan.
Sampai akhirnya tiba hari liburnya, dan kami berdua sepakat pergi ke kantor catatan sipil untuk menikah.
Namun tepat pada hari itu, Hannah mengunggah foto dirinya menelan satu papan penuh obat tidur, yang langsung menimbulkan kepanikan.
Untuk pertama kalinya, Tim meninggalkanku.
Dia berlari keluar rumah dengan tergesa-gesa, hanya meninggalkan satu kalimat sebelum pergi:
“Toni, kalau terjadi sesuatu padanya, ini akan menjadi masalah besar. Kita lanjutkan pernikahan kita lain hari saja.”
Sejak hari itu, setiap beberapa hari sekali Hannah selalu membuat drama percobaan bunuh diri.
Kadang ia menyayat pergelangan tangannya, kadang mengancam akan melompat ke sungai, bahkan pernah melakukan siaran langsung untuk meninggalkan pesan terakhirnya.
Aku terus menahan amarah, berulang kali memilih memaafkan, dan tetap menunggu Tim kembali.
Sampai untuk yang ke-99 kalinya, Tim kembali membatalkan penerbangan pulangnya hanya karena Hannah mengancam akan melompat dari sebuah gedung di Makati.
Saat itu, aku benar-benar tidak punya tenaga lagi untuk terus menunggu.
Aku langsung menarik sahabat masa kecilku, Xavier, lalu mengemudi menuju kantor pemerintah.
Namun ketika kami menyerahkan dokumen untuk mengajukan izin menikah, petugas catatan sipil membuka berkas tersebut, menatapku dengan ragu, lalu berkata:
“Maaf, Bu… Anda tidak bisa mendaftar. Menurut data kami, Anda sudah menikah selama dua bulan. Nama suami Anda adalah… Juan.”
Aku terpaku di tempat.
Barulah saat itu aku menyadari:
**Ternyata ada hubungan yang bahkan sebelum kau memutuskan untuk melepaskannya, kau sudah lama dihapus dari kehidupan orang lain.**
## 2
Aku menyerahkan dokumen kepada petugas di meja pendaftaran.
“Saya ingin mendaftarkan pernikahan hari ini juga.”
Xavier yang berdiri di sampingku segera menarik lenganku.
“Toni, tenang dulu! Aku tahu kamu marah pada Tim, tapi menikah adalah keputusan seumur hidup!”
Dadaku terasa sesak, dan akal sehatku sudah lama menghilang.
Aku tidak menyangka petugas itu malah mengembalikan dokumen kepadaku.
“Maaf, Ms. Toni… Dalam sistem PSA, status Anda tercatat sudah menikah.”
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar kepalaku.
Tubuhku langsung membeku.
“Sudah menikah? Apa maksud Anda?”
Petugas itu berusaha tetap tenang.
“Menurut catatan, dua bulan lalu pernikahan Anda terdaftar dengan seorang pria bernama… Juan.”
Aku mundur selangkah.
Kalau Xavier tidak segera menopangku, mungkin aku sudah jatuh ke lantai.
Juan…
Bukankah itu sopir bisu yang baru bekerja untuk keluarga Hannah?
Jantungku langsung berdetak kencang.
Aku merebut kembali dokumen itu, berlari keluar kantor seperti orang yang sedang dikejar api, lalu naik taksi menuju markas besar maskapai di Pasay.
Aku harus tahu apa sebenarnya yang telah dilakukan Tim.
Begitu tiba di ruang istirahat kru penerbangan, seorang staf segera menghalangiku.
“Maaf, Captain Tim berpesan bahwa untuk sementara tidak ada siapa pun yang boleh masuk.”
Namun melalui celah pintu, aku melihat pemandangan yang menguras seluruh tenagaku.
Tim perlahan mengangkat Hannah dan membaringkannya di sofa.
Hannah masih mengenakan seragam pramugari.
Kedua tangannya melingkar di leher Tim.
Matanya merah karena menangis, tampak begitu rapuh seolah akan hancur hanya dengan satu sentuhan.
“Captain Tim… sepatu hak tinggi ini terlalu licin. Aku tidak sengaja terkilir…”
Suaranya lembut, disertai getaran menyedihkan yang mengundang rasa iba.
“Jangan banyak bergerak. Biarkan dokter memeriksa apakah cederanya serius.”
Nada suara Tim……begitu lembut, penuh dengan kekhawatiran yang bahkan belum pernah kudengar selama setahun terakhir ini.
Ia berlutut di lantai, memijat pergelangan kaki Hannah dengan sangat hati-hati, seolah perempuan itu adalah porselen rapuh yang berharga.
Aku tidak bisa menahannya lagi. Sambil mencengkeram dokumen dari kantor catatan sipil, aku mendorong pintu ruang istirahat itu hingga terbuka keras.
