“SETIAP BULAN AKU MENGIRIM Rp30 JUTA KEPADA ADIKKU UNTUK MERAWAT AYAH KAMI YANG SAKIT PARAH. NAMUN SAAT AKU PULANG TANPA MEMBERI KABAR, AKU MENDAPATI ADIKKU SEDANG BERPESTA SAMBIL MEMAKAI PERHIASAN MAHAL… DAN KETIKA AKU MEMBUKA KAMAR AYAHKU, JANTUNGKU SEAKAN BERHENTI BERDETAK DAN LUTUTKU LEMAS OLEH PENEMUAN MENGERIKAN YANG ADA DI DALAMNYA.”**
## Pengorbanan di Negeri Rantau
Namaku Carlo, usia tiga puluh lima tahun.
Selama lima tahun terakhir, aku bekerja keras sebagai Chief Engineer di Dubai. Ibuku meninggal saat kami masih kecil, sehingga ayah kami, Pak Ramon, menjadi satu-satunya orang yang membesarkan aku dan adikku, Stella.
Setahun yang lalu, Ayah terkena stroke.
Separuh tubuhnya lumpuh.
Karena aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku di luar negeri, aku mempercayakan perawatannya kepada Stella. Untuk memastikan Ayah mendapatkan terapi fisik terbaik, obat-obatan mahal, dan makanan bergizi, aku mengirimkan sekitar **Rp30 juta setiap bulan** kepadanya.
“Jangan khawatir, Kak,” kata Stella setiap kali kami melakukan panggilan video.
Di belakangnya selalu terlihat ruang tamu rumah kami yang bersih dan rapi.
“Ayah baik-baik saja. Dia makan enak dan perawatnya datang setiap hari.”
Aku mempercayai adikku sendiri.
Namun karena rasa khawatir yang terus menghantuiku, aku diam-diam menyelesaikan kontrak kerjaku lebih awal agar bisa memberi kejutan dan merawat Ayah secara langsung.
## Sambutan yang Mewah
Hari sudah malam ketika aku tiba di rumah besar kami di kampung halaman.
Bahkan dari gerbang, aku sudah melihat tiga SUV baru terparkir di halaman.
Musik keras dan suara tawa terdengar jelas dari dalam rumah.
Saat membuka pintu, aku disambut pemandangan sebuah pesta mewah.
Ruang tamu penuh tamu undangan.
Meja dipenuhi makanan mahal dan minuman berkelas.
Di tengah keramaian, aku melihat Stella.
Ia mengenakan gaun desainer yang berkilauan, dengan kalung emas dan gelang mahal menghiasi leher serta lengannya, sambil tertawa bersama teman-temannya yang kaya raya.
Aku mengernyit.
Dari mana dia mendapatkan uang untuk semua ini?
Dia bahkan tidak memiliki pekerjaan.
Aku tidak langsung menampakkan diri.
Sebaliknya, aku berjalan menuju kamar utama, tempat Ayah seharusnya beristirahat.
Namun ketika pintu kubuka, kamar itu telah berubah menjadi kamar Stella.
Dipenuhi tas-tas baru, sepatu bermerek, dan barang-barang mewah.
Aku panik.
Aku segera menghampiri seorang pembantu yang sedang mencuci piring di belakang rumah.
“Mbak, di mana Ayahku, Pak Ramon?!”
Wajah pembantu itu langsung pucat ketika mengenaliku.
Dengan tangan gemetar, ia menunjuk sebuah pintu kecil yang gelap dan kusam di dekat halaman belakang.
Itu adalah gudang tua tempat kami biasa menyimpan barang-barang rusak.
## Mimpi Buruk di Dalam Gudang
Dadaku berdebar semakin cepat.
Aku memutar gagang pintu.
Terkunci.
Bahkan digembok dari luar.
Aku mengambil palu dan menghancurkan gembok itu dengan sekuat tenaga.

**BRAK!**
Saat pintu terbuka, bau menyengat campuran urin dan makanan busuk langsung menerpa wajahku.
Aku menyalakan senter ponsel.
Dan pemandangan yang kulihat di dalam ruangan itu menghancurkan seluruh diriku.
Pengkhianatan di Balik Kemewahan
Di sudut gudang yang sempit, di atas sebuah kasur tipis tanpa seprei yang sudah berjamur, terbaring seorang pria tua yang sangat kurus. Tubuhnya hampir tinggal tulang dibalut kulit, mengenakan pakaian compang-camping yang basah oleh keringat dan kotorannya sendiri.
Itu Ayah. Pak Ramon, pria gagah yang dulu membesarkanku, kini tampak seperti raga tanpa jiwa.
Di samping kasurnya, terdapat sebuah piring plastik berisi sisa nasi basi yang sudah dikerubuti lalat. Sebuah botol air mineral kosong tergeletak di lantai, seolah menunjukkan betapa ia telah memohon seteguk air dalam dehidrasi yang menyiksa. Kedua kakinya yang lumpuh tampak membiru karena kedinginan, tanpa ada selembar selimut pun yang melindungi tubuh rentanya.
“A… Yah…” Suaraku tercekat di tenggorokan. Air mataku tumpah seketika.
Saat cahaya senter ponselku mengenai wajahnya, Ayah perlahan membuka matanya yang cekung dan berair. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergetar, mencoba bersuara namun hanya erangan lemah yang keluar. Ketika dia mengenali wajahku, air mata mengalir melewati pipinya yang kempot. Dia mencoba menggerakkan tangannya yang gemetar, meraihku seolah takut aku hanyalah mimpi.
Aku langsung berlutut di lantai gudang yang kotor, memeluk tubuh ringkihnya yang berbau menyengat. Jantungku bergemuruh oleh perpaduan rasa bersalah yang teramat dalam dan kemarahan yang meluap-luap hingga membakar dadaku.
Tiga puluh juta rupiah setiap bulan.
Uang yang kukirim dengan peluh dan darah di negeri orang, yang kuharap bisa membelikan Ayah kenyamanan dan pengobatan terbaik, ternyata digunakan oleh adik kandungku sendiri untuk mendanai gaya hidup sosialitanya, sementara Ayah dibuang ke gudang layaknya sampah.
Pembalasan Seorang Kakak
Aku mengangkat tubuh Ayah yang terasa seringan kapas, membawanya keluar dari gudang berbau busuk itu. Dengan langkah tegap dan napas memburu, aku berjalan melewati koridor rumah, langsung menuju ke tengah-tengah ruang tamu yang bising.
BRAK!
Aku menendang meja kaca di tengah ruangan hingga hancur berkeping-keping. Suara dentingan keras itu seketika menghentikan musik dan tawa riuh di dalam rumah. Semua mata, termasuk Stella yang sedang memegang gelas sampanye, langsung tertuju ke arahku dengan tatapan terkejut.
“K-Kak Carlo?!” Stella terpekik, wajahnya yang penuh riasan tebal mendadak pucat pasi melihatku berdiri di sana, menggendong tubuh kurus Ayah yang mengenaskan.
“Ini yang kamu sebut ‘Ayah baik-baik saja’, Stella?!” teriakku, suaranya menggelegar memenuhi seisi rumah hingga membuat beberapa tamu melangkah mundur ketakutan. “Ini hasil dari tiga puluh juta yang kukirim setiap bulan?!”
Teman-teman Stella mulai berbisik-bisik, menatap jijik ke arah Ayah yang kotor, namun kemudian menatap sinis ke arah Stella yang mulai gemetar hebat.
“Kak, b-bukan begitu… aku bisa jelaskan… Ayah yang minta pindah ke belakang karena…” Stella gagap, mencoba mendekat sambil memegang gaun mahalnya.
“Diam kamu!” bentakku, tatapanku menembus langsung ke matanya. “Jangan berani-berani kamu menghina Ayah lagi dengan mulut busukmu itu!”
Aku menoleh ke arah pembantu yang tadi menunjukkanku jalan. “Mbak, tolong panggilkan ambulans sekarang juga! Bawa Ayah ke rumah sakit terbaik!” Setelah pembantu itu mengangguk dan berlari, aku kembali menatap Stella yang kini menangis, bukan karena menyesal, melainkan karena malu di depan teman-teman kayanya.
“Dengar baik-baik, Stella,” ucapku dengan nada dingin yang menusuk. “Rumah ini atas namaku. Mulai malam ini, detik ini juga, kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun barang-barang mewah yang kamu beli dengan uang Ayah!”
“Kak, tolong jangan lakukan ini! Aku adikmu!” ratap Stella, mencoba meraih kakiku sambil menangis histeris. Kalung emas dan gelang-gelang mahalnya berdenting, terdengar seperti ejekan bagi penderitaan Ayah.
Aku menarik kakiku dengan kasar. “Kamu bukan adikku lagi semenjak kamu membuang Ayah ke gudang itu.”
Aku mengeluarkan ponselku, menekan nomor darurat kepolisian yang sudah kusimpan sejak di bandara. “Dan jangan harap kamu bisa menikmati sisa uang itu di luar sana. Aku sudah menghubungi pengacara dan polisi. Kamu akan membusuk di penjara atas dakwaan penelantaran orang tua dan penggelapan dana.”
Malam itu, saat sirine ambulans dan mobil polisi datang bersahutan memecah keheningan malam, aku bersumpah di dalam hati. Aku akan menggunakan seluruh sisa hidup dan kekayaanku untuk menyembuhkan Ayah, sementara Stella harus membayar setiap tetes air mata Ayah di balik jeruji besi yang dingin.