BRAK!
Pintu menghantam dinding, membuat kedua orang di dalam ruangan itu tersentak.
Tim menoleh, matanya membelalak kaku saat melihatku berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata yang memerah. Sementara Hannah, dengan aktingnya yang sempurna, langsung menyusupkan kepalanya ke dada Tim seolah-olah ketakutan setengah mati melihat kedatanganku.
“Toni? Sedang apa kamu di sini?” Tim berdiri, suaranya mendadak berubah menjadi dingin dan penuh teguran, sangat kontras dengan nada suaranya pada Hannah beberapa detik lalu. “Aku sedang sibuk mengurus kru yang terluka. Bisakah kamu tidak membuat keributan di tempat kerjaku?”
“Membuat keributan?” Aku terkekeh sinis, menyeka air mata yang hampir jatuh. “Timothy, lihat dokumen ini. Tolong jelaskan padaku, kenapa statusku di catatan sipil sudah menikah dengan Juan, sopir keluarga Hannah, sejak dua bulan lalu?!”
Mendengar nama Juan, tubuh Hannah tampak menegang di atas sofa.
Tim mengernyitkan dahi, merebut dokumen itu dari tanganku dan membacanya dengan cepat. Wajahnya sempat menegang, namun detik berikutnya, ia menghela napas panjang dengan ekspresi lelah, seolah-olah akulah pihak yang tidak masuk akal di sini.
“Toni, ini pasti hanya kesalahan sistem. Atau mungkin… Hannah terpaksa melakukannya untuk melindungimu,” kata Tim dengan nada membela yang teramat kentara.
“Melindungiku?!” Aku berteriak, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
Hannah perlahan duduk, air mata buayanya mulai mengalir subur. “Maafkan aku, Kak Toni… Dua bulan lalu, ada seorang penguntit gila yang terus mencarimu ke maskapai. Aku sangat takut kamu dalam bahaya. Karena Captain Tim sedang terbang, aku meminta Juan untuk mendaftarkan pernikahan palsu menggunakan salinan identitasmu yang ada di data kru, hanya untuk mengecoh penguntit itu… Aku berniat menghapusnya nanti, tapi aku lupa… Maafkan aku, aku hanya ingin menyelamatkanmu…”
Mendengar penjelasan yang sama sekali tidak masuk akal itu, aku merasa kecerdasanku sedang dihina. Bagaimana bisa seseorang mendaftarkan pernikahan legal di catatan sipil hanya dengan alasan “melindungi dari penguntit” tanpa tanda tanganku? Dan yang lebih gila lagi, Tim mempercayainya!
“Kamu dengar sendiri, kan?” Tim menatapku, matanya dipenuhi kejengkelan. “Hannah berniat baik. Dia bahkan menggunakan koneksi keluarganya untuk melindungimu saat aku tidak ada. Kamu tidak perlu sekaku ini, Toni. Nanti setelah urusan penerbangan ini selesai, kita bisa mengurus pembatalannya dan kita akan menikah.”
“Kita? Menikah?” Aku menatap Tim, pria yang telah bersamaku selama bertahun-tahun, yang kini terasa seperti orang asing yang sangat menjijikkan. “Timothy, dokumen identitasku terkunci di laci meja kerjamu di rumah. Satu-satunya orang yang punya kuncinya selain aku… adalah kamu.”
Tim terdiam, matanya sedikit beralih menghindari tatapanku.
Barulah aku sadar. Tim tahu. Tim tahu sejak awal bahwa identitasku dicuri oleh Hannah untuk dinikahkan dengan sopir cacat itu, agar posisiku sebagai tunangannya bergeser, dan agar Hannah bisa memilikinya tanpa merasa bersalah. Tim membiarkannya karena dia sudah terlanjur basah masuk ke dalam perangkap manipulasi Hannah, atau mungkin… karena dia memang sudah tidak mencintaiku lagi.
“Cukup,” kataku, suaraku mendadak menjadi sangat tenang. Rasa sakit yang teramat sangat telah membakar habis semua sisa cintaku untuknya. “Kita selesai, Timothy. Nikmatilah pramugari rapuhmu ini.”
Aku berbalik dan berjalan keluar dari markas besar maskapai tanpa menoleh lagi, mengabaikan seruan Tim yang memanggil namaku dari belakang.
3
Hari itu juga, aku pulang ke rumah orang tuaku. Ayahku, yang merupakan mantan petinggi di dunia penerbangan, murka luar biasa melihat dokumen tersebut. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, pengacara keluarga kami berhasil membatalkan pernikahan palsu itu dan menyeret Juan serta Hannah ke jalur hukum atas pasal pemalsuan dokumen negara dan pencurian identitas.
Tentu saja, Hannah menggunakan senjata andalannya: berpura-pura sakit dan mencoba bunuh diri lagi di rumah sakit agar lolos dari jerat hukum. Dan Tim? Dia dengan setia menemani Hannah, mengabaikan seluruh pesan dan telepon dariku. Dia mengira aku hanya sedang merajuk seperti biasanya.
Namun, Tim lupa satu hal. Dunia ini berputar.
Selama setahun aku menderita karena sikap dinginnya, ada seorang pria yang selalu berdiri di kegelapan, menjagaku dengan kesabaran yang luar biasa. Xavier. Sahabat masa kecilku yang kini menjabat sebagai Direktur Jenderal CAAP (Otoritas Penerbangan Sipil Filipina)—pria dengan kekuasaan tertinggi yang bisa menghidupkan atau mematikan karier seorang pilot dalam satu kedipan mata.
Xavier adalah pria yang menopangku saat aku hancur di kantor catatan sipil. Dialah yang berkata, “Jika dia tidak bisa menghargai permata di tangannya, biarkan aku yang menjaganya seumur hidupku.”
Dua bulan setelah kejadian itu, aku dan Xavier menikah secara tertutup. Dan sepuluh bulan kemudian, putri kecil kami lahir ke dunia dengan selamat.
4
Kembali ke masa kini, di dalam ruang perawatan rumah sakit yang mewah, aku menatap putri kecilku yang sedang tertidur pulas di pelukan Xavier.
Aku membuka ponselku, lalu mengunggah foto jemari mungil putriku di media sosial dengan caption yang langsung memicu badai di grup chat maskapai:
“Penerbangan telah mendarat dengan selamat. Semoga di babak baru kehidupan ini, kalian bisa mencintai aku dan putriku.”
Grup chat kru yang berisi ratusan pilot dan pramugari langsung gempar. Nama Captain Timothy ditandai berkali-kali oleh rekan-rekannya yang mengira anak itu adalah darah dagingnya. Tim, yang selama ini mengabaikanku, tiba-tiba muncul di grup chat dan mengirimkan pesan pribadi padaku dengan panik:
Timothy: Toni! Apa-apaan foto itu?! Anak siapa itu? Kenapa kamu membuat rumor menjijikkan ini di grup kerjaan? Hapus sekarang! Kamu mempermalukan aku!
Aku tidak membalas pesannya. Dengan senyum tipis, aku menyalin nomor kontak pribadi Xavier, lalu memasukkannya ke dalam grup chat kru penerbangan tersebut sebagai anggota baru.
Lalu, aku mengirimkan satu pesan pamungkas:
“Kalian salah paham. Beliau inilah suami saya yang sebenarnya.”
Bersamaan dengan pesan itu, Xavier mengirimkan foto resmi pernikahan kami dari akunnya yang terverifikasi, lengkap dengan lambang resmi CAAP di profilnya.
Hening.
Grup chat yang tadinya berisik seperti pasar malam, mendadak sunyi seperti kuburan dalam hitungan detik.
Satu per satu notifikasi pembatalan pesan bermunculan di layar ponselku. Semua orang ketakutan setengah mati setelah menyadari bahwa wanita yang selama setahun ini mereka gosipkan sebagai “mantan tunangan kapten yang dicampakkan” ternyata kini telah sah menjadi istri dari bos tertinggi mereka.
Ponselku bergetar hebat. Itu telepon dari Tim. Aku menekan tombol speaker.
“To… Toni? Ini tidak mungkin, kan? Kamu bercanda? Xavier… Direktur Xavier adalah suamimu?!” Suara Tim bergetar hebat, dipenuhi rasa tidak percaya dan ketakutan yang mendalam.
Xavier mengambil ponsel itu dari tanganku, lalu berbicara dengan nada dingin yang berwibawa.
“Captain Timothy,” kata Xavier, suaranya terdengar begitu mengintimidasi. “Mulai besok pagi, seluruh lisensi penerbangan Anda dan kru bernama Hannah akan dibekukan untuk penyelidikan atas kasus pelanggaran kode etik dan pemalsuan dokumen yang sedang berjalan di pengadilan. Nikmatilah waktu libur panjang Anda.”
“Direktur! Mohon maaf, saya tidak tahu—”
Sebelum Tim sempat menyelesaikan kalimatnya yang penuh penyesalan, Xavier sudah lebih dulu mematikan sambungan telepon.
Aku menatap Xavier, lalu beralih ke putri kecil kami yang menggeliat pelan dalam tidurnya. Penerbangan masa laluku yang penuh badai memang telah berakhir dengan menyakitkan, namun kini, aku telah mendarat di pelukan landasan yang tepat, siap memulai penerbangan baru yang penuh dengan kebahagiaan sejati.